Bab 4 ~ Rumah Impian

Firdaus agak sedikit ragu ketika Aruni dan Farhan memintanya untuk masuk ke dalam mobil yang pintu bagian depannya telah dibukakan oleh Alenna. Raut bingung dan ketakutan masih menghias wajahnya meskipun sudah berulangkali mereka mengatakan bahwa wanita berparas cantik yang berdiri tegak di hadapannya itu adalah istri sahnya.

"Ayo, buruan masuk, Fir! Tunggu apa lagi? Kasihan Alenna yang sejak tadi nungguin kamu," seru Aruni untuk kedua kalinya karena Firdaus masih berdiam diri di dekat pintu mobil.

Lelaki dua puluh tujuh tahun itu masih memandang Alenna dengan perasaan gamang menyelimuti hati. Namun, karena sang mama terus mendesak, akhirnya dia pun masuk ke perut mobil tanpa sepatah kata pun yang terucap di bibirnya.

Alenna tersenyum lega melihatnya. Dia lantas menutup pintu mobil tersebut dan berpamitan kepada ibu dan kedua mertuanya yang telah mengantar mereka sampai ke tempat parkir.

"Bu, Ma, Pa, Alenna pulang dulu, ya. Assalamu'alaikum." Perempuan cantik dengan rambut hitam legam yang memanjang sebatas punggung dan poni yang menyamping ke kanan itu pun mengecup punggung tangan Sarah, Farhan, lalu Aruni dengan takzim.

"Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan, Alenna! Kabari kami kalau kalian sudah sampai di rumah nanti," pesan Farhan yang selalu peduli pada keselamatan anak dan menantu kesayangannya itu.

"Insya-Allah, Pa," ujar Alenna lalu segera masuk ke perut mobil melalui pintu di sebelah kemudi. Tak lama kemudian, Honda Civic silver itu pun bergerak perlahan-lahan meninggalkan tempat parkir rumah sakit. Sore ini, Alenna akan membawa suaminya pulang ke rumah impian mereka.

Di sepanjang perjalanan menyusuri jalan raya Puncak, Bogor, Firdaus hanya berdiam diri sambil memfokuskan pandangannya ke hadapan. Alenna yang sedang mengemudi sesekali menoleh ke arah suaminya. Saat pandangan mereka tidak sengaja saling bertemu, wanita berhidung bangir itu melemparkan senyuman manis. Akan tetapi, Firdaus justru memalingkan wajahnya ke arah lain, membuat Alenna kecewa dan sakit hati. Senyum yang terkembang di bibirnya seketika sirna.

Sabar, Alenna. Saat ini, mungkin Firdaus tidak mengingatmu. Tapi setelah pulang nanti, dia pasti akan mengingat semuanya. Alenna mencoba menabahkan hati dan menyemangati diri sendiri.

Dua puluh menit kemudian, Honda Civic silver itu pun berbelok memasuki halaman sebuah rumah villa tiga lantai bernuansa hijau yang sangat megah dan indah. Alenna menghentikan mobilnya di area parkir yang bersebelahan dengan taman dan kolam renang.

"Nah, kita sudah sampai. Yuk, turun!" ajak Alenna dengan senyuman indah yang bermain di bibirnya. Wanita dua puluh lima tahun itu pun membuka pintu lalu keluar dari mobil, disusul oleh Firdaus beberapa saat kemudian.

Begitu menjejakkan kakinya di halaman depan rumah mewah itu, Firdaus mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Rumah tiga lantai yang didominasi warna putih dan dikelilingi oleh tumbuh-tumbuhan berwarna hijau itu tampak sangat asing di matanya. Dia merasa bahwa ini adalah pertama kalinya dia menjejakkan kaki di sana.

"Cantik 'kan rumahnya? Ini adalah rumah impian kita. Rumah yang kita bangun bersama-sama atas nama cinta." Alenna kembali menarik kedua ujung bibir, membentuk senyuman indah yang ia hadiahkan khusus untuk suami tercintanya.

Firdaus hanya diam, tak menanggapi. Dia berpaling dan kembali memindai ke sekeliling sambil melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak di sekitar taman, menuju ke arah kolam renang yang terbentang luas di hadapan. Alenna mengikutinya dari belakang.

"Mas ingat, nggak, kenapa Mas memilih untuk membangun rumah di tempat ini?" Alenna kembali bersuara saat mereka tiba di kolam renang berbentuk persegi panjang yang terbentang luas dengan airnya yang berwarna kebiruan. Bibir merah muda itu kembali mengulum senyum saat Firdaus menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya. "Karena Mas sangat menyukai ketenangan. Mas juga menyukai suasana puncak yang sejuk dan indah dengan nuansa alam hijaunya yang natural. Dan yang paling penting adalah ... Mas ingin tinggal di rumah ini berdua saja dengan istri yang sangat Mas cintai. Mas tidak ingin siapa pun mengganggu kita."

Firdaus masih diam, tak bersuara. Dia merenung seraut wajah cantik di hadapannya itu dalam-dalam, mencoba mengingat-ingat. Akan tetapi, tidak ada bayangan sedikit pun tentang wanita itu di dalam kotak memorinya.

"Apa Mas tidak ingat?"

Firdaus menggeleng beberapa kali sebagai jawaban, membuat Alenna kecewa sekali lagi. Namun, wanita itu tidak ingin menyerah begitu saja. Dia kembali menarik senyuman panjang, lantas mengajak Firdaus untuk masuk ke dalam rumah.

Bulat mata Firdaus ketika ia menjejakkan kaki memasuki ruang tamu. Dia terkejut melihat foto pernikahan yang menampilkan wajahnya dan wajah Alenna yang tergantung di dinding dalam ukuran yang sangat besar. Di dalam foto tersebut, dia dan Alenna tampak berpose dengan mesra di tepi pantai dengan senyum yang menghias wajah. Dia terlihat tampan mengenakan setelan jas hitam dan kemeja putih, sedangkan Alenna tampak begitu cantik dalam balutan gaun putih panjang serta mahkota kecil yang tersemat di kepalanya.

Selain foto pengantin berukuran besar tersebut, ada pula beberapa foto lain dengan ukuran yang lebih kecil dan menampilkan kemesraan mereka berdua dalam satu frame. Selain di dinding, ada juga beberapa foto yang berdiri di atas nakas. Firdaus pun mengatur langkah mendekati foto tersebut dan mengambil salah satunya.

"Itu adalah foto setelah kita berdua diijab-kabulkan. Apa Mas ingat? Saat itu, kita berdua menikah di salah satu masjid yang ada di Bali."

Sejenak, Firdaus menatap foto itu lekat-lekat. Itu benar wajahnya. Pria yang mengenakan beskap dan penutup kepala serba putih itu adalah dirinya. Sedangkan yang memakai kebaya pengantin serta hijab putih itu adalah wanita yang saat ini berada di hadapannya. Ini benar-benar mustahil! Meskipun kenyataan itu sudah terpampang di depan mata, dia masih sulit untuk mempercayainya.

"Ini tidak mungkin." Firdaus menggeleng berulangkali, berusaha menepis kenyataan itu. "Bagaimana bisa aku menikah denganmu?"

"Ini kenyataannya, Mas. Kenapa Mas masih nggak percaya juga? Aku ini istrimu." Alenna meletakkan tangannya di atas dada. Sepasang mata indah beriris hitam itu mulai berkaca-kaca.

"Aku tidak percaya." Firdaus kembali menggeleng berulangkali. "Aku sama sekali belum menikah. Ini semua pasti hanya rekayasa!"

"Apa? Rekayasa?" Betapa terkejut Alenna mendengar kata-kata suaminya. "Untuk apa aku merekayasa semua ini jika memang kenyataannya Mas adalah suamiku. Imam dalam hidupku."

Sebutir kristal bening meluncur dari mata Alenna tanpa aba-aba. Mengalir ke pipinya dan luruh ke lantai. "Kalau Mas masih ragu, sekarang, Mas ikut aku! Aku akan tunjukkan bukti yang lainnya."

Alenna mengusap kasar cairan bening yang menodai pipinya itu lalu segera melangkah menuju tangga. Sementara Firdaus hanya bergeming sambil menatap Alenna yang sudah bergerak menaiki anak tangga. Akan tetapi, karena rasa penasaran menggelitik hatinya, dia pun perlahan-lahan mengikuti langkah wanita itu.

Begitu masuk ke dalam kamar utama yang terletak di lantai dua, Alenna segera membuka lemari pakaian untuk mengambil dua buah benda yang tersimpan di dalam laci. Dia lantas membawa dua benda tersebut kepada Firdaus yang sudah berdiri tegak di ambang pintu sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

"Mas coba lihat ini. Ini adalah buku nikah kita yang telah tercatat resmi di KUA dan telah kita tandatangani bersama-sama. Di dalamnya tertulis nama kita berdua. Dan di dalam masing-masing buku terdapat foto kita," papar Alenna sambil menyorongkan dua buku berwarna hijau dan cokelat tua itu ke hadapan suaminya.

Firdaus terdiam beberapa saat sambil menatap dua buku itu. Lalu perlahan-lahan, tangan kanannya terangkat untuk menerimanya. Begitu buku itu dibuka, matanya membulat saat melihat nama Firdaus Iskandar dan Alenna Silfarani tertulis di halaman pertama beserta foto mereka pada masing-masing buku.

Terpopuler

Comments

Pujiastuti

Pujiastuti

sabar Alena buat mengembalikan ingatan Firdaus tentangmu jangan terlalu dipaksakan pelan pelan saja kata kotak 😁😁🤭🤭🤭

2023-09-22

1

Mrs. A

Mrs. A

Gak bisa menyalahkan Firdaus juga sih. Namanya juga amnesia. Huhuhu yg sabar ya Alenna, pasti nanti Mas Fir inget lagi 🤧🤧🤧

2023-09-05

1

Chu Shoyanie

Chu Shoyanie

Perbanyak dzikir&shabar ya Alenna...
Aku bisa merasakan kesakitan&kesedihan Alenna Thor...

2023-09-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!