"Memangnya ini apa yah? Kenapa Putri harus membawanya kemanapun?"
"Supaya kau terlindungi dari marabahaya nduk. Kalau bisa kau kenakan saja di dalam bandul kalungmu itu, karena ketika ada sesuatu yang tak beres dan mengancam nyawa mu jimat itu bisa berguna untukmu."
"Hah. Jimat yah? Untuk apa ayah meminta Putri memakai barang seperti ini? Percaya dengan jimat itu musrik yah, Putri gak mau memakainya. Yang ada ibadah Putri gak akan diterima Allah nanti." Protes Putri meletakkan bungkusan kain hitam di atas ranjang ayahnya.
Nampak sang ayah tertunduk dengan wajah sendu. Ia berkata jika Putri tak bisa meninggalkan desa tanpa membawa benda tersebut. Karena jika Putri nekat pergi tanpa membawa bungkusan kain hitam tersebut, ayahnya juga tak akan mau menjalani terapi atau pengobatan. Putri tak memiliki pilihan lain, ia tak ingin membuat ayahnya bersedih dan banyak pikiran. Tapi ia juga mengajukan syarat, jika ia hanya akan menyimpan benda tersebut di dalam saku celananya.
"Putri harus janji dulu ke ayah, meski hanya membawanya di dalam saku celana. Kapanpun Putri merasa ada bahaya yang terasa gak masuk di akal, Putri harus menggenggam jimat itu. Supaya gak ada sosok gaib yang bisa mencelakai Putri. Cepat janji pada ayah dulu nduk!" Pinta ayahnya menangis dengan menggenggam tangan Putri.
Sang ibu yang mendengar pesan suaminya, meminta anak gadisnya untuk menyetujui perintah ayahnya. Ia memeluk Putri dengan berderai air mata, lalu memberi kode dengan gestur tubuh. Jika Putri harus melakukan apa yang diminta ayahnya, karena itu keputusan yang terbaik buat mereka.
"Baiklah yah, bu. Putri akan menyimpan di saku celana, kemanapun Putri pergi. Tapi jika Putri harus shalat dan menghadap Yang Maha Kuasa, Putri gak bisa membawanya. Putri harap ayah dan ibu paham dan gak memaksakan kehendak lagi."
"Tapi nduk..." Ucap ayahnya tak melanjutkan kata-katanya, karena sang istri menghentikan nya lalu memintanya untuk menganggukkan kepala, setuju dengan syarat yang diberikan anaknya.
"Gak apa-apa to yah... Shalat kan gak membutuhkan waktu lama. Mana ada makhluk gaib yang akan menggangu manusia ketika menghadap ke PenciptaNya. Meski setan mengganggu manusia ketika shalat, mereka hanya bisa mengganggu tanpa bisa mencelakai. Percayalah, Gusti Allah gak akan mungkin membiarkan Putri celaka dalam keadaan beribadah. Setelah shalat selesai, Putri pasti tak akan lupa mengantongi jimat itu lagi. Ya to nduk?" Tanya sang ibu, hanya dibalas dengan anggukan kepala.
"Ya udah ayah istirahat di kamar aja, Putri mau langsung berangkat di antar mas Mawar. Ayah janji ya, harus mau terapi dan melakukan pengobatan. Putri harus melakukan tanggung jawab sebagai anak ayah dan ibu, Putri akan mengembalikan nama baik mbak Ayu juga. Doa kan Putri ya yah, bu." Ucapnya seraya mengecup punggung tangan ayah dan ibunya.
Ketiganya saling memeluk dengan berlinang air mata. Kepergian Putri ke kota tak hanya untuk mencari penghasilan, tapi ia juga akan mengungkap sebuah misteri besar yang tersembunyi.
"Yok mas kita jalan!" Seru Putri seraya menenteng dua tas besar, dan satu ransel di pundaknya.
"Oalah Put... Mau minggat apa gimana to! Lha kok banyak banget bawaannya! Emang mau selamanya tinggal di kota, gak keberatan apa bawanya?" Mawardi terheran-heran, melihat tas besar yang dijinjing Putri susah payah.
"Udah tau berat ngapain nanya to mas? Lha mbok ini dibawain tas nya! Putri mungkin menetap lama di kota, selain kerja ada hal lain yang harus di urus. Makanya sekalian bawa barang yang diperlukan dari rumah. Biar nanti pas di kota gak usah repot beli lagi. Selain buang waktu juga buang duit kan mas. Udah yok jalan jangan ngobrol terus, bisa kehabisan tiket bis nanti!" Kata Putri dengan menghembuskan nafas panjang.
"Bentar... Pamit sama ayah dan ibumu dulu!"
"Udah gak usah. Udah dipamitin sekalian tadi. Oh iya ibu pesan, disuruh sekalian beli pupuk, dan obat buat membasmi hama di kebun. Ini uang nya, kembaliannya buat ganti bensin motornya mas Mawar."
"Gak usah diganti bensinnya! Aku ini ikhlas nganter ke terminal. Kau ini kan adik semata wayang sahabat baik ku, jadi kau juga sudah seperti adik ku sendiri."
Mendengar perkataan Mawardi, nampak hati Putri terharu. Ia kembali teringat kenangan nya bersama sang kakak. Dulu Ayu memang sangat dekat dengan Mawardi. Bahkan persahabatan keduanya sering disalah pahamkan menjadi suatu hubungan yang spesial.
Perjalanan dari desa ke terminal memakan waktu hampir satu jam lebih. Apalagi beberapa kali motor tua yang menjadi tunggangan Mawardi ngadat. Putri turun dari sepeda motor, lalu memandang ke segala arah. Ia mencari bis dengan jurusan Jakarta. Beruntung nya, ada bis ke Jakarta yang lumayan penuh melintas tepat di depan nya. Reflek Mawardi melompat dari motor untuk menghadang bis tersebut.
"Lek mandek Lek!" Teriak Mawardi, meminta sopir menghentikan laju bis nya.
"Loh mas! Gak bahaya ta langsung berdiri di depan bis?" Kata Putri terkejut dengan membulatkan kedua matanya.
"Wes gak apa-apa, lha wong setan gak doyan demit gak ndulit. Mas Mawar mu ini gak akan kenapa-napa. Sudah sana naik ke atas bis, biar aku yang memasukan barang-barangmu ke bagasi!" Seru Mawardi memasukan semua tas Putri ke dalam bagasi, dibantu dengan kernet bis.
Putri duduk di samping jendela. Ia melambaikan tangan perpisahan pada Mawardi.
"Suwun yo mas, titip ayah sama ibu. Kalau ada apa-apa kabarin aku ya!" Seru Putri dari dalam bis, dan dibalas dengan anggukan kepala Mawardi.
Perlahan bis meninggalkan terminal. Putri menyenderkan kepalanya, lalu mengeluarkan bungkusan kain hitam pemberian ayahnya.
"Jimat ini isinya apa ya? Aku jadi penasaran dan ingin membukanya." Batin Putri di dalam hatinya.
Tiba-tiba ada penumpang lain yang duduk di sampingnya. Putri langsung memasukan benda itu ke dalam saku celananya.
"Mau ke kota juga ya?" Tanya seorang perempuan muda menyapa nya.
"Eh iya mbak. Saya diterima kerja di Jakarta. Mbak juga mau ke kota?" Jawab Putri dengan pertanyaan.
"Iya... Ada yang harus saya urus disana. Senangnya jika ada teman mengobrol selama di perjalanan."
"Oh iya, perkenalkan namaku Putri. Mbak kerja apa kuliah di Jakarta?"
Belum sampai Putri mendapat jawaban. Kernet bis datang menagih ongkos perjalanan.
"Mau turun dimana mbak?" Tanya kernet bis seraya menghitung kembalian.
"Kalau mau ke Universitas Merdeka, lebih dekat turun dimana?" Ucap si perempuan dengan menundukkan kepalanya.
"Turun di terminal Kampung Rambutan saja mbak. Dari sana bisa langsung oper naik angkot atau gak ojek online. Gak lama kok, kalau gak macet!"
Putri menyunggingkan senyumnya, ketika perempuan yang ada di sampingnya melempar senyuman padanya.
"Oh mbak ini kuliah di Kampus Merdeka? Tadinya aku juga pengen kuliah disana, tapi terpaksa di undur beberapa tahun lagi. Mau kerja dulu, sekalian ada masalah yang harus diselesaikan lebih dulu." Jelas Putri dengan raut wajah sendu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
yuli Wiharjo
mesti teliti mesti ingat ingat
2023-10-06
1
Biah Kartika
lanjut lanjut penasaran
2023-09-12
0
Nhira Yanti Agus Hondoro
kayaknya Maryati deeeh
2023-09-09
0