"Ada apa Putri, kenapa kau menarik tangan saya?" Melati terkejut, karena tiba-tiba ia ditarik tanpa aba-aba.
"I-itu ada hantu bu!"
"Mana mana hantunya?" Celetuk Febi panik.
Nampak mbak Ijah tersenyum miring seraya berjalan memutari Putri. Ia mengatakan jika yang dilihatnya adalah hantu dari luar rumah.
"Hantu tersebut cuma pengen kenalan aja sama mbak Putri. Karena dia belum pernah melihat mbak Putri sebelumnya. Kita gak hanya tinggal disini dengan sesama manusia, tapi ada juga makhluk dari alam lain yang hidup berdampingan dengan kita. Mbak Putri gak usah takut, sepertinya ada yang membuat para hantu itu mendatangi mbak Putri. Apakah mbak Putri membawa sesuatu dari kampung?" Tanya mbak Ijah dengan membuka lebar tangannya di dekat Putri.
"Sesuatu apa maksudnya mbak?" Jawabannya dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
Mbak Ijah kembali tersenyum dengan memiringkan kepalanya. "Sesuatu yang sifatnya menjadi penjaga, semacam jimat atau barang berharga lainnya!" Imbuh mbak Ijah mengaitkan kedua alis mata.
Putri diam dengan menundukkan kepala, tangan tergenggam erat seakan ada yang ia sembunyikan.
"Sudahlah Put... Gak usah hawatir. Meski sosok itu menampakkan wujudnya, mereka gak akan bisa menyakitimu jika kau memang benar-benar memiliki jimat. Tapi jika kau terus menyimpan barang itu, para makhluk gaib akan terus tertarik untuk berada di sekitarmu. Kecuali kau menjauhkan barang itu darimu. Mungkin mereka gak akan menampakkan wujudnya lagi. Bukankah benar begitu mbak?" Ucap Melati dengan menepuk pundak Putri.
"Jadi lu beneran punya jimat Put? Bukannya bahaya kalau lu terusan simpen barang itu. Yang ada tiap hari lu bisa digentayagin para hantu menyeramkan! Gue jadi ikut kena imbasnya deh, bikin gue takut deket sama lu Put!" Celetuk Febi dengan mengusap belakang tengkuknya.
"Hmm sebenarnya bukan jimat kok, itu hanya barang pemberian ayah ku. Karena aku gak boleh ninggalin desa kalau gak bawa barang itu, dan aku udah janji sama ayah bakal bawa barang itu kemanapun." Putri menghembuskan nafas panjang, nampak raut wajahnya gelisah.
"Putri benar Feb, dia harus menjaga janji pada ayahnya. Kau sudah benar Put, membawa barang pemberian ayahmu. Tapi bukankah sekarang kau sudah meninggalkan desa, dan karena barang itu justru membuatmu terganggu. Bagaimana jika barang itu kau simpan saja di dalam kamarmu, supaya para hantu itu tak menampakkan wujudnya lagi." Ucap Melati memberi saran.
"Tapi apakah dengan meninggalkan barang pemberian ayah di kamar, akan benar-benar membuat ku tak diganggu lagi bu?"
"Mungkin belum pasti sih Put, karena kau hanya akan aman ketika berada di dalam rumah ini saja. Setelah ini mbak Ijah akan membuat ritual pembersihan di dalam rumah. Setidaknya ketika kalian berada di dalam rumah akan baik-baik saja."
Putri dilema harus mendengarkan kata orang-orang yang ada di sekitarnya, atau harus memegang janji pada ayahnya. Namun karena ia sudah lelah jiwa dan raga, terus mendapat gangguan dari para makhluk tak kasat mata. Akhirnya Putri memilih menyimpan barang pemberian ayahnya di dalam lemari kamarnya.
Setelah Putri masuk ke dalam kamar, dan menyimpan sesuatu di dalam lemari kamarnya, nampak ketiga orang yang ada di depan pintu tersenyum lega. Tak berselang lama, Melati dan mbak Ijah masuk ke dalam ruangan dengan pintu perwayangan. Febi langsung masuk ke dalam kamar Putri, dan menutup pintu.
"Katanya mau adain ritual, kok malah masuk kesana sih mereka?"
"Iya Put, ritual pembersihan. Mungkin mereka harus sembahyang gitu. Tapi gue kurang tau juga sih, semoga gak ada yang mistis lagi di kost ini deh!"
Malam itu keduanya tidur bersama di kamar Putri. Nampak Febi terbangun, ia memastikan apakah Putri sudah terlelap atau belum. Setelah tau jika Putri tidur nyenyak, ia bangun dari tempat tidur. Febi berjalan mengendap, lalu membuka lemari dan mencari barang yang disembunyikan Putri. Barang yang ia lihat tadi terbungkus sesuatu berwarna hitam. Sesekali Febi menoleh ke tempat tidur, untuk memastikan jika Putri masih terpejam. Febi menyeringai begitu menemukan apa yang ia cari. Sesuatu yang terbungkus kain hitam sudah ada di genggaman tangannya. Namun tiba-tiba Febi menaruh nya kembali ke tempat semula. Ia kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.
Suara adzan subuh samar-samar terdengar. Putri terbangun dari tidurnya, lalu pergi ke kamar mandi yang ada di lorong ujung. Hembusan angin menerpa tubuhnya, membuat Putri bergidik lalu menyatukan tangan di depan dada. Terdengar suara seseorang yang sedang menyapu di halaman belakang. Putri melihat pak Sardi sedang menyapu daun-daun kering.
"Kok pak Sardi udah disini ya, mana subuh" udah nyapu halaman lagi." Batin Putri dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
Setelah menyelesaikan wudhu ia kembali ke kamar untuk shalat. Ia kembali melihat melalui jendela, pak Sardi sudah tak ada disana, bahkan dedaunan masih berserakan di halaman.
Kreeaaat.
Pintu kamarnya terbuka sebelum Putri menyentuh gagang pintu. Sontak saja ia terkejut, lalu menghentikan langkah. Sepasang kaki berjalan keluar dari kamarnya. Putri langsung bernafas lega begitu melihat Febi yang keluar dari kamarnya.
"Lu kenapa kaget gitu lihat gue?"
"Ma-maaf Feb, aku kira tadi setan! Aku lupa kalau kau tidur di kamar bersamaku." Putri tersenyum lega.
"Ada-ada aja lu Put! Ya udah gue balik ke kamar aja, nanti ada kuliah pagi. Dan gue belum sempat ngerjain tugas."
Putri melangkah masuk lalu menjalankan ibadah. Ketika ia sudah selesai shalat, dan melipat mukena. Putri sempat tercekat, karena tak seperti malam-malam sebelumnya. Kakaknya Ayu tak datang ke dalam mimpinya.
"Syukurlah, mungkin mbak Ayu sudah lelah datang ke mimpiku. Lagian aku datang kesini juga untuk mencari tau penyebab nya bunuh diri. Tapi di kost ini justru aku sering mendapat gangguan dari makhluk astral." Gumamnya seraya menghembuskan nafas panjang.
Sinar matahari perlahan masuk melalui celah ventilasi yang ada di kamarnya. Putri memegangi perutnya yang keroncongan. Ia baru ingat, sejak datang kesana ia hanya makan roti sobek saja. Putri menjentikkan jari, ia ingat jika setiap penghuni mendapatkan kompensasi mie instant dan telur. Ia berjalan keluar mencari dapur yang belum ia tau keberadaan nya.
"Pagi mbak Putri. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa mbak Ijah yang sedang bersiap menyapu halaman belakang.
"Itu mbak Ijah, aku mau nanya mie instant sama telur yang diberikan buat anak kost ada dimana ya?" Tanya Putri agak sungkan.
"Oh itu mbak, ada di lemari yang sesuai nomor kamarnya mbak Putri. Kuncinya udah jadi satu sama kunci kamar ya mbak." Jawab mbak Ijah menunjuk ke sebuah lemari besar di samping kulkas. Tertera beberapa angka di bagian luarnya.
"Wah iya mbak makasih, kebetulan saya lapar nih. Tapi mbak Ijah mau ngapain kok bawa sapu sama pengki?"
"Biasa mbak mau nyapu daun kering itu. Karena gak ada pak Sardi, jadi saya yang harus membersihkan semuanya."
"Loh bukannya tadi setelah subuh pak Sardi udah nyapu halaman belakang ya?"
Mbak Ijah nampak bengong dengan mengaitkan kedua alis mata. Ia menoleh ke berbagai arah, sebelum berjalan menghampiri Putri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Ridho Widodo
goblok putri
2023-12-25
0
FiaNasa
bodohnya si putri,,knp gak menuruti pesan ayahnya..
2023-11-14
1
yuli Wiharjo
febi anteknya Buk mel g tuh
2023-10-06
0