"Kenapa kamu masih saja menanyakan soal Shella? Dia itu masa lalu yang harus kamu kubur dalam-dalam. Buang jauh-jauh dari ingatan kamu! Perempuan yang seharusnya kamu ingat adalah Alenna, istri sah kamu, Fir." Farhan memaparkan dengan nada lembut, tetapi penuh penekanan pada ujung kalimatnya. Mendengar Firdaus lagi-lagi menyebut nama mantan kekasihnya itu, dia jadi naik darah.
"Mama juga heran, Pa. Entah apa rencana Tuhan. Kenapa Fir justru mengingat perempuan jahat itu dan melupakan istrinya sendiri?" Aruni menimpali. Dia juga gemas sendiri karena untuk kesekian kalinya setelah sadar dari koma, Firdaus terus menyebut nama Shella.
"Perempuan jahat?" Firdaus mengernyit. Sepasang alisnya yang tebal tampak saling bertautan. "Apa maksud Mama? Tolong jelaskan pada Fir, Ma!"
Aruni menoleh kepada suaminya, seakan-akan meminta persetujuan. Setelah Farhan menganggukkan kepalanya, wanita berusia separuh abad yang masih terlihat cantik dan awet muda itu pun mulai bercerita tentang perempuan dari masa lalu putranya. Firdaus mendengarkan dengan saksama.
Bulat mata Firdaus tatkala mendengar cerita Aruni. Dia seakan-akan tidak percaya kalau Shella tega meninggalkannya begitu saja tanpa kabar berita. Menurut kata tetangganya, begitu selesai kuliah, Shella dan keluarganya langsung pindah ke luar negeri karena Shella akan menikah dengan seorang pengusaha kaya.
"Tidak, Ma. Ini tidak mungkin. Shella tidak mungkin mengkhianati Fir." Firdaus terus menggeleng untuk menyangkal kenyataan itu. "Selama ini, kami begitu saling mencintai. Bahkan, kami telah berencana akan menikah setelah Fir mempunyai pekerjaan tetap."
"Tapi itu kenyataannya, Fir. Shella itu materialistis. Dia meninggalkanmu hanya demi harta." Aruni menegaskan. "Mungkin kamu nggak ingat kalau kamu sampai gila gara-gara Shella ninggalin kamu. Bahkan, kamu pernah berniat bunuh diri."
"Apa? Bunuh diri?" Firdaus makin terperanjat. Kedua orang tuanya tidak mungkin berbohong. Mereka tidak mungkin hanya sekadar mengarang cerita agar dia membenci dan melupakan Shella.
"Mama kamu benar, Fir. Dulu, kamu pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan menabrakkan diri ke sebuah truk yang melintas kencang di jalan raya. Mujur, nyawamu tertolong. Kalau tidak ...." Farhan menggantungkan kalimatnya. Dia tidak bisa membayangkan kalau dia dan Aruni sampai kehilangan Firdaus. Satu-satunya titipan Tuhan yang mereka punya. "Kamu juga pernah menjalani perawatan selama beberapa bulan di rumah sakit jiwa."
"Apa?" Firdaus melongo. Kenyataan itu benar-benar mengejutkannya. Gara-gara Shella, dia sampai gila dan bahkan hampir kehilangan nyawa. Pasti semua itu membuat kedua orang tuanya sangat terpukul. Mereka hampir kehilangan anak satu-satunya hanya gara-gara seorang gadis.
"Setelah keluar dari rumah sakit jiwa, kamu telah bertekad untuk melupakan Shella dan membangun kembali masa depanmu." Aruni melanjutkan cerita. "Berkat kerja kerasmu, kamu telah berhasil menjadi seorang arsitek terkenal se-Indonesia. Kamu pernah mendapat juara pertama saat mengikuti sayembara pembangunan Masjid Raya Bogor dan mendapat piagam serta hadiah langsung dari Bapak Walikota. Dan sejak saat itu, kamu mendapat banyak job bahkan sampai ke luar pulau. Kami benar-benar bangga padamu, Fir."
Kali ini, Firdaus benar-benar kaget sampai tidak bisa berkata-kata. Cita-citanya sejak berada di bangku sekolah memang menjadi seorang arsitek terkenal. Dia tidak menyangka kalau dia telah berhasil meraihnya. Ini benar-benar luar biasa!
"Lalu kamu bertemu dengan Alenna yang berprofesi sebagai interior designer. Kalian pun memutuskan untuk menikah setelah kalian selesai membangun rumah impian kalian." Farhan mengakhiri cerita.
Kali ini, Firdaus termenung panjang. Jadi memang benar kalau wanita itu adalah istrinya. Rumah yang sekarang ini ia tempati adalah rumah impian yang mereka bangun bersama-sama sebelum menikah. Namun, mengapa tidak ada secuil pun ingatan tentang semua itu di kepalanya? Dia juga tidak ingat bagaimana dia bisa kecelakaan hingga berakibat amnesia.
"Ahh!" Firdaus refleks menyentuh kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit saat berusaha mengingat itu semua.
"Kamu kenapa, Fir?" Raut panik terpampang di wajah Farhan dan Aruni saat melihat Firdaus meringis kesakitan sambil menyentuh kepalanya. Wanita yang selalu mengenakan pashmina serta pakaian serba panjang itu pun segera berlari ke arah dapur untuk mengambil segelas air putih dan obat pereda nyeri di kotak obat.
Setelah Firdaus minum obat, Aruni dan Farhan merasa lega karena putranya tidak kesakitan lagi.
"Jangan dipaksa untuk mengingatnya kalau kepalamu malah jadi sakit! Pelan-pelan saja. Insya-Allah, lambat laun, ingatanmu akan pulih dengan sendirinya." Aruni memberi nasihat.
"Sebagai orang tua, kami akan selalu mendoakanmu dan juga Alenna agar kalian bisa melewati ujian ini." Farhan menambahkan. Firdaus pun mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang selalu memberinya dukungan.
***
Hari telah senja ketika Toyota Fortuner putih itu memasuki halaman dan berhenti di area parkir dekat taman. Semua lampu penerangan yang ada di sekitar rumah tampak sudah dinyalakan. Setelah keluar dari mobilnya, Firdaus melangkah perlahan-lahan menuju beranda. Saat hendak mencapai gagang pintu, dia terkejut karena pintu utama berbentuk kupu tarung tersebut tiba-tiba dibuka oleh seseorang dari arah dalam. Sepersekian detik kemudian, sosok wanita cantik tiba-tiba muncul di depan mata.
"Mas sudah pulang?" Bibir merah delima itu melukiskan senyuman panjang. Sepasang mata bulat dengan bulu-bulu lentik itu tampak berbinar seperti bintang.
Firdaus membeku seketika. Sepasang mata elangnya memindai wajah Alenna untuk beberapa saat. Benarkah dia telah menikahi wanita berparas cantik ini? Benarkah mereka telah saling mencintai? Namun, mengapa saat ini, dia tidak merasakan apa-apa saat berhadapan dengannya? Ke mana perasaan cinta itu pergi?
"Mas sudah makan? Kalau belum, kita makan di luar, yuk! Alenna belum sempat masak karena dari pagi keasyikan bersih-bersih rumah."
"Emh ... baiklah." Firdaus tidak tahu apa yang mendorongnya untuk memenuhi ajakan wanita itu. Mata yang memancarkan harapan itu membuatnya tidak tega untuk menolak.
"Alhamdulillah." Senyum di bibir merah itu kian mengembang. "Kita salat Magrib dulu, ya. Habis itu, kita berangkat."
"Aku salat sendiri saja. Nanti setelah salat, aku akan segera turun."
Alenna sedikit kecewa karena Firdaus tidak mau lagi menjadi imam salatnya. Senyum yang mengembang sempurna itu memudar perlahan-lahan. Akan tetapi, saat mengingat kalau Firdaus tidak menolak untuk diajak dinner, senyum itu kembali merekah.
"Baiklah. Alenna tunggu di bawah, ya!"
Firdaus pun beranjak masuk ke dalam rumah dan menaiki anak tangga hingga ke lantai tiga. Sementara Alenna yang berjalan di belakangnya, berbelok ke lantai dua untuk menggugurkan kewajiban tiga rakaat serta bersiap-siap.
Sepuluh menit kemudian, Firdaus telah turun kembali ke lantai dasar dengan penampilan yang sudah rapi mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang dipadu dengan celana jin gelap. Karena Alenna belum turun, dia lantas menghempaskan pinggulnya di sofa ruang tamu untuk menunggu wanita itu.
"Ayo kita berangkat sekarang!"
Firdaus refleks menoleh saat mendengar suara bening yang menggema di ruangan itu. Matanya sedikit melebar saat melihat sosok Alenna yang tampil begitu memukau malam ini. Tubuh tinggi semampai itu terlihat ramping mengenakan gaun sifon hitam dengan rok yang lebih pendek pada bagian depannya, menampilkan sepasangan kaki jenjang yang beralaskan sepatu hak tinggi dengan warna senada. Rambut panjang bergelombang itu terlihat indah, membingkai wajah cantik dengan riasan yang lebih tebal dari biasanya.
"Maaf karena membiarkan Mas terlalu lama menunggu." Alenna menarik senyuman panjang ketika telah berdiri di dekat suaminya. Dia senang karena malam itu, mereka tampak serasi dengan warna pakaian yang sama meskipun tidak janjian sebelumnya.
"Tidak apa-apa." Setelah Firdaus bangkit dari duduknya, mereka pun segera berangkat.
Malam ini, Alenna sengaja ingin mengajak Firdaus ke sebuah restoran kafe yang paling berkesan untuk mereka berdua. Dia sengaja ingin mengulang kembali momen romantis mereka di tempat itu. Dia berharap di sana nanti, Firdaus akan mengingat semuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Chu Shoyanie
Jangan pernah menyerah tuk menyembuhkan&mengembalikan ingatan Firdaus ya Alenna...never give up💪👍🥰
2023-09-18
1
Nar Sih
siaapp kakk,ditunggu selalu dobel up nya ,semangat buat kakak,semoga kesabaran alenna cpt terbayar kan dgn suami nya cpt sembuh ,,,👍💪
2023-09-12
1