Keesokan harinya, sinar matahari terbit yang hangat dengan ringan tumpah ke kamar Azam melalui jendela. Azam membuka matanya dengan ringan, lalu segera pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi.
Azam tidak langsung mandi karena hari ini dia akan olahraga pagi dengan Vanessa. Jadi, setelah membasuh muka, dia segera mengganti pakaiannya menjadi pakaian olahraga.
Dengan kaos dan celana pendek berwarna hitam, lalu dengan sepatu olahraga berwarna putih, Azam sudah siap untuk berolahraga. Dia keluar dari kamar dan melihat kalau Vanessa juga sudah siap.
"Azam, ayo olahraga?" kata Vanessa dengan nada riang karena Azam akan ikut lari pagi bersamanya.
"Ayo!" Azam mengangguk sambil tersenyum.
Mereka berdua keluar dari rumah dan turun menggunakan lift. Setelah lift sampai di lantai satu, mereka berdua langsung berlari. Tapi bukan lari cepat karena itu tidak boleh dilakukan di dalam lobi, melainkan hanya joging.
Udara yang sejuk dengan sinar matahari yang hangat menyelimuti kulit Azam dan Vanessa. Mereka merasa seperti dilahirkan kembali karena tubuh mereka sangat nyaman.
"Tidak disangka, baru saja keluar sudah senyaman ini." Azam berkata dengan suara lirih sambil merasakan pelukan dari hangatnya sinar matahari.
"Benar, kan? Makanya ayo lari pagi setiap hari!" kata Vanessa sambil tersenyum. Dia sudah terbiasa dengan perasaan nyaman ini karena hampir setiap hari merasakannya.
"Haha, ayo!" Azam tertawa sebentar sebelum menjawab.
Mereka berdua lari pagi di sekitar komplek apartemen. Mereka mengitari gedung, berlari di taman komplek, berlari di trotoar sambil mengalami penyiksaan dari aroma makanan pedagang kaki lima.
Satu jam kemudian, mereka berdua berhenti di depan pedagang kaki lima yang berjualan di dekat komplek apartemen.
"Van, mau sarapan apa?" Azam menoleh ke arah Vanessa dan bertanya kepadanya.
"Terserah." Vanessa menjawab dengan jawaban yang sudah melegenda yang membuat Azam terdiam dan tidak bisa berkata-kata.
"Kalau gitu ayo sarapan bubur ayam." Azam memutuskan untuk sarapan bubur ayam daripada bertanya kepada Vanessa lagi.
"Oke!" Vanessa mengangguk dan tidak keberatan dengan sarapan pilihan Azam. Dia juga tidak membutuhkan makanan yang berat untuk sarapan.
Mereka memesan bubur ayam di pedagang kaki lima terdekat. Sang penjual langsung membuatkan pesanan mereka dengan kecepatan tangan yang melebihi kecepatan cahaya.
"Selamat makan," kata Azam sebelum makan bubur ayam.
Tapi saat Azam mengambil bubur dan hendak memasukannya ke dalam mulut, dia tertegun. Karena melihat kalau Vanessa sedang mengaduk-aduk bubur ayam miliknya.
"Kamu tim bubur diaduk!?" Azam melebarkan matanya dan berkata dengan suara keras.
"Hah? Kamu tim tidak diaduk!?" Vanessa juga berkata dengan keras.
Suara mereka berdua didengar oleh orang-orang di sekitar yang sedang makan bubur juga. Yang lain hanya tertawa melihat apa yang mereka bicarakan karena itu adalah hal yang lumrah.
Ada banyak orang yang memperdebatkan apakah sebelum makan bubur ayam, harus diaduk terlebih dahulu atau tidak. Dan karena hal ini ada beberapa cara makan bubur ayam yang melenceng dari jalur.
Azam dan Vanessa juga tidak berdebat, mereka hanya terkejut dengan tim yang dipilih. Setelah saling memandang, mereka berdua tertawa lalu memulai sarapannya.
...----------------...
Universitas Indonesia, di gedung fakultas manajemen. Azam sedang berjalan di koridor menuju ruang kelasnya karena sebentar lagi akan diadakan kelas pagi.
Namun, ada yang membuat Azam heran. Ada lebih banyak orang di gedung fakultas manajemen, dan semakin dekat dengan kelasnya, ada lebih banyak orang lagi di sana.
Dan saat Azam masuk ke dalam ruang kelas, dia melebarkan matanya dan mulutnya sampai menganga karena hampir semua kursi di dalam kelas sudah terisi oleh orang-orang.
Azam mengerutkan keningnya karena masih belum paham tentang apa yang sedang terjadi. Namun dia mengesampingkan pikiran itu dan segera duduk di barisan paling belakang di dekat jendela seperti protagonis anime.
"Hari pertama menggunakan laptop baru." Azam tersenyum, dia mengeluarkan laptop yang baru dibeli kemarin dari tasnya dan menaruhnya di atas meja.
Laptop yang dibeli Azam cukup terkenal, selain karena itu adalah keluaran terbaru, harganya juga cukup mahal sehingga banyak mahasiswa yang tidak bisa membelinya.
Jadi, mahasiswa yang duduk di sekitar Azam terkejut saat melihatnya mengeluarkan laptop keluaran terbaru. Mata mereka menjadi cerah karena melihat ada orang kaya yang membeli laptop itu.
Meskipun sebenarnya Azam bukankah orang yang kaya jika mereka tahu situasinya. Tapi bagi orang yang tidak mengenal Azam, Azam memang terlihat sebagai orang kaya.
*ding dong
Pada saat ini, bel kelas berbunyi. Dalam sekejap, ruang kelas yang awalnya berisik, langsung menjadi tenang dan sunyi bahkan jarum yang jatuh pun bisa terdengar.
*tap tap tap
Suara sepatu hak tinggi yang tajam terdengar dari jauh mendekat ke kelas. Segera, pintu terbuka dan kecantikan luar biasa naik ke atas podium.
Dia memiliki rambut sedikit panjang, namun bagian belakangnya diikat. Wajah cantiknya yang terlihat elegan dan dewasa, mata dan hidung yang hampir sempurna, serta mulut ceri yang lezat.
Kaos turtleneck yang dia pakai menunjukkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Plus, ada pesona khusus yang dia pancarkan. Selama orang melihatnya, mereka tidak bisa menggerakkan kepala mereka sama sekali.
"Sekarang aku tahu mengapa kelas ini sangat ramai." Azam menghela napas, karena dia juga bisa memahami pikiran para mahasiswa pria di dalam kelas ini.
Dia juga tahu siapa wanita di atas podium. Hana Isaura, seorang dosen fakultas manajemen yang menjadi dosen di usianya yang masih 28 tahun, seorang jenius dan berbakat yang nyata.
Pada saat ini, Hana meletakkan laptopnya dan berkata, "Hari ini, kita akan belajar bagaimana pengelolaan uang dalam konteks manajemen."
Hana menyalakan proyektor dan menyambungkan kabelnya ke laptop. Kemudian muncul powerpoint di layar putih untuk proyeksi. Setelah itu Hana memulai pelajarannya tentang pengelolaan uang.
Setelah menjelaskan materi, Hana menampilkan sebuah soal tentang keuangan manajemen. Dia melihat ke arah mahasiswa dan berkata, "Silakan, apa ada yang bisa menjawabnya?"
Semua mahasiswa mengambil pulpen dan mencoba menghitungnya di buku corat-coret. Mereka berpikir untuk menggunakan waktu tersingkat untuk menyelesaikan masalah, dan dengan demikian mendapat perhatian Hana.
Hana menunggu dengan sabar, namun setelah 15 menit, dia tidak menemukan ada mahasiswa yang mengangkat tangan. Jadi dia mengerutkan keningnya dan berpikir apakah mahasiswa di kelasnya tidak mendengarkan materi yang dia jelaskan.
Sebenarnya hampir semua mahasiswa sudah dapat jawabannya, tapi entah mengapa mereka tidak mengangkat tangan karena merasa malu dan takut salah jawab.
Azam sudah selesai menghitung, tapi dia mencoba untuk memahami segala langkahnya perhitungannya agar bisa lebih ingat dan paham.
Hana melihat kalau semua mahasiswa menundukkan kepalanya. Tapi di sudut pandangannya, dia melihat ada seorang mahasiswa yang terlihat serius.
Jadi dia memanggil mahasiswa itu. "Mahasiswa laki-laki di sana, yang duduk di pojokan itu, tolong jawab pertanyaan ini."
Azam yang sedang fokus merasakan kalau orang-orang di sekitar melihat ke arahnya. Kemudian dia sadar kalau Hana memanggil dirinya untuk menjawab soal.
Jadi, Azam berdiri dan menjawab soal itu sesuai dengan perhitungannya. Dia tidak khawatir kalau salah, karena soalnya sangat mudah dan termasuk soal dasar.
Bahkan jika salah, itu adalah hal yang lumrah karena dia baru belajar materi ini hari ini saa Hana menjelaskannya. Yang penting dia sudah menjawab dengan usahanya, masalah benar atau salah bisa dilihat nanti karena ini bukan kompetisi.
"Jawabannya benar, siapa namamu?" tanya Hana dengan penasaran karena Azam menjawab dengan percaya diri tidak seperti mahasiswa lainnya yang ragu-ragu.
"Um, Azam Pramudya, Bu." Azam mengatakan namanya dengan sopan.
"Azam, ya. Baiklah, kamu boleh duduk." Hana mengangguk dan memperbolehkan Azam untuk duduk kembali.
Hana melanjutkan penjelasannya dan sesekali dia juga menampilkan soal. Kali ini, Azam berinisiatif untuk menjawabnya daripada ditunjuk oleh Hana karena dia merasa kalau materinya cukup mudah.
Kemudian hampir seluruh soal yang ditampilkan oleh Hana dijawab oleh Azam dengan mudah. Hana memiliki mata yang cerah karena ada mahasiswa yang tidak hanya pintar namun juga percaya diri di kelasnya.
*ding dong
Bel kelas berbunyi tanda bahwa pelajaran telah usai. Hana merapikan buku dan laptopnya, lalu berkata, "Azam, tolong ke kantorku saat jam makan siang. Lalu, sampai jumpa di pertemuan selanjutnya."
Hana keluar dari ruang kelas, namun saat ini semua perhatian orang-orang tertuju pada Azam. Mereka tidak menyangka kalau Hana akan memanggil Azam ke kantornya.
Padahal ada banyak sekali mahasiswa yang sudah mencoba untuk menarik perhatian Hana, namun semuanya berakhir dengan kegagalan.
"Ah?" Azam menggaruk-garuk kepalanya karena tidak tahu mengapa Hana memintanya untuk datang ke kantor saat jam makan siang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
yuce
aku juga kalau makan bubur suka diaduk sebelum makan kalau gak diaduk kurang enak rasanya.pernah kucoba gak diaduk tapi malah buburnya gak habis kayak rasanya gak makan ja.
2024-06-06
0
Wheisman Kharazak
🗿 padahal sepele, di aduk atau tidak selesai dimakan jadi taik jga nanti🗿
2023-12-17
0
Nurul Hikmah
genius ceritanya unik Saya suka ini
2023-11-29
0