Bagas terus berjalan tanpa sedikitpun menoleh kepada Nizma. Dia pun tahu bahwa gadis itu sejak tadi mengekor di belakangnya.
Diam-diam Bagas memiliki niat jahil. Dia menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.
DUKK..
Kepala Nizma langsung menabrak punggung belakang Bagas.
"Astaghfirulloh.." Nizma langsung memundurkan dirinya. Sementara Bagas langsung berbalik.
"Lo jalan pake mata nggak sih. Nggak lihat apa gue berhenti." Bagas menyembunyikan tawanya dan pura-pura ketus.
"Maaf Abang, tadi Nizma nunduk." ucap Nizma lembut.
"Lo sengaja buntutin gue?"
"Eh, enggak kok. Kan Nizma mau pulang juga ke rumah. Lagian Abang di sini mau ngapain?" Nizma sebenarnya mulai jengkel dengan sikap Bagas.
"Gue ada urusan sama Pak Ustad." Bagas berbalik dan kembali berjalan.
'sama calon istri tapi ngomongnya lo gue, mana ketus banget lagi. Ya Allah semoga stok sabarku nanti melimpah.' batin Nizma sembari menghela nafasnya.
Saat sampai di rumah Nizma dikejutkan oleh segerombol pria berpakaian hitam dengan tubuh kekar serta wajah sangarnya. Hampir semua dari mereka memiliki Tatto.
"Wah, ini ya calon Bu Bos. Cantik bener makanya Pak Bos ngebet banget pengen cepet nikah. Orang calon istrinya bidadari Surga gini." celetuk salah satu pria tersebut.
Bagas tak menjawab ucapan anak buahnya namun hanya tatapan tajam yang terasa menusuk dada.
Nizma hanya menyapa mereka seadanya. Kemudian dia segera masuk ke dalam rumah.
"Wah, keluarga besar calon kakak ipar benar-benar seperti gangster di film-film ya." celetuk seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
"Iqbal. Kapan kamu pulang dek? Yaampun Kakak kangen tau." Nizma langsung memeluk Iqbal.
Iqbal merupakan adik kandung Nizma dan satu-satunya saudara yang dia miliki. Saat ini dia sedang mengenyam pendidikan di salah satu pesantren di jawa timur.
"Iya lah Kak Nizma kangen aku. Kan emang aku ngangeni." jawab Iqbal dengan menggoda kakaknya.
"Mulai deh ya. Emang kamu itu adek paling jahil." Nizma mencubit kedua pipi Iqbal.
"Mulai deh mulai Kakak ini. Padahal yang jahil situ tapi yang dituduh selalu aku." keduanya pun sama-sama terkekeh.
Meski banyak jahilnya namun keduanya begitu menyayangi. Terbukti jika saling berjauhan mereka selalu saling merindukan.
"Kak, kalau boleh tanya Kak Nizma emang sudah benar-benar siap nikah sama Bang Bagas?" Iqbal kembali menanyakan perihal pernikahan ini.
"Insyaallah Dek, doain kakak ya semoga ini yang terbaik." ujar Nizma.
Meski ada guratan kegelisahan namun Nizma tak ingin adiknya merasa bersedih. Nizma sudah ikhlas apapun yang akan terjadi kedepannya semua adalah takdir dari Tuhan.
"Pasti kak. Aku juga lega akhirnya tidak ada yang jahil padaku lagi." Iqbal tersenyum sambil berlari menggoda Nizma.
"Dasar punya adek ngeselin banget sih." Nizma pun tak mau kalah. Dia langsung mengejar Iqbal.
Namun saat Iqbal berlari keluar dia melihat Bagas dan Ustad Yusuf sedang mengobrol. Tatapan Bagas beralih kepada Nizma. Untuk berapa saat kedua Netra tersebut saling bertemu.
Nizma yang salah tingkah cepat-cepat menunduk dan masuk ke dalam rumah. Dia sangat malu, bagaimana bisa dia sampai lupa jika ada Bagas di rumahnya.
Sementara Bagas yang semula sedang membicarakan persiapan pernikahannya jadi tak fokus. Bayang-bayang wajah cantik Nizma terus terbersit di pikirannya.
"Jadi bagaimana Nak Bagas?"tanya Ustad Yusuf.
"eh, ada apa Pak Ustad?" Bagas celingukan.
"Persiapannya Nak Bagas." Ustad Yusuf pun tampak tersenyum.
"Oh, semua pasti beres biar diurus anak buah saya. Kalau begitu saya permisi dulu. Tolong sampaikan ini kepada Nizma." Bagas memberikan sebuah paper bag besar sebelum beranjak pergi.
'gadis itu terlalu cantik dan teduh wajahnya. Aku takut itu adalah trik untuk mencari kelemahanku.' batin Bagas.
Sementara Nizma yang berada di dalam kamarnya kini dihampiri oleh Ustad Yusuf.
"Nizma, ini ada sesuatu dari Nak Bagas. Dia titipkan ini kepada Abah." ucap Ustad Yusuf sembari memberikan paper bag tersebut.
"Iya Abah terimakasih." Nizma menerima paper bag tersebut. Paper bag yang sejak tadi di bawa oleh Bagas.
"Padahal dari tadi juga ketemu kenapa nggak di kasihkan langsung saja?" gerutu Nizma.
"Iya, ada apa Nizma?" Ustad Yusuf ternyata belum beranjak dari kamar itu.
"Eh, enggak kok abah." Nizma hanya menyengir.
Kemudian Ustad Yusuf mengusap lembut puncak kepala Nizma dan tersenyum padanya sebelum beranjak meninggalkan tuangan itu.
Nizma membuka isi dari paper bag tersebut. Dia melihat dua kotak besar serta kotak berukuran sedang. Karena penasaran Nizma pun membukanya.
Alangkah terkejutnya saat Nizma mengetahui isis dari kotak tersebut. Kotak pertama berisi gaun lace berwarna putih lengkap dengan jilbab Syar'i.
Sementara kotak lain yang berukuran lebih kecil berisikan sebuah sepatu hak tinggi berwarna putih begitu cantik. Senada dengan gaunnya.
Terakhir Nizma membuka kotak yang paling kecil. Kotak beludru berwarna biru tua dengan merk perhiasan ternama.
Satu set perhiasan terdiri dari kalung dengan liontin berlian serta anting, gelang dan cincin berlian. Yang sudah jelas harganya pasti sangat fantastis.
Nizma tertegun dengan semua hadiah itu. Entah mau senang atau sedih. Nizma bahkan bingung mengekspresikannya.
Wanita mana yang tak senang dengan sebuah hadiah. Tapi melihat sikap Bagas yang begitu dingin membuatnya serba salah juga.
Terlebih Nizma belum sepenuhnya mengetahui siapa Bagas, apa pekerjaannya dan bagaimana kesehariannya.
Nizma hanya takut jika semua hadiah ini berasal dari uang... 'tidak halal.'
"Ah tidak, aku percaya Abah. Mas Bagas nggak mungkin kasih aku semuanya dengan uang yang tidak Halal."
...****************...
Dua minggu rasanya sangat cepat bahkan segala persiapan pernikahan itu hampir sembilan puluh persen rampung.
Sebuah dekorasi indah tertata di depan rumahnya. Meski tak mengundang banyak orang namun agaknya persiapan ini sedikit berlebihan.
Apalagi sebelumnya Bagas ingin acara pernikahannya di lakukan di sebuah gedung hotel berbintang. Tentu saja Nizma langsung menolaknya.
Nizma tidak mengerti dengan jalan pikiran Bagas apalagi selama ini mereka tak pernah saling berbicara.
Semua persiapan dipilih dan di tentukan oleh Bagas. Bahkan Ustad Yusuf dilarang mengeluarkan uang sepeserpun untuk pernikahan ini.
"Bos, semua sudah hampir rampung. Tinggal eksekusinya saja." ucap salah satu anak buah Bagas.
"bagus, aku ingin lihat bagaimana reaksi mereka. Dan untuk gadis itu aku harus tetap berhati-hati." ujar Bagas.
"Tapi Bos, sepertinya keluarga Ustad Yusuf itu baik-baik. Apalagi Putrinya yang calon istri bos. Dia sangat cantik dan santun mana mungkin dia berbahaya?"
"Apa kau lupa? Justru seorang yang kadang terlihat begitu lemah bisa jadi musuh terberat kita." geram Bagas.
Ya, Bagas yang telah lama bekerja di dunia gelap tentu saja selalu was-was. Apalagi masa lalunya yang penuh lika liku membuatnya sulit untuk mempercayai seseorang.
Permintaan Ustad Yusuf untuk menikahkan dirinya dengan Nizma tanpa alasan yang jelas memang membuat Bagas bertanya-tanya.
"Aku ikhlaskan dan serahkan semuanya pada-Mu. Jika ini adalah takdirku maka aku akan menjalaninya dengan sepenuh hati. Jadikan aku seorang wanita dan seorang istri yang berbakti kepada suami. Lancarkanlah jalanku dalam memulai pernikahan ini." Untaian Doa itu terus terlantun di hati Nizma.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
tsuraya kenko
abah sm bagas pny rhs masing2.
ahhh.. pinisirin.
lanjut thor
2024-02-28
0
Ai Siti Rahmayati
kayaknya Bagas banyak rahasia . bikin penasaran
2024-01-15
0
Mari Anah
ada rahasia apa yaaaa🤔🤔aku jdi pinisiriin
2023-10-11
3