Dengan satu gerakan cepat, Alenna segera menyambar ponsel milik suaminya itu lalu menghempaskan pinggul di atas sofa. Dia menekan tombol samping benda elektronik tersebut hingga layarnya menyala dan menampilkan gambar wallpaper. Alenna seketika terkejut karena foto pernikahan mereka sudah tidak disetel lagi menjadi wallpaper, melainkan telah berganti menjadi gambar sebuah mobil.
Pada saat dia mengusap layar berukuran enam setengah inci itu, muncullah perintah untuk memasukkan kata sandi. Segera dia memasukkan tanggal pernikahan mereka yaitu 080823. Namun, Alenna merasa kaget karena layar ponsel itu tidak juga membuka. Dia pun mengulanginya hingga beberapa kali, tetapi hasilnya tetap sama.
Sah, kalau Firdaus telah mengganti kata sandinya!
Tubuh Alenna lemas seketika. Dia menyandarkan punggung pada bahu sofa lalu menjatuhkan tangan yang membawa ponsel putih tersebut di atas pangkuannya. Pupus sudah harapannya untuk memeriksa ponsel itu demi mencari tahu siapa yang kerap mengirimkan pesan pada Firdaus dan kenapa pria itu suka senyum-senyum sendiri ketika sedang bermain gadget.
Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan, Mas? Kenapa kamu tiba-tiba mengganti kata sandinya? Apa kamu sedang menjalin hubungan dengan perempuan lain?
Alenna tersentak saat mengingat satu nama perempuan dari masa lalu suaminya. Shella. Nama itulah yang pernah Firdaus sebut ketika dia baru sadar dari komanya.
Mungkinkah perempuan itu muncul kembali dalam hidup suamiku? Tapi bukankah kata mama, dia sudah menikah dengan pria lain dan pindah ke luar negeri?
Berbagai pertanyaan berputar-putar di kepala Alenna. Perasaan takut menyelubungi ruang hatinya. Dia takut kalau ternyata perempuan itu benar-benar muncul kembali dan ingin merebut Firdaus dari tangannya.
"Kamu ngapain?"
Alenna terlonjak bangkit dan refleks menoleh ketika suara Firdaus menyapa telinganya. Saking banyaknya hal yang dia pikirkan, dia sampai tidak sadar kalau pria itu telah keluar dari kamar mandi dan sekarang sudah berdiri tegak di dekat sofa.
"Emh ... aku cuma ingin duduk. Badanku rasanya capek semua setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan," sahut Alenna setelah menemukan satu alasan yang paling masuk akal di kepalanya. Dia berusaha tetap tenang meskipun jantungnya serasa ingin lepas karena kaget.
Firdaus menatap aneh wajah yang tampak gugup di hadapannya itu. Sepersekian detik kemudian, matanya memicing saat melihat ponsel putih di tangan Alenna yang sama persis dengan ponselnya. Dia lantas menoleh ke arah nakas dan melihat ponsel yang sama tergeletak di atas sana.
"Itu hape siapa yang kamu pegang?"
Alenna tersentak kaget lalu menunduk untuk melihat sebuah benda yang terselip di tangan kanannya. Jantungnya berdebar kencang setelah sadar kalau dia masih menggenggam ponsel milik pria itu. Duh, gawat!
"Emh ... ini ... bukankah ini milikku?" Alenna lalu berpura-pura menekan tombol sampingnya sehingga pada layar muncul gambar sebuah mobil yang disetel sebagai wallpaper.
"Oh, ini ternyata bukan hapeku. Aku berarti sudah salah ambil. Maaf, ya," ucap Alenna yang sedang berpura-pura. Dia meletakkan ponsel tersebut ke atas sofa lalu kembali memandang Firdaus yang masih berdiri mengawasinya. "Aku baru ingat kalau aku tadi meletakkan hapeku di atas nakas."
Setelah mengatakan itu, Alenna berjalan cepat ke arah nakas untuk menghindari tatapan menikam dari suaminya. Perasaannya berdebar-debar karena mungkin, Firdaus sudah tahu kalau dia berniat memeriksa ponselnya.
***
Usai salat Asar, Alenna segera naik ke tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa letih. Dia menyandarkan punggung pada kepala ranjang dan menyilangkan kedua kakinya sambil berpura-pura sibuk memainkan ponsel. Sesekali, wanita berparas cantik itu melirik ke arah Firdaus yang sedang salat sendirian di dekat sofa. Setelah menggugurkan kewajiban empat rakaatnya, pria itu pun keluar menuju balkon dan berdiri di sana untuk menikmati pemandangan pantai.
"Bagus sekali 'kan, pemandangannya?"
Firdaus seketika menoleh dan melihat Alenna yang tiba-tiba sudah berdiri tegak di belakangnya. Wanita yang mengenakan kaus kuning lengan pendek dan celana kulot putih itu pun mengatur langkah perlahan-lahan dan berhenti di sisinya untuk turut menikmati keindahan alam yang terpampang di depan mata. Kedua tangan mereka berpegangan pada besi pembatas balkon.
"Udaranya juga terasa segar." Sambil memejamkan mata, Alenna menghirup napas dalam-dalam untuk memenuhi rongga dadanya dengan oksigen lalu melepaskan karbon dioksidanya perlahan-lahan melalui mulut.
Firdaus hanya diam memerhatikan. Dalam pose seperti itu, Alenna terlihat cantik meskipun tanpa riasan yang mencolok di wajahnya. Rambut hitam legam yang bergelombang pada ujungnya itu tampak melambai-lambai tertiup angin. Aroma wangi parfum yang lembut menguar dari tubuhnya.
"Dulu, setelah diijab-kabulkan, kita berdua juga bermalam di kamar ini," tutur Alenna setelah membuka mata dan menoleh ke arah pria di sampingnya itu. Bibir merah mudanya mengukir senyuman indah. "Apa Mas ingat? Saat itu, langit terlihat indah dengan bulan sabit dan bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Kita berdua juga berdiri bersisian seperti ini untuk menikmati keindahannya. Lalu tiba-tiba, Mas meraih kedua tanganku dan mengajakku untuk berdansa tanpa iringan musik."
Firdaus masih diam tak bersuara. Dalam hening, dia memutar memorinya, mencoba mengingat-ingat semua yang dikatakan wanita di hadapannya itu. Akan tetapi, kepalanya tiba-tiba terasa nyeri. Alenna seketika panik saat melihat Firdaus tiba-tiba meringis sambil memegangi kepalanya dengan sebelah tangan.
"Kamu kenapa, Mas? Apa kepalamu sakit?"
Tanpa menunggu jawaban Firdaus, Alenna bergegas masuk ke dalam kamar lalu mengambil obat dan sebotol air mineral di atas meja. Kemudian, dia segera membawa obat dan air tersebut kepada suaminya.
"Ini, Mas, obatnya. Minumlah."
Firdaus menyambut obat dan sebotol air mineral yang disodorkan Alenna, lalu meminumnya dengan cepat. Tak lama kemudian, rasa nyeri di kepalanya itu pun berangsur mereda dan menghilang.
"Terima kasih," ucapnya kepada wanita yang masih terus memerhatikannya itu. Entah mengapa, dia tiba-tiba merasa terharu ketika melihat Alenna yang tampak begitu mengkhawatirkannya. Seolah-olah, wanita itu begitu takut jika dia kenapa-kenapa.
"Sama-sama. Alhamdulillah, kalau kepala Mas sudah tidak sakit lagi. Tadi, aku benar-benar takut," ungkap Alenna dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
"Aku sudah tidak apa-apa. Jangan khawatir," ucap Firdaus dengan lembut.
Untuk seketika, bibir mereka terkunci rapat. Sepasang mata mereka saling mengunci untuk waktu yang cukup lama. Andai saja suaminya tidak amnesia, andai saja pria itu mengingatnya sebagai seorang istri, Alenna akan terus berlari ke pelukannya. Dia akan menenggelamkan kepalanya di dada bidang pria itu dan memeluknya erat-erat.
***
"Mas, bagaimana kalau kita salat bersama-sama? Bukankah salat berjemaah pahalanya lebih besar daripada salat sendirian?" tanya Alenna ketika mereka hendak salat Magrib sendiri-sendiri di dalam kamar. Saat itu, dia telah menggelar sajadah di dekat ranjang dan memakai mukenanya. Sementara Firdaus telah memakai baju koko putih, peci hitam, serta sarung kotak-kotak dan menggelar sajadah di dekat sofa. "Aku tidak akan mencium tangan Mas jika Mas tidak menginginkannya."
Firdaus terdiam sejenak untuk menimbang-nimbang. Tak lama kemudian, pria itu pun mengangguk tanda setuju.
Alenna tersenyum panjang. Dia senang bukan main karena kali ini, Firdaus tidak menolak ajakannya. Gegas dia mengambil sajadahnya lalu berpindah di belakang Firdaus sebagai makmum.
Usai salam, Alenna sengaja tidak mengecup punggung tangan pria itu untuk memenuhi janjinya. Dia berpikir mungkin hal itulah yang menyebabkan Firdaus enggan salat berjemaah dengannya lagi. Mungkin pria itu merasa risi karena dia pikir, mereka bukanlah suami istri.
"Sekarang, kita turun cari makan, ya? Aku sudah lapar lagi. Kali ini, aku akan mengajak Mas untuk makan di Infinity Beach Club sambil menikmati keindahan matahari terbenam," ajak Alenna setelah membereskan peralatan salatnya. "Tapi aku ganti baju dulu, ya? Nggak nyaman rasanya kalau cuma pakai ini."
Firdaus hanya mengangguk sebagai jawaban.
Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih formal dan memoles wajahnya tipis-tipis, Alenna pun segera mengajak Firdaus turun ke restoran tepi pantai yang dia maksudkan tadi. Saat itu, langit terlihat indah dengan warna jingga keemasan karena sang surya sebentar lagi akan tenggelam di batas cakrawala.
"Duh, sepertinya penuh," ujar Alenna ketika melihat restoran yang tampak sesak dengan pengunjung. Tidak ada lagi meja kursi kosong yang tersisa di sana kecuali deretan kursi berjemur dengan payung-payung putih yang menghadap ke arah kolam renang serta pantai. "Bagaimana kalau kita duduk di sana saja? Kebetulan masih ada beberapa kursi berjemur yang kosong. Sepertinya akan lebih menyenangkan duduk di sana karena kita bisa melihat sunset dengan lebih jelas lagi."
"Oke. Terserah kamu saja," jawab Firdaus pasrah karena memang tidak ada tempat lagi selain di sana.
Mereka berdua pun duduk setengah berbaring di sepasang kursi berjemur dengan meja kecil di tengah-tengahnya. Mereka duduk menghadap ke arah kolam renang serta pantai sambil menikmati keindahan langit jingga dan matahari yang perlahan-lahan mulai tenggelam. Pada saat itulah, Firdaus tersentak kaget karena sosok Shella tiba-tiba muncul lalu menjatuhkan pinggul di kursi berjemur yang ada di sebelahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Siswanti Elie
shela sengaja bgt yaa..jd jalangkung ampun dah..thoorrr
2023-09-20
1
Nar Sih
seperti jalangkung kak,itu si ulat bulu dtg ngk di undang pulang muncul lgi tiba,,semoga bnr tuh si firdaus jatuh aja ke jedot biar igatan ya balik lgi,hbis kesel bangett 🤣🤣🤣
2023-09-20
1
Chu Shoyanie
duh beneran kuntishella mo jadi jin pelakor...banyak2 wirid ya tuk Alenna,dan tuk Firdaus:lebih khusyu shalat pingin sembuh deh...sayang udah punya yg halal ko ngarep yg udah haram apalagi mgkn udah gk ori lagi....
2023-09-20
1