Bab 2 ~ Selective Amnesia

Dengan telaten, Alenna merawat suaminya yang divonis mengalami koma pasca-operasi. Setiap hari, dia menjaga dan mendampingi Firdaus di ruang perawatan. Tidak meninggalkannya barang sedetik pun. Dia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya sebagai interior designer di salah satu perusahaan konstruksi ternama di kota Bogor. Mujur, bosnya di kantor begitu bersimpati atas musibah yang sedang menimpanya sehingga mau memberikan cuti hingga Firdaus sembuh.

Setiap kali membersihkan wajah suaminya dengan kain waslap yang telah dibasahi dengan air hangat, bulir bening selalu menghiasi wajah Alenna. Sambil merenung wajah Firdaus yang sebagian tertutup dengan alat bantu pernapasan dan kepala yang berbalut perban putih, dia selalu merapal doa di dalam hati agar suaminya itu segera sadar dan sembuh dari sakitnya.

Mas harus sembuh. Mas harus sadar demi Alenna. Ingat janji Mas sama Alenna!

Dengan air mata yang berlinang, Alenna mengambil tangan kanan Firdaus lalu mengecupnya dengan takzim. Selain membersihkan wajah dan sebagian tubuh Firdaus, dia juga menggantikan pakaian pria itu dengan pakaian pasien yang diberikan oleh suster.

Ketika malam menjelang, setelah salat Isya dan mendoakan kesembuhan suaminya, Alenna pun duduk di sisi pembaringan Firdaus. Dia merenung wajah yang amat ia cintai itu dalam-dalam untuk waktu yang cukup lama. Lalu matanya kembali berkaca-kaca.

Kamu harus kuat, Alenna! Kamu harus kuat! Batinnya menguatkan diri sendiri.

Alenna pun bangkit untuk menyelimuti tubuh yang terbaring tak berdaya itu hingga sebatas dada. Satu kecupan lembut ia berikan pada kening Firdaus sebelum beranjak ke sofa panjang untuk merebahkan diri. Dengan posisi miring menghadap suaminya, wanita itu lambat laun mulai memejamkan mata.

***

Alenna tampak termenung panjang sambil menyandarkan punggungnya pada bangku besi di luar ruang perawatan Firdaus ketika Adhisti datang menghampirinya. Wanita seumuran Alenna itu turut merasa terenyuh dengan apa yang menimpa sahabat baiknya. Perlahan-lahan, dia melabuhkan pinggulnya di sisi Alenna untuk menghibur wanita itu.

"Alenna, kamu jangan terus-terusan seperti ini. Aku ini sahabat baikmu. Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan. Sudah sebulan sejak Firdaus koma, aku perhatikan, kamu asyik diam dan melamun. Seperti tidak punya semangat hidup."

"Aku takut kehilangan suamiku, Adhisti. Aku nggak bisa membayangkan hidup aku tanpa dia. Ya Allah ... ya Allah ...." Sepasang mata indah berbulu lentik itu tampak berkaca-kaca.

"Sabar, ya, Alenna! Firdaus pasti akan sembuh." Adhisti mencoba menghibur sekaligus menggenggam jemari Alenna untuk menyalurkan kekuatan.

"Bu Alenna! Bapak Firdaus sudar siuman!"

Suara teriakan dari suster yang baru keluar dari ruang perawatan Firdaus menyentakkan Alenna dan Adhisti. Dua wanita sebaya itu sontak menoleh ke arah sumber suara lalu segera bangkit dari duduknya. Mereka pun bergegas masuk ke ruang perawatan Firdaus.

"Papa! Mama!" teriak Alenna sambil meluru ke arah kedua mertuanya yang sedang berada di sisi pembaringan Firdaus. Saat melihat suaminya sudah membuka mata dan alat bantu pernapasannya sudah dilepas, Alenna senang bukan main.

"Alenna, alhamdulillah, Firdaus sudah sadar!" ungkap Aruni dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Wanita yang mengenakan pashmina ungu itu segera bangkit dari sisi pembaringan putranya dan membiarkan Alenna untuk duduk menggantikan posisinya.

"Mas Fir! Alhamdulillah, Mas sudah sadar." Alenna mendaratkan kecupan lembut di pipi dan kening suaminya. Kedua tangannya lalu menyentuh wajah pria itu dan mengusapnya dengan penuh kelembutan.

"Alenna kangen banget sama Mas. Apa Mas mau makan? Mas mau minum? Sayang!" tanyanya sambil menggenggam tangan pria itu dengan senyum yang tidak lepas dari bibir. Betapa dia bahagia karena akhirnya, suaminya telah sadar dari koma.

"Siapa kamu?"

Pertanyaan yang keluar dari bibir Firdaus mematikan senyum Alenna dan semua orang yang berada di ruangan itu. Mereka terkejut dan saling bertukar pandang.

"Mas, ini Alenna, istri Mas!" seru Alenna sambil menatap wajah Firdaus yang tampak kebingungan saat melihatnya.

"Ini Alenna, Mas!" seru Alenna lagi sambil meletakkan tangan di atas dada.

"Mama! Siapa perempuan ini, Ma?" Firdaus berteriak memanggil ibunya dengan raut wajah yang memancarkan ketakutan saat melihat wanita yang tampak asing di matanya itu.

***

"Dokter, apa yang terjadi dengan suami saya, Dokter?" tanya Alenna dengan mata berkaca-kaca sebaik saja ia duduk menghadap dokter di meja tulisnya.

Dokter perempuan yang masih terlihat muda dan cantik mengenakan jilbab biru itu memang sengaja mengumpulkan seluruh anggota keluarga pasien di ruangannya karena dia ingin menyampaikan hasil pemeriksaan lanjutan mengenai cedera kepala yang dialami oleh Firdaus. Farhan yang duduk di sebelah Alenna hanya diam menyimak. Pun dengan Aruni dan Sarah yang berdiri di belakang mereka.

"Cedera pada kepala Bapak Firdaus menyebabkan pembengkakan dan pendarahan pada bagian otak. Cedera itu menyebabkan Bapak Firdaus kehilangan ingatannya," terang dokter itu dengan sabar sambil memandang wajah Alenna dalam-dalam.

"Tapi Dokter, kenapa dia ingat dengan Mama dan Papa? Saya dan Ibu tidak dia ingat?" tanya Alenna lagi sembari meletakkan tangan di atas dada. Sebutir kristal bening luruh dan mengalir perlahan-lahan ke pipinya tanpa diminta.

"Bu Alenna ... keadaan yang dialami Bapak Firdaus ini dinamakan Selective Amnesia. Dari wawancara yang saya lakukan dengan Bapak Firdaus beberapa waktu lalu, saya dapat menyimpulkan bahwa Bapak Firdaus hanya mengingat tentang masa lalunya sampai dia berusia dua puluh lima tahun. Dan seingat dia, saat ini adalah tahun 2021. Bukan 2023."

"Tahun 2021?" Alenna terkejut bukan main. Padahal dia bertemu dan mengenal Firdaus untuk pertama kalinya pada awal tahun 2023.

"Tapi tahun 2021 Firdaus belum bertemu dengan Alenna. Saat itu, dia bahkan baru menyelesaikan S2-nya di UI lalu meniti karir secara mandiri di bidang arsitektur," ujar Farhan lalu menoleh ke arah istrinya.

"Ya. Papa benar." Aruni menimpali. "Dan saat itu, dia masih berpacaran dengan Shella, perempuan yang ia temui semasa kuliah di UI."

"Ya, Ibu benar. Tadi, Bapak Firdaus juga sempat menyebutkan nama Shella dalam percakapan kami. Seingatnya, beliau masih berhubungan dengan perempuan dari masa lalunya itu."

Alenna menjatuhkan rahang, lalu membekap mulutnya yang ternganga dengan dua telapak tangan. Butiran kristal bening jatuh susul menyusul di kedua pipinya. Kata-kata yang disampaikan oleh dokter dan ibu mertuanya bagaikan palu godam yang menghunjam jantungnya, membuatnya remuk hingga berkeping-keping.

Oh, Tuhan ... mengapa semua ini harus terjadi di awal-awal pernikahan kami? Baru satu minggu kami menikah dan menikmati kebahagiaan hidup sebagai pasangan suami istri. Mengapa harus Engkau renggut kebahagiaan yang baru saja kami kecapi?

Berat rasanya menerima kenyataan bahwa bukan dirinyalah wanita yang ada dalam ingatan Firdaus saat ini, melainkan wanita lain dari masa lalunya. Dia berharap, semoga wanita itu tidak akan pernah hadir kembali dalam hidup Firdaus dan menghancurkan rumah tangganya.

Terpopuler

Comments

Pujiastuti

Pujiastuti

sedihnya ngak diingat sama suami sendiri, malah suami ingat mantanya sabar ya Alena,,,,,

2023-09-22

1

Mrs. A

Mrs. A

Pasti hancur banget jadi Alenna 🤧🤧🤧

2023-09-03

1

Nar Sih

Nar Sih

sabar alenaa ,biar kan waktu yg mengubah segala nya ,lanjutt kakk,👍

2023-09-01

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!