Bab 5 ~ Satu Kesempatan

Dengan mata membulat sempurna, Firdaus lagi-lagi menggeleng untuk menepis kenyataan yang terpampang di depan netra. Nama, foto, serta tanda tangan yang tertera di buku itu memang miliknya. Tidak ada yang salah sedikit pun. Namun, mengapa dia tidak ingat apa-apa? Mengapa tidak ada sedikit pun bayangan tentang pernikahan itu di dalam kotak memorinya?

"Apa Mas sekarang percaya kalau kita berdua pernah menikah? Apa Mas sudah yakin kalau aku adalah istrimu?" tanya Alenna dengan asa setinggi gunung. Sepasang mata bulat berbulu lentik itu menatap Firdaus penuh harapan.

"Tidak. Aku tidak percaya semua ini. Ini mustahil! Aku sama sekali tidak ingat!" seru Firdaus yang lagi-lagi menggeleng berulangkali untuk menyangkal semua itu, membuat Alenna kembali diperam duka nestapa. Cairan bening yang terasa hangat di pelupuk mata kembali meronta-ronta ingin keluar.

Oh, Tuhan, mengapa semua ini harus terjadi di pernikahanku? Baru sebulan lebih, kami menikah, dan sekarang, Engkau sudah menurunkan cobaan yang begitu besar. Kuatkan aku, Tuhan. Mampukan aku untuk melewati ujian-Mu ini. Doa Alenna di dalam hati.

Firdaus kembali menyerahkan buku nikah tersebut kepada Alenna. Sekali lagi, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kamar yang begitu indah dengan nuansa hitam dan putih itu terasa sangat asing meskipun di sana juga ada beberapa foto pernikahan mereka, baik di dinding maupun di atas nakas. Juga foto prewedding dan foto lain yang menampilkan kemesraan mereka.

Saat pandangannya kembali tertuju ke wajah Alenna, melihat wanita berparas ayu itu lagi-lagi mengeluarkan air mata, satu perasaan aneh tiba-tiba menyelinap ke dalam kalbu. Rasa bersalah dan kasihan mengepung batinnya.

"Maaf kalau aku sudah melukai perasaanmu. Tapi aku benar-benar tidak ingat. Aku sama sekali tidak ingat pada rumah ini." Sekali lagi, Firdaus memindai ke sekeliling, lalu kembali memusatkan perhatiannya ke arah wanita yang sedang terisak itu. "Aku juga tidak ingat kalau aku pernah menikahimu ...."

Alenna perlahan-lahan mengangkat jemari untuk menyeka bulir bening yang terus jatuh membasahi pipi. Dia berusaha keras untuk menghentikan tangisan dan isakannya. Ketika tangisan itu sudah agak mereda, dia lantas berkata, "Kalau Mas masih belum ingat juga, tolong beri aku waktu. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan ingatanmu. Aku akan berusaha membuat Mas kembali mengingatku dan mencintaiku lagi seperti dulu."

Firdaus hanya diam tanpa kata. Sepasang manik gelap itu menatap Alenna dalam-dalam, berusaha menyelami perasaannya. Separuh hatinya percaya bahwa apa yang disampaikan wanita berwajah teduh itu adalah kebenaran. Namun, separuh hati yang lain menafikan karena dia sama sekali tidak mengingatnya.

"Baiklah. Aku akan memberimu satu kesempatan untuk memulihkan ingatanku karena aku juga ingin mengingat semuanya." Firdaus akhirnya buka suara setelah sejenak menimbang-nimbang.

Bibir merah muda Alenna mengukir senyuman panjang. Manis dan terlihat indah. Meskipun Firdaus saat ini belum mengingatnya, dia sudah cukup senang karena pria itu mau memberinya satu kesempatan untuk memulihkan ingatannya.

"Terima kasih. Sekarang, Mas istirahatlah. Aku akan membuatkan makanan untuk kita berdua." Dengan senyum yang tidak lepas dari bibir, Alenna pun meninggalkan Firdaus sendirian di kamar itu.

Alenna mengatur langkah menuju dapur yang bersebelahan dengan kamar mereka. Ada kitchen set serta meja makan berbentuk persegi dengan empat kursi putih yang terletak di ruangan yang cukup luas itu. Ruangan yang memang didominasi oleh warna putih. Dia dan Firdaus adalah orang yang sama-sama menyukai warna netral, yaitu hitam putih.

Sore ini, Alenna akan membuat makanan favorit suaminya, yaitu ayam geprek sambal ijo dengan irisan timun, tomat, dan selada. Firdaus paling menyukai menu makanan itu di antara semua masakannya. Tidak lupa Alenna juga menyiapkan minuman favorit Firdaus, yaitu fresh squeezed lemonade.

"Mas, kamu sudah bangun?" tanya Alenna dengan senyum yang menghias bibir saat melihat sosok suaminya keluar dari kamar.

Firdaus diam tak merespons. Pria itu hanya bergeming, memandang ke arah Alenna yang sedang berkutat di dapur dengan celemek merahnya.

"Kebetulan banget. Aku sudah selesai masaknya. Kita makan sekarang, ya? Mumpung masih panas." Alenna pun membawa makanan yang telah selesai dimasaknya itu ke meja makan. Juga dua gelas fresh squeezed lemonade buatan tangannya.

"Sinilah. Kenapa Mas berdiri saja di situ? Apa Mas belum lapar?" tanya Alenna dengan nada manja seperti yang biasa ia lakukan ketika sedang berdua dengan suaminya.

Karena Firdaus masih mematung, perlahan-lahan Alenna pun mengikis jarak dengan pria itu lalu menarik tangannya ke meja makan. Firdaus hanya diam dan menurut saja ketika Alenna menarikkan kursi dan mendudukkannya di sana.

"Selamat menikmati! Ini semua adalah makanan dan minuman favorit Mas," seru Alenna dengan riang lantas menghempaskan pinggul di dekat suaminya.

Sejenak, Firdaus memindai makanan dan minuman yang tersaji di meja itu.

"Kenapa kamu bisa tahu makanan dan minuman favoritku? Siapa yang memberi tahumu?" Firdaus lagi-lagi merasa heran.

"Kan sudah kukatakan, aku ini istri Mas. Tentu aku tahu apa makanan dan minuman favorit suamiku," tutur Alenna dengan lembut yang diiringi dengan senyuman manis. "Makanlah."

Dengan sedikit ragu, Firdaus pun mulai mencuci tangannya dengan air yang telah disiapkan di dalam wadah lalu mulai mengambil makanan tersebut dengan tangan. Perlahan-lahan, dia masukkan makanan tersebut ke dalam mulut. Pria berhidung mancung itu sedikit tersentak ketika makanan pedas kesukaannya tersebut mulai menyentuh lidahnya.

"Gimana? Enak, nggak?" Alenna bertanya ketika Firdaus mulai mengunyah makanannya. Pria itu menatapnya sejenak, lantas mengangguk sebagai jawaban.

"Alhamdulillah ...." Alenna menarik senyuman panjang. Dia lega karena masakannya masih cocok di lidah sang suami meskipun saat ini, Firdaus sedang dalam kondisi lupa padanya. "Dihabiskan, ya."

Alenna mengunyah makanannya sambil sesekali melihat ke arah Firdaus yang sedang makan dengan lahapnya. Dia senang bukan main karena pria itu ternyata masih sangat menyukai masakannya seperti dulu. Dalam beberapa menit, makanan di piring keramik putih tersebut sudah habis tak bersisa.

"Apa Mas mau nambah lagi? Biar kuambilkan," tawar Alenna setelah Firdaus menenggak minuman dalam gelas panjangnya.

"Tidak usah. Aku sudah kenyang." Firdaus pun segera mencuci tangan lalu bangkit dari duduknya.

"Nanti biar aku saja yang bereskan," cegah Alenna ketika Firdaus hendak mengambil peralatan makan yang telah kotor itu untuk dibawa ke belakang. Firdaus pun urung melakukannya. "Sekarang, Mas mandi saja. Baju ganti dan handuk bersihnya ada di lemari. Apa mau kusiapkan?"

"Tidak usah. Biar aku sendiri saja."

Alenna mengulum senyum ketika Firdaus beranjak meninggalkannya dan masuk kembali ke dalam kamar. Wajah gugup pria itu membuatnya begitu gemas. Dia semakin terpacu untuk memulihkan kembali ingatannya yang telah hilang.

Beberapa menit kemudian, ketika Alenna selesai membereskan meja makan dan mencuci semua peralatan makan dan memasak yang kotor di wastafel, dia pun menyusul suaminya masuk ke dalam kamar. Saat itu, Firdaus baru keluar dari kamar mandi. Wajah yang terlihat segar dan rambut yang tampak basah itu menambah kadar ketampanannya, membuat Alenna semakin jatuh cinta dari waktu ke waktu.

"Sudah selesai mandinya?" tanya Alenna dengan menguntai senyuman indah di bibirnya. "Sekarang, biar aku yang gantian mandi. Mas tunggu di sini, ya. Nanti, selesai mandi, kita salat Magrib sama-sama."

Pria berkaus hitam polos dan bercelana pendek itu hanya diam tak bersuara. Dia hanya memerhatikan Alenna sampai wanita bertubuh tinggi semampai tersebut menghilang di balik dinding kamar mandi.

Saat azan berkumandang dari toa masjid, sepasang suami istri itu pun menunaikan salat Magrib secara berjemaah di dalam kamar. Alenna bersyukur, meskipun Firdaus sedang hilang ingatan, dia sama sekali tidak menolak ajakannya.

"Mas!" panggil Alenna usai salam.

Firdaus pun menoleh ke belakang. Dia tersentak kaget saat Alenna tiba-tiba mendekat dan meraih tangan kanannya untuk dicium dengan takzim. Perasaan gamang tiba-tiba melanda saat bibir merah muda tersebut bersentuhan dengan kulitnya. Entah mengapa, dia merasa kalau wanita itu bukanlah mahramnya.

"Apa ada kamar lain di rumah ini?"

Terpopuler

Comments

Chu Shoyanie

Chu Shoyanie

Karakter Firdaus sblmnamnesia gmn ya....pinisirin🤔🤗

2023-09-07

1

Nar Sih

Nar Sih

alhamdulilah ,kakak udh up lagi,sabarr yg banyak ya alena ,semoga ingatan suami mu cpt kembali ,lanjutt kakk,👍

2023-09-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!