Bab 13 ~ Bukan Siapa-Siapa

Kriiinggg ....

Kriiinggg ....

Alenna terjaga dari lena ketika ponsel yang ada di tangannya tiba-tiba menjerit. Wanita yang masih terbaring di sofa panjang ruang tamu itu pun segera duduk ketika melihat nama 'Mama Aruni' tertera pada layar. Jam digital pada benda elektronik tersebut telah menunjukkan angka 04.20, pertanda waktu subuh akan segera tiba.

"Halo, Ma. Assalamu'alaikum." Alenna menyapa ibu mertuanya dengan lembut setelah mendekatkan ponsel tersebut ke daun telinganya.

"Wa'alaikumussalam, Alenna. Apa Firdaus sudah pulang?" tanya Aruni dengan nada cemas. Wanita itu mungkin tidak bisa tidur dengan tenang karena memikirkan putranya yang tidak pulang-pulang.

Alenna terus bangkit dari sofa lalu beranjak menuju garasi yang bersebelahan dengan ruang tamu. Sepasang mata bulat itu melebar saat melihat mobil Firdaus sudah terparkir di sana, berdampingan dengan mobilnya.

"Alhamdulillah ya Allah ...." Alenna tersenyum lega karena akhirnya, orang yang ditunggu-tunggu telah pulang.

"Ada apa, Alenna? Apa Firdaus sudah pulang?" Aruni mengulangi pertanyaannya karena Alenna belum menjawab.

"Sudah, Ma. Mobilnya sudah ada di garasi. Alenna nggak sadar karena semalam, Alenna ketiduran di sofa saat nungguin Mas Fir."

"Ketiduran di sofa? Maksudmu, kamu ketiduran di sofa ruang tamu?"

"Emh, iya, Ma. Mungkin Alenna kecapekan karena seharian kemarin, Alenna sibuk bersih-bersih rumah." Alenna berusaha menjelaskan karena Aruni seperti kaget mendengar kata-katanya. Dia tidak sadar kalau kata-kata itu bisa memancing kecurigaan Aruni.

"Kenapa Firdaus nggak mindahin kamu ke kamar? Tega sekali dia. Apa jangan-jangan ... kalian nggak tidur sekamar lagi semenjak Firdaus hilang ingatan?" tanya Aruni yang langsung menaruh curiga.

Alenna tiba-tiba hening. Dia bingung harus menjawab apa. Haruskah dia jujur pada mertuanya?

"Alenna ... kamu yang sabar, ya, Nak, ya. Suamimu saat ini sedang hilang ingatan. Beri dia sedikit waktu untuk mengingat semuanya lagi," tutur Aruni karena kebisuan Alenna telah menjawab pertanyaannya.

"Iya, Ma." Alenna akhirnya buka suara setelah terdiam beberapa saat. Ternyata tidak diberi tahu pun, Aruni bisa menarik kesimpulan sendiri. Ibu mertuanya itu memang terlalu peka pada situasi.

"Ya sudah, kalau begitu. Mama tutup dulu, ya, teleponnya. Maafkan Firdaus jika dia telah melukai perasaanmu. Kamu harus sabar, ya! Mama akan selalu berdoa agar ingatannya bisa segera pulih."

"Iya, Ma. Terima kasih banyak." Panggilan pun terputus setelah keduanya saling mengucap salam.

Ketika azan subuh mulai menyapa, Alenna segera beranjak menuju tangga lalu menaikinya perlahan-lahan. Ingin rasanya dia naik hingga ke lantai tiga untuk mengecek keberadaan Firdaus di kamarnya. Apakah suaminya itu telah pulang dengan selamat? Namun, tiba-tiba dia urung karena takut. Dia takut Firdaus akan marah jika dia mengganggu istirahatnya.

Usai menggugurkan kewajiban dua rakaat di dalam kamar, Alenna kembali keluar untuk menyiapkan sarapan seperti biasanya. Namun, hingga semua masakannya telah matang dan tersaji di meja makan, Firdaus tidak juga turun. Alenna makin diperam cemas saat jam dinding telah menunjukkan waktu pukul tujuh. Lalu dia memutuskan untuk naik ke lantai tiga dan mengetuk pintu kamarnya.

Tok! Tok! Tok! Tok!

Untuk kesekian kalinya, Alenna mengetuk pintu kayu berwarna putih itu dengan agak kencang. Perasaan cemas makin melanda karena Firdaus tidak juga membukanya. Pada saat dia menekan kenop pintu, dia terkejut karena ternyata pintu tersebut tidak dikunci dari dalam.

"Mas!" panggil Alenna saat melihat sosok suaminya masih meringkuk di bawah selimut dengan mata yang masih tertutup.

Perlahan-lahan, wanita dengan rambut diekor kuda itu pun melangkah masuk untuk mematikan lampu tidur yang masih menyala di atas nakas. Ketika dia membuka korden yang ada di dekat ranjang, Firdaus tiba-tiba menggeliat karena wajahnya tertimpa sinar matahari yang menembus kaca jendela. Pria itu tersentak karena begitu membuka mata, sosok Alenna sudah berdiri di kamarnya.

"Kamu?" Firdaus segera melompat dari tempat tidur saking kagetnya. "Kenapa kamu bisa ada di sini? Siapa yang mengizinkanmu masuk?"

"Emh, maaf, Mas. Tadi, aku sudah berulangkali mengetuk pintu tapi sepertinya, Mas nggak dengar. Aku cuma mau memastikan kalau Mas Fir baik-baik saja. Semalam, aku nungguin Mas sampai ketiduran di ruang tamu," tutur Alenna dengan gugup. Jantungnya berdetak kencang karena takut. Firdaus seperti marah karena dia sudah lancang masuk ke kamarnya tanpa izin.

"Apa kamu nggak bisa tidur di kamarmu saja? Kenapa harus menungguku? Bukankah dari kemarin-kemarin, kita tidur di kamar terpisah?"

Alenna mendadak beku. Lidahnya terasa kelu untuk digerakkan. Tidak tahukah Firdaus betapa cemas dirinya tadi malam karena suaminya tidak pulang-pulang? Tidak tahukah pria itu betapa takut dirinya jika terjadi sesuatu pada suaminya di luar sana?

"Kenapa diam saja?" Firdaus bertanya sekali lagi. Pertanyaan yang membuat mata Alenna mulai berkaca-kaca.

"Aku menunggu Mas karena aku istri Mas. Aku sangat mengkhawatirkan suamiku yang pergi dari pagi dan nggak pulang-pulang hingga malam. Kenapa Mas nggak ngerti-ngerti juga?" tutur Alenna dengan cairan bening yang semakin berdesak-desakan memenuhi kolam netra. Perih hatinya mendengar kata-kata pria itu. Pria yang seolah-olah tidak pernah menganggapnya ada.

Alenna segera keluar dari kamar itu ketika air matanya telah berhasil lolos. Dia berlari kencang menuruni anak tangga sambil menyeka bulir bening yang terus jatuh di kedua pipi.

Setelah Alenna pergi dari hadapannya, Firdaus tiba-tiba terduduk di bibir ranjang. Entah mengapa, hatinya terasa ngilu ketika melihat wanita itu menangis. Jika memang benar Alenna istrinya, dia telah berdosa karena telah menyakiti perasaannya. Namun, mengapa setiap kali bersamanya, dia tidak merasakan perasaan cinta? Bahkan, dia merasa kalau wanita itu bukan siapa-siapanya.

Berbeda ketika dia berhadapan dengan Shella kemarin. Meskipun kenyataannya sudah dua tahun mereka tidak bertemu, perasaannya masih tetap sama seperti dulu. Jantungnya masih berdebar kencang setiap kali mata mereka saling beradu.

"Kenapa kamu bisa ada di sini, Fir? Kamu habis dari mana?"

Pertemuannya dengan Shella kemarin terbayang kembali di ruang mata.

"Aku ... emh, aku nggak sengaja lewat di sekitar sini, jadi aku memutuskan untuk mampir," jawab Firdaus dengan gugup setiap kali dia berkata bohong. "Kamu apa kabar?"

"Aku baik," jawab Shella yang diiringi dengan senyuman manis. "Kamu sendiri gimana?"

"Aku juga baik. Alhamdulillah. Oh, ya, ibu kamu apa kabar?"

Wajah Shella tiba-tiba berubah mendung saat Firdaus bertanya soal ibunya. Senyum di bibir merah itu mendadak sirna.

"Ibuku sudah meninggal, Fir. Setahun setelah ayahku meninggal di Singapura. Mereka berdua dimakamkan di sana."

"Apa?" Firdaus terpengarah. Sungguh dia tidak tahu kalau kedua orang tua Shella telah meninggal dunia. "Maaf, Shella. Aku tidak tahu soal itu."

Shella tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Fir. Ayo, silakan masuk. Akan kubuatkan teh untukmu. Kamu pasti haus, 'kan?"

Firdaus tidak segera menjawab. Dalam hati, dia merasa ragu karena di rumah itu tidak ada orang lain selain Shella. Namun, karena dia masih penasaran dengan masa lalu Shella dan ingin mendengarnya langsung dari mulut perempuan itu, dia lantas mengangguk sebagai jawaban.

Terpopuler

Comments

Chu Shoyanie

Chu Shoyanie

Silakan kamu kembalikan ingatan Firdaus Shel,tp ingatlah:kesembuhan Firdaus akan mengembalikan Firdaus pada Alenna...Aamiin🤲

2023-09-19

1

Siswanti Elie

Siswanti Elie

thorrr kapan alena bahagia..ga sabaaarrr mengikuti alurnyaaa🥲🥲

2023-09-15

1

Nar Sih

Nar Sih

kasihan sekali nasib mu alenna ,kamu istri yg baik tpi cobaan selau dtg pda mu ,sabarr ya alenna org yg sabarr di syg tuhan

2023-09-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!