Kamar lain? Alenna terperanjat. Mengapa Firdaus tiba-tiba menanyakan kamar lain padanya? Apa pria itu tidak ingin tidur sekamar lagi bersamanya?
Kebahagiaan yang baru dirasakan Alenna mendadak lenyap seketika. Wajah yang tadinya bersinar seperti rembulan itu kini tampak meredup diselimuti awan mendung.
"Kenapa?" Alenna memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa Mas menanyakan kamar lain? Ini adalah kamar kita. Suami istri sudah sepantasnya tidur bersama."
"Tidak. Aku sama sekali tidak ingat kalau kita pernah menikah. Aku juga tidak ingat kalau kau adalah istriku. Aku ... maaf, tapi aku tidak bisa tidur sekamar denganmu. Apa ada kamar lain di rumah ini?" Firdaus mengulangi pertanyaannya.
Dengan raut yang memancarkan kesedihan dan kekecewaan, Alenna terpaksa mengangkat jari telunjuknya. Sepasang mata bulat beriris gelap itu kembali berkaca-kaca.
"Di atas," lirihnya dengan suara yang bergetar menahan tangis. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, seperti kehabisan napas.
Firdaus segera bangkit dari posisi duduknya di atas sajadah. Pria yang mengenakan baju koko putih, peci hitam, serta sarung dengan motif kotak-kotak itu memandang Alenna sejenak, lantas berlalu keluar dari kamar tersebut.
Betapa remuk hati Alenna saat ini. Mahligai yang baru saja mereka bangun bersama-sama dengan pondasi cinta yang begitu kuat seolah-olah telah roboh tertiup angin kencang. Dan sekarang, dia merasa lemas, sendirian tanpa daya. Akankah ia mampu berjuang seorang diri untuk membangun kembali mahligai itu? Akankah ia mampu memulihkan mahligai yang sudah berkecai itu agar kembali utuh?
Ya Allah ... tabahkanlah hatiku. Kuatkanlah aku untuk melewati semua ini. Berilah aku kemudahan untuk meraih kembali cinta suamiku ....
Alenna berdoa di dalam hati seraya mengangkat kedua tangannya ke udara. Cairan hangat yang bergenang di kolam netra sudah tidak terbendung lagi. Bulir-bulir bening itu mengalir deras seperti dua anak sungai di pipi. Hanya di atas sajadahlah dia mampu mengadukan segala kelesah yang mendera batinnya. Hanya kepada Yang Maha Pengasihlah dia mampu meminta pertolongan.
Saat azan isya berkumandang, Alenna menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka lebar. Berharap agar Firdaus kembali lagi dan mengajaknya untuk salat bersama-sama seperti tadi. Namun, hingga ikamah terdengar dari toa masjid, sosok yang diharapkan itu tidak juga menampakkan diri. Alenna kembali diperam duka.
Bertahanlah, Alenna. Jika Firdaus hari ini belum ingat, mungkin besok atau lusa dia akan mengingatmu. Dia akan ingat semuanya. Bersabarlah ....
Alenna berusaha menguatkan diri. Wanita yang masih berbalut mukena ungu dengan hiasan renda putih itu pun bangkit berdiri lalu melaksanakan salat Isya sendirian. Setelah bergelar istri, baru kali ini, dia salat sendirian di rumah tanpa seorang imam. Mungkin mulai sekarang, dia harus mulai membiasakan diri hingga ingatan suaminya pulih nanti.
Bukan hanya salat saja, mulai malam ini, dia juga harus mulai membiasakan diri untuk tidur sendirian tanpa suami di sisinya. Meskipun semua itu akan terasa berat, dia harus mampu melewatinya. Mungkin ini semua adalah ujian awal pernikahannya dengan Firdaus.
Usai membereskan peralatan salat dan menyimpannya kembali di atas rak, Alenna membuka lemari pakaian tiga pintu yang ada di salah satu sudut kamar tersebut. Sejenak, sepasang mata berbulu lentik itu memindai deretan gaun tidur yang tergantung di dalam sana. Saat melihat gaun tidur pendek berwarna peach dengan hiasan renda-renda di bagian dada dan tali spaghetti, Alenna pun meraih gaun tersebut.
"Wah ... istriku kelihatan cantik sekali dengan gaun tidur ini. Sayang benar-benar terlihat seksi," bisik Firdaus kala itu dengan suara yang romantis dan menggoda, lantas mendaratkan satu kecupan lembut di pipinya.
Gaun tidur itu adalah gaun tidur yang menjadi favorit suaminya di antara semua gaun tidur yang ia miliki. Firdaus paling suka jika dia memakainya. Pria itu pasti akan langsung memuji, lalu memberikan nafkah batin tanpa diminta.
Perlahan-lahan, Alenna pun mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berbahan lembut itu. Sejenak, dia mematut dirinya di depan cermin besar yang menempel pada pintu lemari. Dia akui, dia memang memiliki bentuk tubuh yang proporsional, dada dan pinggul yang padat berisi, pinggang dan perut yang ramping, serta leher yang jenjang dan mulus. Bentuk tubuh yang menjadi dambaan para lelaki. Rambutnya yang tergerai indah, hitam memanjang dan bergelombang pada ujungnya itu menambah kadar kecantikan pada wajahnya. Andai Firdaus melihatnya, pria itu pasti akan tertarik. Alenna tersenyum tanpa sadar.
Wanita berkulit seputih susu itu pun menjatuhkan pinggul di kursi meja rias untuk melakukan ritualnya setiap malam sebelum tidur. Dia bersihkan wajah dan lehernya dengan kapas yang telah dibasahi dengan micellar water, lantas menyapukan krim malam ke seluruh permukaan wajahnya. Tidak lupa dia mengoleskan body serum di kedua kaki serta tangannya yang halus lembut.
Alenna menoleh ke arah pintu ketika menyadari ada seseorang yang sedang memerhatikannya. Dadanya berdesir kencang ketika sepasang netra beriris gelap itu menangkap sosok yang begitu ia damba. Sosok yang selalu ada dalam kotak pikirannya.
"Mas Firdaus!" Alenna tersenyum tipis lantas bangkit dari duduknya.
Firdaus yang tadinya turun karena ingin mengambil minuman di dapur tanpa sengaja menoleh ke arah pintu kamar Alenna yang terbuka lebar. Pria itu spontan menghentikan langkah saat melihat wanita dalam balutan gaun tidur yang sangat seksi sedang duduk di depan meja rias sambil mengoleskan body serum. Jantungnya berdebar seketika. Apalagi saat wanita tersebut bangkit dan berdiri tegak menghadapnya. Melihat tubuh yang seksi menggoda itu, dia menelan salivanya tanpa sadar.
Melihat Firdaus yang hanya mematung di muka pintu, Alenna pun mengatur langkah dengan anggun untuk mendekati pria itu. Firdaus masih diam memandangnya. Matanya memancarkan kekaguman.
Langkah Alenna terhenti tepat di hadapan pria yang sedang menatapnya tanpa berkedip itu. Tatapan yang mengundang debaran dalam hatinya. Bibir Alenna mengukir senyuman panjang saat tatapan mereka saling beradu, sebelum akhirnya Firdaus memindai sekujur tubuhnya dari atas hingga ke bawah, lalu kembali lagi ke atas.
"Sayang ...."
Alenna memanggil dengan suara yang terdengar mesra serta senyum yang tidak lepas dari bibirnya. Kemudian, dia memberanikan diri untuk meraih sebelah tangan Firdaus lantas menariknya masuk ke dalam kamar.
Seperti terkena sihir, Firdaus hanya diam dan menurut. Dengan tatapan yang tidak lepas dari Alenna, dia mengikuti langkah ke manapun wanita itu membawanya.
Alenna melepaskan tangan Firdaus ketika mereka telah sampai di dekat ranjang. Perlahan-lahan, dia mengikis jarak dengan pria di hadapannya itu. Tangan kanannya lalu terangkat untuk membelai lembut wajah suami yang masih terus menatapnya tanpa jeda. Namun, pada saat ia mulai mendekatkan wajahnya, Firdaus tiba-tiba mundur satu langkah ke belakang. Tatapan yang tadinya begitu mendamba itu, kini memancarkan ketakutan dan keraguan.
"Tidak. Kau bukan istriku!" seru Firdaus seraya menggeleng lalu cepat-cepat keluar dari kamar itu. Meninggalkan Alenna sendirian di sana dengan memendam perasaan kecewa yang amat dalam.
Aku istrimu, Mas. Kenapa kau masih tidak percaya juga?
Alenna memandang kepergian Firdaus dengan sebutir kristal bening yang tiba-tiba jatuh ke pipinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Pujiastuti
sabar ya Alena dan selalu berdoa memohon kepada yang maha kuasa supaya Firdaus cepat kembali ingatanya dan mengingat istrinya
2023-09-24
1
Chu Shoyanie
langkahmu sudah tepat Alenna:pasrahkan&adukan segalanya PD Sang Maha Membolak balikan hati manusia,karna kita hanya makhluq-NYA yg DIA ciptakan paling sempurna diantara makhluq2 NYA yg lain...tetap shabar&tawakkal ya Alenna chantik....
2023-09-09
1
Nar Sih
seperti nya butuh extra sabarr ya alenna ,semog cpt sembuh dan ingat lgi firdaus suami mu ,semagatt ..💪🥰
2023-09-08
1