Azam jelas terkejut dengan harga yang ditawarkan oleh Rudi. Pasalnya dia menilai kalau cincin batu akik itu hanya berharga dikisaran 30 juta karena yang mahal pastilah langka.
Rudi tersenyum melihat reaksi Azam, dia berkata, "Kamu tidak salah dengar, Nak Azam. Aku dengan serius menawarkan 72 juta rupiah untuk cincin batu akik ini."
Azam duduk kembali, dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
Kemudian dia berkata, "Tapi, bisakah aku tahu mengapa harga cincin ini sangat mahal? Maksudku, batu akik termahal dibandrol dengan harga 50 juta rupiah."
"Tentu saja. Batu akik safir merupakan batu yang langka, dan batu akik milikmu ini adalah batu yang langka diantara yang langka lainnya." Rudi menjawab dengan serius.
Azam terkejut dengan jawaban Rudi, dia tidak menyangka kalau cincin yang dia temui di selokan dengan bantuan Sistem Pemindai merupakan cincin yang terbuat dari batu akik yang sangat langka.
"Bagaimana, apakah kamu ingin menjualnya?" tanya Rudi dengan cemas karena takut kalau Azam akan berubah pikiran.
"Jual, pastinya dijual. Aku bukan kolektor, dan aku cuma mahasiswa miskin." Azam menyeringai menerima tawaran dari Rudi untuk menjual batu akik safir seharga 72 juta rupiah.
"Bagus!" Rudi mengangguk, dia segera menelepon manajer toko untuk mengemas batu akik milik Azam yang baru dijual. Setelah itu, Rudi segera mengirimkan uang kepada Azam.
"Nak Azam, hubungi aku jika ada sesuatu yang seperti ini lagi." Rudi berkata sambil tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya.
"Aku akan." Azam mengangguk, dia berjabat tangan dengan Rudi dengan wajah gembira karena di rekeningnya ada banyak uang.
Setelah itu, Azam keluar dari toko perhiasan Brijaya. Dia pergi ke warung makan sederhana yang ada di pinggir jalan untuk makan karena tiba-tiba dia merasa kalau perutnya kelaparan lagi.
[Host, itu adalah reaksi normal. Penggunaan Sistem perlu memakai energi, dan cara untuk memulihkannya adalah dengan cara mengisi perut.]
"Ah, jadi begitu." Azam mengangguk paham dengan penjelasan yang diberikan oleh Sistem mengenai alasan perutnya tiba-tiba lapar meskipun dia baru saja selesai makan siang.
Azam makan makanan pesanannya sambil bertanya kepada apakah Sistem tahu mengapa penilaian batu akik safir hitam dari dirinya dan Rudi berbeda jauh.
[Itu karena skill yang di dapatkan oleh Host adalah penilai dari segala jenis barang. Sementara itu Rudi adalah penilai yang mengkhususkan diri dalam menilai perhiasan.]
"Ah, jadi begitu. Karena dia khusus menilai perhiasan, pengetahuannya jauh lebih tinggi dari skill penilai yang aku dapatkan meskipun itu dengan 50 tahun pengalaman." Azam menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia paham.
[Dan selamat karena Sistem berhasil ditingkatkan, sekarang Host sudah level 2. Jarak pemindaian bertambah 5 meter, jadi sekarang adalah 15 meter.]
[Lalu selamat karena telah membuka satu fitur baru, yaitu Host bisa memindai barang berharga satu kali per minggu dalam jarak yang sudah ditentukan.]
"Oh? Level 2 ya." Azam mengangguk dengan gembira karena levelnya naik. Selain jaraknya yang bertambah 5 meter, ada juga satu fungsi yang terbuka meskipun itu adalah penggunaan satu kali per minggu.
Kemudian Sistem mengatakan kalau pemindaian barang berharga bisa digunakan tanpa batas waktu selama levelnya tercukupi.
Jadi fungsi yang baru saja terbuka ini masih memiliki kesempatan untuk menjadi penggunaan permanen dan tanpa batas selama Azam memenuhi persyaratan level minimumnya.
"Haruskah aku menggunakan pemindaian barang berharga sekarang? Kurasa tidak, melihat aku sedang berada di warung makan," pikir Azam, kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Azam berpikir akan menggunakan fungsi baru ini saat berada di tempat yang memiliki kesempatan menemukan barang berharga lebih tinggi seperti di Universitas Indonesia, mall, toko, atau tempat lain.
Sambil makan makanannya, Azam memikirkan cara bagaimana mendapatkan uang dengan cepat. Namun sebelum itu dia harus menggunakan uang 72 juta dengan baik.
"Hm, aku pindah rumah saja. Kayanya ada rumah di dekat universitas, semoga harga sewanya tidak terlalu mahal," pikir Azam.
Setelah menyelesaikan makanannya, Azam membayar ke pemilik warung. Setelah itu Azam kembali ke universitas karena dia ada kelas sore dari jam 3 sampai jam 5.
...----------------...
Sementara itu, berita tentang Devina yang jalan dengan seorang pria tidak dikenal menyebar dengan sangat cepat. Banyak orang yang penasaran karena mereka tahu siapa Devina Fiorenza.
Devina tidak pernah memiliki hubungan dekat dengan lawan jenis, semua mahasiswa sudah tahu hal ini. Itulah mengapa mereka sangat penasaran dengan berita yang muncul tiba-tiba.
"Devina, benar kamu jalan dengan si Azam itu?" Teman Devina bertanya dengan nada curiga karena tidak pernah melihat Devina jalan dengan lawan jenis.
"Hm? Iya, memang ada apa?" Devina mengangguk dengan jujur dan bertanya kepada temannya.
Tidak hanya temannya saja, tapi mahasiswa yang ada di kelas terkejut mendengar jawaban Devina. Mereka berpikir kalau Devina akan menyembunyikan berita itu, tapi dia malah menjawabnya dengan jujur.
"Tidak apa-apa sih, tapi bukankah kamu tidak pernah jalan dengan pria manapun?" tanya temannya lagi.
"Yah, memang benar. Tapi Azam sudah menemukan dompetku yang hilang, jadi aku membalasnya dengan mentraktir makan siang." Devina mengangkat bahu dan berkata.
"Ah, jadi begitu." Teman Devina dan mahasiswa di kelas mengangguk paham dengan apa yang terjadi.
"Sudahlah, dosen sudah datang." Devina mengeluarkan buku catatannya saat melihat dosen masuk ke dalam kelas sambil membawa laptop.
...----------------...
Setelah kelas selesai, Azam memesan ojek online untuk kembali ke rumahnya. Dia membuka aplikasi perbankan dan mentransfer sejumlah uang kepada kepala panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Setelah beberapa menit, ponselnya berdering. Azam menekan tombol jawab dan berkata, "Halo Kakek. Apakah uang yang aku transfer sudah sampai?"
"Azam! Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu!?" Terdengar raungan keras dari seorang pria paruh baya di sisi lain telepon.
Itu adalah kepala panti asuhan yang bernama Adeng Hermawan. Beliau sudah merawat anak-anak panti seperti cucunya sendiri, itulah mengapa Azam dan anak-anak panti memanggilnya kakek.
"Hahaha, kebetulan aku dapat lotre kemarin." Azam tentu saja tidak mengatakan yang sebenarnya karena dia akan dianggap gila oleh kepala panti asuhan.
Mendapatkan banyak uang dari lotre adalah alasan yang paling masuk akal karena lotre memang tidak bisa ditebak. Azam akan dicurigai kalau dia mengatakan dapat uang dari bekerja, investasi, atau hal lainnya.
"Lotre? Kamu tidak menjual organmu kan?" Adeng bertanya dengan nada curiga. Dia tentu saja percaya dengan perkataan Azam, namun dia mengatakan hal itu hanya untuk memastikannya saja.
"Tentu saja tidak. Jika aku menjual organku, bagaimana bisa aku bekerja?" Azam mendesah atas pertanyaan dari Adeng yang melenceng.
Adeng menghela napas lega dan berkata, "Baguslah kalau begitu, tapi apa kamu masih ada uang sisa? Jangan pikirkan panti asuhan dulu, yang penting dirimu bisa hidup nyaman."
"Santai saja Kek, aku masih punya uang di sini. Aku juga akan kembali ke panti asuhan, namun belum tahu kapan waktu tepatnya," jawab Azam sambil tersenyum cerah.
"Nanti saja, kamu belum lama keluar dari panti asuhan. Nikmati saja dulu kehidupanmu, kalau ada waktu luang baru kamu ke sini," balas Adeng dengan nada ramah.
Mata Azam menjadi lembab mendengar perkataan dari Adeng. Hatinya merasa hangat karena masih ada orang yang peduli meskipun dia seorang yatim piatu yang masa depannya tertutup kabut tebal.
Sama seperti di kehidupan pertamanya, Adeng dan orang-orang dari panti selalu mendukung Azam. Mereka selalu saling mendukung dan memiliki hubungan yang sangat harmonis.
Jadi Azam mengobrol dengan Adeng selama setengah jam sebelum pada akhirnya Adeng menutup telepon karena harus mengurus anak-anak panti lain yang masih kecil.
Azam mandi dan memesan makan malam secara online. Sambil menunggu makanannya sampai, Azam mengkaji ulang pelajaran hari ini dengan laptop usangnya.
"Sialan, laptopnya lambat. Aku harus beli laptop dan ponsel baru!" teriak Azam dengan frustasi karena niatnya yang ingin belajar menjadi sirna karena laptop usangnya terlalu lambat saat loading.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Ling Shin
/Good/
2024-04-05
0
Nurul Hikmah
besok lah bayar kosnya
2023-11-29
0
Hades Riyadi
Lanjutkan Thor 😛😀💪👍🙏
2023-11-03
0