Kelas pagi berakhir dengan cepat, Azam segera memasukkan bukunya ke dalam tas dan bersiap untuk keluar karena baru saja Vanessa mengirimkan pesan kalau dia sudah sampai di tempat tadi.
"Azam! Ayo main!" teriak Rafa dengan penuh semangat.
"Maaf, aku ada urusan, kamu dengan yang lain saja dulu," kata Azam dengan nada minta maaf karena dia tidak bisa ikut main.
"Ehh, baiklah," kata Rafa dengan nada kecewa. Namun dia kembali ceria dan mengobrol dengan teman-teman barunya.
Azam menggeleng-gelengkan kepalanya, dia segera keluar dari gedung fakultas manajemen dan melihat kalau di tempat parkir sudah ada mobil Ferrari berwarna merah yang sangat mencolok.
Kaca mobil terbuka dan terlihat kalau Vanessa sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Orang-orang di sekitar bahkan sampai linglung saat melihat kecantikan Vanessa.
"Vanessa!" teriak Azam dari jauh.
Vanessa yang mendengar kalau namanya dipanggil segera menoleh. "Azam!!" teriak Vanessa juga membalas sapaan Azam.
Vanessa berpindah dari kursi pengemudi ke kursi penumpang tanpa turun dari mobil. Azam juga segera duduk di kursi pengemudi tanpa bertanya lagi.
"Kamu ingin ke mana?" tanya Azam kepada Vanessa sambil memasang sabuk pengaman.
Vanessa mengangkat bahunya dan berkata, "Tidak tahu, terserah kamu saja."
Azam hanya bisa terdiam dengan sikapnya. Vanessa berkata kalau akan menjemputnya, itulah mengapa dia berpikir kalau Vanessa ingin pergi ke suatu tempat, tapi ternyata pikirannya salah total.
"Kalau begitu, mau temani aku pergi beli barang?" tanya Azam lagi.
"Boleh, beli apa?" tanya Vanessa yang penasaran.
"Ponsel dan laptop, punyaku sudah terlalu usang," kata Azam yang mulai menyalakan mesin mobil dan menancap gas.
Vanessa juga memasang sabuk pengamannya dan berkata, "Ohh, kamu mau beli di mana? Apa perlu aku rekomendasikan?"
Azam menggeleng-gelengkan kepalanya dan menolak tawaran Vanessa. "Tidak, aku sudah tahu mau beli yang mana."
"Baiklah kalau begitu." Vanessa mengangguk dan membicarakan hal lainnya.
Mobil melaju kencang di jalan yang ramai seperti ikan di dalam air. Entah mengapa Azam lebih percaya diri dengan kemampuan mengemudinya.
Mereka sampai di Super Mall Dirta, mall yang pernah Aksa kunjungi sebelumnya saat membeli pakaian. Setelah parkir di area yang cukup jauh, mereka berdua segera masuk ke dalam mall.
Naik ke lantai tiga menggunakan lift, berjalan beberapa meter dari sana, mereka menemukan ada toko gadget yang bernama Xiaosu, toko yang berasal dari Negara Cina.
"Selamat datang, apakah ada yang bisa saya bantu?" Seorang pramuniaga berkata dengan nada ramah dengan senyum profesional di wajahnya.
"Tolong tunjukkan laptop dan ponsel yang cocok untukku," kata Azam setelah menganggukkan kepalanya.
"Baik! Silakan ikuti saya, Kak." Pramuniaga mengangguk, dia segera menunjukkan jalan menuju area dalam yang penuh dengan gadget mewah.
Pramuniaga menunjukkan beberapa laptop dan ponsel yang cocok untuk Azam sekaligus menjelaskan keunggulannya. Azam dan Vanessa mendengarkan dengan seksama meskipun Vanessa hanya menemani Azam.
"Kalau begitu, aku beli yang ini dan ini saja. Vanessa, kamu butuh ponsel tidak?" Azam menunjuk ke arah satu laptop dan satu ponsel, kemudian dia bertanya kepada Vanessa.
"Tidak, punyaku masih bagus," kata Vanessa sambil tersenyum manis.
Azam mengangguk dan segera meminta pramuniaga untuk segera mengemasnya. Pramuniaga itu mengangguk dan segera melakukan tugasnya dengan penuh semangat.
Alasannya adalah karena Azam langsung membeli setelah diperkenalkan dengan beberapa gadget. Padahal, biasanya pelanggan akan memikirkannya terlebih dahulu dan ada kemungkinan besar kalau mereka tidak jadi membeli.
Itulah mengapa menjadi pramuniaga gadget sedikit melelahkan karena sudah bersusah payah memperkenalkan gadget namun pada akhirnya tidak dibeli oleh pelanggan.
Segera setelah itu, Azam dan Vanessa pergi ke kasir untuk membayar. Biaya yang dikeluarkan oleh Azam untuk membeli laptop dan ponsel adalah 15 juta rupiah karena dia membeli yang keluaran terbaru.
"Aku sudah selesai, kamu mau jalan-jalan?" tanya Azam kepada Vanessa setelah mereka keluar dari toko Xiaosu.
"Um!" Vanessa mengangguk dengan gembira karena bisa berbelanja dengan Azam.
Azam tersenyum dan berpikir kalau ini akan menyenangkan karena bisa belanja dengan wanita cantik. Tapi satu jam kemudian, dia menyesali pikirannya itu karena kakinya sudah lunak.
Dari tadi, mereka keluar masuk dari satu toko pakaian ke toko lainnya. Namun apa yang membuat Azam tidak bisa berkata-kata adalah karena Vanessa belum membeli apapun.
Ketika dia masuk ke toko pakaian lagi, Azam mengambil tas belanjanya dan duduk langsung di kursi untuk beristirahat, dan Vanessa pergi untuk memilih dan mencoba.
Pada saat ini, Vanessa mengambil kemeja berwarna putih dengan corak yang indah, dia kepikiran untuk mencobanya, jadi dia segera berjalan menuju kamar pas.
Namun pada saat dia akan berbelok, tidak sengaja bahunya menabrak wanita dengan riasan tebal di sampingnya. Vanessa terkejut dan segera meminta maaf.
"Maaf, maafkan aku." Vanessa buru-buru menundukkan kepalanya karena dia merasa bersalah namun apa yang wanita dengan riasan tebal katakan selanjutnya membuatnya tertegun.
"Apa kamu tidak punya mata!? Bukankah jalannya luas? Kenapa kamu menabrakku!?" Wanita dengan riasan tebal berteriak dengan kebencian yang besar kepada Vanessa.
Teriakan itu mengundang perhatian orang-orang di sekitar yang sedang melihat pakaian juga. Mereka dengan penasaran menjulurkan kepala mereka untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Sayang, ada apa?" Seorang pria yang mengenakan pakaian mewah mendatangi wanita dengan riasan tebal.
"Sayang, dia menabrakku!" Wanita dengan riasan tebal langsung memeluk pria itu dan berkata sambil meneteskan air mata.
"Hah!?" Vanessa sangat marah dengan apa yang dikatakan oleh wanita dengan riasan tebal karena dari tadi dia tidak diberikan kesempatan untuk berbicara.
"Vanessa!" Azam menghampiri Vanessa dengan raut wajah yang khawatir.
"Azam?" Pria yang mengenakan pakaian mewah memanggil nama Azam dengan nada seperti seorang teman lama.
"Arif?" Azam mengerutkan keningnya karena melihat wajah yang dia kenal namun dia tidak ingin dilihat karena beberapa masaka di masa lalu.
"Jadi itu kamu, Azam. Wanita di sampingmu menabrak pacarku, tolong suruh dia minta maaf," kata Arif dengan nada dingin.
"Vanessa sudah minta maaf tadi," kata Azam dengan tenang menanggapi nada dingin Arif.
"Hah!? Permintaan maafnya tidak tulus! Harusnya dia membungkukkan badan atau berlutut saja sekalian!" teriak Arif dengan nada benci.
Orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik, mereka bertanya-tanya tentang mengapa Arif sampai berteriak seperti itu padahal apa yang terjadi hanyalah masalah sepele.
Justru wanita dengan riasan tebal yang membesarkan masalah, padahal bisa diselesaikan hanya dengan permintaan maaf dan Vanessa juga sudah meminta maaf tadi.
Pada saat ini, manajer toko datang. Dia adalah seorang pria paruh baya dengan perut buncit yang mengenakan setelan jas yang cukup rapi.
"Saya manajer di sini. Permisi, Pak, Bu, ada apa?" Manajer toko bertanya dengan nada sopan meskipun di dalam hatinya dia sudah mengumpat karena ada masalah saat dia bekerja.
"Pak manajer, ada CCTV kan? Bisakah aku mengeceknya?" tanya Azam kepada manajer toko.
"Tentu, aku akan memanggil karyawanku." Manajer toko mengangguk dengan gembira karena ada orang yang masih waras.
Biasanya jika ada masalah, kedua belah pihak akan sama-sama berteriak. Mereka saling menyalahkan tanpa melihat masalah yang terjadi, bahkan ada yang sampai adu jotos.
Manajer toko segera meminta salah satu karyawannya untuk pergi ke ruang pengawas. Setelah beberapa saat, dia kembali sambil membawa satu buah tablet.
"Silakan." Manajer toko menyerahkan tablet itu kepada Azam.
Azam mengangguk dan mengambilnya, dia segera memeriksa rekaman CCTV agar bisa tahu mengenai masalah yang menimpa Vanessa dan mengapa wanita dengan riasan tebal bersikap dramatis.
"Hah... Arif, Vanessa memang salah karena dia yang menabrak pacarmu. Tapi bukankah sikap pacarmu ini terlalu berlebihan? Padahal hanya masalah sepele." Azam menghembuskan napas panjang.
"Apa!? Sepele katamu!? Bahuku ditabrak dengan keras oleh wanita sialan itu!?" teriak wanita dengan riasan tebal.
Azam membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, namun pada saat ini Vanessa mengambil langkah ke depan sambil mengangkat tangan kanannya. Kemudian dia ayunkan tangan kanannya itu ke arah wajah wanita dengan riasan tebal.
*Plak!!
Suara tamparan yang sangat keras, beriak bolak-balik di dalam toko pakaian. Dalam sekejap, cetakan tamparan yang jelas muncul di wajah wanita dengan riasan tebal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Nurul Hikmah
iya jangan mau ditindas
2023-11-29
0
Hades Riyadi
Lanjuuuuutt Thor 😛😀💪👍🙏
2023-11-03
0
Hades Riyadi
mantaabb abiiss... sikapnya Vanessa, kalo berhadapan dengan orang yang lebay cocoknya mang dikaplok bolak-balik seperti itu...udah jelek dan sok lageee...😛😀💪👍👍👍
2023-11-03
1