Akibat insiden tak terduga itu, para penghuni kost menjadi takut. Dan beberapa orang memilih untuk meninggalkan kost itu. Wanita yang terkena pisau pemotong rumput dikabarkan meninggal dunia, karena ia kehabisan darah sewaktu dalam perjalanan ke rumah sakit. Beberapa polisi datang untuk melakukan olah TKP. Lelaki tua yang mengoperasikan mesin pemotong rumput itupun diinterogasi. Bahkan Putri yang belum sehari tinggal disana juga diminta menjadi saksi mata. Karena kebetulan saat itu ia melihat semua kejadian secara langsung. Melati sebagai pemilik kost mengaku jika tak ada unsur kesengajaan. Karena sebelumnya memang mesin itu dalam keadaan baik, dan kecelakaan tak ada yang tau. Seperti lepasnya baut pengait di mesin tersebut. Mbak Ijah menenangkan pak Sardi, memintanya untuk tak takut karena ia tak bersalah. Semua yang terjadi hanyalah kecelakaan. Meski ia juga merasa bersalah atas kematian seorang wanita yang tinggal disana. Bahkan beberapa orang juga langsung meninggalkan tempat itu. Mereka takut karena insiden tersebut, apalagi sampai ada korban meninggal dunia.
Seorang petugas muda datang menghampiri Putri. Ia mengajukan beberapa pertanyaan menyangkut dengan kejadian yang dilihatnya.
"Perkenalkan saya Aditya dari Polsek Jakarta Barat. Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan." Ucap petugas itu seraya menjabat tangan Putri.
Nampaknya Putri gelagapan karena ini pengalaman pertamanya berurusan dengan polisi. Bahkan karena kasus kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa. Ia jadi berkeringat dingin dengan badan yang menggigil. Meskipun Putri dapat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan, beberapa kali giginya gemeretakkan karena gugup.
"Apa saya akan dibawa ke kantor polisi juga?" Tanya Putri dengan menelan ludah kasar.
"Tentu saja tidak, tapi jika sewaktu-waktu kami membutuhkan keterangan darimu, kau bisa datang ke kantor polisi. Apa kau masih baru disini?"
"Hmm iya pak, saya baru datang pagi tadi. Apesnya saya malah lihat kejadian mengerikan dengan mata kepala sendiri!" Sahut Putri dengan bergidik ketakutan.
Setelah menginterogasi beberapa orang, petugas polisi pergi membawa pak Sardi bersama mereka. Putri terduduk lemas setelah polisi membiarkan nya kembali ke kamar. Kesan pertamanya di kost itu menjadi suram, karena insiden yang baru saja ia lihat. Putri meletakkan kepala di atas meja, ia menghembuskan nafas panjang setelah melewati hari yang menurutnya agak aneh. Tak sengaja ia menjatuhkan buku catatan milik kakaknya. Buku itu terbuka memperlihatkan tulisan tangan sang kakak. Karena rasa lelah dan malas menguasai dirinya, Putri meraih buku catatan tersebut menggunakan kakinya.
Whuuusd whuussd...
Angin kencang mendorong jendela kamar hingga terbuka lebar, lalu menjatuhkan barang-barang yang ada di atas meja. Terpaksa Putri bangkit berdiri lalu menutup rapat jendela kamarnya. Bingkai foto keluarganya terjatuh tepat di atas buku catatan Ayu. Putri mengambil bingkai foto dan juga buku catatan tersebut. Karena penasaran ia membaca lembaran pertama buku itu. Disana tertulis jika Ayu merasa sakit hati pada beberapa teman nya, tak jelas teman mana yang dimaksud karena Ayu tak menuliskan nama-namanya. Namun ada sesuatu yang membuatnya terperanjat setelah membaca beberapa bagian tulisan yang ditulis dengan huruf kapital dan ditebalkan dengan stabill warna merah. Sebuah tulisan yang membuatnya merasa dejavu.
Kau yang pertama membuat kesalah pahaman, jika kau tak membersihkan nama baikku. Maka dalam waktu tiga bulan setelah kepergian ku, kau adalah orang yang pertama menyusulku ke alam baka. Karena kau bungkam tak mengatakan apa-apa pada siapapun. Maka tak ada gunanya tenggorokan mu masih tetap utuh. Jadi aku akan merobek isi tenggorokan mu hingga hancur!!!
Begitulah isi catatan tulisan Ayu. Sontak saja Putri berkeringat dingin dengan menelan ludah kasar. Apa yang baru saja ia baca sama persis dengan kejadian yang terjadi hari ini di tempat kostnya.
Seseorang mengetuk pintu kamar berulang kali. Membuat Putri terkejut, lalu bangkit berdiri dari tempat duduknya. Ia melihat Febi sudah berdiri di hadapannya dengan nafas tersengal-sengal.
"Put Putri... Gue nemuin selembar surat aneh di depan kamar Mira! Kayaknya surat itu tercecer pas keluarganya Mira datang buat ngambil barang-barangnya deh! Tapi kok ada yang aneh ya, pesan yang tertulis di surat ini kayak ancaman gitu. Coba deh lu baca isinya!" Jelas Febi seraya menenteng selembar kertas usang dengan tulisan tangan seseorang.
Putri menoleh ke berbagai arah, lalu menarik tangan Febi masuk ke dalam kamarnya. Keduanya duduk di atas ranjang dengan raut wajah cemas. Putri meraih selembar kertas yang ada di tangan Febi. Untuk beberapa saat ia terdiam dengan membulatkan kedua matanya.
"Tulisan tangan ini, kok mirip dengan tulisan tangan mbak Ayu. Dan catatan yang tertulis disini juga sama dengan kata-kata yang ada di buku catatan tadi. Tulisan yang diberi warna dari stabilo merah dengan hurup kapital. Mana mungkin surat ini dari mbak Ayu. Apa hubungannya mbak Ayu dengan perempuan yang bernama Mira itu?" Batin Putri di dalam hatinya.
"Put... Heh... Putri!" Seru Febi seraya mendorong tubuh Putri.
"Ngapain ngelamun sih lu, jangan bikin gue takut dong! Tadinya gue mau cerita ke temen deketnya si Mira. Tapi orangnya belum balik kerja, kayaknya dia lembur deh. Bisa jadi dia juga gak tau kalau Mira udah gak ada!" Imbuh Febi dengan menghembuskan nafas panjang.
"Sebenarnya siapa si Mira itu? Kenapa dia sampai mendapat pesan kayak gini? Lantas siapa yang mengirimkan surat semacam ini? Apa mungkin kematiannya ada hubungannya dengan pengirim surat ini? Soalnya yang kita tau kan si Mira itu tewas karena kecelakaan!" Ucap Putri mengaitkan kedua alis mata.
"Sebenarnya gue jadi curiga deh Put, jangan-jangan kecelakaan itu memang disengaja lagi!"
"Maksudnya gimana Feb? Ada yang menyabotase gitu?"
Putri dan Febi sama-sama terdiam, apalagi Putri yang baru saja pindah sama sekali tak mengenal Mira sama sekali. Namun ia menyadari sesuatu, tulisan tangan yang sama itu. Mungkinkah arwah kakaknya yang melakukan semua itu?
Putri berjalan ke meja, lalu menutup buku catatan milik kakaknya. Dari arah belakangnya Febi menepuk pundak nya, mengejutkannya hingga menjatuhkan buku catatan itu. Karena tak ingin jika Febi melihat isi buku tersebut, Putri bergegas mengambil nya lalu memasukannya ke dalam lemari.
"Lu kenapa sih Put, kok jadi ketakutan gitu?"
"Gak apa-apa kok Feb, aku jadi gak nyaman aja tinggal disini. Mana aku udah bayar dua bulan di muka lagi!"
"Udah tenang aja, masih banyak kok yang tinggal disini. Sebenarnya gue juga gak akrab sama Mira dan teman-temannya. Tapi sih beberapa bulan yang lalu, awal gue pindah kesini sempat ada keributan sama penghuni lain. Gak tau masalahnya apa, sampai penghuni itu nekat gantung diri karena perselisihan mereka. Itu sih yang gue tau dari cerita penghuni lainnya. Karena waktu itu gue masih baru, jadi ya gak akrab sama semua orang. Apa lebih baik kita kasih surat ini ke ibu kost aja ya, siapa tau bisa jadi petunjuk buat polisi. Kalau emang ada yang sabotase kan kasihan juga arwahnya si Mira, belum lagi pak Sardi yang sekarang jadi tahanan sementara." Ucap Febi seraya berjalan mondar-mandir di dalam kamar Putri.
Putri hanya diam tak mengatakan apa-apa. Ia masih sibuk mengaitkan beberapa hal yang ada di kepalanya. Mungkinkah surat ancaman itu hanya kebetulan saja sama dengan isi buku catatan milik kakaknya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
yuli Wiharjo
ayo ingat lagi ingat lagi..
2023-10-06
0
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
aku jdi curiga sma mbak ijah juga.. 😌
2023-09-12
0
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
klo ada mas adit, pasti nnti ada rania..
yeeeeyyy..
2023-09-12
0