Azam menggunakan pikirannya untuk memutar gacha, mesinnya berputar selama beberapa saat. Kemudian mesinnya berhenti dan mengeluarkan sebuah bola transparan dari dalam mesin.
[Selamat, kamu mendapatkan skill penilai (50 tahun).]
Azam mengangkat alisnya saat melihat skill yang didapatkan dari gacha karena dia sama sekali tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan skill penilai ini, apalagi ada angka 50 tahun di belakangnya.
Jadi Azam segera memeriksa penjelasan dari skill penila ini. Kemudian dia menjadi sangat tertarik setelah membaca penjelasannya.
[Penilai: Memiliki kemampuan untuk mengamati, menilai, dan menafsirkan harga suatu benda, apapun jenisnya.]
"Apapun jenisnya, ya." Azam tersenyum karena dia sudah paham dengan penjelasan skill penilai. Tapi dia masih belum paham arti dari angka 50 tahun, jadi dia bertanya kepada Sistem.
[Angka di belakang skill adalah pengalaman,. Itu artinya, Host mendapatkan skill penilai yang setara dengan 50 tahun pengalaman.]
"Apa!? Bukankah ini sangat hebat!?" Azam memegangi kepalanya dengan kedua tangan karena dia sangat terkejut dengan perkataan Sistem.
Itu artinya, Azam sudah menjadi seorang ahli penilai karena pengalaman skillnya adalah 50 tahun. Jadi, tanpa ragu-ragu, Azam langsung menerima skill penilai.
Kemudian ada banyak ingatan yang masuk ke dalam otak Azam secara paksa. Tapi Azam masih bisa menahannya karena itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan saat dia menyeberang ke dunia ini.
"Penilai dengan 50 tahun pengalaman, aku sudah jadi ahli saat ini." Azam menyeringai, kemudian dia langsung memerintahkan Sistem untuk mencari uang.
Sistem segera memindai sesuai dengan perintah Azam. Tidak butuh waktu lama sebelum Sistem berhasil memindai uang di sekitarnya.
[Ditemukan uang sebesar 100 dolar AS dalam jarak 9 meter dari Host.]
[Ditemukan uang sebesar 45 ribu rupiah dalam jarak 4 meter dari Host.]
Azam terkejut dengan hasil pencarian kali ini, karena apa yang dipindai oleh Sistem berbeda dengan yang sebelumnya. Dia segera berlari mengambil uang 45 ribu yang ada di dekatnya, lalu pergi ke lokasi 100 dolar AS.
"Beruntungnya aku dapat uang dolar AS, aku harus menukarnya nanti." Azam tersenyum puas dengan hasil pemindaian Sistem.
Setelah itu Azam segera melanjutkan mencari uang.Tapi sama seperti sebelumnya, kebanyakan adalah uang recehan yang membuat Azam sedikit malas tapi tetap diambil.
Tapi pada saat ini, Sistem berkata, [Ditemukan kumpulan uang receh sebesar 20 ribu rupiah dalam jarak 9,5 meter dari Host ]
Azam segera pergi ke lokasi yang ditandai oleh Sistem, dia melihat kalau lokasi uangnya ada di dalam selokan kering dengan banyak tumbuhan liar di dalamnya.
Lalu Azam melihat ada plastik transparan yang isinya adalah recehan berupa banyak uang koin 100 dan 200 rupiah. Azam berjongkok dan mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil cincin itu.
Orang-orang yang melihatnya berpikir kalau Azam merupakan pemulung sampah yang sedang mengambil sampah di selokan dan segera menjauhinya.
"Dapat." Azam tidak peduli dengan pikiran orang di sekitarnya dan mencoba untuk kantung plastik itu sampai dapat.
Azam membukanya dan menumpahkan semua isi dari plastik transparan itu, tapi selanjutnya dia tertegun karena ada barang yang berbeda yang bukan sebuah koin melainkan sebuah cincin.
Penampilan cincinnya sangat menarik apalagi ada batu hitamn yang memiliki warna yang elegan. Setelah diperhatikan, tidak ada nama atau nomor yang diukir di cincin itu.
"Batu akik, ya? Sistem, bisakah kamu memindai cincin ini?" tanya Azam kepada Sistem sambil mengagumi cincinnya.
[Sayang sekali tidak untuk saat ini, Host.]
"Yah, aku sudah mengharapkan hal ini." Azam tidak terlalu kecewa, dia bertanya kepada Sistem murni karena penasaran saja.
Azam duduk di bangku di dekatnya, dia hendak mencari informasi tentang batu akik itu, tapi dia kepikiran kalau dia baru saja mendapat skill penilai dengan 50 tahun pengalaman.
Azam menyentuh, meraba, dan melihat cincin batu akik itu dengan serius seolah-olah dia memang seorang penilai sejati. Lalu setelah setengah jam, dia mendapatkan hasilnya.
"Batu safir hitam, harganya sekitar 20 juta?" Itu adalah hasil yang didapatkan oleh Azam setelah mengamatinya selama setengah jam.
Alasan Azam bisa tahu kalau itu adalah batu safir ya jelas karena ingatan yang muncul secara tiba-tiba setelah dia menerima skill penilai.
"Lalu, haruskah kita mencari di internet?" Azam segera mencari di internet tentang baru safir berwarna hitam yang merupakan salah satu batu termahal.
Salah satu batu akik termahal di dunia adalah batu safir. Batu safir juga banyak peminatnya dan sering dicari kolektor batu di seluruh dunia. Warna batu safir ada warna safir hitam, safir kuning, safir putih, hingga safir biru.
Kenapa batu safir mahal? Faktor kelangkaan dan keindahan merupakan alasan yang membuat harga batu safir semakin mahal dan karena banyak peminatnya, penjual mulai menaikkan harganya.
Bahkan Azam menemukan kalau ada batu safir yang dijual dengan harga 50 juta rupiah. Informasi ini membuat darah di dalam tubuh Azam mendidih karena terlalu bersemangat dengan apa yang dia lihat.
"50 juta!? 30 juta lebih banyak dari perkiraanku." Azam ingin berteriak dengan sangat keras namun dia menahannya dan mencoba untuk menenangkan diri.
"Tapi sepertinya itu adalah batu akik yang memiliki kualitas lebih baik?" Azam mengangkat bahunya. Dia tahu kalau meskipun batu safir hitam memang mahal, harganya juga pasti akan bervariasi.
Tujuan Azam saat ini adalah untuk memiliki banyak uang, dan saat mengetahui kalau harga cincin batu akik yang dia pegang bernilai jutaan hingga puluhan juta, Azam sangat bahagia.
Jadi, tanpa basa-basi Azam segera pergi ke toko perhiasan yang ada di dekatnya. Untungnya, jarak ke toko perhiasan tidak begitu jauh sehingga Azam tidak perlu memesan ojek online.
"Selamat datang, apakah ada yang bisa saya bantu?" Seorang pelayan yang mengenakan pakaian mencolok tersenyum menyambut Azam.
"Aku mau menjual perhiasanku, apakah bisa?" tanya Azam dengan ragu-ragu kepada si pelayan.
"Tentu saja bisa, mari ikuti saya." Pelayan mengangguk dan menuntun Aksa menuju tempat duduk yang sudah disediakan oleh pihak toko bagi pelanggan.
Setelah Azam duduk, pelayan itu pergi dan kembali dengan seroang pria tua di sampingnya. Pria tua itu mengenakan yang sederhana berwarna putih dengan jubah berwarna abu-abu. Ada juga kacamata baca yang ditaruh di saku pakaian.
Pria itu itu memiliki rambut yang cukup panjang dengan janggut tipis, penampilannya seperti seorang intelektual veteran karena auranya juga membuat orang merasa kagum.
"Terima kasih telah menunggu, ini adalah Pak Rudi. Beliau adalah spesialis perhiasan toko kami yang akan memeriksa perhiasan milik Anda," kata si pelayan dengan suara manisnya.
Karena sebelum dijual, perhiasan tentu saja akan diperiksa terlebih dahulu dan itu membutuhkan seorang ahli agar tidak ada kesalahan satupun.
"Terima kasih juga." Azam mengangguk kecil.
Pelayan itu membungkukkan badannya sedikit sebelum pergi meninggalkan mereka berdua. Si pria tua juga duduk di seberang aksa dan memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan, namaku Rudianto Brijaya." Pria tua yang bernama Rudianto itu berkata sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Halo, Pak. Namaku Azam Pramudya." Azam mengulurkan tangan kanannya juga untuk berjabat tangan dengan Rudi.
Setelah berjabat tangan, Azam kepikiran sesuatu tentang nama belakang pria tua di depannya. Rudi yang melihat ekspresi Azam tersenyum karena dia yang apa yang Azam pikirkan.
"Brijaya, nama keluarga terkenal yang merupakan ahli perhiasan," kata Rudi yang membuat Azam tersadar.
Brijaya adalah nama keluarga yang sangat terkenal bukan hanya di Jakarta, tapi juga di Indonesia. Bahkan nama Brijaya juga terkenal di luar negeri dalam bidang perhiasan dan logam mulia.
Keluarga Brijaya merupakan ahli perhiasan yang memiliki perusahaan perhiasan di penjuru Indonesia. Mereka juga membuka cabang di luar negeri apalagi di Asia, mereka sudah terkenal.
Mereka adalah keluarga kaya dengan aset triliunan rupiah menjadikan mereka salah satu keluarga terkaya di Indonesia, apalagi mereka juga keluarga yang sudah berdiri sangat lama.
"Ternyata Keluarga Brijaya, pantas saja aku merasa tidak asing." Azam menganggukkan kepalanya dan berkata dengan suara normal yang membuat Rudi terkejut.
Biasanya, orang yang mengetahui kalau ada Keluarga Brijaya di dekat mereka akan terkejut setengah mati dan berbicara dengan gugup, mereka juga pasti akan meminta tanda tangan atau foto bersama.
Namun Azam bisa tetap bersikap dengan tenang yang membuat kesannya di hari Rudi meningkat. Meskipun alasan sebenarnya adalah karena Azam tidak peduli dengan hal tersebut.
"Jadi, nak Azam, perhiasan apa yang mau kamu periksa?" Rudi bertanya perhiasan apa yang perlu Azam periksa.
"Ah benar, ini, Pak." Azam mengeluarkan cincin batu akik safir dari tas dan memberikannya kepada Rudi untuk diperiksa.
Rudi memakai kacamatanya dan mulai memeriksa cincin batu akik milik Azam dengan serius karena dia melihat penampilan cincin itu sangat indah.
"Ini!?" Rudi mengeluarkan suara terkejut setelah beberapa menit memeriksa.
"Ada apa, Pak!?" Azam terkejut karena mengira kalau ada yang salah dengan cincin batu akik itu.
"Dari mana kamu mendapatkan cincin ini!?" Rudi bertanya dengan nada dan ekspresi tegas yang tidak bisa dilawan oleh Azam.
Azam tertawa kecil dan menjawab, "Itu peninggalan kakekku sebelum beliau tiada. Aku ingin menjualnya karena situasiku sedang tidak baik-baik saja."
Azam memutuskan untuk berbohong karena jika dia tidak melakukan hal itu pasti akan menimbulkan banyak sekali masalah yang tidak perlu dan Azam benci akan hal itu.
"Kamu ingin menjualnya!? Kalau begitu jual ke kami!" Rudi berkata dengan suara keras sekaligus nada gembira.
"Eh, kalau boleh tahu, memangnya kenapa ya?" tanya Azam karena dia tidak tahu mengapa Rudi terlihat sangat bersemangat setelah memeriksa cincin batu akik nya.
Rudi berdehem karena malu dan berkata, "Ehem, itu karena cincin ini adalah cincin yang langka, atau lebih tepatnya batu akik nya yang langka."
"Langka? Tapi sepertinya lebih dari itu." Azam berkata dengan nada curiga karena reaksi Rudi terlalu berlebihan untuk sebuah batu akik yang langka.
"Haha, ketahuan ya. Sebenarnya, batu akik ini sangat langka, bahkan aku sendiri tidak tahu berapa harga pastinya." Rudi menjawab dengan sangat serius.
"Kalau begitu bagaimana aku bisa menjualnya?" Azam mengernyit karena tidak menyangka situasinya akan seperti itu.
Rudi tersenyum dan berkata dengan nada percaya diri. "Jangan khawatir, aku akan membelinya dengan harga 72 juta rupiah."
"Apa!?" Azam berdiri secara tiba-tiba dan berteriak dengan suara sangat keras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
SweetiePancake
Ini op banget astagay
2024-02-17
0
Ryan Hidayat
kesan nya di hari???
hati Bosque
2023-11-29
0
Ryan Hidayat
gw kira masa aktif nya 50 th njirr
2023-11-29
0