Rania masih melihat melalui batinnya, sesosok wanita dengan rambut panjang yang menjuntai ke tanah itu terus menundukkan kepalanya. Separuh wajahnya tertutup rambutnya, namun begitu angin menerpa rambutnya terlihat lidah panjang yang menjulur keluar.
"Astaghfirullahalazim!" Seru Rania membuka kedua mata dengan memegangi dadanya.
"Kenapa Ran?"
"Gak apa-apa kok mas. Aku cuman kaget aja!" Rania menghembuskan nafas panjang.
"Oh iya bu, apakah lain kali saya bisa mewawancarai ibu lagi? Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tanyakan, tapi saya gak ada waktu lagi karena harus mewawancarai terduga." Imbuh Rania menatap Melati.
"Tentu saja, tapi tidak di tempat ini kan! Anda bisa membuat janji temu dengan saya." Ucap Melati seraya memberikan selembar kartu nama pada Rania.
Tak lama Melati dan Harto melangkah keluar, namun keduanya tiba-tiba menghentikan langkah mendengarkan percakapan Putri dan Rania. Karena menyadari jika mereka tak seharusnya berada disana, Melati dan Harto terpaksa meninggalkan ruangan itu.
"Apa kau merasakan sesuatu dek?" Tanya Harto seraya duduk di kursi yang ada di lorong.
Melati tersenyum datar seraya menganggukkan kepala. "Tentu saja aku merasakannya mas. Kita terlalu menganggap remeh semuanya. Bagaimana jika pak Sardi tak bisa lepas dari jerat hukum? Aku juga kepikiran dengan yang satu itu!" Jawab Melati seraya memijat pangkal hidungnya.
"Mendengar penjelasan Putri tadi, sepertinya akan ada keringanan hukuman untuk pak Sardi. Kau tenang saja dek, semua pasti akan baik-baik saja. Bukankah tujuan kita baik untuk menolong pak Sardi?" Harto merangkul istrinya yang terlihat bersedih.
Karena sudah menunggu lama dan Putri tak kunjung keluar. Harto mengantuk pintu ruangan yang masih tertutup. Terdengar jawaban Putri dari luar, Harto pun kembali mendatangi istrinya.
"Sepertinya ada sesuatu yang penting, mungkin Putri sedang meminta tolong sepupunya yang polisi itu."
"Biarkan saja to mas, bukannya wajar kalau mereka saling membantu." Pungkas Melati dengan tersenyum datar.
Tak berselang lama Putri menghampiri mereka. Dari arah belakangnya nampak Adit dan Rania berjalan menuju sebuah ruangan. Mereka hanya menyapa dengan melempar senyuman.
"Sudah Put?"
"Sudah kok bu, kita diperbolehkan pulang. Mungkin pak Sardi akan tetap mendapat hukuman kurungan, meski dakwaannya gak akan berat. Tadi saya menanyakan perihal itu pada mas Adit. Karena saya gak tega ngelihat orang tua itu berada di dalam tahanan."
"Mau bagaimana lagi Put, meski kita sudah memberikan keterangan tapi hukum tetap harus berlaku. Nanti biar kami yang sampaikan ke anaknya mengenai berita ini. Mungkin kami juga akan memberikan sedikit bantuan untuk keluarga pak Sardi." Ucap Melati seraya berjalan keluar meninggalkan kantor polisi.
Harto mengemudikan mobilnya, namun baru beberapa meter jaraknya, ada seorang wanita yang tiba-tiba melintas di depan mobil.
Chiiiit!
Harto menginjak rem mendadak, lalu membuka kaca mobilnya. Ia memaki wanita yang ada di depannya.
"Ada apa sih mas?" Tanya Melati seraya menepuk lengan suaminya.
"Itu ada orang sembarangan nyebrang! Kalau ketabrak gimana coba! Untung aku sempat menginjak rem!" Seru Harto dengan menunjukan jari ke arah depan.
Sepi. Tak ada siapapun di depan sana. Terlihat raut wajah Melati dan Putri kebingungan. Mereka tak melihat seseorang yang dimaksud Harto.
Harto mengaitkan kedua alis mata, menyadari ada sesuatu yang janggal. Saat ia menoleh ke samping untuk menutup kaca mobil, nampak sesosok penampakan wanita dengan lidah menjulur keluar. Sosok yang ada persis di samping kaca mobilnya.
"SETAN ALAS! Beraninya kau mengganggu ku!" Pekik Harto dengan memukul kemudi nya.
"Mas sadar mas... Mas Harto! Lihat kesini mas!" Seru Melati seraya menggoncangkan tubuh suaminya.
Terdengar nafas Harto berderu kencang, ia berusaha mengontrol emosinya. Ia menundukkan kepala lalu menghembuskan nafas panjang. Putri agak terkejut melihat sikap pemilik kostnya. Ia diam dengan memainkan kuku tangannya.
"Maaf ya Put, suami saya sepertinya ngelihat sesuatu yang mengganggu perjalanan kita. Makanya dia agak kesal, maklum saja pak Harto ini bisa ngelihat yang gak bisa dilihat orang biasa." Jelas Melati dengan menggenggam tangan Putri.
"Oh pantas saja bu, tingkah pak Harto agak aneh."
Terdengar suara klakson dari belakang, Harto yang sudah agak tenang mulai mengemudikan kembali mobilnya. Penampakan demi penampakan dilihat oleh lelaki itu, namun ia berusaha mengacuhkan nya. Sampai mereka semua tiba di tujuan.
"Terima kasih ya pak, bu. Saya pamit ke dalam dulu." Ucap Putri agak membungkukkan badan, dan dibalas dengan senyuman keduanya.
Terlihat Melati langsung menatap suaminya dengan raut wajah marah. Ia membulatkan kedua mata seraya menyeret suaminya ke dalam rumah. Terdengar suara pintu terbanting dengan kencang, membuat Putri sedikit berjingkat.
"Iya itu orangnya, jangan dekat-dekat sama dia! Ntar lu kena apes juga lho!" Ucap seseorang yang duduk di teras depan.
Putri menggelengkan kepala agak kesal. Ia sadar jika orang-orang yang berkumpul itu sedang membicarakan nya.
Tiba-tiba seorang wanita menghentikan langkahnya tepat di depan Putri. Ia memiringkan kepalanya, tersenyum sinis seraya berkacak pinggang.
"Kalau lu mau betah tinggal disini harus ramah sama anak-anak yang lain. Seenggaknya nyapa kek, atau basa-basi apa gitu!" Seru Kara.
"So-sorry... Aku gak lihat ada orang! Permisi semuanya, aku masuk ke dalam dulu!" Putri gelagapan berusaha menerobos masuk ke dalam.
Namun tiba-tiba Kara menarik sebelah tangan Putri ke belakang, membuat ia meringis kesakitan.
"Jangan sok lu ya disini! Mentang-mentang lu dibelain sama ibu kost jadi ngerasa di atas angin ya! Sebenarnya lu itu siapa, kenapa ngotot banget pengen tinggal di kamar ujung sana. Gue denger dari penghuni lain, kalau lu sampai mau bantuin bersih-bersih meski lu baru datang! Apa lu punya tujuan lain buat tinggal di tempat ini?" Cetus Kara menekan pergelangan tangan Putri.
Seorang wanita berjarik lari terbirit-birit seraya berteriak menyebut nama Kara. Ia meminta Kara untuk tak membuat keributan.
"Jangan sampai saya melaporkan kejadian ini ke bu Melati. Mbak Kara udah gak bisa berbuat kayak gini lagi di tempat ini, jangan sampai kejadian dulu terulang kembali. Karena itu hanya akan merugikan pemilik kost ini saja. Sudah banyak berita miring yang beredar diluar sana mengenai tempat ini. Jadi tolong jaga sikapnya ya mbak!" Tegas mbak Ijah seraya menarik lengan Kara dengan kencang.
"Mbak Ijah gak usah jadi tukang ngadu gitu deh! Saya kan cuma ngasih peringatan aja ke anak baru ini, supaya sopan menyapa anak-anak yang lain!" Kara menyangkal dan berdalih jika ia berbuat kasar.
Putri hanya diam tak tau harus berkata apa. Sampai Kara mendadak berteriak histeris seraya meminta ampun. Ia mendongakkan kepala ke atas plafon dengan menyatukan kedua tangan di depan dada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Ibni Fathan
nah kan semua akan berkaitan.....
bisa jadi Rania juga akan ditolong orang pondok nanti bisa jd keluarga cewek yg menolong Riko
2023-09-14
0
liani purnapasary
Aq yakin ibu kost sama suami nya itu,ada ya ga beres. gerak gerik mereka mncurigakn, jngn " ayu meninggal mnjadi tumbal prsugihn mereka, secara kebetulan pula kara dan teman "nya tdk menyukai Ayu,trs ibu kost mminta mereka mncelakai ayu,nah pd saat yg sma mereka mngadakn ritual persembahan,spaya seakn "Ayu meninggal secara wajar mungkin.
dan ibu kost baik sma putri kaya nya tdk tulus deh, ada udang dbalik batu. 😂😂lanjut thor
2023-09-14
0
Else Widiawati
nahh ini mbak ijah udah sadar kalo si jara ini biang keladi pembullyan...harus ditegasin biar ga semena2
2023-09-14
0