Bab 17 ~ Curiga

Hotel? Kenapa Shella tiba-tiba menanyakan soal hotel? Apa jangan-jangan dia ....

Firdaus jadi berpikir kalau Shella mungkin juga akan pergi ke Pulau Dewata. Mungkinkah dia sengaja ingin mengikutinya? Mungkinkah Shella cemburu jika dia pergi berdua saja dengan Alenna ke pulau itu? Firdaus tiba-tiba mengulum senyum. Dia senang kalau apa yang dipikirkannya itu adalah benar. Dulu, ketika masih kuliah, dia juga senang setiap kali Shella cemburu kalau dia sedang didekati mahasiswi lain.

"Ada apa? Siapa yang mengirim pesan?"

Senyum di bibir Firdaus seketika sirna. Dia terkejut melihat tatapan menyelidik dari wanita yang sedang duduk di hadapannya itu.

"Emh ... bukan siapa-siapa. Cuma pesan nggak penting dari operator," sahut Firdaus dengan sedikit gugup, lalu menyelipkan kembali ponsel tersebut ke dalam saku celananya. Pria itu lantas meraih sepotong sandwich yang masih tersisa di atas piring saji dan melahapnya sambil menunduk.

Alenna menatap pria di hadapannya itu lekat-lekat. Entah mengapa, dia merasa aneh dengan tingkah suaminya belakangan ini. Sudah dua kali sejak semalam, dia memergoki Firdaus suka senyum-senyum sendiri sambil memainkan ponselnya. Dia tidak yakin kalau pesan itu hanyalah pesan dari operator. Kalau dari operator, kenapa Firdaus sampai senyum-senyum saat membacanya?

"Oh, ya, apa kamu sudah booking hotel?" Firdaus tiba-tiba bertanya setelah menghabiskan sepotong sandwich lagi dan menenggak air lemonnya hingga tandas.

"Sudah," jawab Alenna singkat.

"Di hotel mana kita akan menginap?"

Pertanyaan Firdaus membuat Alenna terdiam dan berpikir.

"Kenapa Mas tiba-tiba bertanya soal hotel?" Alih-alih menjawab, Alenna justru balik bertanya pada suaminya. Entah mengapa, dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan pertanyaan itu.

"Aku hanya ingin tahu. Apa tidak boleh?"

Alenna terdiam cukup lama sebelum menjawab. Wajah Firdaus yang tampak gugup itu ditatapnya dalam-dalam.

"Hotel yang sama seperti yang pernah kita booking untuk menggelar resepsi pernikahan kita dulu."

"Di mana itu? Jangan berteka-teki karena aku sama sekali tidak ingat!" Suara Firdaus mulai meninggi. Dia mulai tersulut emosi karena Alenna seperti ingin bermain tebak-tebakan dengannya yang sedang hilang ingatan.

"Nanti Mas juga akan tahu setelah kita sampai. Apa Mas sudah selesai sarapannya? Kalau sudah, biar kubereskan dulu meja makannya sebelum kita pergi."

Alenna segera bangkit setelah menghabiskan air lemonnya. Dia lantas menyingkirkan piring saji dan dua gelas yang telah kosong tersebut ke wastafel lalu mencucinya hingga bersih. Setelah selesai, dia segera kembali ke meja makan untuk mengambil tas selempang dan kopernya.

"Ayo kita berangkat! Tadi, aku sudah pesan taksi online, jadi kita tidak perlu bawa mobil sendiri!" seru Alenna setelah mengalungkan tas selempangnya ke leher dan menjinjing koper kecilnya. Firdaus pun mengikuti langkah wanita itu menuruni anak tangga.

***

Cling!

Ponsel Firdaus kembali mengeluarkan bunyi notifikasi saat mereka sedang dalam perjalanan menuju bandara. Alenna seketika menoleh. Begitu pun dengan Firdaus sehingga pandangan mereka tidak sengaja saling bertemu. Firdaus cepat-cepat berpaling ke arah depan untuk menghindari tatapan menyelidik wanita itu.

"Ada pesan yang masuk. Kenapa nggak dilihat?" tanya Alenna karena Firdaus seperti enggan membaca pesan itu.

"Nggak perlu. Pasti cuma pesan nggak penting dari operator," sahut Firdaus tanpa menatap lawan bicaranya. Pria itu justru membuang pandangannya ke arah luar jendela.

Alenna menghela napas berat melihat sikap Firdaus yang semakin dingin dan tak acuh terhadapnya. Entah kapan ingatan pria itu akan kembali lagi. Rasanya, dia sudah sangat merindukan Firdaus-nya yang dulu. Firdaus yang selalu bersikap romantis, hangat, dan mesra kepadanya. Firdaus yang selalu memanggilnya sayang dan memperlakukannya seperti seorang ratu.

***

[Sayang, kenapa pesanku nggak dibalas?]

Firdaus baru membaca pesan yang dikirimkan Shella ketika Alenna sedang pergi ke toilet. Saat itu, mereka sudah berada di bandara dan sedang menunggu pesawat di aula keberangkatan. Firdaus pun segera menghubungi kontak Shella melalui panggilan suara di aplikasi WhatsApp. Akan tetapi, perempuan itu tidak segera menjawab panggilannya. Setelah tiga kali mencoba dan hasilnya tetap sama, Firdaus pun cepat-cepat mengetik balasan sebelum Alenna kembali ke kursinya.

[Maaf, Sayang, aku baru sempat membaca pesanmu karena tadi, Alenna ada di sampingku dan terus mengawasiku. Aku hanya tidak ingin dia tahu tentang kita lalu memberitahukannya pada orang tuaku. Tadi, aku sudah bertanya padanya tentang hotel, tapi dia tidak mau jawab. Dia hanya bilang kalau kami akan menginap di hotel yang dulu pernah kami boooking untuk menggelar resepsi pernikahan. Aku tidak tahu di mana itu. Aku sama sekali tidak ingat. Oh, ya, kenapa tiba-tiba kamu menanyakan soal itu? Apa kamu juga akan ke Bali?]

Firdaus segera mengirimkan pesan itu. Akan tetapi, pesan tersebut tidak langsung dibaca oleh Shella karena tanda centang duanya masih tampak abu-abu. Firdaus berpikir mungkin Shella sedang sibuk atau ponselnya tidak aktif karena sedang diisi daya. Segera dia menyelipkan kembali ponsel tersebut ke saku celana ketika melihat sosok Alenna sedang berjalan ke arahnya.

"Perhatian-perhatian! Untuk para penumpang dengan penerbangan nomor 56 tujuan Denpasar, Bali dimohon untuk segera melakukan boarding dari gerbang C2, dan mohon persiapkan pas naik Anda dan pastikan Anda membawa semua barang bawaan Anda. Terima kasih."

Panggilan untuk naik ke pesawat terbang telah terdengar melalui pengeras suara. Alenna pun mempercepat langkahnya. Setelah sampai di tempat duduknya tadi, dia pun segera mengajak Firdaus untuk boarding.

Di dalam pesawat, mereka duduk saling bersisian. Alenna memilih tempat duduk yang berdekatan dengan jendela karena dia ingin melihat pemandangan di luar sana, sama seperti ketika pertama kali mereka ke Bali. Setelah memasang seat belt, dia membuka tas selempang di pangkuannya. Segera dia mematikan ponselnya sebelum pesawat tersebut lepas landas.

"Apa ponselmu sudah dimatikan?" Alenna bertanya pada pria di sebelahnya yang tampak sedang melamun.

"Oh, belum."

Firdaus yang tersadar dari lamunannya pun segera merogoh benda pipih yang terselip di saku celananya itu. Namun, sebelum dia sempat mematikan ponsel tersebut, tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi yang menandakan kalau ada satu pesan baru yang masuk ke aplikasi WhatsApp.

Cling!

Alenna yang mendengar bunyi itu segera menoleh. Dia menjadi semakin curiga karena seharian ini, Firdaus sering menerima pesan. Tidak mungkin semua itu cuma dari operator. Firdaus yang menyadari kalau Alenna sedang mengawasinya pun menjadi panik dan segera mematikan ponselnya.

"Siapa yang mengirim pesan? Kenapa langsung dimatikan?" selidik Alenna yang merasa semakin aneh dengan tingkah suaminya. Pria itu selalu terlihat panik setiap kali ponselnya mengeluarkan bunyi.

"Emh ... aku tidak tahu. Aku tidak sempat melihatnya. Bukankah katamu tadi, aku harus segera mematikan ponsel?" Firdaus mencoba berkelit. Padahal dia tahu kalau pesan itu dari Shella, tetapi dia tidak ingin membacanya karena ada Alenna di sampingnya.

Kegugupan dalam nada bicara Firdaus makin memperkuat kecurigaan Alenna. Apa sebenarnya yang sedang disembunyikan pria itu? Batinnya bertanya-tanya.

Terpopuler

Comments

Pujiastuti

Pujiastuti

sama istri sendiri cuek ngomongnya ngak ada mesranya giliran sama mantan mesra banget balas chatnya aduh lupa ingatnnya bakalan lama nih,,,,,

2023-09-24

1

Chu Shoyanie

Chu Shoyanie

Ayolah Fir:katanya kamu risih SM Alenna Krn bukan muhrim,ko SM Shella bebas ceria...EMG dulu kamu&Shella bebas gitu ya...?!

2023-09-19

1

Nar Sih

Nar Sih

lgi,,kesabaran mu sdg dicoba alenna,semagat terus ya dmi suami mu💪

2023-09-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!