"Mbak Putri yakin lihat pak Sardi?" Ucap mbak Ijah setengah berbisik, dan dibalas anggukkan kepala Putri.
"Pak Sardi masih ada di kantor polisi, malahan nanti bu Melati dan mbak Putri diminta datang kesana untuk memberi kesaksian. Semoga saja pak Sardi bisa bebas, setidaknya jadi tahanan rumah aja. Lha wong dia gak bersalah, kasihan kalau harus menghabiskan masa tua nya di jeruji besi." Imbuh mbak Ijah dengan menggelengkan kepala.
Deegh...
"Kalau pak Sardi belum kembali, lalu siapa yang tadi aku lihat? Jangan-jangan tadi setan yang menyamar lagi?" Batin Putri dengan jantung yang berdetak kencang.
"Ada apa mbak, kok ngelamun gitu?"
"Gak ada apa-apa kok mbak Ijah. Kayaknya tadi aku salah lihat aja, soalnya baru bangun juga tadi. Ya udah aku ke dapur dulu ya mbak, udah laper banget nih!" Putri beranjak pergi ke dapur.
Putri menunggu air mendidih, ia berdiri melamun memandang ke arah semak-semak yang ada di depannya. Nampak sesosok bayangan hitam tengah memantaunya. Sepasang mata nyalang berwarna merah samar-samar sedang mengintai dirinya. Putri menyipitkan kedua mata, lalu mengucek matanya. Sosok yang sebelumnya ia lihat tiba-tiba menghilang, namun ketika Putri membalikkan tubuhnya ke belakang, sesosok makhluk hitam dengan bulu lebat yang menutupi seluruh tubuhnya terlihat berdiri mengambang seraya membuka lebar mulutnya. Nampak gigi runcing yang mencuat keluar dari mulut, air liurnya menetes membasahi kaki Putri. Dan bruuugh... Putri jatuh pingsan di depan kompor yang masih menyala.
Seorang lelaki yang baru saja keluar dari kamar mandi menemukan Putri tergeletak di dapur. Bahkan air mendidih di atas kompor sampai mengering. Lelaki itu mematikan kompor lalu membawa Putri ke ruang tamu. Beberapa anak kost keluar dari kamar mereka, melihat Putri dengan tatapan risih. Terdengar mereka saling berbisik, jika sejak kedatangan anak baru itu. Banyak kejadian aneh yang terjadi di tempat kost itu. Mereka mengatakan hal-hal negatif mengenai Putri, dan menyebutnya sebagai pembawa bencana.
"Heh! Jangan sembarangan lu ya kalau ngomong! Dia baru sehari tinggal disini, dan kalian udah bikin gosip yang enggak-enggak! Jangan sampai kalian sendiri yang termakan ucapan kalian! Bisa aja kan setelah ini salah satu dari kalian yang apes dan kena bencana!" Seru Febi yang kesal mendengar ucapan anak-anak kost lainnya.
"Kenapa lu jadi belain anak baru ini sih? Emang lu kenal deket sama dia!" Seru Kara salah satu sahabat Mira, yang meluapkan dukanya untuk menyalahkan orang lain. Karena kebetulan setelah kedatangan Putri, ada tragedi yang merenggut nyawa sahabatnya.
Sempat terjadi keributan antara Febi dengan Kara, mereka saling dorong dan membuat kerumunan anak kost semakin banyak. Melati datang kesana, karena ia ingin mengajak Putri pergi ke kantor polisi bersama. Namun yang ia lihat justru ketegangan antara para penghuni kostnya. Ia melerai Febi dan Kara, lalu meminta semua orang kembali ke kamar mereka masing-masing. Namun sepertinya Kara masih belum bisa menerima, ia meminta Melati untuk mengusir Putri. Karena sejak kedatangannya, ia merasa keadaan kost itu jadi tak tenang.
"Kemarin saya dengar wanita ini berteriak histeris kayak lagi kesurupan, dan gak lama setelah itu ada tragedi yang merenggut nyawa Mira. Jangan-jangan wanita ini memiliki ilmu hitam buat numbalin nyawa orang lain!" Seru Kara dengan menunjuk ke arah Putri.
Putri yang baru saja mendapatkan kesadarannya terlihat bingung. Ia memandang ke orang-orang yang mengelilinginya. Ia berusaha bangun dari sofa tempatnya menyenderkan kepala. Dengan panik, Putri memegangi tangan Melati lalu menceritakan apa yang baru saja ia lihat di dapur. Kara langsung berdecih, dan mengatakan jika kecurigaan nya pada Putri sudah terbukti. Karena dengan mulutnya sendiri, Putri mengatakan sesuatu yang tak masuk akal.
"Sudah cukup Kara! Kau tak bisa melampiaskan dukamu pada orang yang tak bersalah. Setelah ini saya dan Putri harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan pada polisi. Lebih baik kau pergi ke rumah sakit, karena siang nanti jenazah Mira akan dibawa pulang ke kampung halamannya!" Tegas Melati.
Kara terlihat kesal karena tak mendapat pembelaan dari ibu kostnya. Ia kembali ke dalam kamar dengan membanting pintu.
"Sebenarnya siapa si Putri itu, kenapa bu Melati seakan membelanya. Padahal dia baru sehari tinggal disini!" Gumam Kara dengan mengacak rambutnya kasar.
Kara duduk di samping jendela, ia mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya. Disaat ia sedang menikmati sebatang rokok, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Kara yang panik langsung mematikan rokoknya, karena disana tak boleh ada yang merokok di dalam ruangan. Ia langsung menyalakan kipas angin supaya asap rokok tak memenuhi kamarnya. Namun begitu ia membuka pintu kamarnya, tak ada siapapun diluar sana. Ia menoleh ke bawah, ada selembar kertas usang yang terselip di bawah pintu. Kara berjongkok meraih kertas tersebut. Ia mengaitkan kedua alis mata, lalu bangkit berdiri seraya memandang ke segala arah. Sepi tak ada satu orang pun disana, namun ada yang meletakkan selembar kertas di bawah pintu kamarnya. Ia membawa kertas itu ke dalam kamar lalu meletakkannya di atas meja. Ia melanjutkan kegiatannya, menghisap sebatang rokok yang tinggal separuh. Ia memetik rokok yang ada di tangannya, sehingga percikan api jatuh mengenai kertas yang ada di atas meja. Sontak saja Kara mengibaskan kertas itu supaya tak terbakar, lalu mematikan putung rokoknya di atas asbak. Spontan saja Kara membaca isi kertas tersebut. Sebuah pesan yang tertulis untuknya, pesan yang membuat Kara naik pitam lalu menggebrak meja.
"Kurang ajar! Siapa yang berani ngancem gue kayak gini!" Pekik Kara dengan membulatkan kedua matanya.
Kara kembali membaca setiap kata yang tertulis di selembar kertas usang itu. Tulisan tangan seseorang yang tak ia ketahui siapa penulisnya.
"Jangan menutup matamu untuk menyembunyikan sebuah kebenaran! Ceritakan pada semua orang, jika aku tak pernah menggoda lelaki manapun! Kenapa kau membuat kesalah pahaman hingga aku harus mengakhiri hidupku! Karena bullyan mu dan teman-temanmu, mentalku jadi berantakan! Ku beri kau waktu dalam 7 hari mulai dari sekarang. Jika kau tak mengikuti perintah ku, maka tak ada gunanya kedua matamu itu. Mata yang menyaksikan kebenaran, kau buat untuk bersaksi mengatakan hal yang tak pernah terjadi! Aku akan membawamu ke neraka, meski tanpa bola mata!!!
Dari Apt untuk Kara ☠️
Surat dengan gambar tengkorak mengakhiri pesan dari surat tersebut.
Kara berbicara di dalam hatinya, ia panik dan cemas karena mengira ada yang mengetahui suatu rahasia mengenai dirinya dan teman-temannya.
"Siapa yang nakutin gue dengan cara kayak gini? Darimana pengirim surat ini tau mengenai kejadian yang sebenarnya?" Gumam Kara pada dirinya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
yuli Wiharjo
sesuai aja apa yg ditanam itu yg dituai kar
2023-10-06
0
@✹⃝⃝⃝s̊Sᵇʸf⃟akeoff🖤 k⃟K⃠
mulut tetangga mah gitu seenaknya aja klo ngomong..😒
2023-09-13
0
Else Widiawati
waduhh...kalopun harus jujur...harus lapor siapa?
2023-09-11
0