"Jangan! Jangan ganggu gue... Gue gak tau apa-apa! Ma-maafin gue..." Pekik Kara melotot ke atas.
"Mbak... Mbak Karaaa..." Mbak Ijah menepuk-nepuk wajah Kara untuk menyadarkan nya.
Nampak Putri keheranan melihat tingkah wanita yang baru saja membully nya. Ia menggelengkan kepala seraya menghembuskan nafas panjang. Ia berusaha acuh dan tak mau ikut campur dengan tingkah aneh Kara. Namun begitu Kara berteriak menyebut nama Ayu, seketika Putri menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badan melihat ke atas plafon tempat Kara menatap sedari tadi. Nampak sesosok wanita merayap di atas plafon dengan membulatkan kedua mata. Sosok itu terlihat marah dengan lidah yang menjulur keluar serta meneteskan air liur berwarna merah darah.
"Astaghfirullahalazim." Gumam Putri dengan menundukkan kepalanya.
Karena tak mau jika nama kakaknya terus disebut-sebut dan dipandang jelek oleh orang-orang yang ada disana, Putri membaca doa sebisanya supaya penampakan kakaknya menghilang. Barulah jeritan Kara mereda, ia menangis sesegukan dengan menutupi wajahnya.
Putri pun menghembuskan nafas panjang, ia lega karena penampakan kakaknya sudah tak ada. Putri duduk di tepi ranjang, memandang foto keluarganya. Bulir-bulir bening membasahi wajahnya, ia rindu pada sosok kakaknya. Tapi ia tak ingin jiwa kakaknya gentayangan setiap waktu. Putri ingin segera menguak misteri kematian kakaknya. Namun ia tak tau harus memulainya darimana.
Terdengar suara gaduh dari luar kamarnya. Putri membuka sedikit pintu untuk mengintip keluar. Nampak keramaian di depan sebuah kamar, terdengar selentingan yang mengatakan jika ada yang kerasukan. Dan berniat untuk menusuk matanya menggunakan bolpoin. Putri bergidik seraya mengusap belakang tengkuknya. Di antara kerumunan orang-orang yang tak ia kenal, ia melihat satu-satunya penghuni kost yang menjadi temannya. Dengan semangat Putri menghampiri Febi.
"Ada apa sih Feb, kok kalian berkumpul disini?" Kata Putri seraya menepuk pundak Febi.
"Itu loh si Kara kerasukan arwahnya Mira, terus dia ngasih lihat kertas dengan pesan kematian. Pesan yang hampir sama dengan yang gue temuin di depan kamar Mira."
"Oh yang itu... Terus udah kau kasihkan ke bu Melati belum suratnya?" Tanya Putri dengan menaikan alis mata nya.
Febi menepuk jidatnya. "Astaga... Gue lupa Put! Aduh gimana ini, ntar dikira gue ada sangkut pautnya lagi!" Jawab Febi dengan menelan ludah kasar.
Melati datang bersama mbak Ijah. Mereka berjalan menembus kerumunan anak-anak kost. Nampak mbak Ijah membawa dupa dengan segelas air yang terendam bunga tujuh rupa. Ia terlihat komat-kamit di depan dupa, yang asapnya mengepul memenuhi seisi kamar. Mantra-mantra dibacakan di atas gelas air, yang sebentar lagi akan disemburkan ke wajah Kara. Wajah Kara yang terlihat berbeda dari biasanya. Ekspresi menyeramkan, mata yang nanar dengan kepala yang terus menunduk, seakan tak ada urat penyangga dibagian lehernya. Kepala yang terus bergoyang ke kanan lalu ke kiri sesuai dengan gerakan tubuhnya. Membuat semua yang melihatnya menebak jika sosok Mira lah yang telah merasuki tubuh Kara. Tangan kirinya memegang selembar kertas berwarna coklat, yang ia genggam dengan erat. Terdengar suara erangan panjang, sebelum tubuh Kara terkulai lemas di lantai. Febi inisiatif membantu Melati mengangkat badan Kara untuk diletakkan di atas ranjang. Lalu Melati meraih ketas yang ada di genggaman tangan Kara.
"Kertas apa ini? Sebuah ancaman kah? Apa yang harus diakui oleh Kara?" Ucap Melati membaca kertas itu dengan mengaitkan kedua alis mata.
Mbak Ijah menyelesaikan ritualnya, ia meminta semua orang yang ada diluar untuk masuk ke kamar mereka. Setelah pintu tertutup rapat, barulah Febi mengatakan pada Melati jika ia menemukan kertas yang sama di depan kamar almarhumah Mira.
"Kapan kau menemukannya Feb? Kenapa kau tak mengatakannya pada saya. Bisa jadi ada seseorang yang sengaja mengancam Mira ataupun Kara dengan pesan ancaman seperti ini. Sebenarnya kebenaran apa yang disembunyikan Kara, sampai ia mendapat ancaman begini. Dan siapa penulis pesan ini ya?" Melati menghembuskan nafas panjang.
Nampak Febi dan Putri bersamaan membaca kertas yang ada di tangan Melati. Keduanya saling menatap ketika membaca tulisan itu.
"Katakan kalau aku tak pernah menggoda lelaki manapun? Jangan-jangan ini pesan kematian dari Ayu?" Celetuk Febi dengan menoleh ke kanan dan kiri.
"Hussd... Jangan sembarangan kalau ngomong Feb! Ayu kan udah gak ada, mana mungkin dia yang nulis pesan ini. Ngacau aja kau itu!" Sahut Melati seraya menggelengkan kepala.
"Betul bu... Pesan di surat yang saya temuin di depan kamar Mira juga hampir mirip kayak gini. Ya gak Put?" Febi mengangkat dagunya, meminta pendapat dari Putri.
Reflek saja Putri menganggukkan kepala mengiyakan perkataan Febi. Bahkan setelah itu Febi menjelaskan isi pesan di selembar kertas itu.
"Disana tertulis jika dalam waktu 3 bulan setelah kepergian nya, Mira gak mengatakan kebenaran pada siapapun maka gak ada gunanya tenggorokannya. Lalu si penulis pesan bilang akan merobek tenggorokan Mira. Hiiiissh... Serem banget bu!" Jelas Febi dengan mengusap belakang tengkuknya.
"Jangan-jangan ada yang memanfaatkan kematian Ayu untuk mengancam Mira dan Kara. Lalu dimana sekarang surat itu?" Melati nampak gusar, ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar Kara.
"Ada di kamar saya bu!" Kata Febi dengan tegas.
Melati bangkit berdiri membawa selembar kertas milik Kara, ia mau mencocokkan tulisan tangan si penulis pesan, apakah benar sama dengan pesan yang tertulis untuk Mira. Ia menugaskan mbak Ijah untuk tetap menjaga Kara sampai ia sadar. Melati tak ingin ada keributan lagi di tempat kostnya. Karena itu akan berdampak buruk bagi kelangsungan bisnisnya.
Nampak Putri mengikuti Febi dan ibu kostnya. Mereka menuju kamar Febi bersama. Febi membuka laci meja, lalu mengambil selembar kertas milik Mira. Putri berkeringat dingin, ia panik jika sampai ada yang mengenali tulisan tangan Ayu kakaknya.
"Kenapa kedua pesan ini mengarah pada mendiang Ayu ya? Gak mungkin orang yang udah meninggal mengirimkan pesan seperti ini! Pasti ada yang sengaja menulisnya, dan berusaha meneror mereka!" Melati melemparkan kedua surat itu ke lantai.
"Tapi siapa bu? Ayu kan gak punya teman ataupun saudara disini! Siapa yang akan membelanya dengan cara licik seperti ini!" Imbuh Febi dengan memijat pangkal hidungnya.
"Kenapa kau jadi menuduh orang lain Feb?" Kata Putri dengan nada agak tinggi.
"Iih... Lu ngapain nyolot gitu sih Put? Gue kan cuma asal nebak aja! Lagian dugaan gue kan ada benarnya! Kalau orang yang udah meninggal gak bisa nulis dan kirim pesan, bisa aja kan manusia bernyawa yang melakukannya! Dan orang yang memiliki kemungkinan itu hanya teman ataupun saudara dari mendiang Ayu saja! Lagipula gue ngomong gini gak ada maksud buat belain siapa-siapa kok!" Tegas Febi dengan nada tak kalah tinggi.
Febi langsung terdiam dan mengaitkan kedua alis mata. Ia menatap lawan bicaranya itu dengan berkacak pinggang, lalu berjalan memutari Putri yang berdiri mematung dan bungkam seribu bahasa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
yuli Wiharjo
Huuuh ketahuan GA tuh Putri adik mendiang
2023-10-06
0
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
nanti malah putri yg di curigain..
2023-09-18
0
liani purnapasary
febi ky x mulai curiga ke putri, smoga putri bisa cari alibi yg tepat deh nghidari tuduhn.
aq tuh malah lebih curiga keibu melati tuu jangn "pelaku x aduh dia
2023-09-16
0