"Fir, kenapa kamu diam saja? Apa sudah ada perempuan lain di hatimu selain aku? Atau mungkin ... kamu sudah menikah?"
Firdaus terkejut karena Shella tiba-tiba bertanya seperti itu. Dia bingung harus menjawab apa. Mungkin dia memang telah menikah dengan Alenna karena sudah ada banyak bukti yang diperlihatkan padanya. Bahkan, kedua orang tuanya sendiri juga mengatakan kalau Alenna adalah istri sahnya secara hukum dan agama.
"Shella ... sepertinya ... aku memang sudah menikah."
Shella tampak terkejut. Namun, perempuan itu tidak mengatakan apa-apa sampai dia melanjutkan bicaranya.
"Tapi saat ini, aku sedang kehilangan sebagian ingatanku akibat kecelakaan yang kualami sebulan yang lalu."
"Apa? Kamu hilang ingatan?" Shella lagi-lagi tampak kaget.
Firdaus menjawabnya dengan anggukan. Kemudian, dia pun menjelaskan semuanya kepada Shella tentang apa yang dia alami. Perempuan berkulit cerah itu hanya diam mendengarkan.
"Jadi saat ini, kamu sama sekali nggak ingat pada istrimu?" tanya Shella setelah Firdaus menyelesaikan ceritanya.
"Ya. Meskipun sudah banyak bukti yang dia perlihatkan padaku, aku sama sekali tidak ingat kalau aku pernah menikahinya. Aku juga tidak punya perasaan apa-apa saat berada di dekatnya. Aku bahkan merasa dia seperti orang asing. Orang asing yang tidak halal untuk kusentuh ...."
"Jadi semenjak hilang ingatan, kamu tidak tidur bersamanya lagi meski kalian tinggal dalam satu atap?"
"Ya. Kami tidur di kamar terpisah. Aku tidur di lantai tiga dan dia di lantai dua."
Shella tiba-tiba mendiamkan diri. Perempuan itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Firdaus penasaran. Akan tetapi, perempuan itu hanya tersenyum dan menggeleng.
"Oh, ya, Fir, apa kamu sudah lapar? Gimana kalau sekarang, kita pergi makan siang di luar? Kebetulan, hari ini, aku belum masak karena aku baru saja pulang dari Puncak."
Firdaus mengernyit. Dia baru ingat kalau dia tadi melihat Shella di restoran hotel yang ada di Puncak lalu dia memutuskan untuk membuntuti perempuan itu.
"Memangnya ada urusan apa kamu di Puncak? Kenapa sampai menginap di hotel?" Firdaus tidak mampu lagi untuk menutupi rasa ingin tahunya. Dia ingin tahu ada urusan apa Shella di hotel itu dan dengan siapa dia di sana.
"Jadi kamu tadi ngikutin aku dari hotel?" Alih-alih menjawab, Shella justru balik bertanya pada pria di hadapannya.
"Ya. Tadi, aku nggak sengaja lihat kamu keluar dari toilet restoran. Saat aku ingin menyapa, tiba-tiba kamu sudah menghilang dari pandanganku. Lalu aku keluar dan melihatmu di parkiran mobil. Tapi karena kamu sudah terlanjur masuk ke dalam mobil, aku pun memutuskan untuk mengekorimu hingga tak sadar, aku sudah sampai kemari," terang Firdaus. Shella hanya diam mendengarkan.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Ada urusan apa kamu di Puncak? Sama siapa kamu di sana?" tanya Firdaus lagi karena Shella belum menanggapi pertanyaannya tadi.
"Emh, kemarin, aku sengaja ke Puncak untuk liburan. Aku merasa bosan terus-terusan di rumah, jadi aku memutuskan untuk ke sana sendirian." Shella berusaha menjelaskan. "Sejak kembali ke sini, aku memang suka pergi berlibur untuk sekadar refreshing dan menghilangkan perasaan jenuh."
"Apa kamu tidak bekerja?"
Shella menggeleng. "Aku belum pernah bekerja sejak lulus kuliah. Tapi mungkin dalam waktu dekat ini, aku akan mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Lalu bagaimana denganmu, Fir? Kamu kerja di mana?"
Firdaus turut menggeleng.
"Kata kedua orang tuaku, selama ini, aku bekerja sebagai arsitek mandiri. Sebelum mengalami kecelakaan, aku sedang mengerjakan sebuah proyek rumah vila di daerah Puncak. Tapi karena aku mengalami koma selama sebulan, proyek itu sekarang telah dialihkan ke orang lain. Aku belum bekerja lagi sejak keluar dari rumah sakit."
"Kamu yang sabar, ya, Fir. Mudah-mudahan, setelah ini, kamu dapat job lain yang lebih bagus." Shella tersenyum simpul. Senyum yang membuat perasaan Firdaus menjadi tenang dan membangkitkan semangatnya.
Obrolan panjang mereka pun berlanjut di sebuah restoran yang berdekatan dengan rumah Shella. Mereka bukan sekadar mengisi perut, tetapi juga mengenang masa-masa indah mereka saat masih menjadi sepasang kekasih. Dari restoran, mereka juga pergi mengunjungi kampus Universitas Indonesia untuk bernostalgia dan mengenang kembali masa-masa indah mereka sebagai seorang mahasiswa dan mahasiswi.
Ketika matahari sudah tergelincir di ufuk barat, Firdaus baru ingat kalau dia tadi sedang janjian dengan Nicko di restoran hotel. Sahabat lamanya itu pasti kebingungan karena dia tidak kembali lagi ke sana dan tidak memberi kabar. Ketika hendak menelepon, Firdaus baru sadar kalau ternyata ponselnya telah mati karena kehabisan baterai.
Setelah mengantar Shella pulang kembali ke rumahnya, Firdaus pun pamit pulang karena hari telah senja. Namun, sebelum berpisah, Shella sempat meminta nomor ponselnya.
Firdaus kembali terseret ke alam nyata setelah merasakan perutnya yang keroncongan minta diisi. Saat itu, hari sudah agak siang karena sinar mentari telah menembus kaca jendela. Dia tiba-tiba teringat kembali dengan Alenna yang tadi sempat masuk ke kamarnya tanpa izin. Tadi, wanita itu pergi dengan berurai air mata.
Setelah mencuci muka di wastafel kamar mandi, Firdaus pun keluar dari kamarnya lalu turun ke lantai dua. Di meja makan, dia melihat aneka makanan sudah tersaji lengkap dengan minumannya. Dan semuanya masih terlihat utuh. Itu berarti, Alenna juga belum sarapan. Lalu ke mana dia?
Pandangan Firdaus pun beralih ke arah pintu kamar Alenna yang tampak tertutup rapat. Mungkinkah dia berada di kamarnya? Karena penasaran, Firdaus pun beranjak mendekati pintu itu lalu mengetuknya beberapa kali.
Tok! Tok! Tok!
Tak lama kemudian, pintu kayu berwarna putih itu pun dibuka oleh seseorang dari dalam. Dia terkejut melihat Alenna yang sudah berpenampilan rapi dengan dress selutut berwarna broken white yang dipadu dengan blazer abu-abu, lengkap dengan sebuah tas kulit cokelat yang tersangkut di bahu kanannya.
"Mau ke mana?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Firdaus.
"Aku mau keluar," sahut Alenna dengan sedikit ketus. Perasaan marah dan kecewa masih menguasai hati. Tidak ada senyuman sedikit pun yang terlukis di bibirnya. Saat ini, dia hanya butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya.
"Keluar? Tapi kamu belum sarapan, 'kan?"
"Aku sedang tidak ingin makan. Kamu makanlah sendiri kalau kamu lapar. Semuanya sudah kusiapkan di meja makan." Setelah mengatakan itu, Alenna segera menerobos keluar karena Firdaus tidak juga beralih dari hadapannya. Dengan cepat, dia berjalan menuju tangga lalu menuruninya tanpa memedulikan pria itu lagi.
Alenna mengemudikan mobilnya menuju kantor. Meskipun sekarang ini, dia belum aktif bekerja lagi, dia ingin ke sana untuk bertemu dengan Adhisti, satu-satunya rekan kerja yang sama-sama berprofesi sebagai interior designer dan juga sahabat baiknya sejak kuliah dulu.
"Alenna!" Adhisti segera bangkit dari kursi kerjanya ketika melihat Alenna memasuki ruang kerja mereka. Selama ini, mereka memang bekerja dalam satu ruangan karena memiliki profesi yang sama.
"Adhisti!" Alenna segera meluru ke arah sahabatnya itu lalu memeluknya dengan erat. Suara isakan pun terdengar dari bibirnya tak lama kemudian.
"Kamu kenapa, Alenna? Apa Firdaus menyakitimu?" tanya Adhisti yang seketika merasa terenyuh mendengar isak tangis sahabatnya.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, Adhisti. Aku buntu. Aku ingin meminta pendapatmu," ungkap Alenna setelah menguraikan pelukannya. Sambil duduk bersisian di sofa panjang, dia pun menceritakan semua yang dialaminya kepada Adhisti.
"Kamu yang sabar, ya, Alenna. Mungkin Firdaus jadi begitu karena saat ini, dia masih belum mengingatmu. Kamu harus memberinya waktu." Adhisti berusaha menghibur sambil menyentuh bahu Alenna.
"Tapi sampai kapan, Adisti? Rasanya, aku sudah nggak kuat lagi."
"Bertahanlah, Alenna. Jangan menyerah begitu saja sebelum Firdaus benar-benar mengingatmu dan kembali ke pelukanmu. Berjuanglah. Sebagai sahabat, aku akan selalu mendukung dan mendoakanmu. Oh, ya, apa kamu sudah mengajaknya ke tempat kalian menikah dulu?"
"Maksudmu ke Bali?"
Adhisti mengangguk sebagai jawaban.
"Aku tidak yakin dia akan mau, Adhisti. Kemarin saja, rencanaku gagal saat aku mengajaknya ke restoran kafe favorit kami. Dia tiba-tiba pulang sebelum kami sempat memesan makanan."
"Coba saja, Alenna. Kamu tidak akan tahu hasilnya sebelum mencoba. Jika kemarin kamu gagal, belum tentu besok atau lusa, kamu akan kembali gagal."
Alenna terdiam sejenak untuk mencerna kata-kata Adhisti. Haruskah dia menuruti saran dari sahabatnya itu? Maukah Firdaus jika tiba-tiba dia mengajaknya pergi ke Pulau Dewata?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Chu Shoyanie
kayaknya Firdaus gk bkln mau diajak ke Bali,Krn sdh nyantol LG ke Shella...🤔😥
2023-09-19
1
Nar Sih
tetap lah berusaha alenna ,dan semagatt ,yakin kan diri mu bahwa perjuangan juga kesabaran mu pasti akan berbuah manis💪👍
2023-09-17
1
Siswanti Elie
fir.kamu menambah masalah diRT kamu..knp sih harus nyari shela🤬🤨 kasian alena..sedih terus😥
2023-09-17
1