Suasana ramai kini menyelimuti kediaman Nizma dan Bagas. Semua warga sudah berkumpul di depan rumahnya. Duduk rapi berjajar sambil menikmati hidangan prasmanan yang sudah disediakan. Tak hanya warga rupanya Bagas juga mengundang anak-anak yatim dari panti asuhan.
Lagi-lagi Nizma hanya bisa pasrah dengan kehebohan ini. Bahkan yang membuat Nizma heran adalah adanya para anak buah Bagas, yang dulu dia sempat tahu saat acara pernikahannya.
Semuanya berperawakan kekar dan tegap seperti Bagas dengan wajah garang bahkan ada yang memiliki bekas luka gores cukup besar. Namun semuanya bahkan memakai baju koko dan juga sarung. Mereka semua sibuk mempersiapkan segala
Ustad Yusuf, ustadzah Mia dan Iqbal pun turut hadir juga. Kini acara dimulai dan Bagas menyambut para tamu.
"Assalamualaikum, bapak, ibu, dan adik-adik semuanya. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak sudah hadir di rumah saya. Disini saya hanya ingin menyampaikan bahwasanya niat kami mengundang anda semua adalah untuk syukuran memasuki rumah kami juga syukuran atas pernikahan kami. Dengan acara ini kami mohon doa restu Bapak, ibu semuanya." Bagas meraih tangan Nizma dan menggenggamnya.
Hangat, itulah yang dirasakan Nizma. Dia menatap suaminya yang sedang mengulas senyum kepada para warga.
Nizma tak menyangka bahwa Bagas akan melakukan ini semua. Sebenarnya Nizma sendiri ada niatan untuk membuat syukuran kecil-kecilan tapi sepertinya Bagas tak ingin dicap remeh orang lain.
Apalagi setelah mendengar cibiran warga membuat Bagas ingin menunjukkan bahwa dia bukanlah sosok yang selalu angkuh. Buktinya saat ini Bagas begitu akrab mengobrol dengan para warga.
"Bos sekarang berubah banyak ya. Padahal dulu menyapa orang saja nggak pernah. Sekarang malahan kita juga disuruh pakai baju koko dan sarung." gumam Ares, anak buah Bagas.
"Nggak apa-apa juga sih Res, siapa tau kita dapat ukhti-ukhti cantik kayak si Bos. Biar kita masuk surga." jawab Jaka.
"Emangnya kalau nikah sama ukhti jaminan surga gitu jak?" tanya Ares kembali.
"Ya nggak gitu, setidaknya ada trainer kita buat tobat. Buktinya Si Bos sekarang rajin sholat dan nggak pernah minum-minum." Jaka menjelaskan.
"o gitu, yaudah deh gue ngikut jejak si bos aja. Cuman kalo tiap hari pakai sarung engap gue. Soalnya ini sarung gue iket pake tali rafia." ujar Ares jujur.
"Ha? Lo ikat sarung pake tali rafia? Nggak bisa pake sarung lo?" Jaka terkekeh melihat kepolosan rekannya.
"Lah gue cuma antisipasi kan tiba-tiba ada penjahat terus gue ngejar sarung gue copot kan berabe."
"Ya pake celana dodol. Ada penjahat tinggal copot aja sarungnya." Jaka hanya bisa menepuk jidat memikirkan sahabatnya itu.
"Lah, gue cuma pake boxer doang." Ares menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalian pada ngapain? Itu bantu yang lain jangan nggibah mulu." Bagas menghampiri kedua anak buahnya.
"Iya bos." dengan patuh Ares dan Jaka langsung membantu yang lain.
"Abang." Nizma menghampiri Bagas. Ingin sekali dia bicara dengan suaminya tapi sejak tadi belum sempat karena banyak tamu yang ingin mengobrol dengannya.
"Aku pengen bicara sama abang." ucap Nizma.
"Iya bicarakan saja Nizma" ujar Bagas. Tapi baru saja Nizma ingin membuka mulut sudah ada yang menghampiri Bagas lagi.
Sepertinya ada hikmahnya Bagas mengadakan acara begini. Banyak warga yang ingin mengenal Bagas lebih jauh.
"Ternyata Mas Bagas orangnya ramah dan baik ya. Memang dari penampilannya kalau belum kenal kelihatan serem." ujar salah satu warga.
"Cocok deh sama anaknya Pak ustad. Sama-sama baik." jawab yang lainnya.
Nizma pun tersenyum mendengar hal itu.
"Eh, ternyata kalau dilihat-lihat Mas Bagas ganteng juga ya kalau pakai baju koko gitu. Makin macho apalagi badannya kekar gitu. Pasti perutnya kotak-kotak deh." tiba-tiba Nizma mendengar ucapan seseorang yang tentu saja langsung mengusiknya.
Nizma mencari sosok yang membicarakannya itu. Rupanya mereka sekumpulan gadis-gadis yang mungkin usianya masih dibawah Nizma.
Apalagi mereka tampak memperhatikan Bagas sejak tadi. Hal itu membuat Nizma semakin menekuk alisnya.
"Mbak-mbak sudah makan belum?" dengan sipan Nizma menghampiri para gadis-gadis itu.
"Eh, mbak Nizma. Belum ini masih mengantri mbak." Salah satu gadis yang membicarakan Bagas tadi menjawab.
"Oh, ya silahkan itu sudah tidak terlalu antri. Selamat menikmati ya jangan sungkan-sungkan. Sebentar saya temui SUAMI saya dulu." Nizma sengaja menekankan kata suami agar para gadis itu sadar bahwa Bagas adalah miliknya.
Mereka pun tampak mengangguk sungkan. Nizma sengaja ingin mengalihkan para gadis itu ke meja prasmanan yang letaknya agak jauh dengan Bagas. Dengan begitu mereka bisa berhenti memperhatikan suaminya.
"Nak Bagas, selamat ya. Abah nggak nyangka kalau kamu adakan acara ramah ramah dengan warga semeriah ini. Sepertinya mereka senang." ujar Ustad Yusuf.
"Alhamdulillah abah. Ini semua sebenarnya untuk Nizma. Bagas tidak ingin Nizma dipandang sombong disini. Dengan begini kami bisa mengenal warga lebih jauh." ujar Bagas.
"Kak Bagas emang keren deh. Tadi kak Nizma sempat bilang kalau dia kaget dengan adanya acara ini. Emang Kak Bagas nggak bilang-bilang kakak?" tanya Iqbal.
"Enggak, sengaja mau buat kejutan aja." Bagas menepuk pundak Iqbal. Dia kini lebih santai kepada Iqbal adik iparnya.
"Eh tapi lihat tuh. Kenapa kakak kelihatan mukanya ditekuk gitu?" Iqbal menunjuk Nizma yang tampak mengawasi gadis-gadis tadi.
Bagas tampak menahan senyum sebab dia tahu bahwa gadis-gadis itu selalu memperhatikannya sejak tadi.
.
Acara telah selesai. Para anak buah Bagas juga sudah membereskan sisanya. Kini Bagas dan Nizma pun masuk ke dalam rumah.
Bagas membersihkan diri dan mengganti pakaian sementara Nizma membuatkan Kopi untuk Bagas karena dia yang meminta.
"Kopinya sudah Niz?" Bagas menghampiri Nizma ke dapur.
"Sudah abang." Nizma hendak memberikan cangkir kepada Bagas namun pria itu justru mendekat meraihnya lebih dulu.
Jarak antara keduanya kini begitu dekat. Bahkan Nizma bisa mencium aroma sabun dari tubuh Bagas yang baru saja mandi. Hembusan nafasnya yang menguar aroma mint sejenak membuat Nizma terpaku. Dia menatap bibir Bagas dan teringat akan ciuman di malam pertamanya waktu itu.
"Tadi katanya mau bicara. Sekarang udah nggak ada penghalang. Bicara saja." ujar Bagas yang langsung membuyarkan lamunan Nizma.
"Sebenarnya pekerjaan abang apa sih? Dengan acara besar begitu tentu nggak mungkin menelan biaya yang sedikit. Apalagi orang-orang itu.." Nizma tak melanjutkan ucapannya.
"Mereka, anak buahku?" lanjut Bagas.
Nizma mengangguk. "Abang kerja halal kan? Banyak sekali yang aku tidak tahu dari abang." Akhirnya memberanikan diri membicarakan hal ini. Selama ini dia tak tahu pasti apa pekerjaan Bagas. Karena sejak awal pernikahan mereka Bagas begitu dingin. Baru akhir-akhir ini saja Bagas lebih melunak.
"Halal kok. Besok aku akan kasih tau apa pekerjaanku. Apa lagi yang mau kamu tanyakan?" tanya Bagas lagi.
"Abang bahagia nggak sih menikah denganku?" Kini Nizma kembali menanyakan hal yang paling mengganjal di hatinya.
"Memangnya kenapa?" Bagas justru balik bertanya.
"A-abang nggak pernah menyentuhku. Mungkin aku nggak menarik di mata abang, atau mungkin ada wanita yang lebih.."
Cupp..
Ucapan Nizma langsung terhenti ketika Bagas mencium bibirnya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Gagas Permadi
/Smile//Smile//Smile//Smile/
2024-01-12
1
◕EmBul˙❥˙
hadehhhh, meleleh hati adek bangg 😁😁
2023-10-30
3
Nur Lizza
nizma pandai memancing Bagas ma rah
2023-10-11
1