Melati membujuk Putri untuk menyantap masakan yang tersaji di atas meja. Sekilas Putri teringat ucapan sosok yang mirip dengan kakaknya tadi. Jika ia tak boleh memakan apapun. Putri menggaruk kepala yang tak gatal, ia kebingungan mencari alasan untuk tak menyantap hidangan itu. Namun tiba-tiba Melati mengambilkan dua centong nasi ke piring dan disajikan di depannya. Putri menelan ludah kasar seraya menggaruk kepala yang tak gatal. Ia tak punya pilihan lain selain memakan masakan ibu kost nya.
"Ayo Put dimakan, jangan sungkan-sungkan ya." Melati dengan ramah menaruh sayur dan lauknya ke piring Putri.
Meskipun di dalam hatinya enggan untuk memakannya, Putri tak punya pilihan lain dan terpaksa menyantap. Kesan pertama begitu ia mencicipi masakan Melati adalah rindu ibunya. Masakan Melati mengingatkan nya dengan sang ibu, karena itulah ia dengan lahap menyantapnya.
Mbak Ijah tersenyum miring dari arah belakang. Ia menggenggam sesuatu di tangannya, lalu komat-kamit membaca sesuatu. Melati memberi kode dengan gestur tubuh, supaya mbak Ijah membawa hidangan penutup. Sepotong cake diberikan satu persatu untuk mereka, dan potongan yang paling terakhir diberikan untuk Putri.
"Wah cantik banget cake nya, apa ibu bikin sendiri?"
"Gak lah Feb, mana sempat saya membuatnya. Itu saya beli dari toko roti baru yang buka di depan kampusmu!"
"Wah kayaknya enak nih, kabarnya yang punya toko kue jebolan master chef loh bu..." Kata Febi seraya mencicipi cake dengan lumeran cokelat strawberry.
Kara dan Putri juga memakan kue tersebut, reaksi keduanya sama seperti Febi. Setuju jika hidangan penutup mulut itu sangat enak dan lumer di lidah mereka.
Tak ada yang aneh setelah mereka menyantap hidangan di kediaman ibu kost. Jadi Putri dapat bernafas lega. Ia bersama Febi kembali ke kamar mereka. Namun Kara di ajak berbincang dengan Melati, sepertinya mereka akan membahas mengenai pesan di selembar surat itu.
"Put gue tidur di kamar sendiri aja deh, soalnya besok gue berangkat siang. Bukannya besok lu udah mulai berangkat kerja ya?"
"Iya Feb, besok pagi sekali aku harus bangun supaya gak terlambat di hari pertama kerja. Semoga aja gak ada yang aneh-aneh selama di pabrik."
"Jangan kaget ya kalau disana lu ketemu Kara and the gank! Biang kerok utamanya ada di pabrik itu juga!" Celetuk Febi seraya membuka pintu kamarnya.
Mendengar ucapan Febi, Putri jadi penasaran. Ia menghadang langkah Febi, sebelum ia memasuki kamarnya. Sebelah tangannya menahan pintu yang sudah setengah terbuka.
"Biang kerok apa an sih Feb?"
"Itu wanita yang ngaku kalau pacarnya curi pandang ke mendiang Ayu, dan jadi sebuah keributan. Dia langsung pindah dari sini, begitu tau kalau Ayu bunuh diri. Mungkin dia takut dihantui, karena beberapa sahabatnya yang masih bertahan disini emang sering ngelihat penampakan gitu. Dan menurut mereka itu hantunya Ayu, karena lidahnya ngejulur keluar tiap kali memperlihatkan wujudnya." Bulu-bulu halusnya meremang, membuat Febi langsung mengusap tengkuknya.
"Siapa namanya Feb? Kali aja aku bertemu dengan nya di pabrik!"
"Jangan sampai deh lu ketemu dia! Kara and the gank itu suka cari masalah dimanapun. Tapi buat jaga-jaga aja, kalau lu ketemu sama wanita yang suka megangin bandul kalungnya pas dia lagi bicara, berarti itu dia orangnya. Namanya Anita..." Febi berbicara dengan mendekatkan bibirnya ke telinga Putri.
Tak lama setelah itu keduanya mengakhiri pembicaraan. Putri bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia mendongakkan kepala ke atas melihat jam dinding.
"Duh aku jadi telat mau shalat magrib. Mana sebentar lagi udah mau isya lagi." Batin Putri di dalam hatinya.
Ia memegangi perutnya yang agak buncit karena kekenyangan. Matanya terasa sangat berat, lalu ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Niat hati hanya ingin berbaring membuat Putri terlena dengan kenyamanan ranjangnya. Ia terlelap sebelum mandi ataupun menjalankan ibadah.
*
*
Terdengar suara rintihan seorang lelaki, tak lama setelahnya ada suara pecutan yang dihentakan ke lantai. Suara minta ampun terdengar sangat jelas. Putri bangun dari tempat tidurnya, berjalan mengendap keluar. Suara semakin jelas terdengar dibalik pintu dengan ukiran pewayangan. Ia menempelkan telinganya.
Kreaaat...
Pintu terbuka dengan sendirinya. Nampak Putri membulatkan kedua mata terkejut. Ia memundurkan langkah karena suara jeritan itu makin jelas berasal dari dalam ruangan sana. Ia ragu untuk masuk ke dalam, karena ia ingat dengan pesan ibu kost nya. Namun suara rintihan itu semakin menyayat hatinya. Meski ragu, Putri memberanikan diri masuk ke dalam. Ruangan dengan cahaya temaram yang berasal dari lampu teplok, sesekali nampak bergoyang karena hembusan angin. Tembok berwarna hitam serta bayangan yang berasal dari api yang menyala membuat kesan wingit. Aroma dupa sangat pekat, bercampur dengan aroma bunga tujuh rupa dan juga empon-empon. Putri berjalan mengendap seraya meraba sekitarnya. Nampak seorang lelaki tergeletak dengan kaki yang dipenuhi luka bekas pecutan. Darah segar membasahi lantai di sekitarnya. Sosok berjubah hitam tinggi dan besar, berdiri mengambang dengan memegang pecut di tangan kirinya.
Samar-samar terdengar suara ringkikan kuda mendekat. Jendela besar yang tertutup tirai tiba-tiba terbuka lebar dengan sendirinya. Putri menyipitkan kedua mata, karena hembusan angin sangat kencang. Seorang wanita cantik dengan pakaian bangsawan jaman dulu turun dari kereta kencana. Beberapa dayang membantunya berjalan turun ke bawah. Muncul beberapa anak tangga disetiap langkah yang akan dilewatinya. Sosok berjubah hitam itu langsung memberi hormat dengan berlutut. Tak berselang lama lelaki yang tergeletak di lantai itu duduk dengan menyatukan kedua tangan di depan dada. Ia mendongakkan kepala menghadap wanita cantik itu seraya mengucapkan kata ampun.
Putri memperhatikan semuanya dari balik tirai merah. Ia takut keberadaan nya diketahui sosok yang ada di depan sana. Namun seluruh tubuhnya bergetar, begitu melihat wajah lelaki yang badannya penuh luka itu.
"Aku sudah memberikan segalanya padamu, kenapa kau meninggalkan ku dan tak mau menyembah ku lagi? Apa kau sadar dengan perbuatan sekarang? Kau hanya akan merugikan dirimu sendiri beserta orang-orang yang kau sayangi. Hidupmu tak akan berkecukupan dan akan selalu kekurangan. Belum tentu juga taubat mu akan diterima. Lihatlah sekujur tubuhmu yang penuh luka busuk itu! Bukankah orang-orang beriman itu menyembah Tuhan nya dengan tubuh yang bersih dan suci? Tapi kau, lihatlah kondisi mu sekarang. Dulu kau adalah abdi ku yang paling setia, sehingga aku memberimu gelar Mantri Keparak Tengen. Karena kau selalu bisa aku andalkan seperti tangan kanan ku sendiri. Dan karena kau memilih berhianat, kutukan ku akan abadi sampai ajal benar-benar menjemputmu. Maka jika kau merubah keputusan mu, aku akan mengampuni mu beserta nyawa orang-orang yang kau sayangi. Bagaimana, apa kau menerima tawaranku?" Ucap sang wanita cantik yang berdiri mengambang di atas udara.
Tanpa sadar bulir-bulir bening membasahi wajahnya. Putri tersentak melihat kejadian diluar nalar itu. Ia berharap jika semuanya hanya mimpi. Namun semakin ia berusaha meyakinkan diri jika semua hanya ilusi, ia tak dapat kunjung kembali ke kenyataan. Seakan semua yang ia lihat adalah nyata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Noer Maulidha
bapsknya putri.nah kan bener dugaanku.aduh putri pake gak solat2 lg.jimat jg udh gak di pake.mkn masakan melati...
2023-10-30
1
yuli Wiharjo
ayahnya putri Ya Kali
2023-10-06
1
Else Widiawati
waduh, jangan2 bapaknya putri...apa bapaknya putri penganut ilmu sesat ato pesugihan?? makanya dia kemaren meminta maaf didalam mimpinya, dan memberikan jimat pada putri
2023-09-18
1