Acara tabligh di pesantren itu terjalin sangat meriah. Semua santri dan santriwati turut mengikuti acara tersebut. Bahkan semua masyarakat sekitar pun ikut memeriahkannya. Dan di momen ini Ustad Yusuf mengenalkan secara khusus Bagas sebagai menantunya.
Sebenarnya Bagas begitu enggan tampil didepan khalayak ramai seperti ini. Terlebih pekerjaannya yang selalu berjalan dibelakang layar membuatnya semakin canggung.
Dengan bangganya Ustad Yusuf memberitahu semua orang. Namun di antara mereka justru diam-diam mencibirnya.
Kebanyakan dari mereka selalu mencibir tentang penampilan Bagas yang dinilai tidak pantas bersanding dengan Nizma.
Sementara Nizma sendiri tak pernah mempermasalahkan penampilan Bagas karena Nizma tau Bagas merupakan sosok yang apa adanya dan dia selalu mengikuti kata hatinya.
"Menantu modelan begitu kok dibanggakan. Justru yang ada juga malu punya menantu berandal." ucap salah seorang yang ikut dalam acara tersebut.
"Denger-denger kan Nizma emang tergiur sama mas kawinnya. Secara emas batangan sama uang milyaran. Jangan-jangan suaminya bandar judi lagi."
Gunjingan para warga tersebut nyatanya sampai juga ke telinga Nizma. Meski gadis itu selalu tampak ceria dan tegar namun nyatanya seorang manusia biasa. Dia memiliki stok kesabaran yang asa batasnya.
Tak ingin membuat hatinya sedih Nizma pun berjalan meninggalkan acara sebelum selesai. Dia hendak kembali ke rumahnya namun tiba-tiba Aisyah mendatanginya.
"Nizma ada apa? Kenapa wajahmu tampak sedih begitu?" sebagai seorang sahabat Aisyah tentu tahu bahwa Nizma sedang dalam keadaan kurang baik.
"Nggak apa-apa, Sya. Cuman capek aja kali. Aku balik duluan ya." ucap Nizma berbohong. Walaupun dia memang sedikit kurang enak badan namun alasan utamanya bukan itu.
"Kamu yakin baik-baik aja? Mau ditemani nggak? Apa mau dipanggilkan abang Bagas?" tawar Aisyah.
"Nggak perlu Aisyah, aku bisa pulang sendiri kok. Lebih baik kamu kembali aja bantu-bantu yang lainnya." ucap Nizma sebelum kembali berjalan menuju kediamannya.
Jarak antara pesantren dengan kediamannya tak jauh sebenarnya namun jalannya terhalang bangunan lain sehingga dia harus memutar.
Saat di tengah jalan Nizma sangat terkejut ketika sebuah tangan menarik lengannya. Nizma yang terkejut pun langsung memekik namun lagi-lagi suaranya terhalang karena sebuah tangan langsung membungkam mulutnya.
Sekuat tenaga Nizma meronta pada akhirnya dia bisa terbebas. Dia sangat terkejut saat melihat Arya yang berani melakukan hal itu kepadanya.
"Astaghfirulloh.. Arya. Kenapa kamu melakukan ini padaku." Nizma begitu kesal karena ulah Arya yang bisa dibilang kurang ajar ini.
"Nizma, aku hanya ingin bicara denganmu." ujar Arya yang masih tak mau melepaskan tangannya dari Nizma.
"tapi lepas dulu. Mau bicara apa sih?"
"Apa kamu nggak menyesal menikah dengan Bagas Niz? Ini belum terlambat aku siap membantumu terbebas dari dia. Aku cinta kamu dan aku bisa membuatmu lebih bahagia Nizma." ujar Arya dengan penuh percaya diri.
"Apa maksudmu Arya. Siapa bilang aku menyesal menikah dengan Abang?."
"Aku bisa lihat Nizma. Kamu itu gadis baik-baik dan tidak sepantasnya kamu memiliki suami berandalan seperti Bagas. Dia bukan orang baik." Arya masih saja berusaha menghasut Nizma.
"Kamu nggak tau apa-apa tentang abang. Aku lebih tahu Arya dan aku akan tetap memilihnya sebagai suamiku." dengan kesal Nizma mencoba untuk melepaskan tangan Arya namun mendengar jawaban itu membuatnya semakin mencengkeram lengan Nizma.
"Jangan bilang kamu menyukai Bagas, Nizma?" Dengan kedua netra yang memerah Arya semakin berang.
"Iya aku memang menyukai Abang Bagas, aku cinta dia." Nizma pun menatap Arya dengan nyalang.
"Sakit Arya lepaskan." Nizma mulai meringis saat melihat pergelangan tangannya tampak merah.
"Nggak ada cara lain kamu harus..."
BUGHH...
"berani kau menyentuh istriku lagi akan ku pastikan kau habis di tanganku." Bagas langsung melayangkan bogem mentah ke wajah Arya hingga tersungkur.
Otomatis tangan Arya langsung terlepas dari pergelangan tangan Nizma. Bagas pun kembali menarik kerah baju koko Bagas. Dan kembali melayangkan bogem nya namun seketika dihentikan oleh Nizma.
"Abang udah, jangan main kekerasan." bukannya berniat untuk membela Arya namun Nizma hanya tak suka dengan tindakan kekerasan.
"Kamu belain ****** ini?" Bagas melotot menatap Nizma.
"Bukan.. Bukan begitu abang aku hanya.." Belum selesai Nizma meneruskan ucapannya tiba-tiba Bagas menarik pergelangan tangannya dengan keras.
Bekas cengkraman Arya saja masih sakit kini Bagas kembali menambah cengkraman itu hingga membuat Nizma meringis menahan nyeri.
Bagas membawa Nizma masuk ke dalam kamar. Beruntung di rumah tak ada siapapun sehingga tak ada yang melihat kemarahan Bagas.
Sampai di kamar tubuh Nizma langsung dihempaskan sampai terpelanting di atas ranjang.
"Apa-apaan kamu Nizma. Baru ditinggal sebentar sudah berduaan dengan pria lain? Merasa cantik kamu?" dengan tatapan nyalang Bagas meraih rahang Nizma.
Gadis itu sangat ketakutan dan kedua netranya sudah basah. Untuk pertama kalinya Nizma melihat kemarahan di wajah suaminya.
"Abang salah paham." betapa sakit hati Nizma namun dia bahkan tak mendapatkan kesempatan untuk menjelaskannya karena Bagas terus mencecar dirinya.
"Lalu kenapa kamu bisa ada di sana? Kalau orang lain melihatnya apa kamu nggak malu?"
"M-maaf..." Nizma semakin terisak.
Bagas begitu kesal namun ketika melihat pergelangan tangan istrinya yang memerah membuatnya iba.
Bagas pergi keluar kamar tanpa mengatakan apapun. Hal itu membuat Nizma ketakutan. Dia khawatir jika Bagas akan kembali menyerang Arya.
Dengan segera Nizma mengikuti Bagas.
"Abang.. Abang mau kemana?" Nizma mencari keberadaan Bagas namun rupanya pria itu justru ada di dapur.
"Kenapa kamu keluar? Sudah dikamar saja." ujar Bagas.
"Aku pikir abang mau mencari Arya lagi." ucap Nizma lirih.
"Ngapain? Buang-buang tenaga. Sini tangan kamu." Bagas meraih tangan Nizma.
Disingkapnya lengan gamis Nizma dan Bagas mulai mengompreskan waslap yang baru dia rendam dengan air hangat.
Nizma sedikit meringis namun seketika Bagas melakukannya dengan lebih lembut.
"Masih terasa sakit?" tanya Bagas yang dijawab gelengan kepala oleh Nizma.
"Lain kali kalau mau pulang minta tolong orang lain buat mengantarmu. Biarpun kita mengenal seseorang tapi kita tidak tahu orang tersebut benar-benar baik atau tidak." meski kesal namun Bagas tetap perhatian pada Nizma.
"Abang tau tentang kejadian tadi?" Nizma penasaran sebab Bagas langsung menyinggung hal itu.
"hmm.. Aku tau. Dia pria kurang ajar." ujar Bagas cuek.
"Tapi kenapa Abang nggak nyamperin aku dari tadi?" Nizma pun cemberut melihat sikap cuek Bagas.
"Aku hanya ingin melihat sejauh mana ****** itu bertindak." bukan hanya itu sebenarnya yang ingin Bagas tahu.
Tapi seberapa jauh Nizma mau menunjukkan keseriusannya kepada dirinya. Dan hasilnya Nizma pun mengakui tentang perasaannya.
Entah bisa dibilang senang atau tidak. Setidaknya dia tahu bagaimana perasaan Nizma padanya.
"Abang makasih ya, udah nolongin aku tadi. Nggak tau bagaimana jadinya kalau nggak ada Abang." tanpa diduga Nizma justru langsung merangsek ke dalam pelukan Bagas.
Seketika Bagas langsung membeku. Untuk pertama kalinya dia mendapatkan pelukan dari Nizma pelukan yang disengaja bukan cuma tak sengaja saling bertubrukan.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Baihaqi Sabani
mnrik...tpi ko dsini nizma pangil arya cm nma sebelum A arya...atau ustad ke wlupun ....
2023-12-05
3
Nur Lizza
semangat semangat
2023-10-11
0
Heri Ruswianto
buruan up nya
2023-09-10
1