Keesokan paginya, sinar matahari yang hangat masuk melalui celah tirai jendela. Azam membuka matanya yang mengantuk, duduk sebentar dan meminum segelas air di meja sebelah kasur.
Kemudian Azam beranjak dari tempat tidurnya, mandi dengan cepat, dan memasak sarapan sederhana karena dia lupa untuk membeli bahan-bahan kemarin.
Hari ini hanya ada satu kelas dan itu ada di sore hari, jadi Azam berencana untuk mencari rumah atau apartemen yang bagus dengan harga yang sesuai dengan kondisi keuangannya.
Azam tidak mencari tempat tinggal lewat agen resmi karena biasanya akan melalui proses yang cukup rumit. Azam hanya akan menyewanya jadi dia ingin tempat yang bisa langsung pindah.
"Hm, aku sudah memeriksa di internet kalau ada orang yang menyewakan kamar di apartemennya." Azam melihat ponselnya yang menampilkan kondisi kamar apartemen yang disewakan.
Benar, kamar yang disewakan, bukan seluruh apartemennya. Alasannya adalah karena sang pemilik bosan dan ingin ada teman di apartemennya yang sepertinya cukup luas.
Azam tertarik karena harga sewanya yang cukup murah, yaitu 1 juta perbulan. Lokasinya strategis, ada minimarket, sekolah, restoran, kafe, dan tempat lainnya, jadi harga sewanya tergolong murah.
Jadi, Azam menelepon nomor yang tertera di sana dan panggilan terhubung hanya dalam beberapa detik saja. "Halo, apakah ini dengan orang yang menyewakan kamar apartemennya di Jalan Mawar?"
"Halo, ya benar. Kamu mau menyewanya?" Terdengar suara wanita yang indah dari balik telepon yang membuat Azam terkejut.
Meskipun terkejut, Azam tetap menjawabnya, "Ya, aku mau menyewa. Apakah kamu ada waktu saat ini? Aku ingin memeriksa kamarnya."
"Ada, langsung datang saja ke sini." Setelah mengatakannya, wanita itu langsung menutup telepon yang membuat Azam terkejut lagi.
Pada awalnya Azam mengira kalau wanita itu akan menolak karena teman sekamarnya adalah seorang pria, tapi wanita itu tidak mengatakan apa-apa dan memintanya untuk segera datang ke apartemennya.
Jadi, Azam mengenakan jaket dan segera pergi ke apartemen itu sesuai dengan alamat yang tertera. Dia ke sana dengan ojek online seperti biasa karena tidak punya kendaraan pribadi.
"Jika dia mengizinkan, bukankah teman satu apartemenku adalah seorang wanita?" pikir Azam sambil tersenyum karena merasa kalau itu sangat menarik untuk dinantikan.
20 menit kemudian, Azam sampai di area apartemen yang bernama Rose Apartment. Alamat apartemen yang dituju oleh Azam adalah gedung A, lantai 7, kamar A701.
Azam masuk ke dalam gedung A dan naik ke lantai 7 menggunakan lift. Pintu lift terbuka, Azam keluar dari sana dan melihat kalau hanya ada empat pintu di lorong di depannya. Itu artinya ada empat apartemen di setiap lantai.
"Gedungnya besar tapi cuma ada empat apartemen per lantai. Jadi, setiap apartemen punya ruang yang sangat luas," pikir Azam sambil berjalan beberapa langkah menuju pintu apartemen A701.
*ding dong
Bel ditekan, Azam menunggu beberapa saat sebelum pintu dibuka. Dia melihat kalau ada wanita cantik dengan rambut pendek sebahu dan kacamata bulat berwarna hitam di pangkal hidungnya.
Meskipun wanita di depannya mengenakan kaos oversize, itu tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya yang sangat indah bagaikan gitar spanyol yang bergelombang.
Mata yang tenang dan elegan, hidung mancung, bibir tipis dan lembut, wajahnya yang murni menunjukkan kecantikan yang sulit ditemukan di era sekarang di mana make up merajalela.
"Halo, apakah kamu Vanessa?" tanya Azam setelah terbangun dari lamunannya.
"Ya, kamu?" Wanita di depan Azam yang bernama Vanessa mengangguk dan bertanya.
"Aku Azam Pramudya, orang yang meneleponmu tadi," jawab Azam.
"Oh, itu kamu, ayo masuk." Vanessa mempersilakan Azam untuk masuk ke dalam apartemennya.
"Kalau begitu, permisi." Azam masuk ke dalam apartemen, dia melepas sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu di sana.
"Ada empat kamar di sini. Satu kamar utama di sana adalah milikku, dua kamar sedang yang bisa kamu pilih, dan satu kamar ukuran kecil." Vanessa menunjuk ke arah pintu kamar di dekat ruang keluarga yang merupakan kamar miliknya.
Kemudian di sebelah kamar Vanessa ada satu pintu kamar sedang, dan sisanya ada di dekat ruang makan. Vanessa berkata kalau Azam bisa memilih diantara dua kamar sedang.
Azam yang mendengar hal itu langsung memutuskannya. "Apakah aku boleh memilih kamar di sebelahmu?" Azam tersenyum dan bertanya kepada Vanessa.
Vanessa melirik Azam sebentar sebelum mengangguk dan berkata, "Silakan saja, asalkan kamu mematuhi peraturan yang ada."
"Dan apa peraturannya?" tanya Azam.
"Tidak ada yang spesifik, hanya berlaku baik, mengurus bagianmu sendiri, anggap saja kita ini teman sekamar," jawab Vanessa dengan nada malas.
"Baiklah, bisakah aku menandatangani kontraknya?" Azam mengangguk karena peraturan itu sama sekali tidak memberatkan. Jadi dia memutuskan untuk menyewa kamar di sana.
"Ada, itu di atas meja." Vanessa duduk di sofa dan menandatangani namanya di atas kontrak. Kemudian Azam juga menandatangani namanya di situ.
Setelah kontrak ditandatangani, Azam meminta nomor rekening Vanessa dan segera mengirimkannya uang sewa untuk tiga bulan dengan total 3 juta rupiah.
Mereka berdua berbicara membahas beberapa hal. Azam mengetahui kalau Vanessa merupakan penulis novel online yang cukup terkenal, itulah mengapa dia terlihat malas karena terlalu lelah menulis.
Vanessa juga menatap Azam dari atas sampai ke bawah. Dia berpikir kalau Azam bukankah pria yang buruk melihat penampilannya yang sederhana dan bersih, tidak seperti orang-orang yang berminyak.
Tapi yang membuat Vanessa terkejut adalah usia Azam yang masih 18 tahun dan merupakan seorang yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan.
Dia tidak bertanya dari mana Azam mendapatkan uang. Mungkin karena penampilan Azam yang bersih membuat Vanessa percaya kalau Azam tidak mendapatkan uang secara ilegal.
"Kamu bisa langsung pindah ke sini." Vanessa berdiri dan berkata dengan nada malas.
"Tunggu sebentar, bisakah aku mengajukan satu pertanyaan?" kata Azam.
Vanessa menghentikan langkahnya dan menoleh, "Apa?"
Azam mengangguk dan berkata, "Yah, mengapa kamu mengizinkanku menyewa di sini? Masalahnya aku adalah pria, dan kamu wanita."
"Hal seperti itu tidak berlaku di Kota Jakarta, kota yang bebas." Vanessa menguap dan pergi ke kamarnya setelah menjawab pertanyaan dari Azam.
Azam menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya karena apa yang dikatakan oleh Vanessa memang benar adanya. Dia mengangkat bahunya dan segera pergi ke kamarnya yang ada di sebelah kamar Vanessa.
Di dalamnya ada kasur queen size yang membuat Azam terkejut lagi. Lemari pakaian besar di sisi kiri kasur, meja belajar dengan komputer di atasnya, dan rak buku di sebelah meja belajar.
"Ada komputer? Aku tanya Vanessa nanti karena dia terlihat lelah sekarang." Azam mengangkat alisnya karena ada komputer di dalam kamar.
Setelah memeriksa seisi kamar, Azam keluar dari apartemen Vanessa dan kembali ke apartemen murahnya, dia mengemas pakaian ke dalam koper dan beberapa barang sederhana.
Azam hanya membawa satu koper kecil karena pakaiannya tidak banyak dan barang-barangnya juga hanya laptop, hiasan kamar, dan beberapa barang lainnya.
Sebelum meninggalkan apartemen, Azam membayar tunggakan sewa kepada pemilik apartemen dan berkata kalau dia akan keluar dari sini. Baru setelah itu Azam memesan taksi online untuk pergi ke apartemen Vanessa.
"Ah, Pak, tolong berhenti di supermarket sana dulu. Aku bayar lebih nanti," kata Azam yang hampir lupa untuk membeli bahan-bahan makanan.
"Siap!" Pak supir bersemangat karena dia akan dibayar lebih oleh Azam. Jadi dia berhenti di supermarket dan menunggu Azam selesai membeli bahan-bahan makanan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Nurul Hikmah
siapa yang tahan sekamar dengan pria ganteng
2023-11-29
0
Hades Riyadi
Lanjutkan Thor 😛😀💪👍🙏
2023-11-03
0
Hades Riyadi
Secara perlahan menapak ke kehidupan yang lebih baik, di apartemen yang lebih bagus dan ada Wanita cantik lageee... siapa tau ada rejekinya nanti...😛😀💪👍👍
2023-11-03
2