Semua orang tampak terkejut melihat Bagas yang berjalan menuju mihrab. Bahkan banyak diantara mereka meragukan Bagas. Hanya ustad Yusuf saja yang tampak begitu santai.
Akbar yang hanya main-main dengan ucapannya pun tak menyangka bahwa Bagas akan menganggapnya serius.
"Waduh kalau sampai salah bacaan bisa berabe ini." gumam Akbar namun sedikit menyunggingkan senyum.
Jika saja Bagas terbukti salah maka akan sangat mencolok bahwa suami seorang Nizma sekaligus menantu pemilik pesantren ini tak bisa menjadi imam yang baik.
"Maaf ustad, apa sebaiknya tidak anda saja yang menjadi imam? Takutnya nanti ada kesalahan.." ucap salah satu jamaah.
Ustad Yusuf pun mengangkat tangannya memberi peringatan untuk tidak menghentikan Bagas.
"Jangan menilai seseorang sebelum mengetahui kemampuannya." ucap Ustad Yusuf diselingi senyuman.
Setelah semua siap kini Bagas pun memulai tugasnya. Pria itu berdiri tegap dan mengucapkan basmalah.
"Allahu Akbar.."
Dengan suara yang jelas dan lantang Bagas melantunkan ayat-ayat dengan begitu fasih dan merdu. Khusyuk dan hikmat. Itulah yang dirasakan semua orang saat menjadi makmum Bagas.
Orang-orang yang semula meragukannya kini pun berganti memuji dirinya. Sebenarnya Bagas tak mengharapkan hal ini. Dia hanya ingin menunjukkan kepada Akbar saja bahwa dia tak seburuk yang dia kira.
Ah, lagi-lagi Bagas harus menggubris ucapan pria itu. Bahkan gara-gara dia Bagas kini kembali menjamah yang namanya masjid.
Ada kerinduan teramat dalam saat Bagas merasakan atmosfer ini. Namun dia masih meninggikan egonya sebagai bentuk protes kepada Sang Pencipta?
Masa lalu yang kelam telah menggores luka dalam di hatinya. Panutan hidupnya yang setiap kali dia sembah dan dia dambakan seolah telah memberikan 'ketidakadilan' untuk dirinya.
"Baru kali ini kami merasa begitu teduh mendengar suara merdu menantu Pak Ustad. Benar-benar diluar dugaan. Benar kata Pak Ustad, kita tidak bisa menilai seseorang sebelum tahu kemampuannya." puji salah satu jamaah.
"Alhamdulillah, saya pun tak pernah meragukan menantu saya." ustad Yusuf tampak bangga terhadap Bagas.
Akbar yang melihat hal itu semakin kesal. Tak disangka niatnya menjelekkan Bagas justru malah jadi bumerang untuknya.
Kini Bagas justru mendapatkan nilai plus di hadapan banyak orang. Sedangkan dirinya yang sejak awal membanggakan diri sebagai anak seorang ustad sekaligus berpendidikan tinggi pun sama sekali tak dianggap menonjol.
Bagas menghampiri Ustad Yusuf dan mereka berjalan menuju rumah. Ditepuknya pundak Bagas seolah mengungkapkan kebanggan kepada dirinya.
"Abang merdu banget ngajinya. Emang belajar dimana bang? Boleh dong aku minta ajarin." celetuk Iqbal yang ikut membuntuti mereka.
"Nggak belajar dimana-mana." ucap Bagas datar. Bagas hanya tak ingin membahas masa lalunya.
Iqbal mungkin belum terbiasa dengan sikap dingin Bagas. Namun sebagai adik iparnya Iqbal tau bahwa dibalik penampilan Bagas yang sangar sebenarnya tersimpan sebuah kebaikan.
"Abah, Bang Bagas sebenarnya baik tapi kok susah senyum ya?" bisik Iqbal kepada Ustad Yusuf.
"Belum Bal, nanti juga lama-lama murah senyum." balas Ustad Yusuf.
Ustad Yusuf hanya memandang Bagas dengan perasaan haru. Tak disangka amanatnya sudah dia lakukan. Sekarang tinggal menunggu Bagas kembali seperti sedia kala.
"Seandainya kamu disini Abi, kau pasti akan sangat bahagia. Permintaanmu untuk menjodohkan putramu dengan putriku akhirnya terwujud. Semoga ini adalah awal yang baik untuk kembali menghidupkan kebahagiaan dan cinta di hati Bagas." batin Ustad Yusuf dalam hati.
Sampai di rumah Nizma menyambut Bagas dengan senyum merekah. Wajahnya yang tampak berseri ketika Nizma masih memakai mukena.
Nizma langsung meraih tangan Bagas dan menciumnya. Tak luput dari pandangan Bagas bahwa gadis itu terlihat begitu cantik.
"Kenapa senyum-senyum? Baru menang lotre?" tanya Bagas menyelidik.
"Astaghfirulloh Abang siapa juga yang main lotre. Lagian judi itu nggak boleh, haram." senyuman itu luntur seketika berganti dengan bibir Nizma yang manyun.
"Aku cuma seneng aja denger Abang jadi imam di masjid. Pasti Abah makin bangga sama Abang." Nizma tak kuasa menahan rasa senangnya.
"Biasa aja." Seperti biasa, Bagas hanya menanggapinya dengan dingin.
Meski suaminya itu seperti kulkas empat pintu namun Nizma yakin suatu saat nanti dia akan memberikan perubahan besar untuknya.
"Sabar, ini baru awal Nizma. Nanti Abang Bagas pasti bakal berubah." gumam Nizma menyemangati dirinya sendiri.
...****************...
Malam ini pesantren ustad Yusuf mengadakan makan malam bersama para santri. Mereka berkumpul di bale. Sebuah pendopo berukuran besar.
Semua tampak sangat sibuk begitupun dengan Nizma. Dia begitu semangat mempersiapkan semuanya. Dibantu para santriwati.
"Niz, keknya ini gulainya udah siap. Tinggal ngangkat aja." ujar Aisyah yang kebetulan membantu.
"Iya yaudah ayo kita angkat." Nizma audah ancang-ancang untuk mengangkat panci besar tersebut namun tangannya langsung dihentikan oleh Bagas.
"Kamu mau ngangkat ini? Yang bener aja? Badan kerempeng gitu yang ada patah tulang ntar" omelan Bagas selalu julit seperti emak-emak. Namun Nizma tetap sabar dan tak mengambil hati.
Dia pun hendak mengangkatnya namun tiba-tiba Akbar datang. Dia pun langsung bersiap mengangkat panci juga.
Bagas tau Akbar sedang mencari perhatian Nizma. Seolah tak mau kalah akhirnya mereka berdua mengangkatnya secara bersamaan.
"Alhamdulillah makasih abang." ucap Nizma kepada Bagas.
"akan aku juga ikut bantuin Nizma." protes Akbar.
"Eh, iya makasih juga A." ucap Nizma singkat.
"Mau dibantuin apa lagi Nizma? Mumpung aku disini." ujar Akbar kemudian.
"Kayaknya udah deh A. nanti kalau butuh aku panggil deh." sudah kebiasaan Nizma selalu tersenyum setelah mengucapkan sesuatu. Hal itu membuat Bagas sebal saja.
Meski niatan Nizma hanya berusaha ramah namun bisa saja Akbar menafsirkan dengan hal lain.
Bagas hanya mendengus kesal melihat kelakuan Akbar yang masih saja berusaha menggoda istrinya. Meski dia belum memiliki perasaan apapun terhadap Nizma namun dia tak suka saja kepemilikannya dilirik orang lain.
Sementara di tempat itu juga tampak Arya, pengurus pondok yang juga menyukai Nizma. Meski pria itu sudah pernah diperingati oleh Bagas namun tampaknya dia masih saja mencuri-curi perhatian kepada Nizma.
Buktinya dia masih saja berusaha mendekati Nizma dengan memberikan sebotol air mineral.
"Nizma minum dulu. Sejak tadi sibuk terus." ujar Arya.
"Eh, iya Arya. Makasih ya." Baru saja Nizma hendak meraih botol itu tiba-tiba Bagas sudah lebih dulu meraihnya.
"Makasih Arya. Nggak perlu repot-repot. Nanti kalau haus aku bisa memberikan minum untuk istriku." terdengar posesif memang. Apalagi dengan wajah ketusnya Bagas menatap Arya.
Sementara Nizma hanya bisa menahan tawa melihat tingkah Bagas. Ternyata suaminya itu bisa cemburu juga saat ada pria mendekatinya.
Dengan cepat Bagas membuka tutup botol tersebut dan memberikannya kepada Nizma.
"Nih, haus kan?" ucapnya ketus.
"Makasih Abang." Nizma tersenyum manis kemudian langsung menenggak minuman tersebut karena haus.
Sementara Bagas masih berdiri di samping Nizma. Ingin membantu yang pain tapi dia begitu enggan meninggalkan Nizma karena rupanya banyak sekali para pria yang memperhatikan istrinya.
Seperti ini resikonya jika menikahi primadona pesantren. Ingin rasanya Bagas mencongkel mata para pria yang menatapi istrinya itu.
...****************...
Visual Nizma
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Mama Jihan
😍 cantik banget nizma 😊🥰
2024-01-11
1
Ovi Malik
cantik gmn gak jadi inceran laki2
2023-12-17
1
Mari Anah
cantik bgt nizma😍😍
2023-10-11
1