Wajah teduh yang selalu menjadi panutannya selama ini, berubah menjadi mengenaskan karena keningnya berlumuran darah. Leher yang tercekik oleh kuku hitam itu mulai menembus bagian dalam.
"Aaarrggh... Lepaskan ayahku!" Jerit Putri dengan berderai air mata.
Putri menangis meraung-raung di depan pintu yang tertutup rapat. Nampak beberapa penghuni kost mulai berdatangan karena mendengar jeritan Putri. Tempat kost yang campur antara penghuni pria ataupun wanita selalu ramai setiap harinya. Mereka memandang Putri dengan tatapan takut. Hanya ada satu wanita yang mendekat, dan menyadarkan Putri. Ia menggoncangkan tubuhnya seraya berteriak kencang. Butuh waktu lumayan lama, sampai Putri benar-benar tersadar dari alam bawah sadarnya.
"Hei! Lu kenapa? Tenanglah disini gak ada apa-apa. Kenapa lu nangis histeris kayak gini?" Tanya Febi, gadis yang tinggal persis di kamar yang akan ditempati Putri.
Putri masih sesegukan, lalu ia menyeka air mata yang masih mengalir di kedua matanya. Ia memandang ke segala arah, menyadari jika dirinya sedang menjadi pusat perhatian.
"A-aku gak apa-apa! Maaf sudah membuat keributan disini!" Jawab Putri seraya bangkit berdiri dan membungkukkan tubuhnya di hadapan banyak orang, sebagai tanda permintaan maaf.
Satu persatu orang-orang pergi dari sana, hanya ada Febi yang masih berdiri di hadapan Putri. Ia memperkenalkan diri, dan mengajak Putri untuk mengobrol. Karena sepertinya Putri seperti dalam tekanan, dan banyak pikiran.
"Kalau ada masalah cerita aja ke gue, jangan dipendam sendiri. Gue takut kalau ada orang yang tinggal disini bunuh diri. Jangan salah paham ya, gue bukannya sok akrab sama lu. Tapi gue beneran pengen suasana di kost ini jadi tenang, kayak dulu!" Ucap Febi dengan menghembuskan nafas panjang.
Sebelum berbicara santai, keduanya lebih dulu berkenalan. Mengetahui jika Febi tinggal di samping kamarnya, membuat Putri agak tenang karena sudah memiliki teman untuk mengobrol.
"Aku gak ada masalah apa-apa kok Feb, tadi aku baru dapat telepon dari orang rumah. Aku hawatir dengan kondisi ayah, gak sadar kalau aku sampai histeris kayak gitu. Maaf ya perkenalan pertama kita jadi kayak gini. Ngomong-ngomong sebelumnya ada kejadian apa disini? Kok kayaknya kau takut sekali, sampai mendatangi ku gitu?" Kata Putri tak menjelaskan yang sebenarnya.
Tak berselang lama, Melati bersama mbak Ijah datang. Karena mereka mendapat laporan jika ada keributan di depan kamar nomor 15. Pemilik kost itu membawakan segelas minuman yang di bacakan sesuatu oleh mbak Ijah.
"Minumlah Put, setelah ini kau akan merasa jauh lebih baik." Pinta Melati seraya menggenggam tangan Putri.
Nampak keraguan di wajah Putri, ia memandang ke wajah-wajah orang yang ada di sekitarnya. Febi meyakinkan Putri, jika ia tidak akan kenapa-napa setelah meminum air itu. Karena dari penjelasan Febi, mbak Ijah memang dikenal bisa menyembuhkan sesuatu. Dengan berat hati, Putri meraih gelas air putih dan meneguknya sampai setengah gelas.
"Udah bu makasih. Tapi ini air apa?"
"Hanya air putih biasa aja Put. Mbak Ijah ini memang memiliki sedikit kelebihan untuk menyembuhkan orang-orang yang terkena sawan. Kayaknya ada makhluk gaib yang ngikutin kamu sampai kesini, dan baru saja mbak Ijah mendoakan mu melalui perantara air tadi. Setelah ini mbak Ijah akan membersihkan kamar itu, supaya kau bisa langsung menempatinya. Hantu tadi senang dengan tempat kotor, dan dia nempel di badanmu karena kamu lelah dan belum membersihkan diri. Makanya lain kali, kalau sudah sampai bersihkan badan dulu biar gak ada yang nempel dan ngikutin terus!" Jelas Melati dengan senyum ramahnya.
Putri menelan ludah kasar, ia terkejut mendengar penjelasan pemilik kost itu. Bahkan Febi juga langsung memepetkan tubuh mendekat ke sampingnya.
"Sudah ndak ada kok! Mbak Febi dan mbak Putri gak usah takut. Sekarang udah gak ada lagi. Mbak Febi tau sendiri kan gimana kemampuan saya!" Tegas mbak Ijah menatap Febi dengan tersenyum miring.
Melihat senyuman mbak Ijah membuat Putri bergidik, karena ada aura mencekam yang ia rasakan. Terlihat Febi dengan cepat menganggukkan kepala, lalu berpamitan untuk kembali ke kamarnya.
"Putri gue masuk kamar dulu, ada kerjaan yang harus gue selesaikan. Nanti kita ngobrol lagi. Permisi bu, mbak Ijah!" Serunya sebelum beranjak pergi.
Putri buru-buru menyembunyikan bingkai foto keluarganya. Beruntungnya ia sempat mengambilnya dari dalam lemari sebelum mbak Ijah mengosongkan lemari. Melati berkata jika Putri tidak boleh mendekati pintu yang ada di depan kamarnya.
"Pintu dengan ornamen pewayangan itu ya bu?" Celetuk Putri blak-blakan.
"Iya Put, pintu itu. Disana adalah kamar peninggalan nenek buyut keluarga besar saya. Banyak barang-barang berharga yang tersimpan, sekaligus itu adalah tempat suci untuk keluarga besar saya melakukan sembahyang." Jelas Melati selalu dengan senyum ramahnya.
"Sembahyang? Ma-maaf sebelumnya... Apa bu Melati dan keluarga menganut keyakinan yang berbeda dari mayoritas penduduk Indonesia?" Tanya Putri agak menundukkan wajahnya.
Nampaknya mbak Ijah yang ingin menjawab pertanyaan Putri dengan wajah yang agak memerah. Namun Melati menghentikan mbak Ijah, dan ia menjelaskan pada Putri jika seperti yang ia katakan. Jika keluarganya menganut keyakinan yang minoritas, dan mereka mengadakan sembahyang besar untuk leluhur dalam waktu enam bulan sekali.
"Apakah mbak Ijah belum menjelaskan peraturan yang berlaku selama enam bulan sekali?" Imbuh Melati menatap Putri dengan serius.
"Su-sudah kok bu. Ma-maaf saya terlalu lancang bertanya seperti ini!" Ucap Putri berbicara gagap, dan dijawab mbak Ijah dengan sinis.
"Baguslah kalau kau tau itu lancang! Lebih baik jaga batasanmu jika mau tinggal lama disini!" Seru mbak Ijah mengaitkan kedua alis mata.
"Sudahlah mbak Ijah, jangan terlalu di ambil hati. Putri ini masih belum cukup dewasa dalam berpikir, kalau begitu kami tinggal dulu ya Put. Semoga kau betah tinggal di kamar yang menjadi pilihanmu ini. Biar pak Sardi yang membantu memindahkan semua tas mu dari kamar depan." Pungkas Melati sebelum melangkah pergi.
Baru saja Putri memasang sprei di kasur, ia mendengar suara bising dari mesin pemotong rumput. Suara berisik yang memekakkan telinga membuatnya penasaran, ia membuka jendela yang mengarah ke taman belakang. Nampak seorang lelaki tua sedang memotong rumput menggunakan alat panjang dengan bagian bawah yang dapat langsung memangkas rumput dengan pisau tajam.
Whuuuussd...
Bayangan hitam melesat melewati lelaki tua tadi. Tak lama sesuatu yang diluar nalar terjadi. Pisau pemotong rumput yang terlihat kencang tiba-tiba bautnya lepas satu persatu, pisau berbentuk bulat dan bergerigi tajam terbang melesat bebas ke arah yang tak beraturan. Seorang wanita yang baru saja masuk dari pintu pagar mendadak kelabakan mengetahui jjka ada benda asing yang mengarah padanya. Dan ia tak dapat mengelak lagi, ketika benda tajam itu terbang ke arahnya. Seketika darah segar menyembur dari lehernya. Pisau tajam yang berasal dari mesin pemotong rumput tadi berhasil mengoyak bagian leher wanita tersebut. Sampai ia tergeletak dengan berlumuran darah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
yuli Wiharjo
mesin rumput.. Di episode mana nih dinovel kaitanya. ingat ayo ingat... nyembur darah... Emang Pinter ni othor nya buat cerita
2023-10-06
0
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
mulai nih hal misti²ny kluar..
2023-09-12
0
Rina Hartopo
😱😱😱😱 apa otg itu selamat
2023-09-06
0