Hari beranjak sore bude dan keluarga nya pun bersiap untuk pulang setelah menyimpan oleh-oleh yang sengaja ibu beli tadi, sedangkan aku membereskan rumah yang tadi ramai dengan anak dan keluarga bude.
Sedangkan Rudi, Tari dan anak nya pergi jalan-jalan setelah bude pulang. Mas Hendra dan bapak mertua ku, mereka berdua sedang asik mengobrol di teras sambil ngopi.
"Lis, ibu mau bicara sama kamu" ucap ibu yang sedang berdiri di pintu dapur sedangkan aku sedang sibuk membersihkan sisa-sisa tadi.
"Sebentar Bu, aku selesaikan pekerjaan aku ini dulu" ucapku sambil membilas peralatan yang sudah aku cuci.
Tak lama aku pun menyusul ibu mertua ku yang sudah pergi ke meja makan dan duduk disana, kulihat raut wajahnya yang serius hingga membuat aku bertanya-tanya dengan sikap ibu mertua ku yang demikian.
"Ada apa Bu?" ucapku ketika aku sudah berada di dekat nya dan menarik kursi untuk duduk di samping nya, ibu mertua ku itu pun mengeluarkan beberapa lembar uang merah muda dari kantung baju nya lalu menyodorkan kepadaku.
"Besok pergi lah ke dokter dan periksakan kesehatan rahimmu" ucapnya, aku mengernyit tak percaya apa yang ibu mertua ku lakukan itu apa dia tak percaya akan kesehatan rahimku? Sehingga dia harus berfikir demikian.
"Maksud ibu bagaimana?"
"Apa kamu tadi tidak dengar apa yang ibu katakan? Ibu hanya ingin memastikan kamu bisa apa enggak hamil. Itu saja" ucapnya enteng tanpa berfikir aku sakit hati apa tidak.
"Ya Allah Bu.... Aku sehat untuk apa periksa segala?"
"Ibu hanya ingin memastikan saja tidak ada salahnya bukan jika untuk memastikan kamu subur apa tidak nya, toh itu juga untuk kebaikan kalian. Lagian ibu tidak tau apa kah keluarga kamu itu ada yang bermasalah atau tidak bukan?" kata-kata ibu mertuaku saat ini sangat lah menyakitkan bagiku tak terasa air mataku menetes mendengarkan ucapan yang terlontar dari mulut tajam nya itu.
"Enggak ada yang bermasalah di keluarga ku Bu, walaupun aku yatim piatu dan hanya di asuh oleh bibiku tapi semua nya subur"ucapku menatap tajam ibu mertuaku yang ada di samping.
Mungkin karena mendengar suaraku yang agak meninggi atau bagaimana mas Hendra dan bapak pun kini berada di ruang makan melihat aku sedang mengusap air mata yang akan menetes ke pipi.
"Ada apa ini Bu? Kenapa Lisa sampai menangis seperti itu?" ucap bapak yang mendekat ke arah ku sedangkan mas Hendra masih memperhatikan ku di di sebrang meja.
"Tidak ada ko pak, ibu hanya minta Lisa besok periksa kesehatannya ke dokter. Gak salah kan?" Bapak mertuaku mengernyitkan dahi mendengar ucapan ibu.
"Kesehatan? Memang Lisa sakit?" tanya nya kemudian.
"Enggak sakit cuma ibu mau tahu saja kesehatan rahim Lisa, bagus apa ada masalah" ucap nya tanpa beban.
"Bu istighfar Bu.... Mereka ini kan juga baru nikah dan lagi bukannya ibu juga udah punya cucu dari Rudi? Jadi biarkan mereka menikmati masa pacaran dulu sebelum di sibukkan dengan anak, biarkan mengalir saja Bu. Toh jodoh,rezeki, maut itu Allah yang ngatur Bu" ucap Bapak mertua ku bijak.
"Ya apa salah nya sih pak lah wong cuma cek kesehatan saja lagian juga buat jaga-jaga kan gak jadi masalah" ibu mertua ku tak mau kalah.
"Ya sudah Bu Lisa ambil uang nya besok Lisa cek ke dokter" ucapku mengambil uang yang tadi ibu mertua ku sodorkan untuk periksa besok dan aku pun berlalu dari sana diikuti mas Hendra di belakang ku, kami pun masuk kamar.
Mas Hendra langsung memelukku agar aku lebih tenang mungkin dia juga merasa sakit atau apa aku pun tak tau tetapi dengan pelukan dari suami ku itu membuatku makin terisak di pelukannya.
"Sudah besok mas antar jika kamu mau kerumah sakit ya, tapi mas gak bisa ikut karena mas kan harus bekerja" ucap nya sambil mengelus punggungku dengan lembut.
"Sekarang kita istirahat aja biar besok lebih segar, lagi pula kamu susah lelah kan sedari tadi disibukkan dengan pekerjaan rumah yang aku lihat gak ada beres nya" mas Hendra pun melonggarkan pelukannya dan menatapku dengan sayang, aku pun hanya dapat menganggukkan kepala sambil mengusap air mata ku yang selalu keluar dari kedua mata ku, Kami pun terlelap dalam mimpi masing-masing dimana aku tidur di pelukan mas Hendra dengan nyaman.
____
Pagi ini seperti biasa aku setelah sholat subuh langsung menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan untuk semua keluarga Tak ada kata lelah walaupun aku disini seperti pembantu tak ada yang membantu ku semua orang apa lagi ibu mertua ku tak pernah sekali pun membantu ku.
Setelah semua siap baru lah satu persatu orang yang berada di rumah ini keluar dari kamar nya masing-masing untuk sarapan dan aku setelah selesai gegas ke kamar untuk mandi dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit seperti janji ku semalam pada ibu mertua ku.
Hari ini aku akan memeriksakan kesehatan rahimku agar dia lebih puas dan senang karena keinginan nya terpenuhi.
"Dek kamu jadi ke rumah sakit hari ini?" tanya mas Hendra ketika kami berada di kamar, mas Hendra yang sudah siap dengan pakaian kerja yang tadi pagi aku siapkan dan aku yang akan masuk ke kamar mandi pun menghentikan langkah ku untuk menatap suamiku itu.
"Iya mas jadi, apa kamu juga jadi mengantar aku untuk ke rumah sakit?" Tanya ku balik.
"Iya nanti aku antar sekalian aku berangkat kerja, bagaimana?"
"Iya boleh lah dari pada aku nanti harus menunggu taxi kan lebih baik aku ikut kamu, aku mandi dulu ya" ucapku dan segera masuk kedalam kamar mandi sedangkan mas Hendra aku tak tau apa yang di lakukan entah keluar atau masih terpaku di kamar kami.
Setelah beberapa menit aku di kamar mandi dan keluar ternyata mas Hendra sudah tak ada, ah pasti mas Hendra di ruang makan. Aku pun langsung keluar kamar setelah tadi aku sudah siap pergi.
"Mau kemana mbak? Sudah rapih banget" ucap tari melirik ke arah ku dari atas ke bawah memperhatikan semua yang aku kenakan.
"Aku mau ke rumah sakit tar" ucap ku sambil duduk di samping mas Hendra dan mengambilkan makanan untuk nya.
"Loh siapa yang sakit?" ucap Rudi kemudian mungkin dia pun penasaran.
"Lisa mau cek kesehatan rahimnya" bukan aku yang menjawab tetapi ibu mertua ku sejenak mata Rudi dan tari aku lihat mengarah ke ibu dengan rasa tanda tanya besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments