"Lalu kenapa selama ini abang berpenampilan seperti preman bahkan suka keluyuran di pasar sama terminal? Kan orang ngira abang ini preman beneran?" Nizma kini lebih berani mengatakan apapun mengenai Bagas.
"Ya itu untuk penyamaran saja Nizma. Sekalian aku lihat situasi dan merekrut orang. Dengan begitu aku bisa menambah pasukan." ujar Bagas.
"Oh begitu." ucap Nizma.
"masih ada yang mau ditanyakan?" ujar Bagas lagi. Kali ini dia tidak ingin menutupi apapun dari istrinya.
"hmm.. Ada. Banyak sih. Tapi abang nggak capek jawab pertanyaan aku terus?" ucap Nizma kemudian.
"Selama kamu seneng kenapa enggak?"
Nizma pun tersenyum. Memang benar. Banyak sekali yang ingin dia tahu tentang suaminya.
"Abang, kenapa meninggalkan pesantren?" kali ini pertanyaan Nizma memang sedikit sensitif.
Bagas terdiam untuk beberapa saat. Bahkan mimik mukanya berubah jadi serius.
"Kalau abang nggak mau jawab nggak ap_"
"Aku marah dengan takdir Tuhan. Selama ini aku selalu menjalankan perintah-perintahnya. Menjadikan agama sebagai prioritas tertinggi tapi apa? Begini balasannya. Orang-orang yang aku cintai mereka pergi meninggalkanku sendirian. Bahkan mereka yang ku percaya justru berkhianat." Bagas menatap lurus ke arah luar jendela. Mengingat beberapa kejadian pahit yang dulu dia alami.
Paham akan apa yang dirasakan Bagas, kini Nizma duduk mendekat Bagas. Dia meraih tangan Bagas dan mengusapnya dengan lembut.
"Abang, Allah bukannya membenci abang. Tapi Allah sedang menguji kesetiaan abang. Seberapa kuat iman abang untuk menghadapi semua ini. Abang ingat tentang firman Allah dalam surah Al-Kahfi ayat 28, Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." ucap Nizma lembut.
"Maaf bukannya aku menggurui Abang, tapi kita sama-sama umatnya. Kita diciptakan oleh Allah dan seburuk apapun masalah yang kita hadapi tapi masih diberi kesempatan untuk hidup. Bahkan Abang masih diberi kesempatan memiliki semua ini yang orang lain bahkan belum mampu untuk menggapainya." Panjang lebar Nizma menjelaskan dan tampaknya Bagas mulai bereaksi.
Dia mengusap kasar wajahnya. Merenungi setiap ucapan yang keluar dari mulut istrinya.
"Kamu benar Nizma. Mungkin aku terlalu egois. Saat itu aku benar-benar sendiri jadi pikiranku terlalu buntu. Jika saja aku bertemu denganmu sejak dulu mungkin aku tak akan tersesat sampai seperti ini." ujar Bagas.
" nggak ada yang terlambat Abang, selama abang punya tekad dan niat yang kuat InsyaAllah semua pasti dimudahkan." Nizma kini mengusap lembut pipi Bagas. Mencoba untuk memberikan semangat kepada suaminya.
"Apa aku masih pantas kembali seperti dulu sementara tubuhku sudah sekotor ini?" ucap Bagas lirih. Menatapi tatto-tatto yang tergambar di permukaan kulitnya.
"Allah Maha Pemurah dan Pemaaf abang. Allah tahu isi hati abang." mendengar tutur kata Nizma membuat Bagas langsung menariknya ke dalam pelukan.
"Kata-katu benar-benar membuat hatiku terasa sejuk Nizma.ungkin jika orang lain yang berbicara padaku bisa saja aku marah dan tidak terima. Tapi cara ku menyampaikannya benar-benar menyentuh hati." ujar Bagas.
"Alhamdulillah abang, aku juga senang abang mau menerima ucapanku." ujar Nizma.
"Ya, walaupun kamu terkadang nyebelin, cerewet dan cengeng tapi kamu adalah sosok wanita yang begitu dewasa pikirannya. Dan kamu pemberani mengungkapkan semuanya kepada Abang." Bagas mengulas senyum sambil mengusap puncak kepala Nizma yang tertutup oleh Hijabnya.
"Aku melakukan itu semua karena aku cinta Abang. Aku mau abang kembali ke jalan yang benar." ujar Nizma.
"Beneran kamu cinta abang?" Bagas menatap Nizma lekat.
"Iya abang. Aku cinta Abang." jawab Nizma.
"Kalau begitu buktiin dong." goda Bagas.
Nizma pun hendak membuktikannya. Dia mengangkat wajahnya sejajar dengan Bagas. Kedua tangannya memegang pipi Bagas. Saat dirinya hendak maju untuk mencium Bagas tiba-tiba sebuah ketukan di pintu membuyarkan kegiatan mereka.
"Hss.. Siapa sih. Ganggu aja." gerutu Bagas kesal.
"Buka dulu abang siapa tahu penting." Nizma pun beringsut menjauh dari Bagas dengan wajah yang sudah merah merona.
Bagas pun membuka pintu dan melihat Roy, salah satu anak buahnya berdiri depan pintu.
Bagas tahu bahwa Roy selalu menyampaikan berita penting sehingga pria itu pun dipersilahkan masuk.
"Ada apa Roy?" tanya Bagas.
"Bos, klien kita Tuan Prabu ingin pendampingan langsung dari Bos saat kunjungan ke Singapura nanti. Beliau tidak ingin digantikan orang lain selain Bos sendiri yang mengawalnya." ucap Roy.
"Kapan dan berapa hari?" tanya Bagas.
"Lusa, selama satu minggu Bos." Roy sedikit melirik ke arah Nizma yang dia tahu mungkin Bagas akan mempertimbangkan pekerjaan ini.
"Aku kabari nanti. Aku akan bicara dengan istriku dulu." ujar Bagas.
"Baik Bos." Roy pun dengan sopan menunduk kepada Bagas dan Nizma sebelum pergi dari ruangan itu.
"Abang mau pergi?" tanya Nizma sesaat setelah Roy pergi.
"Dia klienku sudah lama. Dan dia selalu mau aku yang terjun langsung mendampinginya. Tapi jika kamu tidak ijinkan maka aku tidak akan pergi Nizma." Bagas pun sebenarnya tak tega melihat raut sedih di wajah Nizma.
"Abang pergi aja nggak apa-apa kok. Nizma berusaha tersenyum meski dalam hati dia berat.
Untuk pertama kalinya Bagas akan jauh darinya. Tapi bagaimanapun Nizma harus membiasakan diri karena pekerjaan Bagas bisa saja membuatnya pergi sewaktu-waktu.
"Beneran nggak apa-apa?"
Nizma mengangguk disertai dengan senyuman. Menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Asal abang mau menjaga hati untukku. Meskipun abang belum memiliki perasaan padaku." Nizma tersenyum miris.
Tentu saja Nizma berkata begitu. Cinta sepihak yang dia jalani memang sulit. Tapi setidaknya dia masih memiliki stok sabar dan percaya suatu saat nanti Bagas akan membalas cintanya.
Sementara Bagas sendiri ingin mengatakan perihal perasaannya. Namun entah kenapa hatinya masih ragu. Mulutnya masih sangat sulit untuk mengucapkan kata cinta meski hatinya sendiri mulai tergerak untuk Nizma.
"Selama aku pergi lebih baik kamu tinggal di rumah Abah. Aku tidak tenang jika kamu di rumah sendiri." meskipun Bagas membawa Nizma ke rumah Ustad Yusuf namun dia juga berniat mengutus anak buahnya untuk tetap mengawasinya. Dia tidak mau kejadian seperti yang dilakukan Arya saat itu terjadi lagi kepada Nizma.
Nizma pun menurut saja. Sepertinya seminggu sendirian di rumah juga akan membuatnya bosan. Setidaknya ada umi yang akan menemaninya disana.
"Masih ada waktu, kamu mau kemana?" Kini Bagas sedikit melonggarkan dirinya dan menuruti kemauan Nizma.
"Sebenarnya aku pengen nonton film di bioskop Abang. Boleh ya?" Nizma tersenyum manis berharap Bagas mau menurutinya.
"Baiklah ayo." Bagas pun langsung beranjak dari kursinya dan pergi menuju bioskop yang Nizma mau.
Kebetulan bioskop tersebut berada di dalam Mall. Karena film yang akan diputar baru mulai satu jam lagi maka Bagas memutuskan untuk mengajak Nizma berbelanja.
"Apapun yang kamu mau beli saja." Ini memang pertama kalinya Bagas mengajak Nizma pergi keluar.
Tapi sepertinya Nizma masih malu-malu untuk meminta sesuatu. Sehingga Bagas lah yang akhirnya berinisiatif untuk membelikan berbagai macam barang untuk Nizma.
Mereka pergi ke salah satu butik di mall tersebut. Lebih tepatnya butik khusus wanita. Disana Bagas membebaskan Nizma untuk memilih pakaian.
"Abang disini mahal-mahal." bisik Nizma.
"Kamu lupa kalau suamimu ini pemilik hotel berbintang?" bisik Bagas menyombongkan diri.
"Ambil apapun yang kamu suka." ujar Bagas.
Akhirnya Nizma pun memilih beberapa gamis. Sementara Bagas menunggu Nizma dia pun iseng melihat-lihat berbagai pakaian yang ada di butik tersebut.
Namun kedua netranya langsung berbinar saat melihat salah satu sudut temaram yang menampilkan berbagai macam pakaian dalam wanita. Serta berbagai lingerie yang terpajang.
Diam-diam Bagas pun memiliki ide nakal untuk membelikan pakaian tersebut untuk Nizma.
"Mbak, bisa pilihkan pakaian itu yang cocok untuk istri saya di sana? Kalau bisa yang paling sexy ya mbak." bisik Bagas kepada salah satu karyawan.
Karyawan tersebut pun mengangguk meski dalam hati tertawa geli melihat keisengan Bagas.
Akhirnya Nizma selesai memilih lima potong gamis. Mereka membawa barangnya menuju kasir.
"Perasaan aku beli lima baju kenapa paper bag nya jadi banyak?" gumam Nizma.
"Ya mungkin baju kamu makan tempat kalim" ucap bagas yang sebenarnya sedang menahan senyum.
"Kita cari cemilan sama minum dulu yuk." Bagas menyerahkan belanjaan mereka kepada anak buahnya yang sengaja diutus untuk mengikutinya.
Sementara Bagas dan Nizma sedang membeli minuman dari kejauhan ada seorang wanita yang memperhatikannya.
"Bagas? Bersama siapa dia?" Wanita itu merasa begitu kesal saat melihat Bagas nampak berjalan dengan Nizma dengan mesra.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Neulis Saja
pasti pelakor kan?
2024-01-28
1
Mari Anah
pinisirin siapa tuh perempuan....
2023-10-11
1
Nur Lizza
duh ada LG ulet keket
2023-10-11
2