bab 2

"Lis makan gorengan nih" bapak Yudi yang tak lain adalah bapak mertua ku datang dengan membawa keresek di tangannya aku pun yang sedang duduk untuk menulis menghentikan sejenak dan menatap ke arah bapak mertua ku itu.

"Dari mana ini pak?" tanya ku berbasa-basi

" Tadi bapak beli dari Bu Hindun dia lewat depan rumah, ayo dimakan nanti pasti tenaga kamu akan terkuras lagi waktu ayu pulang jadi sekarang isi dulu tenaga kamu ya" ucap nya sambil tersenyum ke arahku.

"Kamu masih ada uang Lis?" Tanya nya lagi.

"Masih pak" jawab ku jujur karena memang ibu baru saja memberikanku uang bulanan dan belum sempat aku belikan kebutuhan rumah ini.

"Jika uang kamu ga cukup bilang ya sama bapak" ucap nya lagi.

Ya tanpa ibu tau bapak selalu memberikan ku uang tambahan, bapak juga sering membantuku dalam mengerjakan pekerjaan rumah ini ketika bapak tak pergi bekerja dan tak ada orang di rumah ini walaupun hanya menyapu atau mencuci piring tetapi itu sudah meringankan pekerjaanku selama ini.

"Makasih ya pak" ucapku tulus kepada bapak mertua ku.

"seharusnya bapak yang berterimakasih sama kamu Lis, kamu begitu sabar dalam menghadapi keluarga ini terutama ibu. Kamu tau sendiri lah bagaimana sifat ibu kamu itu sementara selama ini yang menutupi semua kekurangan kebutuhan keluarga ini adalah kamu dari hasil kerja kamu sebelum nikah" ucap nya sambil memandang dan tersenyum ke arahku.

" Gak apa-apa pak tugas Lisa mencukupi kebutuhan keluarga ini jika Lisa bisa" aku pun kembali menatap bapak mertua ku sambil tersenyum pula.

"Sebenarnya bukan maksud bapak mendiamkan sifat ibu kamu itu Lis, tetapi bapak malas jika harus ribut kamu tau kan jika bapak sedang menasehati ibu kamu. Jika bapak bilang satu kata maka ibu kamu akan berkata seratus bahkan lebih" ucapnya sambil menghela nafas panjang.

Ya aku tau itu karena ibu akan sangat cerewet ketika di nasehati oleh bapak dan bapak juga cendrung menghindari pertengkarannya dengan ibu mertua ku itu.

Sedang asik nya aku dan bapak berbincang terdengar suara dari depan yang sangat aku kenal, aku bergegas untuk melihat nya.

"assalamualaikum Tante" ucap anak manis didepanku ini yang sedang bernyanyi sambil membuka sepatu nya di teras, aku tersenyum ketika melihat nya seperti itu ya dia adalah ayu anak dari tari yang baru saja pulang sekolah karena memang sudah waktu nya dia pulang.

"wallaikumsalam anak cantik, baru sampai?" ucapku berbasa-basi sama ayu.

"hm..." jawab ayu

"ganti baju lalu makan dulu ya yu, Tante sudah siapkan makan siang kamu di meja makan" ucap ku masih berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan gerak-gerik anak itu.

"ok Tan, nanti setelah ini aku langsung ganti baju, Oya mamah mana Tan kok aku ga liat?" tanya nya sambil menyimpan sepatu nya di rak sepatu.

"Pergi sama nenek, mungkin ikut arisan atau yang lain Tante gak tau sayang" ucapku sambil berjalan beriringan bersama ayu masuk kedalam rumah.

Seperti biasa jika anak nya tari pulang aku akan berubah pekerjaan menjadi guru sekaligus baby sitter anak nya sedangkan tari kalau tidak pergi ya dia asik sendiri dengan dunia nya, Dia tak memperdulikan anak nya sendiri.

" Coba ya kalau mamahku itu Tante Lisa mungkin aku lebih senang" gumam ayu ketika dia melihat ku mengambilkan makanan nya.

Aku yang mendengarnya hanya tersenyum memandang wajah polos anak itu, ya walaupun masih sekolah dasar anak tari ini terbilang dewasa sebelum usia nya tapi tetap namanya anak-anak tetap lah anak-anak yang butuh perhatian dari orang tua nya.

"Habiskan makannya setelah itu kita belajar, ada pr kan dari sekolah?" tanya ku sambil menyodorkan makanan dihadapan ayu agar anak itu makan.

Ayu menganggukkan kepala nya dan mulai berdoa dan makan apa yang aku sediakan, aku pun duduk di samping nya menemani dia makan sampai habis setalah itu aku ajak dia ke ruang tv untuk mengerjakan pekerjaan sekolah nya sambil sesekali kami bercanda.

****

"Lis.... Besok tolong kamu belanja yang agak banyak ya, karena besok akan ada banyak orang datang ke rumah ini" ucap ibu mertua ku ketika kami sedang berkumpul di ruang keluarga.

Seperti biasa kalau sudah makan malam kami sempatkan berkumpul barang sejenak walau hanya lima menit di sana, aku pun menatap ibu mertua ku.

" Lusa keluarga dari kampung ibu akan datang kemari berkunjung sekalian ibu adakan saja kumpul keluarga besar" seakan mengerti ibu mertua ku pun menjelaskan kembali.

"Baik Bu nanti aku belanja kebutuhan untuk lusa, tetapi seperti nya uang yang kemarin kurang" cicitku di akhir kalimat dan itu mampu membuat ibu mertua ku emosi.

"Jadi maksud kamu uang yang baru kemarin ibu kasih ke kamu itu kurang? Atau sudah habis hah!!" ucapnya emosi sampai mata nya melotot tajam ke arahku.

"Bukan habis Bu tapi mungkin tidak cukup jika berbelanja banyak sekalian belanja bulanan"

"Alah alasan saja kamu ini Lis, bilang saja jika uang yang kemarin ibu kasih itu sudah habis untuk kebutuhan pribadi kamu, kamu ini jadi istri kok tidak bisa berhemat sama sekali sih" ucap nya lantang, aku yang mendengarnya Pun menghela nafas panjang dan melirik sekilas ke arah suami ku yang hanya memberikan ku usapan lembut di punggung ku, Aku pun terdiam tak menjawab lagi ocehan ibu mertua ku itu.

"Sudah lah Bu jika ibu masih punya kasih saja Lisa untuk berbelanja kebutuhan besok" ucap bapak mertua ku mencoba meredakan emosi istri nya.

"Bapak ini selalu saja membela mantu tersayang nya, bukannya bela ibu. Kalau mau bapak saja yang kasih uang ke si Lisa sana tapi ingat uang bulanan ibu tetap utuh" ucap nya masih emosi.

" Ya sudah lah pak nanti aku pakai uang bulanan saja" ucapku mengalah agar tak panjang ceritanya jika di teruskan aku yakin Omelan ibu mertua ku ini akan sampai pagi.

"Kenapa gak dari tadi saja sih kamu tu bilang seperti itu lagian gak akan kekurangan juga jika uang bulanan rumah ini buat besok" ucap nya lagi.

"Ya sudah yuk masuk kamar saja lagian sudah malam, kasian itu lihat si ayu besok sekolah" ucap mas Rudi kemudian.

Dan malam itu pun di tutup dengan drama ibu yang emosional dan sekarang aku masuk ke kamar bersama mas Hendra.

"Memang berapa lagi yang kamu butuhkan Lis untuk belanja besok?" ucap mas Hendra ketika kami sampai di kamar.

"Kalau bisa sih mas tambahin jika mau masak banyak, aku yakin uang kemaren pasti kurang banyak juga, apa lagi aku sudah pakai untuk jajan ayu tadi" ucapku menatap mas Hendra.

"loh kenapa jajan ayu kamu yang kasih Lis? Bukannya ada taro ibu nya?" tanya mas Hendra kemudian.

"Aku gak tau mas tapi tadi kata ayu dia tak di kasih jajan sama tari" ucapku jujur.

"Astaga... Ibu macam apa dia, sampai jajan anak saja tidak dia kasih" mas Hendra memijat pangkal dahi nya mungkin merasa pusing.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!