Bab 4

"Tumben kamu masak banyak dek?" ucap mas Hendra ketika aku menyodorkan kopi yang dia minta tadi.

"Iya mas kata ibu nanti akan ada keluarga bude beserta anak cucu nya datang sekalian akan ada acara keluarga" ucapku dan kembali lagi ke dapur untuk mengecek masakan yang baru aku tinggalkan.

"Lis ini kamu bersihkan terus kamu potong-potong ya" ucap ibu mertua ku yang entah dari mana datang nya aku tak memperhatikan karena aku sedang membolak-balikkan masakanku, aku pun memutar tubuhku agar bisa melihat apa yang ibu mertua ku bawa ternyata beberapa kantong kresek.

Setelah mengucapkan hal itu ibu pun pergi ke depan meninggalkan aku beserta kresek-kresek yang beliau bawa tadi, aku hanya bisa menghela nafas panjang.

"Sudah nanti mas bantuin ngerjain semua nya kita sarapan dulu yuk, kalau kamu sudah selesai" ucap mas Hendra yang membuat hati ku berbunga, tumben banget mas Hendra mengerti kalau aku memang belum sarapan.

Aku menuruti apa yang mas Hendra katakan tadi dan meninggalkan semua pekerjaan aku yang ada di dapur, aku yakin kalau nanti akan banyak lagi pekerjaan setelah bude datang jadi lebih baik aku mengisi tenaga dulu.

Aku sudah tak melihat tari di meja makan mungkin dia sudah masuk ke dalam kamar aku tak begitu perduli dan aku pun duduk di samping mas Hendra melayani nya mengambilkan makanan yang dia mau akan tetapi ketika aku akan mengambil makanan untuk ku, kamu menikmati makanan dalam diam disana hanya ada aku, mas Hendra, ibu dan bapak saja.

"Nanti jangan lupa yang ibu bawa itu di bersihkan dan di potong-potong Lis" ucap ibu ketika kami semua telah selesai makan, aku hanya menganggukkan kepala dan berlalu dari meja makan sambil membawa piring kotor bekas kami makan

Aku meletakan piring-piring itu di tempat cucian dan membawa wadah untuk buah-buahan yang ibu bawa lalu mencuci baru nanti aku akan memotong nya menjadi beberapa bagian.

"Lis apa yang mas bisa bantu? Sini mas bantu" ucap mas Hendra yang sedang berdiri di pintu dapur sambil menatapku, hal sekecil ini yang membuatku berbunga-bunga pada mas Hendra.

"Lis sudah kamu buat dulu minuman buah-buahan biar nanti tamu datang langsung di suguhkan minuman dingin" ucap ibu mertua ku yang keluar dengan penampilan yang sudah berbeda dari yang tadi.

Kini waktu sudah menunjukan jam satu siang tak lama terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah ini tak lama terdengar suara pintu mobil juga tertutup, ternyata keluarga dari ibu sudah datang.

rumah yang ramai tambah ramai dengan kehadiran bude, anak dan cucu nya. Cucu bude langsung bermain dengan ayu karena memang umur mereka tak jauh berbeda jadi mereka bermain bersama.

Sedangkan para orang tua dan anak bude sedang bercerita dan bercengkrama bersama ibu san tari mereka tak memperhatikan anak-anak mereka yang sedang bermain.

"Sudah waktu nya makan mbak, yuk kita langsung ke ruang makan saja"ucap ibu mertua ku sambil menggiring keluarga bude sari.

"Lis kamu sudah siapkan semua nya kan di sana?" ucap ibu ketika mendekat ke arahku yang sedang asik menata semua hidangan yang telah aku masak.

"Sudah semua Bu itu sudah aku tata di meja makan" ucapku sambil membereskan bekas masakan yang masih berserakan di dapur.

"Ya sudah kalau begitu" ibu berlalu dari dapur dan langsung menuju meja makan yang disana sudah ada keluarga bude sari.

"Silahkan mbak di makan setelah ini kita bisa lanjut cerita lagi" ujar nya tertawa.

Setelah selesai makan aku melihat ayu yang sedang menahan kantuk beserta cucu bude, aku pun mendekat dan mengelus kepala ayu.

"kalian mengantuk?" hanya anggukan kepala yang aku dapatkan dari mereka dan aku pun tersenyum lembut.

"kalau begitu kita tidur di kamar ayu saja bagaimana?"

"Aku gak mau Tante pasti nanti akan sempit di tempat tidur dan juga panas, aku mau tidur sambil nonton tv aja" ucap ayu melontarkan pendapatnya dan cucu bude juga menyetujui hal itu karena memang mereka ada lima orang beserta ayu jadi tak akan muat jika harus di tempat tidur.

"baik lah kalau begitu, Tante bawakan bantal saja dan menggelar permadani bagaimana?"

"Setuju....." ucap mereka serempak sambil tersenyum.

Kini anak-anak pun tertidur sambil menyalakan televisi dengan acara kartun anak kembar botak kesukaan anak-anak.

"Heh kok mereka tidur disini!" ucap salah satu perempuan yang datang ke arah aku dan anak-anak.

"Heh kamu siapa?!" ucap nya dengan nada tinggi ke arah ku, sedangkan aku hanya diam dengan pandangan bertanya sama seperti diri nya.

Tak lama ibu mertuaku dan bude sari datang mungkin mendengar suara menggelegar perempuan ini yang menurutku tak sopan karena dia bikin ribut dirumah orang.

"Ada apa sih Nina? Suara kamu itu loh bikin kami kaget?" ucap bude sari sambil mendekat kearah perempuan yang masih setia menatapku penuh permusuhan itu.

"Itu loh Bu, masa anak-anak tidur di depan tv begitu? Bukannya di kamar dan itu siapa juga perempuan yang bersama anak-anak!!" ucapnya sinis.

"owalah dia itu istrinya Hendra..." ucap bude sari.

"Eh iya Lis kenapa anak-anak tidur disini? Kenapa kamu tidak membawa mereka ke kamar?" ucap ibu yang melihat ke arah anak-anak yang telah terlelap sambil menonton.

"Mereka gak mau Bu, kata nya pasti panas di dalam kamar dan pasti akan berdesakan juga kata nya jadi ayu dan yang lain minta tidur disini" ucapku kemudian.

"Alah alasan aja itu bi!" ucap perempuan yang baru aku tau nama nya Nina itu, aku hanya dapat menaikan alisku dan tersenyum kearah nya.

"Ya sudah kalau itu kemauan anak-anak biarkan saja bagaimana mbak?"Tanya ibu kepada bude sari.

"Ya sudah lah biarkan saja, yuk kita lanjutkan ngobrol nya lagian anak-anak juga anteng ga rewel kan" ucap bude kemudian berlalu dari sana bersama ibu dan Nina.

"Bi... Mas Hendra bukannya sudah lama ya menikah nya?" ucap Nani sambil melewati ku, aku tak tau apa tujuan Nina menanyakan hal itu pada ibu sedangkan ibu hanya menggunakan kepala nya.

"Heran kok belum ada tanda-tanda mantumu itu memberikan kamu cucu er?" kini suara bude sari yang terdengar.

"Jangan-jangan mantu mu itu mandul lagi, sedangkan Nina saja yang baru nikah sudah di berikan anak di pernikahan mereka, apa kamu tidak ingin memeriksakan kesehatan mantu mu itu er? Siapa tau mantumu itu tidak sehat karena sampai sekarang belum memberikanmu cucu" ucapan bude sari bagaikan pisau yang menusuk hati ku siapa yang tidak ingin hamil, semua juga ingin tetapi bukankah anak itu hadiah dari sang pencipta yang dititipkan kepada kita?

Kita hanya dapat berusaha dan Allah yang akan menentukan memberikan atau tidak kepada kita.

Terpopuler

Comments

Mirna Loden Mirna Mirna

Mirna Loden Mirna Mirna

ko saya baca2 tpi trnyata crtanya sma persis kaya novel2 yg lain.jd mlz bcanya slx gk ada perbedaan sma skli

2023-09-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!