Bab 19 ~ Semakin Curiga

Firdaus memicing untuk mempertajam penglihatannya. Sepersekian detik kemudian, matanya melebar karena dia seperti mengenali wajah itu. Benarkah perempuan berkacamata cokelat itu adalah Shella?

Alenna mendongak karena Firdaus tidak menjawab pertanyaannya. Dia mengernyit saat menyadari kalau pria itu sedang melihat ke satu arah dengan mata yang melebar. Alenna pun segera menoleh ke arah yang sama dengan suaminya.

"Mas lihat siapa?"

Firdaus tersentak saat menyadari kalau Alenna juga menoleh ke arah yang sama dengannya. Namun, sepersekian detik kemudian, dia lega karena perempuan yang mirip dengan Shella itu telah menurunkan tangannya dan berpaling ke arah lain.

"Emh ... tidak," jawab Firdaus dengan sedikit gugup. "Aku tidak lihat siapa-siapa. Apa kamu sudah pesan makanan?" tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.

Alenna beralih menatap pria di hadapannya itu dengan tatapan menyelidik. Entah mengapa, perasaannya mengatakan kalau saat ini, suaminya sedang berkata bohong. Dia pasti kalau sebentar tadi, Firdaus terlihat kaget seperti sedang melihat seseorang. Alenna pun kembali menoleh ke arah tadi, tetapi tidak melihat seorang pun yang tampak mencurigakan.

"Mas mau makan apa?" tanya Alenna saat kembali melihat buku menu di hadapannya.

"Terserah kau saja. Aku sudah sangat lapar tapi kau malah nggak pesan-pesan makanan dari tadi!" Firdaus terlihat sewot. Alenna pun segera memanggil pelayan untuk memesan menu makanan seperti yang pernah mereka pesan dulu.

"Aku ke toilet sebentar," ujar Firdaus ketika mereka sedang berdiam diri sambil menunggu makanan datang. Pria berkaus putih dan berkemeja flanel itu pun segera bangkit dan berlalu menuju toilet yang tidak jauh dari sana.

Alenna hanya diam memerhatikan hingga sosok Firdaus menghilang dari pandangannya. Kemudian, dia beralih menatap keindahan laut dengan ombak yang bergulung-gulung di tepi pantai. Semuanya masih tampak indah, sama seperti sebulan yang lalu ketika dia berada di sana bersama pria itu. Bedanya adalah, dulu, dia sangat bahagia menikmati momen kebersamaan mereka sebagai pasangan pengantin baru yang sedang berbulan madu. Sedangkan sekarang, dia merasa sendiri dan tidak bahagia meskipun bersama pria yang sama.

Kenangan terindah bersama Firdaus-nya yang dulu pun kembali terbayang di ruang mata. Saat itu, mereka menggelar resepsi pernikahan yang sangat meriah di tepi pantai dengan nuansa panggung dan dekorasi serba putih yang berhiaskan bunga-bunga indah. Kemudian, dengan memakai pakaian pengantin serba putih, mereka berjalan berdampingan di atas white carpet dan disaksikan oleh para tamu undangan yang memadati kursi tamu. Kursi bersarung putih yang diberi hiasan pita emas itu ditata dengan sangat rapi menghadap panggung.

Dia juga masih ingat saat mereka berjalan saling bergandengan tangan menyusuri keindahan pantai. Seorang fotografer profesional mengabadikan momen bahagia mereka dengan jepretan kamera. Juga merekamnya dalam bentuk video.

***

"Shella?"

Di sisi lain, begitu keluar dari toilet pria, Firdaus dikejutkan oleh sosok perempuan berkacamata cokelat yang tadi sempat melambaikan tangan ke arahnya ketika di restoran. Ternyata dia memang tidak salah lihat. Perempuan berkemeja marun dan bercelana panjang hitam itu memanglah Shella.

"Halo, Sayang," sapa Shella sambil menanggalkan kacamatanya. Bibir merah delimanya mengukir senyuman indah.

"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Firdaus dengan heran. "Padahal, aku belum sempat memberi tahumu kalau aku sedang berada di resor ini. Hapeku dari tadi juga belum sempat kuaktifkan."

Firdaus merogoh ponsel yang terselip di saku celananya itu lalu mengaktifkannya. Pesan WhatsApp yang dikirim Shella sebelum dia terbang tadi pun dibacanya.

[Sayang, hari ini, aku juga akan ke Bali. Aku sudah mau terbang. Nanti, kita ketemu di sana aja, ya? Kasih tahu aja kamu nginap di mana.]

"Itu tandanya, kita berdua jodoh." Senyum Shella kembali mengembang. "Kemarin, saat kamu memberi tahuku kalau kamu mau ke Bali, aku pun memutuskan untuk liburan ke sini juga. Tapi aku nggak tahu kalau kamu juga akan menginap di resor ini. Kamu juga belum membalas pesan terakhirku sampai sekarang."

"Kok bisa kebetulan banget, ya, kita menginap di hotel yang sama? Padahal nggak janjian, loh."

"Aku sih, mikirnya bukan kebetulan karena nggak ada yang kebetulan di dunia ini. Pertemuan kita udah ada yang ngatur," ujar Shella sambil menunjuk ke arah langit.

"Apa itu artinya ... kita berdua memang jodoh?"

"Mungkin," jawab Shella sambil mengedikkan bahunya. Keduanya lalu saling bertukar senyum.

"Oh, ya, kapan kamu sampai kemari?" tanya Firdaus.

"Aku baru sampai. Setelah check-in hotel, aku langsung ke sini untuk cari makan." Shella menjawab dengan cepat.

"Sama, dong. Aku juga baru sampai. Apa jangan-jangan, kita tadi satu pesawat?"

"Aku naik Batik Air. Lepas landas jam 08.20," ungkap Shella tanpa diminta.

"Oh, my God! Berarti kita beda pesawat. Aku naik Citilink, terbang jam 08.10."

"Wah ... berarti cuma beda sepuluh menit, dong?"

"Sayang banget, ya, kita nggak satu pesawat? Aku tadinya juga nggak tahu mau naik pesawat apa karena Alenna yang booking tiketnya. Hotel juga dia yang pilih."

"Yang tadi itu istrimu?"

"Ya. Emh, maksudku, mungkin iya. Aku benar-benar tidak ingat kalau aku pernah menikahinya. Sampai sekarang pun, dia masih terasa asing di mataku. Tidak seperti kamu."

Senyum lebar kembali menghias wajah Shella. Dia benar-benar bahagia karena sekarang, Firdaus lupa kalau dia pernah menikah dan memiliki seorang istri. Ini merupakan kesempatan emas baginya untuk mendapatkan pria itu kembali. Sebisa mungkin, dia akan mendekati Firdaus dan membujuknya agar mau meninggalkan Alenna lalu menikahinya.

***

"Kenapa lama sekali ke toiletnya?"

Alenna segera bertanya ketika Firdaus kembali ke meja mereka. Untuk ke toilet saja, pria itu membutuhkan waktu selama hampir setengah jam. Tadinya, dia ingin menyusul tetapi urung karena dua orang pelayan keburu datang untuk mengantarkan pesanan mereka.

"Emh ... tadi, aku buang air besar, makanya agak lama. Kenapa kamu nggak makan duluan saja? Kenapa harus menungguku?" tanya Firdaus ketika melihat meja mereka telah penuh dengan makanan dan minuman. Ada dua porsi roasted chicken yang terlihat sangat lezat dan dua coconut water yang disajikan bersama buahnya di atas nampan. Lalu di meja berbentuk bulat di sebelahnya terdapat family pizza yang besarnya hampir sama dengan mejanya. Pria itu pun menghempaskan pinggulnya ke kursi kayu berbantal persegi warna biru, lalu mulai menyedot air kelapanya.

"Aku sengaja nungguin Mas. Nggak enak rasanya kalau makan sendirian," jawab Alenna setelah terdiam beberapa saat untuk memerhatikan suaminya. Entah mengapa perasaannya mengatakan kalau pria itu hanya sekadar mencari alasan. Mungkinkah Firdaus menemui seseorang di toilet?

"Kalau begitu, ayo kita makan! Aku sudah sangat lapar." Firdaus pun meraih pisau dan garpu, lalu menyantap roasted chicken-nya yang menggugah selera itu. Alenna turut menikmatinya dengan senyap.

Selesai mengisi perut, mereka berdua pun kembali ke kamar hotel. Karena hari telah sore, Alenna segera mengambil pakaian ganti di dalam koper lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan Firdaus yang duduk di sofa panjang pun segera mengeluarkan ponselnya. Mumpung Alenna sedang mandi, dia akan mengirim pesan kepada Shella.

Lima belas menit kemudian, setelah keluar dari kamar mandi, Alenna semakin merasa curiga melihat Firdaus yang lagi-lagi tersenyum sendiri sambil memainkan ponselnya. Mungkin pria itu tidak sadar kalau dia sedang mengawasinya dari arah pintu kamar mandi.

"Ehem!"

Mendengar suara deheman yang cukup keras, Firdaus tersentak dan refleks menoleh ke arah sumber. Pria itu segera mengunci layar ponsel dan meletakkan benda pipih tersebut di atas sofa saat melihat tatapan menyelidik yang dilontarkan oleh Alenna.

"Aku sudah selesai mandi. Mas mandilah!" seru Alenna yang kini telah memakai pakaian santai. Wanita itu lalu bergerak perlahan-lahan menuju nakas.

"Baiklah. Aku akan mandi." Firdaus segera bangkit dari sofa lalu beranjak ke kamar mandi saat Alenna membuka laci nakas untuk mengambil sisir dan peralatan make up yang ia simpan di dalam sana.

Ketika pria itu telah masuk ke kamar mandi, Alenna segera menoleh ke arah sofa. Ponsel Firdaus yang tergeletak di atas sana menjadi sasaran matanya.

Terpopuler

Comments

Chu Shoyanie

Chu Shoyanie

1hal yg Firdaus asli lupa:memohon pada Allah setiap selesai shalat agar segera dipulihkan kondisi ingatannya...malah dia betah dengan ingatan masa lalunya...😥😥😥😥

2023-09-20

1

Nar Sih

Nar Sih

harus dgn cara apa alenna ,membuat ingatan firdaus kembali ,apa mesti kecelakaan apa jatuh gituu biar ingat lagi ,gemeees sih bca nya ,lihat alenna yg sabar bangett,lanjut kakk ,semoga karya kk ini bisa maju terus di lomba yaa👍

2023-09-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!