"Kenapa harus takut? Toh aku gak pernah berbuat salah, jadi aku gak perlu takut buat tinggal di kamar itu. Hanya orang-orang yang memiliki kesalahan saja, yang takut tinggal disana! Emangnya kenapa mbak Anita tanya kayak gitu?" Putri membalikkan pertanyaan.
"Ya gue penasaran aja, kenapa lu gak takut meski udah denger fakta yang sebenarnya. Kalau orang lain yang jadi lu, pasti mereka bakal buru-buru pindah dari sana. Tapi berbeda dengan lu, seakan lu punya tujuan lain buat tinggal disana. Bukankah wajar kalau kami penasaran, bahkan Kara juga di mendapat peringatan dari bu Melati buat bersikap baik ke lu. Seakan bu Melati takut lu angkat kaki dari tempat kost nya. Sebenarnya lu itu siapa, dan punya tujuan apa?" Kali ini Anita berbicara agak serius, ia menatap wajah Putri tanpa berkedip.
Mendengar pembicaraan itu, nampak Arum jadi tercekat hingga ia salah tingkah dan menumpahkan minuman ke celana Anita. Sontak saja Anita marah, lalu menggebrak meja. Ia sempat melotot dan memaki Arum, karena ia ceroboh. Sandra menenangkan sahabatnya, ia meminta Anita untuk membersihkan celananya di kamar mandi. Kara bingung, dan meminta Arum untuk meminta maaf supaya keributan segera selesai. Sebelum Anita melangkah pergi, ia menghentikan langkaj tepat di depan Putri. Dan memintanya untuk meninggalkan tempat kost itu.
"Terserah lu mau anggep ini peringatan atau ancaman! Yang jelas lu harus segera pergi dari sana! Tempat itu bukan tempat yang aman buat lu, tapi kalau lu gak mau denger omongan gue ya udah. Terserah lu aja, semoga apa yang lu inginkan tercapai!" Cetus Anita menyeringai.
"Dasar wanita licik! Kau pikir aku akan percaya dengan omonganmu gitu aja. Pasti kau takut, kalau aku bisa mengungkap kasus kematian mbak Ayu kan? Makanya kau bersikap seakan perduli padaku. Sebenarnya kau takut jika aku membongkar semua tentang kalian!" Batin Putri di dalam hatinya dengan mengepalkan kedua tangan.
Tak lama suara sirine berbunyi kembali, menandakan waktu istirahat sudah selesai. Putri menepuk keningnya, lagi-lagi ia melewatkan waktu shalat. Ia menghembuskan nafas panjang merasa lalai pada kewajiban nya. Padahal sebelum datang ke kota ia sempat berdebat dengan ayahnya perihal ibadah dan jimat yang tak bisa dibawanya. Namun kedua hal itu justru terlupakan olehnya ketika berada di kota.
Putri kembali melakukan pekerjaannya. Ia membawa satu kotak besar pakaian yang harus segera di packing ke dalam kardus. Ia mendapat target melipat dan mengemas pakaian itu sebanyak dua ratus dalam waktu satu jam. Ia yang awalnya masih kesulitan, dan kewalahan dengan cepat belajar dari para seniornya. Ada satu orang seniornya yang sangat baik padanya, ia mengajarkan berbagai teknik pengemasan supaya lebih cepat.
"Bagus Put, kau cepat sekali belajar. Sama seperti seseorang yang dulu aku kenal. Seandainya dia masih ada, pasti dia yang akan mengajarkanmu." Ucap seniornya, yang dipercaya oleh supervisor divisi packing.
"Makasih mbak, dari pagi tadi sampai jam mau pulang gini mbak Nur selalu membantuku." Pungkas Putri nampak hormat.
"Gak apa-apa Put, udah berapa lama di Jakarta? Kau tinggalnya dimana sekarang?" Nur masih sibuk mengangkat setumpuk pakaian yang sudah lulus quality control, untuk dibawanya ke bagian finishing.
"Di Kost Melati mbak. Itu loh yang bangunannya kuno dan luas. Tempatnya gak jauh dari pabrik ini." Sahut Putri seraya membungkus satu persatu pakaian ke dalam plastik. Nampak ia melakukannya dengan cepat dan cekatan.
"Kenapa harus disitu, apa gak ada tempat yang lain? Seharusnya kau gak boleh ada disana Put!" Kata Nur dengan nada agak tinggi.
"Maksudnya mbak Nur apa ya? Kenapa aku gak boleh disana?" Putri menghentikan kegiatannya, menatap wajah Nur dengan penuh tanya.
"Udah penjelasan nya nanti aja! Kau selesaikan dulu sebelum sirine pulang berbunyi. Nanti setelah pulang temui aku di kantin belakang!" Cetus Nur dengan mengaitkan kedua alis mata.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Delapan jam sudah Putri melaksanakan tugasnya sebagai buruh pabrik. Arum menghampirinya dan mengajaknya pulang bersama. Tapi ia sudah janji mau menemui Nur di kantin belakang. Akhirnya Arum pulang lebih dulu. Baru sampai gerbang depan, ia sudah dicegat oleh Anita dan Kara. Keduanya nampak menyeret Arum dengan kasar. Putri melihat semua itu, ia cemas jika Arum akan dibully oleh keduanya. Mengingat kejadian tadi siang, Arum tak sengaja menumpahkan sesuatu ke celana Anita. Putri mengejar mereka, dan benar saja. Keduanya berbuat kasar pada Arum. Mereka membawa satu ember air comberan, yang disiram ke seluruh tubuh gadis itu. Dari ujung kepala sampai kaki, tubuh Arum basah dengan aroma busuk yang menyengat. Ia sudah minta ampun dan menyatukan kedua tangan di depan dada. Namun Anita dan Kara mengacuhkan nya. Dengan berani Putri membentak keduanya untuk menghentikan pembullyan. Tapi Anita makin kesal, ia menjambak rambut Putri lalu membenturkan nya ke tembok.
"Jangan lu pikir gue segan buat ngelukain lu! Gue gak tinggal di Kost Melati, dan gue bebas buat ngebully lu semau gue!" Seru Anita seraya menampar wajah Putri.
"Nit udah Nit... Lu udah diluar batas!" Cegah Kara, namun ia langsung didorong Anita hingga terjungkal
Whuuuss whuuuusd...
Angin berhembus kencang, sesosok wanita dengan wajah pucat dan lidah menjulur melesat cepat ke hadapan Anita. Dan hanya dia seorang yang bisa melihat penampakan itu. Tubuhnya terangkat ke udara, dan berkali-kali badannya membentur tembok hingga kepalanya berlumuran darah segar. Sosok Ayu benar-benar meluapkan amarahnya, karena adiknya telah menjadi korban bully seperti dirinya dulu. Mata Ayu berwarna merah, seakan ada dendam besar tersimpan. Nampak Kara ketakutan dengan tubuh yang bergetar hebat, sementara Arum dan Putri duduk berhimpitan saling berpegangan tangan. Mereka menyaksikan hal yang tak masuk akal, dan tak berani bergerak sama sekali. Terdengar suara cekikikan wanita tak kasat mata, membuat ketiganya semakin ketakutan dan berlari meninggalkan Anita yang terkapar di tanah.
Bruuugh.
Putri sempoyongan dan jatuh di trotoar depan pabrik. Arum berusaha menolongnya, namun karena postur tubuhnya yang lebih kecil dari Putri, ia tak kuat menopang badan temannya itu. Seorang wanita berhijab hitam berlari ke arah mereka. Ia memanggil beberapa rekan kerjanya untuk membawa Putri ke ruang kesehatan. Putri menatap wajah wanita berhijab itu, lalu menyunggingkan senyumnya.
"Mbak Aaayyuuu..." Kata Putri sebelum tak sadarkan diri.
Putri mendapatkan perawatan dari petugas kesehatan yang ada di pabrik. Sementara Kara juga meminta bantuan orang-orang untuk membawa Anita ke rumah sakit. Arum dengan badan basah dan bau comberan dimintai keterangan mengenai kejadian yang menimpa mereka. Namun dari kejauhan, nampak Kara membulatkan kedua mata ke arahnya. Arum merasa terancam dan terintimidasi, sehingga ia hanya bungkam dengan berurai air mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
berarti anita juga tau sesuatu ini..
2023-09-27
0
liani purnapasary
penasaran apa yg ingin dkatakn oleh rekan kerja putri ya.
2023-09-21
0
Else Widiawati
knp dih yg dibully selalu orang yg lemah...makanya jadi orang jangan lemah biar ga terjadi korban pembullyan...
2023-09-20
0