Kara menyelipkan kertas itu ke dalam majalah yang ada di atas meja. Ia meraih handuk yang menggantung di paku samping jendela. Samar-samar ia melihat sesosok wanita mengenakan dress putih panjang sedang duduk di atas ayunan kayu. Ia menundukkan kepala dengan rambut yang terurai panjang dan kusut. Nampak setengah wajahnya pucat dengan bola mata yang berwarna putih, membuat Kara terperanjat hingga melompat.
"A-aayyuuu..." Ucap Kara dengan nafas yang berderu kencang.
Seketika ia berlari meninggalkan kamarnya, lalu mengetuk pintu kamar seseorang. Sebuah kamar yang letaknya hanya tiga pintu dari kamarnya. Tak lama seorang lelaki membuka pintu, ia heran melihat ekpresi wajah Kara yang tak seperti biasanya.
"Rud... Gu-gue lihat A-aayu disana!" Ucap Kara bicara gagap.
Nampak raut wajah Rudi berubah, ia langsung membekap mulut Kara supaya wanita itu tak melanjutkan perkataannya.
"Sssttt... Jangan sembarangan kalau ngomong Kar! Bahkan tembok di tempat ini juga punya telinga buat dengar omongan lu!" Ucap Rudi setengah berbisik di telinga Kara.
"Ayo ikut gue, kita bicara diluar aja!" Imbuh Rudi menarik tangan Kara.
Keduanya terlihat bicara serius di depan pintu pagar. Beberapa anak kost berlalu lalang membuat keduanya menghentikan obrolan untuk sesaat. Putri yang sedang menunggu kedatangan Melati nampak memperhatikan gelagat aneh Rudi dan Kara. Mereka seperti sedang berdebat, dan berulang kali Kara menunjuk ke arah samping kamarnya.
Plaaakk!
Febi menepuk pundak Putri dari belakang, hingga ia terkejut dengan memegangi dadanya.
"Astaga Feb, kau itu bikin jantungan aja sih!"
"Lagian lu ngapain berdiri di tengah jalan gini, emang lu lagi lihat apa an sih Put?"
"Lelaki itu siapa sih Feb, kok kayaknya lagi debat gitu sama wanita yang tadi marah-marah sama aku?"
Febi sedikit mengintip ke luar pintu, ia melihat kedua orang yang dimaksud Putri. "Oh itu Rudi, penghuni kost ini juga. Mereka sahabatnya almarhumah Mira. Mungkin mereka lagi ada masalah, emangnya kenapa Put?" Tanya Febi dengan memiringkan kepalanya.
"Hmm gak apa-apa kok Feb, aku masih gak enak aja sama wanita itu. Kayaknya dia salah sangka dengan kedatangan ku di tempat ini. Padahal aku gak memiliki tujuan buruk, tapi dia kayak nyalahin aku tanpa sebab yang jelas gitu!"
"Udahlah Put gak usah dimasukkan ke dalam hati. Kara sama sahabat-sahabatnya emang radak aneh. Apalagi setelah kematian wanita yang bernama Ayu. Kadang-kadang mereka suka nyebut nama Ayu pas lagi berdebat kayak sekarang itu. Mungkin karena sebelumnya mereka emang pernah bermasalah, dan dihantui rasa bersalahnya kali!"
"Loh Febi belum berangkat kuliah? Bukannya setiap hari kamis kau ada kelas pagi?" Sapa
Melati yang baru saja datang.
"Eh bu Melati... Iya nih, tadinya udah mau jalan malah di ajakin ngobrol sama Putri. Ya udah saya jalan duluan ya bu." Kata Putri seraya menenteng taa ranselnya.
"Tunggu Feb... Kau bareng saja sama saya dan Putri. Kebetulan kami berdua harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Jadi kau bisa nebeng sampai depan kampus mu." Ajak Melati seraya menyunggingkan senyum.
Tawaran Melati langsung diterima dengan senang hati oleh Febi. Mereka bersama berjalan menuju garasi mobil yang ada di samping gedung kost. Nampak Rudi dan Kara mengakhiri obrolan mereka, lalu masuk kembali ke dalam kostan. Terlihat Kara menatap wajah Putri dengan sinis, seakan ada kebencian yang tersimpan. Putri pun hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Ia heran, kenapa baru sehari tinggal disana sudah ada orang yang tak menyukainya.
"Sabar Put... Gak semua orang harus welcome dan senang sama lu. Biarin aja gak usah dipusingin, yang penting lu disini gak ganggu siapapun. Ya gak?" Celetuk Febi dengan menaikan alis matanya.
Putri membalas celetukan Febi dengan menyunggingkan senyum, lalu merangkul pundaknya seraya berjalan menuju garasi. Nampak seorang lelaki seumuran ayahnya sudah berada di depan kemudi. Melati memperkenalkan lelaki itu sebagai suaminya. Bahkan Febi juga langsung menyapa nya dengan ramah.
"Pak Harto apa kabar nih? Tumben nganter bu Melati pergi, gak ngantor pak?" Sapa Febi terlihat akrab dari gestur tubuhnya.
"Nanti agak siangan Feb... Wah siapa nih yang ada di sebelahmu Feb?" Sahut Harto setengah bergurau.
"Saya Putri pak, penghuni baru di kostan."
"Oh yang jadi saksi mata kasus kecelakaan Mira dan pak Sardi itu ya?"
"Iya mas... Udah yuk buruan jalan, kasihan tuh si Febi nanti telat ke kampus nya!" Seru Melati seraya meletakkan beberapa bungkusan ke jok belakang.
Tak lama setelah itu Harto mulai mengemudikan mobilnya. Hanya butuh waktu lima menit saja untuk berkendara sampai ke Universitas Merdeka. Karena memang jaraknya yang tak terlalu jauh. Febi berterima kasih pada sepasang suami istri itu, ia berpamitan pada semua orang sebelum menutup pintu mobil. Putri membuka kaca mobil, melihat kampus dambaan nya dari depan gerbang. Suasana kampus yang tenang dengan pepohonan rindang, membuat mata yang memandang nyaman melihatnya. Perlahan mobil mulai melaju, meninggalkan angan Putri di depan gerbang kampus itu.
"Put... Putri...!" Panggilan Melati sama sekali tak digubris.
Suara klakson mobil yang saling menyahut menyadarkan Putri dari lamunannya. Ia terkejut melihat wajah Melati tepat di depan matanya.
"Astaga... Saya kaget bu! Ada apa bu Melati melihat saya dengan jarak sedekat ini?"
"Dari tadi saya manggil tapi kau malah diam saja, takut kesambet tau gak!"
"Gak mungkinlah bu, di tempat seramai ini masak bisa kesambet! Emangnya kenapa bu Melati manggil saya?"
"Ini loh saya mau ngasih kue brownies buatan saya sendiri loh! Pasti kau belum sarapan kan Put, ayo dimakan dulu jangan sungkan. Biar nanti di kantor polisi, kau ada tenaga buat menjawab semua pertanyaan petugas." Melati memberikan satu kotak kue pada Putri.
Meski agak canggung dan sungkan, Putri terpaksa menyantap kue tersebut. Karena perutnya memang sudah keroncongan dari pagi tadi.
Nampak kemacetan khas ibu kota di sepanjang perjalanan. Putri yang baru melihat pemandangan menyesakkan itu hanya bisa menggelengkan kepala. Sudah hampir dua jam mereka berada di jalan, dan belum sampai di tempat tujuan. Beberapa kali Melati mendapat panggilan telepon dari pihak yang berwajib, dan ia menjelaskan situasinya yang memang terjebak kemacetan.
"Syukurlah pak polisi nya ngerti, dan katanya nanti kalau jadi ada jurnalis yang mau wawancara. Itu juga masih belum pasti sih Put, tapi saya diminta memberitahu ke kamu. Kalau saya sih gak keberatan kalau emang jadi diwawancarai. Tapi kalau Putri gak mau, kata pak polisi sih gak apa-apa. Tergantung kita aja sebagai saksi mau diwawancarai atau tidak." Jelas Melati dengan senyum ramahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
yuli Wiharjo
sekte nya mbah maryati.. ni yg kemaren ceritanya Putus toh
2023-10-06
0
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
mau aja put diwawancarai biar ktmu sma rania, siapa tau bsa bntun kmu nnti..
2023-09-13
2
Biah Kartika
wah rania wawancarai mbak melati sama putri dulu baru memulai menolong Sintia, sepertinya
2023-09-12
2