Devina Fiorenza, seorang gadis cantik yang satu tahun lebih tua dari Azam. Dia sangat terkenal di Universitas Indonesia, hampir semua mahasiswa di sini bahkan yang berbeda jurusan juga tau siapa dia.
Ada tiga hal yang membuatnya terkenal. Pertama, dia berasal dari keluarga konglomerat. Kedua, dia memiliki paras yang sangat cantik. Ketiga, dia memiliki otak yang jenius.
Tiga hal tersebut membuat Devina menjadi superior dibandingkan dengan mahasiswa, tidak, dengan orang seusianya. Karena tiga hal tersebut menjadi sangat luar biasa jika digabungkan.
Sebagai seorang remaja laki-laki yang sudah menginjak usia legal, Azam tentu saja tertarik dengan wanita cantik seperti Devina. Dia sudah pernah melihatnya dari kejauhan saat pertama kali masuk ke Universitas Indonesia ini.
"Tapi, gimana caranya aku mengembalikan dompet ini? Haruskah aku ke kelasnya? Atau berikan saja kepada dosen?" Azam berpikir sejenak, kemudian dia memutuskan untuk pergi ke kelas Devina.
Devina mengambil jurusan bisnis, jadi Azam tahu ke mana harus pergi. Saat sampai di bangunan fakultas bisnis, Azam bertanya kepada orang yang lewat apakah melihat Devina.
Setelah bertanya kepada beberapa orang, akhirnya ada satu orang yang melihat Devina. Jadi, Azam segera pergi ke arah yang dikatakan oleh orang yang dia tanyai tadi.
...----------------...
Di gazebo di dekat gedung fakultas bisnis, ada seorang wanita cantik sedang duduk bersama dengan teman-temannya yang lain. Mereka sedang berdiskusi tentang tugas yang diberikan oleh dosen.
"Devina, kamu tidak ingin punya pacar?" tanya seorang wanita dengan rambut pendek yang duduk di sebelah Devina.
Di sebelahnya, ada Devina yang mengenakan pakaian kasual namun penuh pesona. Devina mengenakan celana jeans panjang dengan kemeja berwarna putih yang dimasukkan sebagian.
Rambut panjangnya tergerai sampai ke pinggang yang menambah pesonanya, apalagi dia sedang memakai kacamata yang tidak bisa ditolak oleh orang-orang yang memandangnya.
"Pacar? Entahlah, aku tidak pernah berhubungan dengan pria manapun." Devina menjawab dengan santai namun teman-temannya tidak percaya.
"Tidak mungkin, kan? Masa wanita secantik dirimu tidak pernah berhubungan dengan pria?" Wanita berambut pendek bertanya dengan nada curiga karena dia sama sekali tidak percaya.
Teman-teman yang lain juga mengangguk setuju dengan perkataan wanita berambut pendek. Lagipula, Devina memang sangat cantik apalagi dia asli Jakarta sehingga tidak mungkin untuk tidak berhubungan dengan pria.
"Aku berbicara jujur. Memang benar kalau ada banyak pria yang mengajakku, tapi aku tolak semuanya." Devina berkata dengan nada tidak berdaya karena teman-temannya tidak percaya.
"Oh, 'berhubungan' yang kamu maksud itu hubungan saling suka?" tanya wanita berambut pendek.
"Betul, seperti itu." Devina mengangguk.
"Kalau begitu aku bisa paham. Karena memang benar kalau kamu ini tidak pernah menyukai seseorang, malahan, ada banyak pria yang menyukaimu." Wanita berambut pendek menganggukkan kepalanya.
Pada saat mereka berbincang-bincang sekaligus berdiskusi, Azam datang mendekati mereka. Dia sedikit gugup apakah langsung menghampiri Devina atau menunggu mereka selesai berbicara.
Karena Azam tidak pernah berbicara dengan orang terkenal seperti Devina apalagi dengan identitas di antara mereka berdua yah bagaikan langit dan bumi.
Tapi Devina sadar kalau ada pria yang tidak ia kenal sedang menatap ke arah mereka. Jadi, Devina menoleh dan melihat Azam yang sedang berdiri diam sambil memegangi kepalanya.
"Hei kamu, apa yang kamu lakukan?" Devina memanggil Aksa dengan suara waspada karena mengira kalau Aksa adalah salah satu pelamar yang menyukai dirinya.
"Ah, maaf! Sebenarnya, aku ingin mengembalikan ini." Azam memberikan dompet milik Devina dan berkata dengan gugup.
"Eh?" Devina terkejut melihat barang yang familiar berada di tangan Azam, dia mengambilnya dan melihat kalau itu memang kunci dompet miliknya.
Devina ingat kalau kemarin sore dia panik mencari dompet miliknya. Pada akhirnya dia pulang tanpa membawa dompet, untung saja ada uang digital sehingga dia tidak kerepotan saat membeli makanan.
"Di mana kamu menemukannya?" tanya Devina dengan penasaran.
"Eh, itu ada di dekat pohon area parkir," jawab Azam dengan jujur.
"Ah, jadi di sana." Devina akhirnya tersadar kalau dia memang duduk di bawah pohon sebentar untuk meneduh dari panasnya sinar matahari yang menusuk tulang.
"Oh dompetmu ketemu? Untung saja tidak ada yang mencurinya, haha." Wanita berambut pendek tertawa.
Devina mengabaikan perkataannya, dia melihat Azam dan berkata, "Terima kasih karena sudah mau mengembalikan dompet ini. Apakah kamu butuh sesuatu? Aku bakal memberikan apapun yang kamu mau."
Azam menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Yah, tidak ada. Aku mengembalikan dompet itu tanpa memikirkan imbalan atau sesuatu seperti itu."
Devina menatap mata Azam dalam-dalam dan tidak menemukan kebohongan di sana. Dia menjadi tertarik dengan Azam yang murni mengembalikan dompetnya tanpa mengharapkan imbalan.
Jarang sekali ada orang yang seperti itu di zaman sekarang, sebuah zaman di mana etika kurang diperhatikan karena pengaruh budaya asing atau memang karena jiwa orang-orang sekarang melemah.
"Baiklah, beritahu nomor teleponmu." Devina menyodorkan ponselnya kepada Azam dan memintanya untuk mengetik nomor teleponnya di ponsel miliknya.
"Ah, iya!" Azam terkejut karena dimintai nomor telepon oleh wanita yang diidam-idamkan oleh banyak mahasiswa pria di Universitas Indonesia ini.
Setelah mengembalikan ponsel Devina, Azam berkata, "Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampa jumpa!"
Devina menatap punggung Azam dengan mata indahnya, teman-temannya saling memandang dan berpikir hal yang sama kalau Devina tertarik dengan pria yang baru saja pergi.
"Dev, kami akan mendukungmu!" Wanita berambut pendek berkata.
"Apa?" Devina memiringkan kepalanya karena tidak paham dengan perkataan temannya.
...----------------...
Azam melanjutkan pencarian uang tanpa pemilik, namun kebanyakan hanya menemukan uang receh, tapi Azam tetap mengambilnya karena dia tidak berada di dalam kondisi yang bisa mengabaikan uang.
Kemudian, waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Azam segera pergi ke kelasnya yang ada di gedung fakultas manajemen. Di sana, dia duduk di bangku paling belakang di dekat jendela seperti protagonis anime.
Mau itu di SMA atau di universitas, Azam tidak mempunyai teman. Beberapa hari yang lalu ada acara penyambutan mahasiswa baru, namun Azam tidak hadir karena harus bekerja paruh waktu.
Antara teman dan uang, pastinya lebih penting teman. Namun kondisi Azam sangat memprihatikan karena dia tidak punya uang sama sekali. Itulah mengapa dia lebih memilih bekerja paruh waktu daripada ikut acara penyambutan.
"Sedikit membosankan, mungkin karena dosennya yang sudah tua, beliau terlalu panjang dalam menjelaskan sesuatu," pikir Azam yang mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Waktu berlalu dengan cepat, kelas pagi selesai pas pukul 11 pagi. Azam memasukkan buku-bukunya ke dalam tas ransel, kemudian keluar dari kelas dengan cepat karena dia sudah sangat bosan.
Pada saat dia keluar dari gedung fakultas manajemen, di depan sana ada banyak orang yang berkerumun. Azam tidak tertarik dengan apa yang sedang mereka lakukan, jadi dia langsung menerobos mereka.
"Permisi. Maaf, permisi." Azam lewat dengan sopan karena tidak ingin menimbulkan masalah dengan orang-orang itu.
"Azam!" Nama Azam dipanggil oleh seorang wanita karena suaranya terdengar sangat merdu, dan Azam mengernyitkan dahinya karena dia sudah mendengar suara ini sebelumnya.
Azam menoleh ke arah sumber suara, kemudian dia paham mengapa ada banyak orang yang berkerumun di sini. Itu karena ada Devina yang sedang berdiri menyender ke pilar gedung.
"Um, Devina? Apa kamu butuh sesuatu dariku?" tanya Azam dengan ragu-ragu karena yang memanggilnya adalah Devina.
"Tidak ada, ayo pergi." Devina mengambil langkah dan meminta Azam untuk pergi bersama.
"Eh, baiklah." Azam tidak tahu apa yang Devina inginkan, namun dia mengikuti Devina karena agak risih dengan tatapan orang-orang di sekitar.
"Apa yang terjadi!!?" Orang-orang yang melihat Devina pergi bersama seorang pria tidak dikenal sangat terkejut bahkan mereka sampai berteriak bertanya-tanya apa yang terjadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Nurul Hikmah
hahaha 🤣😂 kepo
2023-11-29
2
Hades Riyadi
Lanjuuuuutt Thor 😛😀💪👍🙏
2023-11-02
0
Hades Riyadi
Untunglah Devina mang gadis cantik yang baik hatinya dan ramah...😛😀💪👍👍👍
2023-11-02
1