Orang-orang yang ada di dalam toko terkejut saat melihat Vanessa yang dengan berani menampar wanita dengan riasan tebal bahkan seisi toko bisa mendengar suara tamparannya.
Wanita dengan riasan tebal itu tertegun sejenak, kemudian wajahnya menjadi merah, bukan karena malu tapi karena marah. Dia tidak menyangka kalau Vanessa akan menampar wajahnya di depan umum.
"Kamu... Kamu berani menamparku!?" teriak wanita dengan riasan tebal sambil menunjuk-nunjuk Vanessa.
Wanita itu menyentuh pipi yang ditampar oleh Vanessa, dia bisa merasakan suhu hangat di pipinya karena tamparan Vanessa memang sangat keras.
"Lalu apa?" Vanessa hanya membalas dengan wajah sombongnya. Dia sama sekali tidak takut dengan amarah wanita dengan riasan tebal itu.
"Wanita sialan." Arif mendekati Vanessa dengan wajah muram, dia mengangkat tangan kanannya dan hendak menampar Vanessa.
Vanessa mengerutkan keningnya, dia ingin mengambil langkah mundur untuk menghindari tamparan dari Arif. Namun pada saat ini, sebuah tangan yang kokoh memegang tangan Arif dengan erat.
"Arif, mau dulu atau sekarang, kamu tetap kasar kepada wanita. Apakah sikapmu ini belum berubah sama sekali?" kata Azam sambil menatap Arif dengan tatapan mata yang dingin.
Benar, Azam lah yang menggenggam tangan kanan Arif yang hendak menampar Vanessa. Dia bertindak dengan cepat karena takut Vanessa kenapa-napa.
"Azam, lepaskan tanganku atau kamu akan menyesal!" Arif mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Azam, namun dia melihat kalau Azam sangatlah kuat.
"Menyesal?" Azam melepas genggamannya secara tiba-tiba yang membuat tubuh Arif condong ke belakang dan tersungkur di lantai. Dia mengabaikan Arif dan melihat ke arah Vanessa.
"Vanessa, kamu tidak apa-apa?" tanya Azam dengan suara khawatir.
Vanessa cukup terkejut dengan tindakan Azam yang berani. Dia kira Azam menjadi takut karena dari tadi Azam hanya berdiam diri dan tidak melakukan apapun, namun ternyata pikirannya salah besar.
"Aku tidak apa-apa." Vanessa menggeleng-gelengkan kepalanya menunjukkan kalau dia tidak kenapa-napa.
"Baguslah kalau begitu. Sekarang, kita harus bagaimana?" Aksa melihat Arif dan wanita dengan riasan tebal yang sedang menatap dirinya dan Vanessa dengan mata kebencian.
"Serahkan saja padaku." Vanessa mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah nomor. Kemudian dia berbicara singkat tentang situasi yang terjadi, lalu mengakhiri panggilan.
Azam meliriknya namun tidak mengatakan apa-apa. Dia sudah yakin kalau Vanessa pasti berasal dari keluarga yang kaya melihat tindakan yang baru saja dia lakukan.
Pada awalnya Azam tidak yakin tentang keluarga Vanessa karena dia hanyalah seorang penulis. Namun setelah melihat mobil Ferrari yang seharga 12 miliar rupiah itu membuat Azam memikirkan kembali.
Selain itu, Vanesa belum pernah menyebutkan nama belakangnya. Jadi Azam hanya tahu nama 'Vanessa' nya saja, bukan nama lengkap.
Arif juga mengeluarkan ponselnya dan memanggil seseorang. "Ayah! Ada dua orang yang menggangguku dan pacarku, mereka sampai mendorong kami dengan paksa!"
"Apa!? Siapa yang berani melakukan hal seperti itu pada putraku!? Nak, tunggu di sana, Ayah akan membawa orang-orang Ayah." Terdengar raungan marah seorang pria paruh baya dari balik telepon yang sepertinya adalah ayah Arif.
Namun orang-orang di sekitar memandang Arif dengan tatapan menghina. Mereka sudah tahu apa yang sedang terjadi namun tidak bergerak karena tidak ingin terlibat dalam masalah.
Meskipun begitu, mereka tahu kalau Arif dan wanita dengan riasan tebal di sampingnya yang membesar-besarkan masalah. Padahal pada awalnya hanya masalah sepele yaitu tidak sengaja tertabrak dan itu cukup ringan.
Meskipun merasa marah dengan tindakan Arif dan wanita dengan riasan tebal, tapi tidak ada diantara mereka yang maju untuk membela atau sekedar melerai.
Karena mereka tahu kalau itu bukanlah pertengkaran antara anak muda seperti biasa, dilihat dari pakaian yang dipakai oleh Arif dan wanita dengan riasan tebal.
"Kasihan, masih ada orang seperti itu di zaman sekarang," kata Azam dengan suara rendah namun bisa didengar oleh Vanessa di sampingnya.
"Perkataanmu salah, bukan masih ada, tapi memang ada, dan itu banyak." Vanessa membalas perkataan Aksa dengan suara menghina yang ditunjukkan oleh orang-orang seperti Arif.
Di samping mereka, sang manajer toko hanya bisa memaksakan senyum. Dia sudah tahu identitas keempat orang yang terlibat dalam masalah, itulah mengapa dia tidak mengambil tindakan.
"Malangnya nasib dua orang itu, mereka tidak tahu siapa yang sedang dihadapi." Manajer toko berkata di dalam hatinya sambil memandang Arif dan wanita dengan riasan tebal.
"Untung saja aku belum mengambil tindakan. Jika aku salah mengambil langkah, bisa-bisa hidupku jadi kacau balau," pikir manajer toko sambil menghela napas lega.
Setelah beberapa saat diam, muncul suara langkah kaki yang berantakan tanda bahwa ada banyak orang yang sedang ke lokasi Azam dan yang lainnya.
Kemudian terlihat ada banyak pria berotot yang mengenakan pakaian serba hitam. Dan di depan mereka ada seorang pria paruh baya dengan setelan jas yang mewah.
Mata Arif dan wanita dengan riasan tebal menjadi berbinar-binar saat melihat mereka datang. Apalagi saat melihat pria paruh baya di depan.
"Ayah!" Arif berteriak dengan gembira dan segera menghampiri pria paruh baya tersebut bersama pacarnya si wanita dengan riasan tebal.
Pria paruh baya itu bernama Roso, dia adalah ayah Arif. Meskipun terlihat seperti pemimpin gangster karena wajahnya, tapi dia merupakan seorang bos perusahaan jasa kelas menengah ke atas.
Itulah mengapa Arif bisa menyombongkan diri di depan Azam dan Vanessa. Mungkin dia tidak tahu Vanessa, tapi dia berpikir kalau Azam masih sama seperti dulu yang merupakan orang miskin.
Jadi Arif hanya membuat spekulasi berdasarkan satu sudut pandang saja. Dia tidak memperhatikan kalau Azam mengenakan pakaian yang lumayan mahal sambil membawa tas belanja.
"Jadi kalian, yang menyakiti putraku." Roso menatap Azam dan Vanessa dengan tatapan mata yang dingin, namun Azam dan Vanessa tidak takut.
"Kalian berdua dicurigai mencelakai seseorang, oleh karena itu mohon ikuti kami ke ruang keamanan." Roso berkata dengan nada dominan berpikir kalau Azam dan Vanessa ketakutan.
Pikiran Roso sangat sederhana. Dia akan memberikan pelajaran kepada Azam dan Vanessa di ruang keamanan karena di sini ada banyak mata yang memandang.
Dia yang merupakan bos perusahaan tidak bisa melakukan kekerasan dengan semena-mena. Reputasi dirinya dan perusahaannya akan hancur jika dia melakukan hal tersebut.
Namun pada kenyataannya, Azam dan Vanessa saling memandang dan bisa melihat ketidakpedulian di mata mereka masing-masing.
Roso semakin marah dengan sikap Azam dan Vanessa, dia tidak bisa menahannya lagi namun tahu kalau tempatnya tidak cocok. Jadi dia memerintahkan orang-orang di belakangnya.
"Tunggu apa lagi, cepat tangkap dan interogasi mereka! Bawa mereka ke ruang keamanan!" Roso memberi perintah kepada orang-orang berpakaian serba hitam di belakangnya.
Mereka adalah gangster yang memiliki hubungan dekat dengan Roso. Namun agar tidak menimbulkan lebih banyak masalah, Roso meminta mereka untuk berpakaian seperti penjaga keamanan.
Para bawahan Roso segera mengepung Azam dan Vanessa setelah mendengar perintah dari Roso. Mereka bersiap untuk menangkap Azam dan Vanessa, namun pada saat ini terdengar raungan marah dari luar.
"Siapa yang berani melakukan sesuatu terhadap Nona muda kami!?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Nurul Hikmah
makan tu
2023-11-29
0
Yahya
peternak nyasar kesini wkwkwk
2023-11-24
0
Hades Riyadi
Lanjutkan Thor 😛😀💪👍🙏
2023-11-03
0