Nizma sedang duduk termenung sambil menatap luar jendela kamarnya. Langit biru yang tampak begitu cerah. Bahkan gumpalan awan putih saja tidak ada.
Namun begitu rasanya tetap saja tak secerah hati Nizma. Sejak abahnya memberitahu perihal pernikahannya dengan Bagas tentu saja Nizma sangat terkejut.
Apalagi selama ini dia belum kenal sosok Bagas juga tak tahu bagaimana perasaan pria itu.
Sibuk dengan pikirannya tiba-tiba Nizma mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
"Nizma, ini Umi nak, boleh umi masuk ke kamarmu?" suara bariton Ustazah Mia membuyarkan lamunan Nizma.
"iya Umi." jawab Nizma hendak membukakan pintu namun Ustadzah Mia sudah lebih cepat membuka pintu tersebut.
Wanita paruh baya yang memakai gamis Syar'i berwarna tosca itu masuk ke dalam kamar Nizma. Tampak senyum terulas di wajah cantiknya meski sudah berkeriput.
"Anak umi kok dari tadi berdiam diri di dalam kamar terus?" tanya Umi Mia.
"Maaf umi. Nizma sebenarnya hendak keluar juga kok." jawab Nizma sedikit menunduk.
Ustadzah Mia sadar akan wajah sendu sang putri. Kemudian dia duduk di pinggir ranjang samping Nizma. Diangkatnya dagu lancip Nizma dan Ustadzah Mia menatap wajah putrinya
"Apa kamu sedang memikirkan pernikahan ini Nizma?" tanya Ustadzah Mia lembut.
"Bohong kalau Nizma tidak kepikiran umi. Ini adalah keputusan besar yang akan Nizma ambil untuk seumur hidup . Sebenarnya Nizma masih ragu Apakah keputusan yang Nizma ambil ini sudah benar Umi. Bagaimana kalau pernikahan Nizma dan Mas Bagas tidak berjalan seperti pernikahan Umi dan abah?" Nizma tak kuasa menitikkan air matanya.
"Nizma, setiap pernikahan pasti ada saja masalah yang menghampiri. Sebenarnya dulu Umi dan abah tidak seperti ini bahkan pernikahan kami diawali dengan tidak saling cinta. Tapi Umi terus berusaha memenangkan hati abah hingga pada akhirnya umilah menjadi satu-satunya pemenang. Semua tergantung pada niat dan keikhlasan kamu Nizma." Ustadzah Mia mengusap lembut Puncak kepala Nizma.
"jadi dulu Abah dan Umi tidak saling cinta tapi sekarang Nizma benar-benar salut akan cinta Abah dan Umi yang seolah tidak pernah luntur oleh waktu."
"ya itu karena pengorbanan Umi tidak sia-sia Nizma. Umi yakin suatu saat nanti kamu dan Bagas akan mendapatkan cinta satu sama lain. Yang penting kamu jangan putus-putus berdoa dan berusaha ."
"iya umi.."
"Nizma Apa kamu sudah benar-benar yakin menikah dengan anak Bagas? Umi hanya ingin memastikan saja."
"Insya Allah Umi, jika itu pilihan Abah Wisma percaya bahwa Mas Bagas adalah pria yang terbaik untuk Nizma. Tapi Umi Bagaimana dengan pendapat Umi sendiri. Nizma hanya ingin memperjelas semuanya agar tidak ada perasaan yang mengganjal di hati Nizma."
"awalnya Umi memang ragu tapi setelah Abah memberitahukan Umi tentang Bagas kini Umi tidak kaku lagi." ucap ustadzah Mia.
"memang apa Memberitahukan apa umi tentang Mas Bagas?"
"tidak ada, Bagas memang terlihat kurang baik penampilan luarnya namun Abah memberitahu bahwa Bagas tidak seburuk penampilannya." ujar Ustadzah Mia.
"Iya Umi. Terima kasih sudah memberitahu Nizma. Ini Nizma Insya Allah ikhlas menerima pernikahan ini."
Akhirnya wanita ibu dan anak tersebut saling berpelukan.
...****************...
Karena pernikahan Nizma dan Bagas akan berlangsung dua minggu lagi maka Ustad Yusuf begitu sibuk mempersiapkan pernikahan putrinya tersebut.
Hal itu pula membuat gempar beberapa orang termasuk seisi pesantren. Banyak di antara mereka yang menyayangkan dan kurang setuju jika Nizma menikah dengan Bagas Abimana.
Beberapa rekan Ustad Yusuf yang sesama ustad maupun pemuka agama banyak yang menolak pernikahan putrinya. Apalagi selama ini rekan-rekannya tersebut ingin sekali menjadikan Nizma sebagai menantunya.
"pak ustad Saya tidak menyangka Anda justru memilih preman tersebut menikah dengan Putri anda padahal Risma gadis yang baik dan solehah serta pendidikannya pun tinggi. Apa Pak Ustad tidak menyayangkan hal ini?" ujar salah satu ustad rekan Ustad Yusuf.
"Insya Allah tidak, saya tahu siapa pria yang pantas dan tidak pantas bersanding dengan putriku Nizma. Dan keputusan ini sudah bulat mohon sekiranya Anda menerima pernikahan putri saya dengan laki-laki yang sudah saya pilih untuknya."
Sementara Nisma yang baru saja selesai mengajar di pesantren ini belanja pulang. Dia ditemani oleh Aisyah rekan Isma yang sesama pengajar di pondok pesantren tersebut.
"Nisma kudengar kamu mau menikah ya? Aku ikut senang Terlepas dari siapapun pria yang dipilihkan Abah untukmu Aku yakin Pak Uztad pasti memberikan yang terbaik." ujar Aisyah.
"Alhamdulillah Terima kasih Aisyah. Aku juga berpikir begitu siapapun Mas Bagas dan bagaimana orang menilai dirinya tapi aku yakin akan pilihan abah tidak akan pernah keliru." jawab Nizma.
Saat keduanya sedang berjalan sambil mengobrol tiba-tiba seseorang menghampiri Nizma.
"Nizma apa boleh aku bicara sesuatu denganmu?" Arya menghampiri Nizma.
"Ada Apa A Arya? Silahkan jika ingin berbicara." ujar Nizma.
"Aku ingin bicara bersua saja Nizma apakah bisa?" tanya Arya.
Aisyah yang mendengar ucapan Arya pun segera pamit pergi. "Maaf Nizma aku pergi duluan ya."
Nizma hendak mencegah Aisyah namun langkah gadis itu begitu cepat.
"Apa yang ingin A Arya bicarakan?" tanya Nizma.
"Apa benar kamu mau menikah Nizma? Dengan pria berandal itu?" tanya Arya sambil menatap Nizma dengan tajam.
"Dia bukan berandal A. Dan pernikahanku dengan Mas Bagas itu memang karena pilihan Abah." ucap Nizma.
"Tapi kamu lihat sendiri penampilannya Nizma. Dia seperti preman bahkan tatto di sekujur tubuhnya sudah menjelaskan seperti apa pria itu. Aku hanya menyayangkan kamu jika sampai berada di tangan pria yang salah."
"Insyaallah tidak A. Nizma percaya pilihan Abah." ujar Nizma.
"Jika kamu mau akan menikahi kamu Nizma. Bicara pada abahmu dan ayo kita menikah." Arya memberanikan diri mengutarakan niatannya.
"Maaf A Arya. Nizma rasa itu tidak perlu. Keputusan Nizma untuk menikah dengan Mas Bagas sudah bulat." Nizma mencoba untuk menghindari Arya.
Namun saat Nizma hendak melangkah tiba-tiba Arya menarik tangan Nizma. Nizma yang terperanjat berusaha melepas cengkraman tangan Arya.
"A Arya. Lepas, apa yang Aa lakukan?" Nizma berusaha membebaskan tangannya.
"Tidak Nizma. Aku tidak akan melepasmu. Aku sangat mencintaimu dan aku ingin kamu menikah denganku. Bukan dengan pria preman itu." Arya semakin mempererat cengkraman tangannya hingga membuat Nizma mulai meringis kesakitan.
"A.. Lepas.." Suara Nizma mulai merintih kesakitan.
"Nizma aku tak akan_"
"LEPASKAN TANGANMU" suara lantang itu tiba-tiba menggema didepan Arya dan Nizma.
Suara siapa lagi kalau bukan Bagas. Pria itu berdiri di depan Arya dengan raut muka nyalang.
Dengan sekali sentakan Bagas langsung melepaskan tangan Arya. Bisa dilihat pergelangan tangan Nizma yang tampak merah akibat ulah pria itu.
"Berhenti mengganggu calon istriku. Apalagi kau berani menyentuhnya lagi aku tak segan untuk mematahkan tanganmu." Tatapan Bagas begitu mengerikan apalagi dengan suara beratnya siapa saja tahu bahwa pria itu sedang dalam mode emosi.
Bagas langsung memutar tubuhnya berjalan menjauhi Arya dengan tangan kirinya menenteng paper bag besar entah apa itu isinya.
Sementara Nizma langsung berjalan mengekori Bagas. Dia sedikit tersenyum saat melihat Bagas membantunya terbebas dari Arya. Meski sikapnya sangat dingin namun Nizma kagum dengan cara Bagas yang tak menyentuh dirinya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Desti Sari96
ceritanya bagus, hanya saja penggunaan tatanan bahasa nya kurang sedikit mengena dipembaca seperti saya
2023-11-14
1
Neneng Lailatul Komariyah
yang tampang nya berandal aja tau caranya menghormati wanita yg bukan mahram, a Arya yg guru pesantren ko main pegang aja hmmm
2023-11-06
3
Rea Ana
mulai baca
2023-10-27
1