Bab 12 ~ Seseorang dari Masa Lalu

Mata Firdaus melebar saat melihat sosok perempuan dari masa lalunya itu. Tubuhnya membeku seketika. Meskipun dengan warna rambut yang berbeda, dia masih bisa mengenali wajah itu. Shella Aurelia. Ya, dia pasti tidak salah lihat.

Akan tetapi, perempuan dengan rambut lurus berwarna cokelat itu sama sekali tidak melihatnya. Begitu keluar dari toilet wanita, dia terus berjalan lurus ke hadapan. Firdaus yang tadinya hanya diam memperhatikan segera mengejar karena perempuan itu tiba-tiba berbelok dan menghilang di balik dinding.

"Ke mana dia pergi?" Firdaus bermonolog. Dalam sekelip mata, sosok perempuan berbaju biru tadi sudah menghilang dari pandangannya. Seperti orang bingung, Firdaus menoleh ke sana kemari sambil memindai ke sekeliling restoran untuk mencari sosok perempuan yang diyakininya sebagai Shella.

"Fir!" Nicko berteriak sambil melambaikan tangan kanannya ke udara. Dia heran melihat Firdaus menoleh ke sana kemari seperti sedang mencari orang.

"Nick, apa kau tadi lihat Shella di restoran ini?" tanya Firdaus ketika dia telah kembali ke meja mereka.

"Shella?" Nicko mengernyit. "Maksudmu ... Shella Aurelia, mantan pacarmu waktu kuliah dulu?"

Firdaus mengangguk cepat. Wajahnya terlihat tegang dan memancarkan keseriusan.

"Enggak. Aku nggak lihat dia," ujar Nicko sambil menggeleng. "Mungkin karena tadi, aku sedang menunduk sambil main hape, makanya aku nggak tahu kalau ada Shella di restoran ini. Tapi apa kau yakin kalau itu Shella? Kau nggak salah lihat, 'kan?"

"Enggak, Nick. Itu memang Shella. Warna rambutnya memang beda dari yang dulu. Tapi aku sangat yakin kalau itu pasti dia," papar Firdaus dengan bersungguh-sungguh.

"Coba kau cek ke depan! Mungkin, dia masih ada di sekitar sini."

Firdaus mengangguk cepat. Tanpa membuang-buang waktu lagi, dia beranjak keluar untuk mencari sosok Shella di halaman depan. Di parkiran mobil, dia melihat sosok perempuan berbaju biru itu sedang membuka pintu sebuah mobil lalu masuk ke dalamnya. Sepersekian detik kemudian, Honda Brio berwarna merah terang itu pun bergerak perlahan-lahan menuju pintu keluar hotel.

Dengan cepat, Firdaus segera masuk ke mobilnya dan mengejar Honda Brio itu. Untuk seketika, dia lupa pada Nicko yang mungkin sedang menunggunya di restoran. Firdaus terus membuntuti mobil merah tersebut hingga tidak sadar, dia telah keluar dari kota Bogor dan terus menyusuri jalan tol Jagorawi hingga sampai ke kota Depok. Kota di mana terdapat Universitas Indonesia, tempat kuliahnya dulu dan juga semua kenangannya bersama Shella.

Matahari hampir tegak di atas kepala ketika Honda Brio merah itu berbelok memasuki halaman sebuah rumah minimalis yang tampak tidak asing di matanya. Firdaus menghentikan mobilnya di tepi jalan, di dekat rumah itu.

Aneh. Bukankah kata mama kemarin, Shella dan keluarganya telah pindah ke luar negeri karena Shella akan dinikahkan dengan pria kaya? Kenapa sekarang, dia kembali lagi ke sini?

Karena rasa penasaran makin menggelitik hati, Firdaus pun membuka pintu lalu keluar dari mobilnya. Perlahan-lahan, dia melangkah memasuki halaman rumah minimalis dua lantai yang didominasi warna krem dan coffee itu. Dia melihat mobil Shella telah terparkir di depan rumah.

Tok! Tok! Tok! Tok!

Firdaus mengetuk pintu utama rumah tersebut beberapa kali. Meskipun kenyataannya sudah dua tahun dia tidak menginjakkan kaki di rumah itu, tetapi dalam ingatannya, dia masih sering ke sana dan bertemu dengan Shella serta ibunya. Bahkan, dia merasa kalau dia masih menjalin hubungan dengan Shella dan mereka juga masih saling mencintai.

Dia seolah-olah tidak yakin kalau dia dan Shella telah putus hubungan karena perempuan itu tiba-tiba pergi meninggalkannya demi menikahi pria kaya. Shella yang dia kenal bukanlah perempuan materialistis. Dia tidak mungkin meninggalkannya hanya karena silau dengan harta.

Ketika Firdaus hendak mengetuk pintu itu kembali, tiba-tiba pintu tersebut dibuka oleh seseorang dari dalam. Sejurus kemudian, sosok yang sangat ingin dia temui pun muncul di depan mata.

"Shella!"

"Fir?"

Shella terlihat kaget saat melihat sosok Firdaus tiba-tiba muncul di depan rumahnya. Sepasang mata beriris cokelat itu melebar seketika. Dia seakan-akan tidak percaya kalau lelaki yang sedang berdiri di hadapannya itu adalah Firdaus Iskandar, satu-satunya lelaki yang ia cintai hingga kini.

Untuk seketika, mereka hanya saling mendiamkan diri. Bibir keduanya seolah-olah terkunci rapat. Lidah mereka seakan-akan kelu untuk digerakkan. Hanya kedua mata mereka yang saling beradu. Mata yang memancarkan kerinduan.

***

Alenna merasa resah dan gelisah. Entah sudah berapa kali, wanita berambut hitam legam yang berombak pada ujungnya itu berjalan mondar-mandir di ruang tamu seperti setrikaan. Sebuah ponsel berwarna putih terselip di tangan kanannya.

Sesekali, Alenna menekan tombol yang ada di samping ponsel untuk memeriksa waktu. Saat ini, jam digital pada benda elektronik tersebut telah menunjukkan angka 19.32. Hatinya makin diperam gundah karena sampai sekarang, Firdaus tidak juga menampakkan tanda-tanda akan pulang. Ponselnya juga tidak aktif dari siang tadi.

Kamu di mana, sih, Mas? Kenapa jam segini nggak pulang-pulang juga? Hapemu kenapa nggak aktif-aktif?

Batin Alenna bertanya-tanya. Dia khawatir kalau suaminya yang sedang amnesia itu tiba-tiba lupa jalan pulang. Atau mungkin terjadi sesuatu hal padanya di luar sana.

Sore tadi, dia sempat menghubungi Aruni dan Farhan untuk menanyakan keberadaan suaminya. Namun, mereka berkata kalau seharian ini, Firdaus tidak datang ke rumah mereka. Mau menghubungi Nicko, dia tidak tahu nomor kontak pria itu.

Kriiinggg ....

Kriiinggg ....

Alenna tergemap dan refleks menghentikan langkah saat ponsel yang ada di tangannya tiba-tiba berbunyi nyaring. Saat melihat ke layar, ternyata bukan Firdaus yang meneleponnya, melainkan Aruni.

"Assalamu'alaikum, Ma." Alenna menjawab panggilan itu dengan mendekatkan ponselnya ke daun telinga.

"Wa'alaikumussalam. Gimana, Alenna? Apa Firdaus sudah pulang?" Ada kekhawatiran dalam nada bicara wanita itu.

"Belum, Ma. Ponselnya masih tidak bisa dihubungi. Alenna tidak tahu harus berbuat apa. Apa kita lapor polisi saja?"

"Tahan dulu, Alenna." Farhan menyela. "Ini masih belum dua puluh empat jam. Kita belum boleh lapor polisi. Sebaiknya, kita tunggu dulu sampai besok. Mungkin, malam ini, Firdaus menginap di rumah temannya dan lupa memberi kabar. Mungkin saja hapenya sedang tidak ada sinyal. Mudah-mudahan, besok pagi, suamimu pulang dengan selamat."

Kalimat terakhir Farhan justru membuat batin Alenna makin dilanda takut. Dia takut kalau kali ini, suaminya tidak akan pulang dengan selamat. Melihat Firdaus melupakannya saja, dia sudah sangat kecewa dan terluka. Apalagi kalau dia sampai kehilangan sosok suami untuk selama-lamanya.

"Astaghfirullah al-'azim ...."

Alenna memohon ampun kepada Yang Mahakuasa ketika sadar kalau dia telah berburuk sangka. Firdaus tidak mungkin kenapa-kenapa. Dia pasti akan pulang dengan selamat! Kalimat itulah yang kini ditanamkannya di dalam hati.

Lelah mondar-mandir, Alenna menjatuhkan tubuh langsingnya ke sofa panjang. Dia meraih sebuah bantal persegi untuk dijadikan bantal kepala. Dengan posisi miring, wanita yang mengenakan piama satin abu-abu itu pun memejamkan kedua matanya. Mungkin dia kelelahan dan mengantuk karena seharian tadi, dia terus membersihkan rumah tanpa istirahat.

Pukul 20.05, Firdaus melangkah memasuki ruang tamu setelah memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Pria itu terkejut saat melihat sesosok wanita telah terlelap di sofa panjang dengan tangan yang menggenggam ponsel. Dia heran karena tidak biasanya, Alenna tertidur di ruang tamu.

Perlahan-lahan, dia melangkah mendekati wanita itu. Sekilas, dia berpikir untuk membangunkannya agar pindah ke dalam kamar. Namun, melihatnya yang tidur begitu nyenyak, dia tidak sampai hati untuk membangunkan. Dia juga ragu untuk mengangkat dan memindahkannya karena merasa kalau wanita itu bukanlah istrinya.

Setelah sejenak menimbang-nimbang, Firdaus pun memutuskan untuk beredar dari sana. Dia melangkah menuju tangga lalu menaikinya satu persatu sambil memandang ke arah Alenna yang sedang terlelap di atas sofa.

Terpopuler

Comments

Pujiastuti

Pujiastuti

tu kan malah ketemu mantan pacar, apa yang terjadi ya saat merwka bertemu 🤔🤔🤔

2023-09-24

1

Chu Shoyanie

Chu Shoyanie

terserah kamu Fir mau percaya ortumu or Shella:ortumu yg seumur kamu sekarang bgtu menyayangimu atau Shell yg yg hanya sepanjang waktu kuliah saja kebersamaan kalian
4 Alenna:never give up n more strong ok👍👍🤲

2023-09-19

1

Nar Sih

Nar Sih

kasihan kmu alenna ,kak author cpt pulih kan ingatan firdaus yaa ,jgn sampai mantan masuk kembali dlm hati firdaus di saat msih amnesia ,jgn ada pelakor ya kakk🙏

2023-09-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!