Azam membuka mulutnya untuk menjelaskan bagaimana sikap Arif saat masih di SMA dan hubungan dengan dirinya, meskipun sebenarnya Azam tidak ingin menceritakan hal buruk itu.
"Singkat cerita, Aku dan Arif hanya tahu satu sama lain, dan terkadang kami juga saling sapa. Tapi semua itu berubah saat Arif suka dengan perempuan di kelasku."
"Arif selalu bertanya kepadaku tentang informasi perempuan itu. Aku pun memberitahu informasi yang aku tahu, tapi entah mengapa sikap Arif berubah setelah beberapa hari."
Azam menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan. Kemudian, di melanjutkan ceritanya tentang Arif.
"Arif dapat berita dari temannya kalau perempuan yang disukainya malah suka padaku. Sejak saat itu dia bersikap kasar dan malah semena-mena mau itu ke laki-laki atau perempuan."
Vanessa mendengarkan cerita yang dikatakan oleh Azam dengan serius. Dia mengerutkan keningnya dalam-dalam saat mendengar perkataan Azam yang terakhir.
"Maksudnya semena-mena itu bagaimana?" tanya Vanessa karena dirinya merasa kurang jelas dengan kalimat tersebut.
"Ah, dulu, Arif pernah memukul lengan teman perempuannya. Alasannya, kalau tidak salah karena tidak dipinjamkan uang," kata Azam dengan raut wajah yang tidak mengenakkan.
"Apa!? Dia melakukan hal itu!?" Vanessa sangat terkejut, bahkan saking terkejutnya dia sampai menepuk meja dengan sangat keras.
"Woah, tenang." Azam menenangkan Vanessa karena orang-orang di sekitar melihat ke arah mereka.
Vanessa mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan. Barusan dia marah karena Arif pernah memukul perempuan, karena tidak dipinjamkan uang oleh perempuan itu
Kebetulan sekali pelayan toko mengantarkan pesanan mereka. Jadi Vanessa bisa menenangkan diri dengan memakan menyantap smoothie buah dan pie buahnya.
Azam tersenyum saat melihat Vanessa yang makan sambil marah karena terlihat imut. Berpikir seperti itu, Azam mengeluarkan ponselnya dan memotret Vanessa yang sedang makan.
"Ah! Apa yang kamu lakukan!?" Vanessa terkejut dengan tindakan Azam yang memotret dirinya. Dia segera berdiri dan mencoba untuk mengambil ponsel Azam.
Azam berdiri dan mengangkat tangan kanannya yang sedang memegang ponsel. Vanessa tidak menjangkaunya dan hanya bisa melompat-lompat untuk menggapai ponsel milik Azam.
Orang-orang yang melihatnya berpikir kalau mereka adalah pasangan muda yang sedang menunjukkan cinta. Jadi mereka hanya menggelengkan kepala dan meratapi karena tidak punya pasangan.
...----------------...
Sementara itu di gedung pencakar langit yang ada di Jakarta Pusat, tepatnya di lantai 37, di salah satu ruangan terbesar di lantai itu.
"Vanessa pergi bersama pria?" Seorang pria paruh baya dengan tubuh yang kekar berkata dengan suara tertarik saat mendengar informasi dari Wahid di telepon.
Pria paruh baya itu adalah kepala Keluarga Dirta saat ini, yang juga ayah Vanessa, Harun. Dia sedang bekerja tadi dan saat menjawab telepon dari Wahid, dia menghentikan tindakannya karena Wahid memberi informasi yang menarik.
"Ya, Pak. Nona Vanessa sedang jalan bersama pria muda yang bernama Azam. Saya sudah mengirim informasinya ke email Bapak," kata Wahid dari balik telepon.
"Heh~ Kerja bagus, terima kasih atas kerja kerasmu," kata Harun dengan suara yang gembira.
Harun Adirta, merupakan kepala Keluarga Dirta dan pemilik dari Super Mall Dirta. Dia merupakan ayah yang baik, jadi dia sangat gembira saat mendengar Vanessa dekat dengan seorang pria.
Karena Vanessa terobsesi dengan menulis novel dan dia selalu mengurung diri di kamarnya agar bisa fokus menulis. Itulah mengapa Harun sedikit khawatir dengan hubungan sosial putrinya.
"Bukan masalah besar." Wahid berkata dengan rendah hati, lalu dia mengakhiri panggilannya dengan Harun.
Harun menyingkirkan dokumen-dokumen yang ada di atas meja kerja dan segera melihat informasi Azam di komputernya yang dikirimkan oleh Wahid lewat email.
"Azam Pramudya, 18 tahun, yatim piatu?" Harun mengerutkan keningnya saat melihat informasi tentang keluarga Azam yang hanya memiliki satu wali yaitu kepala panti asuhan.
Kemudian dia melihat informasi Azam yang membeli pakaian, laptop, dan ponsel baru yang harganya mahal, padahal dia adalah seorang anak yatim piatu yang selalu bekerja paruh waktu.
Harun mengira kalau Azam terlibat dalam sesuatu yang ilegal, namun dia membuang pikirannya saat melihat informasi terbaru, yaitu tentang Azam yang menjual cincin batu akik safir.
"Ho, dia sangat beruntung. Bisa mendapatkan puluhan juta rupiah hanya karena menemukan sebuah cincin," pikir Harun sambil tertawa kecil.
Tapi apa yang tidak diketahui oleh Harun adalah bukan karena Azam beruntung, tapi karena Azam menggunakan Sistem Pemindai untuk menemukan cincin batu akik safir itu, meskipun secara teknis itu tidak sengaja.
...----------------...
Azam dan Vanessa berpisah d luar mall setelah makan siang, Vanessa akan kembali ke apartemen namun Azam tetap di sana karena dia ingin mencari harta berharga di sekitar mall.
Super Mall Dirta merupakan mall mewah yang selalu dikunjungi oleh orang-orang kelas menengah ke atas. Pasti ada banyak benda berharga di sekitar mall.
"Sistem, aku mau menggunakan fungsi memindai barang berharga." Aksa memberi perintah kepada Sistem untuk mencari barang berharga yang hanya bisa dipakai satu kali dalam satu minggu.
[Ditemukan jam tangan merek Rolex asli seharga ?? dalam jarak 15 meter dari Host.]
Azam memiliki seringai di wajahnya. Dia hanya ingin mencoba apakah ada barang berharga di sekitar mall, tapi apa yang tidak dia duga adalah ada jam tangan Rolex asli di sekitar yang harganya tidak bisa diperkirakan.
Jadi dia pergi ke lokasi jam tangan Rolex yang ada di toilet umum yang ada di taman. Ada sebuah kotak berwarna hitam dengan corak perak yang terlihat mewa pada pandangan pertama.
Azam mengambil dan menyimpannya di dalam tas pinggangnya. Setelah itu dia pergi ke lokasi kalung emas yang ada di pinggir jalan, tepatnya tertutup rerumputan.
"Jam tangannya aku simpan dulu, akan mencurigakan jika aku menjualnya setelah menjual batu akik," pikir Aksa. Dia takut kalau ada orang yang akan menyelidikinya tentang dari mana asal jam tangan rolex itu.
Pada saat Azam akan melanjutkan pencarian, ponselnya membunyikan banyak sekali notifikasi pesan. Azam mengerutkan keningnya dan segera memeriksa siapa yang mengirimkan banyak pesan.
"Hm? Grup SMA?" Azam terkejut karena bukan seseorang yang mengirimnya banyak pesan, tapi itu berasal dari grup chat SMA.
"Apa yang mereka bahas sampai seramai ini?" Azam segera memeriksa apa yang sedang dibahas oleh anggota-anggota grup chat SMA.
--- {Berita cepat!! Kalian tahu Arif kelas MIPA 1 kan? Dia masuk ke dalam kantor polisi tadi! Aku tidak berbohong, lihat foto ini!}
--- {Arif yang terkenal kenakalannya itu? Wah gila sih, kenapa dia masuk kantor polisi? Apakah ada yang tahu, mungkin teman-teman kelasnya?}
--- {Tidak, kami sama sekali tidak tahu tentang ini.}
--- {Bukan cuma Arif saja, ayahnya juga ikut masuk!}
Azam tidak terkejut dengan bahan pembicaraan anggota-anggota grup chat SMA karena dia sendiri yang mengalami kejadian tadi bersamamu Vanessa.
"Aku kira ada apa, ternyata hanya berita ini." Azam menghela napas dengan kecewa dan menyimpan ponselnya kembali.
Kemudian, dia melanjutkan mencari uang di sekitar sana. Tangkapannya cukup banyak karena itu adalah lingkungan Super Mall Dirta yang pasti ada banyak orang kaya berlalu lalang.
"Tempat pencarian memang penting. Kalau aku mencari ini di perkampungan atau lingkungan yang kurang, pendapatanku bakalan sedikit," kata Azam sambil tersenyum puas karena tasnya menggembung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Nirius
kang looting🗿
2024-01-27
0
Ryan Hidayat
seperti yang baca /Sob//Sob//Sob//Sob/
2023-11-29
0
Nurul Hikmah
lanjutkan
2023-11-29
0