Mbak Ijah mengambil satu kunci dengan angka 15, lalu membuka gagang pintu nya. Ia agak mendorong pintu dengan sedikit tenaga, karena ada sesuatu yang mengganjal pintu dari dalam.
"Biar saya aja mbak yang masuk ke dalam, kayaknya ada yang ganjel deh!" Seru Putri memaksa masuk ke celah pintu yang sedikit terbuka.
Putri sudah berada di dalam ruangan itu, ia melihat ke segala arah. Nampak barang-barang kakaknya berceceran di lantai. Ada beberapa buku dan juga pakaian yang masih tergeletak di atas ranjang. Ia melihat bingkai foto yang berisi fotonya bersama kakak dan orang tua nya tergeletak di bawah kolong tempat tidur. Putri buru-buru mengambilnya, lalu menyembunyikan nya di dalam lemari. Ia tak mau identitasnya diketahui orang lain.
"Mbak Putri, apa kau bisa memindahkan barang yang ada di belakang pintu ini?" Mbak Ijah masih berusaha mendorong pintu dari luar.
"Oh iya sebentar!" Sahut Putri seraya memindahkan satu kardus besar yang penuh dengan barang-barang.
"Karena banyak yang di urus saya sampai lupa membersihkan kamar ini. Saya ambil peralatan dulu ya mbak, maaf malah jadi merepotkan." Ucap mbak Ijah seraya membuka jendela.
"Gak apa-apa kok mbak Ijah, saya malah senang dapat membantu. Wahh saya jadi lupa menyampaikan pesan dari pak Wakidi."
"Wakidi tukang ojek? Kok mbak Putri bisa kenal?"
"Iya tadi saya naik ojeknya. Oh iya mbak, biar sebagian barang ini saya yang bersihkan. Kalau masih ada yang bagus biar saya pakai aja gak apa-apa kan? Kira-kira nanti pemilik sebelumnya bakal ambil barang-barang nya kesini gak?" Ucap Putri berbasa-basi.
"Hmm... Sepertinya sih enggak ya mbak. Tapi saya juga kurang tau. Memangnya mbak Putri butuh apa, siapa tau disini ada biar saya carikan."
"Belum tau sih mbak, namanya saya baru pindah. Lihat barang-barang masih bagus dan gak keurus jiwa miskin saya jadi meronta pengen memilikinya." Jelas Putri terkekeh.
Tanpa banyak bertanya, mbak Ijah membiarkan Putri memiliki barang-barang yang ia mau. Tapi ia melarang mengambil sesuatu yang ada di dalam lemari pakaian. Karena menurutnya barang yang ada disana bisa saja berharga, dan akan ada yang datang untuk mengambilnya.
"Saya ambil kantong plastik sama peralatan kebersihan dulu ya mbak, mbak Putri bisa milih-milih barang yang mau di ambil." Kata mbak Ijah sebelum meninggalkan ruangan itu.
Dengan cepat Putri menutup pintu kamar, ia semakin penasaran setelah mendengar larangan mbak Ijah untuk tak mengambil barang yang ada di dalam lemari. Padahal setaunya, kakaknya Ayu tak memiliki banyak barang berharga. Hanya ponsel dan laptop saja yang nilainya lumayan, itupun juga masih ada di kantor polisi sebagai barang bukti. Putri menyibak satu persatu pakaian yang ada, lemari itu masih penuh dengan pakaian Ayu yang masih baru. Entah kenapa kakaknya membeli banyak pakaian baru sebelum ia ditemukan meninggal.
"Mana mungkin orang yang mau bunuh diri menyempatkan membeli pakaian baru sebanyak ini. Kok aku ngerasa aneh aja, dengan semua nya." Batin Putri di dalam hatinya.
Bruugh.
Terdengar suara sesuatu yang terjatuh di lantai. Putri mengaitkan kedua alis mata terkejut. Disaat ia sedang memilah satu persatu pakaian, nampaknya ada benda yang terselip di dalam salah satu pakaian. Putri membungkukkan tubuhnya, lalu mengambil sesuatu yang jatuh di lantai tadi. Sebuah buku yang halaman luarnya bertuliskan catatan harian milik Ayu Pradita, dengan gambar sebuah bangunan tua berwarna cokelat. Dari luar sana terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Putri bergegas mengembalikan pakaian ke posisi semula, namun ia memilih mengambil buku catatan tersebut. Ia menyembunyikan nya di balik kaos nya, lalu menyelipkan nya ke dalam bagian pinggang celananya.
Kreeaaat.
Pintu dibuka dari luar, nampak mbak Ijah datang membawa pengki dan sapu serta kantong plastik besar. Keduanya langsung membersihkan kamar itu bersama. Putri sudah mengambil beberapa barang yang mungkin akan ia pakai. Sementara mbak Ijah mengosongkan lemari pakaian. Putri kembali mengingatkan mengenai peraturan yang berlaku setiap enam bulan nya.
"Oh iya itu... Mbak Putri jangan lupa ya untuk meninggalkan kost ini selama satu hari. Untuk hari nya belum pasti kapan, yang jelas kurang dari tiga bulan mulai sekarang. Nanti sebelum hari H, saya akan mengingatkan semua penghuni kost. Setelah pagi tiba, kalian semua baru bisa datang kembali kesini. Maklum lah mbak, keluarga besar butuh waktu tenang untuk menikmati waktu bersama."
"Apa mbak Ijah juga akan meninggalkan tempat ini untuk sehari?" Tanya Putri menatap serius wajah mbak Ijah.
"Gak lah mbak, kalau saya juga pergi siapa yang akan membantu disini. Hanya pak Sardi saja yang meninggalkan rumah ini, beliau tinggal di rumah anaknya untuk bertemu dengan cucu semata wayangnya."
"Pak Sardi yang mana sih mbak, maaf ya saya jadi ikutan manggil mbak Ijah karena ibu kost manggilnya mbak tadi."
"Gak apa-apa mbak... Kebetulan saya juga belum menikah, dipanggil mbak malah membuat saya merasa lebih muda. Kalau mau tau pak Sardi, mbak Putri bisa menemuinya di kebun belakang. Ia tinggal disana sambil mengurus kebun di rumah ini. Tapi mbak Putri harus hati-hati ya sama pak Sardi. Soalnya dia orangnya agak aneh."
"Aneh gimana sih mbak?" Tanya Putri menghentikan aktivitas nya, karena mbak Ijah memberikan kode dengan gestur tubuh supaya ia mendekat. Lalu mbak Ijah membisikkan sesuatu di telinga nya.
"Hah! Masak sih mbak? Bahaya dong kalau gitu tinggal disini?" Imbuh Putri dengan nada suara agak tinggi.
"Ssstt... Pelankan suaranya mbak. Itu semua belum pasti kok, hanya selentingan para anak kost yang tinggal disini saja. Tapi kalau saya pribadi belum pernah melihat pak Sardi kayak gitu. Jadi kalau sampai kejadian begitu, mbak Putri laporan saja ke bu Melati." Pungkas mbak Ijah seraya berjalan ke pintu keluar dengan membawa satu kantong plastik berisi barang-barang yang tak terpakai.
Putri berdiri dengan menyenderkan kepala di dinding. Nampak sekelebatan bayangan putih melesat di depan lorong kamar. Karena penasaran, ia berjalan mengikuti bayangan tersebut.
Terdengar suara pintu yang terbanting keras, membuat Putri terperanjat sampai melompat di tempat.
"Putri toloong... Cepatlah kembali ke rumah... Cepat Putri!" Terdengar suara yang membuat Putri kebingungan mencari darimana asalnya.
Putri memandang ke segala arah, tak jauh dari ia berdiri nampak pintu kuno dengan ornamen ukiran perwayangan. Ada seseorang yang tergeletak di lantai dengan kaki berdarah. Saat Putri mendongakkan kepala ke atas, terlihat bayangan hitam yang mengenakan jubah dan penutup kepala sedang mencekik seseorang yang tak terlihat wajahnya. Sontak saja Putri panik, lalu berusaha membantu. Namun tubuhnya mendadak lemas, begitu ia melihat wajah seseorang yang tak asing di matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Biah Kartika
penasaran thor, siapa ya orang berjubah hitam itu??
2023-09-12
0
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
pasti kakak.ny mau ngasih petunjuk..
2023-09-12
0
Else Widiawati
apakah putri diperlikatkan bayangan dimana ayu telah dibunuh?? udah mulai deh tebak2annya
2023-09-05
0