Malam pertama di kost, terasa suasana agak mencekam. Hawa dingin menyeruak di seluruh penjuru, membuat Putri kedinginan dan memakai baju berlapis. Ia berjalan keluar dari kamarnya, untuk merebus mie instant di dapur. Saat ia berjalan melewati lorong panjang, sebuah pintu terbuka dengan sendirinya. Awalnya Putri mengacuhkannya dan melanjutkan langkah nya, namun suara tangisan pilu seorang wanita membuatnya penasaran. Putri berjalan mengendap mencari darimana suara itu berasal, ia membalikkan badan di depan pintu yang setengah terbuka. Terlihat seorang wanita duduk di lantai dengan melipat kedua kakinya. Wajahnya tak terlihat karena ia menangis dengan menundukkan wajahnya ke bawah. Ia memberanikan diri masuk ke dalam lalu berjongkok tepat di depan wanita tersebut. Perlahan suara tangisnya semakin kencang membuat telinga Putri berdengung.
"Hei kau kenapa? Maaf kalau aku lancang masuk ke dalam kamarmu. Apa kau baik-baik saja?" Ucap Putri seraya menyentuh pundak wanita tersebut.
Tak ada jawaban, namun suara tangisnya perlahan berhenti. Wanita tersebut mendongakkan kepala, yang nampak hanya rambut panjang yang terurai berantakan menutupi wajahnya. Ada aroma anyir darah yang menusuk pernafasan. Hembusan angin menyibak sebagian wajah pucatnya, mata putih dengan buliran darah membasahi wajah pucatnya. Putri tercekat, ia bangkit berdiri berusaha melarikan diri dari sana. Namun tangan dingin itu menggapai pergelangan kakinya.
Bruuugh...
Putri terjatuh keningnya terantuk lantai, membuatnya agak pusing. Setengah sadar ia mendongak ke atas, matanya berkunang-kunang namun ia yakin kalau melihat seorang wanita dengan leher berdarah-darah. Putri berusaha mengumpulkan tenaga dan kesadarannya. Namun tiba-tiba ada yang menyeret kakinya dengan kasar.
Gelap tak ada cahaya dimanapun. Putri meraba-raba ke sekitarnya. Ada sesuatu yang menggelinding ke arahnya. Sesuatu berbetuk bulat padat dan agak empuk ketika ia menyentuhnya. Benda bulat kecil itu ia pegang, tiba-tiba ada cahaya yang menyilaukan mata. Putri menyipitkan kedua mata, ia dapat melihat sesuatu yang sedang ia pegang di tangannya. Sebuah bola mata manusia berada di genggaman tangannya. Sontak saja Putri melemparnya jauh seraya menjerit histeris. Ia menangis kencang, karena tak tau ada dimana. Sampai ia mendengar suara seorang wanita yang memanggil namanya berulang kali.
Tok tok tokk...
Suara ketukan pintu berhasil menyadarkan Putri dari tidurnya. Ya, ia sedang terlelap di dalam kamarnya, namun saat ingin bangun ia sudah berada di dalam kolong tempat tidurnya. Ia menyentuh kening karena merasakan nyeri.
"Kenapa kening ku berdarah? Bukankah yang aku alami tadi hanyalah mimpi?" Gumam Putri pada dirinya sendiri.
Teriakan dan suara ketukan pintu dari luar semakin keras. Akhirnya Putri bangkit berdiri untuk membuka pintu.
"Mbak Putri ada apa? Kenapa berteriak histeris begitu? Mbak Febi sampai panik dan manggil saya buat buka pintu kamarnya mbak Putri. Tapi pintu terkunci dari dalam, sebenarnya ada apa mbak?" Tanya mbak Ijah dengan raut wajah panik.
"Iya Put, gue takut lu kenapa-napa! Soalnya gue panggil dari tadi lu gak nyahut. Makanya gue minta mbak Ijah buat buka kamar lu! Tapi kok lu berdarah gini sih kalau gak kenapa-napa?" Imbuh Febi dengan menghembuskan nafas panjang.
"Oh ini gak apa-apa kok, kayaknya aku jatuh dari tempat tidur! Sebenarnya tadi aku mimpi buruk, tapi rasanya kayak nyata banget. Maaf ya kalau buat kalian panik!" Jelas Putri seraya memegangi keningnya.
"Saya ambilkan kotak P3K dulu ya mbak!" Pungkas mbak Ijah seraya berjalan pergi.
Putri dan Febi duduk di kursi depan kamar mereka. Lorong panjang yang kanan kirinya ada beberapa kamar anak kost, memang sengaja diletakkan kursi di depannya. Tak berselang lama mbak Ijah datang membawa kotak P3K, lalu Febi membantu Putri membersihkan luka di keningnya.
"Sudah sudah aku gak apa-apa, kenapa kalian jadi panik gini sih!" Seru Putri.
"Mbak Putri mimpi apa kok sampai jatuh dari tempat tidur?"
"Anu... Itu mbak Ijah, aku mimpi wanita yang meninggal tadi siang itu. Dia kayak marah sama aku, dan nyeret kaki ku ke bawah kolong. Tapi kenyataannya aku emang terbangun udah di bawah kolong tempat tidur. Makanya aku bilang mimpi nya kaya nyata. Sampai gak sadar kalau kening ku emang terluka." Jelas Putri seraya menoleh ke kamar bekas Mira.
"Mimpi tentang mbak Mira? Jangan-jangan dia emang gentayangan lagi! Nanti saya bicarakan dulu sama ibu kost. Biar di adakan ritual pembersihan. Kalau begitu saya ke tempat bu Melati dulu ya mbak!" Ucap mbak Ijah sebelum pergi.
Nampak Febi merapatkan duduknya ke samping Putri. Ia mengusap belakang tengkuknya, lalu mengajak Putri untuk tidur bersama malam itu.
"Malam ini kita tidur sekamar dulu ya Put. Gue jadi parno setelah dengar mimpi lu tadi! Gue gak mau dimimpiin Mira dengan wujudnya yang mengenaskan itu!" Serunya bergidik.
"Bolehlah Feb, tapi tidurnya di kamar ku aja ya. Sekalian aku mau beres-beres pakaian dulu. Mumpung masih ada waktu sebelum mulai kerja."
"Loh lu udah keterima kerja dimana Put? Gue sih masih kuliah semester 3 ini."
"Di pabrik garment yang ada di ujung jalan komplek ini Feb. Memangnya kau kuliah dimana? Sebenarnya aku juga pengen kuliah sih, tapi ditunda dulu. Ada urusan mendesak yang harus diselesaikan lebih dulu."
Ketika keduanya masih mengobrol serius, tiba-tiba terdengar suara gamelan dan suara orang nyinden. Seketika Putri dan Febi menghentikan obrolan mereka.
"Lu dengar gak sih suara itu? Meski suaranya samar-samar tapi gue gak salah dengar deh!"
"Ssstt... Diem dulu Feb! Aku juga dengar kok! Tapi kayak jauh gitu suaranya!"
"Eh eh Put, pernah dengar mitos gak. Yang katanya suara gaib itu kalau kedengeran jauh biasanya ada di dekat, tapi kalau suaranya dekat malah sebenarnya jauh!"
Putri dan Febi berdiri berhimpitan, lalu memandang ke segala penjuru arah. Mereka fokus mencari darimana suara gamelan dan sinden itu berasal. Mereka berjalan ke depan pintu dengan ornamen perwayangan, lalu keduanya menempelkan telinga di pintu. Tiba-tiba terasa sesuatu yang menyentuh pundak keduanya.
"Aaaarrgghh. " Jerit keduanya bersamaan.
"Febi. Putri... Apa yang kalian berdua lakukan di depan sini?"
Febi menghembuskan nafas lega begitu tau yang menyentuhnya adalah ibu kost mereka. Putri langsung menjelaskan jika mereka mendengar suara orang nyinden dengan gamelan yang mengiringi.
"Kayaknya suaranya berasal dari sini deh bu, apa ada orang di dalam?" Tanya Putri.
"Kalian hanya salah dengar saja. Di dalam sana gak ada apa-apa, bukankah sudah saya bilang jangan dekati pintu ini!" Jawab Melati membulatkan kedua mata.
"Ma-maaf bu, kami salah. Kami permisi dulu bu!" Celetuk Febi seraya menarik tangan Putri.
"Tunggu sebentar!" Seru Melati seraya membalikkan badan menatap keduanya.
Putri membalikkan badan terlebih dulu, ia melihat sekelebatan bayangan putih melesat di belakang Melati. Nampak rambut panjang menjuntai sampai ke bawah lantai. Sosok yang melayang tak terlihat parasnya itu tiba-tiba memuntahkan darah berwarna hitam. Putri melotot dengan menelan ludah kasar, lalu menarik tangan Melati supaya menjauh dari sosok yang ada di belakangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
yuli Wiharjo
Astaugfirullahaladzim. Emang seremnya... GA Jadi ah Baca malam.. siang aja udah parno sendiri bacanya
2023-10-06
0
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
kayak.ny si mira gk terima..
dia meninggal kemungkinan karena ayu, jdi dia lampiasin kemarahannya ke putri..
2023-09-13
0
Biah Kartika
seru, lanjut
2023-09-12
0