Bab 10 ~ Breeve Hills Resto & Cafe

"Depan belok kiri, ya, Mas. Kita hampir sampai," ujar Alenna memberi petunjuk arah kepada Firdaus yang sedang mengemudi untuk menuju ke salah satu restoran kafe yang cukup terkenal di Puncak, Bogor. Tempat makan terfavorit sekaligus paling berkesan untuk mereka.

Firdaus menghentikan mobil ketika mereka sampai di depan restoran kafe dengan plang nama Breeve Hills Resto & Cafe yang ada di atas pintu masuknya. Melihat tempat yang penuh kenangan itu, Alenna mengulum senyum lalu menoleh ke arah pria tampan di sampingnya.

"Apa Mas ingat tempat ini? Ini bukan saja tempat makan favorit kita. Tapi ada momen spesial yang pernah kita lalui bersama di tempat ini."

Pandangan Firdaus beralih dari restoran kafe itu ke arah wanita yang sedang duduk di sampingnya kini. Dia menatap Alenna beberapa saat, lantas menggeleng lemah sebagai jawaban. Ekspresi yang membuat Alenna lagi-lagi harus menelan kekecewaan.

"Tidak apa-apa. Mungkin setelah masuk ke sana nanti, Mas akan mengingatnya. Ayo!" Alenna melemparkan senyuman manis sebelum akhirnya membuka pintu dan keluar dari mobil putih itu. Firdaus turut keluar dari pintu lain di sebelah kemudi.

Sepasang suami istri itu lantas melangkah perlahan-lahan memasuki restoran kafe. Alenna benar-benar kecewa karena kali ini, tidak ada lagi kemesraan di antara mereka. Firdaus yang dulu begitu romantis dan selalu memperlakukannya seperti Ratu. Setiap kali makan di luar, pria itu akan membukakan pintu mobil untuknya, lalu menggandeng tangannya dengan mesra hingga masuk ke dalam restoran. Berbeda dengan Firdaus yang ada di sebelahnya ini. Dingin dan hambar.

"Sepertinya penuh," ujar Firdaus sambil memindai ke sekeliling restoran kafe itu begitu mereka menginjakkan kaki di sana. Karena ini adalah weekend, tempat makan sekaligus nongkrong tersebut tampak dipenuhi dengan para pengunjung yang rata-rata adalah remaja atau pasangan muda yang sedang berkencan. Ada juga rombongan keluarga yang sekadar mampir dari liburan untuk mengisi perut.

Pandangan Alenna menyisir ke arah deretan meja kursi yang terletak di sebelah luar ruangan. Dulu, dia dan Firdaus lebih suka duduk di sana sambil menikmati view pegunungan yang tampak indah pada malam hari dengan lampu-lampu yang menyala. Wanita itu tersenyum saat melihat satu meja kosong yang terletak di deretan paling ujung.

"Selamat datang di restoran kami. Masih ada satu meja kosong di luar sana. Silakan, Mas, Mbak!" seru seorang pelayan laki-laki yang menyambut kedatangan mereka sambil menunjuk ke arah satu set meja kursi yang tadi sempat dilihat Alenna.

"Terima kasih," ucap Alenna kepada pelayanan itu yang disertai dengan senyuman. Kemudian, dia berpaling ke arah Firdaus dan berkata, "Ayo, Mas, kita ke sana!"

Tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibir, Firdaus melangkah mengikuti wanita itu.

"Bagus 'kan pemandangannya?" Alenna bertanya setelah mereka duduk saling berhadapan di sebuah meja berbentuk bulat. Pandangan mereka tertuju ke arah lampu-lampu di sekitar pegunungan yang bertaburan seperti bintang. "Dulu, kita paling suka duduk di sini. Apa Mas ingat? Kita juga suka--"

"Berapa kali harus kukatakan?" potong Firdaus cepat. "Aku sama sekali tidak ingat. Jadi, jangan terus menanyakan hal yang sama padaku!"

Alenna tersentak karena kali ini, Firdaus bukan hanya memotong kalimatnya. Pria itu juga menjawab pertanyaan yang dilontarkannya dengan ketus. Raut kemarahan terpampang di wajah tampan itu. Raut yang sama sekali belum pernah dilihatnya semenjak ia bertemu dan mengenal Firdaus Iskandar.

"Aku mau ke toilet. Kamu pesanlah makanan dulu." Setelah mengatakan dua kalimat itu, Firdaus pun bangkit dari duduknya lalu berjalan cepat ke arah toilet, meninggalkan Alenna yang masih merasa kaget dan syok.

Sepersekian detik kemudian, tubuh Alenna terasa lemas tak bertulang. Wanita dengan sepasang netra yang mulai mengembun itu pun menyandarkan punggungnya pada bahu kursi. Selama tujuh bulan mereka berkenalan, baru kali ini, Firdaus bersuara keras padanya. Hati Alenna benar-benar pedih. Sungguh dia tidak mengenali suaminya lagi.

Kemudian, bayangan kemesraan mereka pada malam itu membias kembali di layar memorinya seperti sebuah film yang diputar ulang.

"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Firdaus sambil membuka buku menu di atas meja.

"Emmm ... apa, ya? Kelihatannya semua enak," tutur Alenna yang sedang melihat-lihat daftar makanan yang ada di buku menu.

"Kalau begitu, Sayang pilih-pilih saja dulu. Aku ke toilet sebentar, ya." Firdaus mengerlingkan sebelah matanya sebelum bangkit dan beredar dari sana. Alenna tertawa kecil melihat sikap romantis kekasihnya itu. Sikap yang selalu membuat hatinya berbunga-bunga.

Tak lama kemudian, datanglah seorang pelayan laki-laki yang memakai seragam. Pelayanan itu tampak membawa nampan yang di atasnya terdapat wadah saji berukuran besar yang terbuat dari besi, lengkap dengan tutupnya.

"Permisi, Mbak!" ucap pelayan itu seraya meletakkan wadah saji tersebut di atas meja Alenna.

"Eh, saya belum pesan apa-apa loh, Mas," ujar Alenna heran. Akan tetapi, pelayan tersebut hanya tersenyum lalu membuka wadah saji tersebut.

Mata Alenna membulat, bibirnya melongo saat melihat sebuah kotak bludru hitam yang menyerupai kotak cincin. Perlahan-lahan, dia meraih kotak tersebut, lantas dibukanya. Wanita berparas ayu itu spontan membekap mulutnya yang ternganga dengan sebelah tangan ketika sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil yang berkilauan terpampang di depan netra.

"Surprise!"

Suara Firdaus membuatnya kaget dan refleks menoleh ke arah samping.

"Mas ...." Lidah Alenna mendadak kelu untuk melanjutkan kata-kata. Saat itu, dia benar-benar bahagia karena Firdaus hendak melamarnya.

"Maukah Sayang menjadi istriku? Mendampingiku dalam keadaan suka dan duka hingga akhir hayat?"

Dengan mata berkaca-kaca menahan haru, Alenna tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ya. Aku mau."

"Alhamdulillah ...." Firdaus pun mengambil cincin yang ada di kotak bludru tersebut, lantas memakaikannya di jari manis Alenna.

Alenna mengangkat tangan kirinya ke udara. Sampai hari ini, cincin berlian itu masih melingkar di jari manisnya. Tidak pernah ia lepaskan sama sekali sejak Firdaus memakaikannya. Begitu pun dengan cincin kawin yang melingkar di jari manis tangan kanannya.

"Apa kamu sudah pesan makanan?"

Suara Firdaus membuat Alenna tersentak dari lamunannya dan menoleh. Pria berkemeja hitam itu pun segera duduk di hadapannya setelah kembali dari toilet.

"Emh ... belum."

"Sebenarnya kamu ini mau makan atau tidak, sih? Kalau kamu tidak ingin makan, sebaiknya kita pulang!"

"Baiklah. Kita pesan makanan sekarang juga," tutur Alenna seraya membuka buku menu di atas meja. Akan tetapi, Firdaus justru bangkit dari kursi dan berjalan cepat meninggalkannya. Membuat hati Alenna benar-benar terluka.

Dengan perasaan sedih dan kecewa, Alenna pun bangkit menyusulnya. Ketika mereka sampai di depan pintu masuk restoran, mereka tidak sengaja berpapasan dengan seorang pria.

"Eh, Fir!" sapa pria berkemeja marun itu ketika berhadapan dengan Firdaus.

"Hey ... Nicko! Apa kabar, Bro? Lama kita nggak ketemu." Dua sahabat lama itu lantas saling berjabat tangan dan saling berpelukan sambil menepuk punggung karena sudah terlalu lama tidak bersua. Dulu, mereka berdua adalah teman kuliah.

"Aku baik. Bagaimana denganmu?" Pria bernama Nicko itu balik bertanya setelah mereka saling melepaskan pelukan.

"Aku juga baik. Alhamdulillah," jawab Firdaus.

"Oh, ya, dia ini siapa? Pacar atau istrimu?" tanya Nicko saat melihat seorang wanita cantik yang berdiri tegak di sisi Firdaus.

"Emh, sekarang ini, kau tinggal di mana, Nick? Lama nggak ada kabar." Firdaus mencoba mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin menjawab pertanyaan itu. "Bolehlah kapan-kapan kita ketemu dan saling ngobrol."

"Tentu saja boleh. Sekarang, aku tinggal di sekitar sini karena sedang ada kerjaan."

"Oke. Kalau begitu, aku minta nomor hapemu. Nanti, kapan-kapan, aku hubungi."

"Siap!" Pria tampan bertubuh tinggi besar itu pun menyebutkan nomor kontaknya ketika Firdaus mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celana.

Untuk kesekian kalinya, Alenna merasa sangat dikecewakan. Rencana untuk mengembalikan ingatan Firdaus malam ini telah hancur berantakan. Di hadapan temannya pun Firdaus tidak mau mengenalkannya sebagai istri. Meskipun dia masih belum ingat, tidak bisakah pria itu sedikit saja menjaga perasaan dan harga dirinya?

Terpopuler

Comments

Pujiastuti

Pujiastuti

rasanya nyesek didada ya Alenna ngak diakui sebagai istri

2023-09-24

1

Chu Shoyanie

Chu Shoyanie

pingin tau aja ketika puzzle kisahnya sama Alenna mulai terkumpul&terbentuk,gmn reaksi Firdaus....🤔

2023-09-19

1

Nar Sih

Nar Sih

sabarr ya alenna ,yakin lah suatu hari pasti suami mu kembali lgi seperti dulu ,terus semagat yaa👍💪

2023-09-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!