Bab 8 ~ Mencari Tahu

Bunyi berisik yang berasal dari lantai bawah membuat Firdaus terjaga dari tidurnya. Begitu membuka mata, dia menggeliat untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Kemudian, tangan kanannya meraih ponsel yang terletak di samping bantal untuk memeriksa waktu. Jam digital pada benda elektronik tersebut menunjukkan pukul 05.47.

Pria berkaus hitam dan bercelana pendek itu segera bangkit dari ranjang saat mengingat kalau dirinya belum mengerjakan salat Subuh. Dulu, biasanya sang mama sudah menggedor-gedor pintu kamarnya sambil berteriak-teriak kalau jam segini, dia belum bangun juga. Hari ini, semua terasa berbeda. Dia sadar kalau sekarang, dia tidak lagi tinggal serumah dengan orang tuanya. Melainkan dengan seorang wanita yang mengaku sebagai istrinya.

Usai menggugurkan kewajiban dua rakaatnya, Firdaus segera turun ke lantai bawah untuk memeriksa suara berisik yang masih terdengar itu.

"Good morning!"

Alenna tersenyum simpul tatkala melihat Firdaus sedang berjalan menuruni anak tangga. Wanita yang sedang berkutat di dapur itu lantas mematikan kompor karena masakannya telah matang. Pagi ini, dia sengaja membuat nasi goreng putih yang dicampur dengan ayam suwir, potongan wortel, jagung, serta kacang polong. Dia juga telah memasak telur mata sapi sebagai pelengkapnya. Nanti, tinggal ditambah dengan potongan tomat serta daun selada. Semua itu adalah menu sarapan pagi yang paling digemari oleh suaminya.

"Mas sudah bangun?" Alenna mencoba untuk bertanya meskipun pertanyaan yang dilontarkannya itu adalah pertanyaan retoris. Yang penting, dia ingin berkomunikasi dengan suaminya. "Alenna baru aja selesai masak. Kita sarapan, yuk! Aku sudah memasak menu sarapan yang paling Mas sukai."

Firdaus menghentikan langkah ketika pria itu telah berdiri di dekat meja makan. Alenna segera menyiapkan nasi goreng buatannya tersebut ke dalam dua buah piring. Setelah diberi pelengkap serta sendok dan garpu, dia lantas membawanya ke meja makan.

"Taraaa! Nasi goreng putih ala chef Alenna siap untuk disantap. Selamat makan!" seru wanita yang mengenakan kaus putih pendek serta celana kulot mocca berbahan krinkle airflow itu dengan senyum penuh keceriaan. Tidak ada sedikit pun raut kesedihan yang terpancar di wajahnya. Mulai hari ini, dia akan berusaha tegar di hadapan Firdaus meskipun pria itu belum mengingatnya.

"Duduklah. Kenapa Mas diam saja? Alenna sengaja bangun subuh loh, untuk menyiapkan semua ini untuk Mas. Masak Mas nggak mau makan?" ujar Alenna lagi dengan suara manjanya karena Firdaus masih mematung sambil memandang makanan di atas meja.

Lagi-lagi, Firdaus merasa heran karena wanita itu tahu menu sarapan favoritnya. Padahal seingatnya, hanya sang mama dan Shella yang tahu semua makanan kesukaannya.

"Kenapa nasi gorengnya cuma putih? Apa tidak ada kecap di rumah ini?" Firdaus sengaja mengetes.

"Bukankah Mas memang suka nasi goreng putih tanpa kecap? Alenna sengaja nggak kasih kecap."

Firdaus lagi-lagi heran karena Alenna memang tahu seleranya. Karena tidak ingin mengecewakan wanita yang sudah repot-repot memasak untuknya itu, Firdaus pun akhirnya menarik kursi lalu duduk.

Alenna mengulum senyum. Sebelum duduk, dia menuang dua gelas air putih untuk mereka berdua. Pada saat Firdaus hendak menyendok makanannya, Alenna terkejut melihat jari manis pria itu telah kosong.

"Di mana cincin kawin Mas? Kenapa tidak dipakai?" tanya Alenna penasaran.

Firdaus pun turut memeriksa jari manis tangan kanannya yang telah kosong itu. Dia baru ingat kalau tadi malam, dia telah melepaskan cincin tersebut dan meletakkannya di tempat tidur.

"Oh. Aku sudah melepasnya," jawab Firdaus tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia lantas menyendok nasi goreng tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut. Kebetulan, pagi itu, perutnya sudah keroncongan minta diisi.

"Kenapa?" tanya Alenna seraya menjatuhkan pinggulnya di kursi, bersebelahan dengan Firdaus. Raut wajah yang tadinya ceria itu, kini berubah seketika.

"Aku tidak suka pakai cincin. Jadi, aku melepasnya," jawab Firdaus santai di sela-sela kunyahannya.

Pedih hati Alenna mendengar kata-kata pria itu. Padahal, cincin kawin itu adalah cincin yang dipilih Firdaus sendiri satu bulan sebelum mereka menikah. Dia sengaja memesan sepasang cincin yang sama dengan inisial nama mereka berdua.

"Cincin ini adalah lambang pengikat cinta kita berdua. Semoga cinta kita akan tetap abadi seperti inisial nama yang terpahat di dalamnya. Dan aku berjanji tidak akan melepaskan cincin ini hingga akhir hayatku ...."

Kata-kata Firdaus pada malam pernikahan mereka terngiang-ngiang kembali di telinganya. Kata-kata yang selalu ia kenang di dalam hati. Namun, sekarang, Firdaus sudah lupa akan janjinya sendiri. Pria itu melepaskan cincin kawinnya tanpa rasa berdosa.

"Oh, ya, pagi ini, aku ingin pergi ke rumah orang tuaku. Dan aku ingin pergi sendiri," ujar Firdaus setelah menelan makanannya.

"Sendiri?" Alenna menautkan sepasang alisnya. Pandangannya masih tertuju ke arah Firdaus. "Kenapa aku tidak boleh ikut? Mama dan papa pasti menanyakanku."

"Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan mereka. Kau pasti tidak akan mengerti."

"Apa yang tidak kumengerti?" Alenna terus bertanya, sedangkan Firdaus terus menjawab tanpa memandangnya.

"Sudahlah. Lebih baik, kau di rumah saja. Aku ingin pergi sendiri," kekeuh Firdaus sambil menoleh sedikit ke arah Alenna.

"Tapi apa Mas tahu jalan ke rumah mama dan papa? Apa Mas masih ingat?"

"Aku bisa pakai Google map untuk mencarinya. Tidak perlu khawatir."

Skakmat!

Alenna tidak bisa berkata-kata lagi. Keputusan Firdaus sepertinya sudah bulat. Dia sama sekali tidak ingin mengajaknya. Entah apa yang ingin dibicarakan pria itu dengan kedua orang tuanya.

***

Setelah mandi dan berpakaian rapi, Firdaus segera turun ke lantai bawah. Dia menemui Alenna yang saat itu sedang mengepel lantai di sekitar dapur dan ruang makan. Wanita dengan rambut diekor kuda itu pun menghentikan aktivitasnya saat melihat Firdaus mengikis jarak.

"Di mana kunci mobilku?" tanya pria yang terlihat tampan mengenakan kemeja kotak-kotak lengan pendek yang dipadu dengan celana jin biru itu.

Alenna sejenak berdiam diri sebelum menjawab pertanyaan itu.

"Di sana." Alenna menunjuk ke arah beberapa kunci yang tergantung di kapstok, di ruangan itu. Firdaus pun melihat ke arah yang ditunjukkan Alenna, lantas beranjak mengambil kunci mobilnya.

"Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam. Salam buat mama dan papa!" teriak Alenna ketika Firdaus telah beranjak meninggalkannya.

"Nanti kusampaikan," sahut pria itu tanpa menoleh ke belakang lagi. Dia terus berjalan menuruni anak tangga lalu mengeluarkan kendaraannya dari garasi. Dia masih ingat kalau Toyota Fortuner putih yang terparkir di garasi itu adalah mobilnya. Mobil yang dulu pernah dibelikan oleh Farhan dan Aruni sebagai hadiah wisudanya.

Setengah jam kemudian, Firdaus tiba di rumah kedua orang tuanya. Tidak sulit untuk menemukan rumah itu karena zaman sekarang, semuanya sudah serba canggih. Hanya dengan bermodalkan ponsel pintar, dia bisa menemukan apa saja yang ingin dia cari.

"Assalamu'alaikum, Pa, Ma," sapa Firdaus ketika menemukan kedua orang tuanya sedang duduk santai di satu set meja kursi yang ada di dekat kolam renang. Mereka tampak sedang menikmati hari libur dengan secangkir teh pagi sambil memakan potongan buah.

"Wa'alaikumussalam," jawab Farhan dan Aruni hampir bersamaan.

"Alenna mana, Fir?" tanya Farhan karena tidak melihat menantu kesayangannya datang bersama Firdaus. Putranya itu hanya datang seorang diri.

"Dia di rumah, Pa," jawab Firdaus, lalu duduk bergabung bersama mereka.

"Di rumah? Kenapa tidak kamu ajak ke sini?" tanya Aruni pula.

"Dia sedang bersih-bersih rumah, Ma. Fir sengaja nggak ngajak dia."

"Tapi kenapa, Fir? Bersih-bersih rumah 'kan bisa nanti."

"Entahlah, Ma," jawab Firdaus dengan nada yang melemah. "Fir sama sekali tidak punya ingatan tentang dia. Fir juga tidak ingat kalau Fir pernah menikahinya. Saat berada di dekatnya, Fir merasa asing. Apalagi kami cuma tinggal berdua di rumah itu. Fir merasa seperti ... berkhalwat."

"Astaghfirullah al-'azim, Fir ...." Farhan terkejut bukan main. Dia tidak menyangka kalau Firdaus mampu berkata seperti itu tentang istrinya. "Alenna itu istri sah kamu, Fir. Dia halal untuk kamu karena kamu sudah menikahinya secara hukum dan agama. Kamu justru akan berdosa kalau tidak memperlakukan dia selayaknya istri."

"Entahlah, Pa. Itu yang Fir rasakan saat bersamanya. Fir tidak bisa memaksa diri Fir untuk memperlakukan dia selayaknya istri sementara Fir tidak ingat kalau dia istri Fir."

"Sudahlah, Pa. Kalian tidak usah berdebat," ujar Aruni menengahi. "Saat ini, Firdaus sedang kehilangan sebagian ingatannya. Beri dia waktu untuk mengingat semuanya."

Farhan mengangguk setelah terdiam beberapa saat. Mungkin sebagai orang tua, dia harus lebih bersabar menghadapi putranya yang sedang amnesia itu.

"Oh, ya, Pa, Ma, Fir datang ke sini karena Fir ingin bertanya pada kalian berdua. Kenapa Fir bisa sampai putus dengan Shella? Kapan kami putus?"

Aruni terperanjat kaget. Pun dengan Farhan saat Firdaus tiba-tiba menanyakan tentang mantan kekasihnya itu. Mereka seketika saling bertukar pandang.

Terpopuler

Comments

Nenk Jelita

Nenk Jelita

keburukan Shella terungkap

2023-10-30

1

Pujiastuti

Pujiastuti

ayo papa dan mama Firdaus ceritakan aja sama Fir siapa tahu bisa cepat membuat Fir ingat siapa istrinya

2023-09-24

1

Nar Sih

Nar Sih

semoga setelah dgr cerita yg sebnr nya tentang mantan bisa sedikit mengingat alena ya ,

2023-09-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!