Bagas begitu gemas melihat Nizma sejak tadi. Sebenarnya dia sudah ingin mendekatinya sejak acara berlangsung namun tidak mungkin karena banyaknya tamu yang ada.
Kini dengan sisa waktu sebelum malam semakin larut Bagas pun memanfaatkan waktunya untuk quality time dengan sang istri.
mendengarkan setiap pertanyaan Nizma yang sejak tadi sangat ingin dia utarakan.
Tapi setelah mendengar pertanyaan terakhirnya Bagas menjadi semakin gemas. Apalagi dia tahu bahwa Nizma akan mengatakan tentang hal yang jelas saja tidak mungkin Bagas lakukan.
Bagas langsung mencium bibir Nizma dengan begitu lembut. Awalnya Nizma sangat terkejut dengan tindakan tiba-tiba Bagas.
Tapi dengan sentuhan lembut bibir Bagas yang masih terasa dingin namun hangat di dalamnya membuat Nizma mulai terbuai.
Perlahan Nizma mulai membalas ciuman Bagas. Meski ini adalah pengalaman pertama untuknya membalas ciuman seorang pria. Tapi nalurinya tergerak dengan sendirinya.
Bagas tak ingin menyiakan kesempatan ini. Diraihnya pinggang Nizma dan dia rapatkan ke dalam tubuhnya hingga tangannya total melingkar di tubuh ramping sang istri.
Nizma juga tak ingin kalah. Dia mengusap lembut pipi Bagas kemudian perlahan melingkar di leher prianya.
Kebetulan Bagas mengikat rambutnya sehingga Nizma dengan bebas menjelajah tengkuk Bagas.
Ciuman itu terasa semakin dalam apalagi saat Nizma mulai membuka mulutnya. Seolah jadi kesempatan lidah Bagas langsung menerobos masuk menyapu seluruh rongga mulutnya.
"ngghh.." tanpa sadar Nizma mengeluarkan leng uhan pelan. Bagas menjadi semakin gencar memperdalam ciumannya.
Tangan Bagas yang tak ingin menganggur mulai mengusap lembut menjelajah punggung Nizma. Baru kali ini keduanya melakukan sesuatu dengan begitu intim meski masih sebatas ciuman.
Nizma mulai menepuk-nepuk bahu Bagas ketika dia sudah tak kuat ingin menghirup udara. Nafasnya sudah mulai tersengal dan Nizma langsung meronta ingin melepas ciumannya.
Setelah ciuman mereka akhirnya terputus. Wajah Nizma nampak memerah dengan bibir yang sedikit bengkak. Tapi sialnya sungguh membuatnya semakin sexy di mata Bagas.
Sementara Bagas sibuk memperhatikan Nizma lain halnya dengan dirinya yang seolah ingin menyembunyikan mukanya. Alhasil Nizma langsung membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang Bagas.
"jangan dilihatin terus aku malu" ucap Nizma lirih.
Bagas pun langsung terkekeh mendengarnya. "makanya jangan mancing duluan"
"mancing gimana maksud abang?" Nizma mengernyitkan keningnya.
"Katanya minta disentuh. Hm?" Bagas menaikkan salah satu alisnya.
"Aku kan cuma tanya. Pengen tau aja. Lagian abang juga nggak jawab pertanyaanku."
"pertanyaan yang mana?"
"Yaudah aku ulangi. Abang bahagia nggak nikah sama aku?" Kini Nizma memberanikan diri menatap lurus Bagas. Dia ingin tahu dengan jelas jawaban dari Bagas.
"Kamu sendiri?" lagi-lagi Bagas melempar pertanyaan itu ke Nizma.
"Aku tanya abang kenapa balik ditanyain ke aku. Yaudah aku jawab dulu, aku bahagia menikah sama abang." ucap Nizma akhirnya.
"kenapa bisa? Aku bahkan selalu bersikap buruk sama kamu. Cuek dan bahkan sering bikin kamu sedih." ujar Bagas.
"Karena abang pria yang udah aku taksir sejak lama." jawab Nizma.
DEGG!!
Bagas membeku saat mendengar pengakuan Nizma. Bagaimana bisa gadis ini menaksir padanya padahal menurut Bagas mereka baru bertemu beberapa hari sebelum pernikahan. Itupun tak lebih dari sebatas berkunjung ke pesantren.
Dan dengan Bagas yang seperti ini. Maksudnya penampilan dan sikapnya yang cuek bahkan tak mau peduli dengan sekitar mana bisa ada perempuan menyukainya. Sepertinya sangat mustahil.
"jangan bohong. Kita saja baru bertemu. Apa kamu mau mengelabuhiku?" Bagas berusaha menetralkan pikirannya.
"Mungkin abang nggak ingat kejadian lima tahun silam. Seorang anak SMA yang hampir kerampokan tapi abang tolong. Bahkan perampok itu sempat memukul abang." Nizma mengingat kejadian silam saat dirinya pertama kali bertemu Bagas.
"Perampok itu menarik kerudung aku hingga lepas. Lalu abang dengan sigap melepas jaket dan menutup kepalaku. Abang sudah menyelamatkan kehormatanku ." dengan nada bergetar Nizma mengatakannya.
"Aku tidak ingat." ucap Bagas cuek. Karena dia memang tidak mengingatnya.
Lidah Nizma terasa kelu. Rasanya sungguh tak adil padahal sejak kejadian itu Nizma terus memperhatikan Bagas. Setiap hari mencari sosoknya hingga membuat Nizma jatuh hati. Bahkan jaket milik Bagas masih tersimpan rapi olehnya.
Hingga sampai dirinya harus pergi menuntut ilmu ke Kairo Nizma masih memikirkan Bagas dan terus berdoa agar Tuhan mempertemukannya kembali dengan cara yang lebih baik.
Tapi saat ini sepertinya Bagas memang belum membuka hati untuknya. Jadi lagi-lagi Nizma harus bersabar dengan perasaannya.
Nizma hendak berdiri dari tempat duduknya dan memilih pergi. Karena terlanjur malu. Namun dengan cepat Bagas menarik tangan Nizma hingga dia terjatuh di atas pangkuan Bagas.
"Mau kemana?" Bagas memeluk Nizma dari belakang.
"Mau ke kamar." jawab Nizma singkat.
"Aku masih mau disini bersamamu. Ceritakan apa saja yang membuatmu tertarik padaku." ucap Bagas lembut.
Nizma pun menggeleng. "aku sudah mengatakannya. Abang saja nggak pernah jawab pertanyaanku." Entah kenapa hati Nizma rasanya begitu sedih. Bahkan kini kedua netranya sudah berembun.
"Bukannya aku tidak mau menjawab. Ini masih terlalu baru untukku. Aku bukannya tidak suka dengan pernikahan ini. Hanya saja..." Bagas menggantung ucapannya.
"Apa?" Nizma penasaran.
"Nizma aku bukan pria yang terbiasa dengan perasaan cinta atau semacamnya. Kehidupanku dulu begitu kelam dan kesepian. Tidak ada yang mengajariku tentang cinta dan kasih sayang jadi, aku masih perlu belajar banyak." ucap Bagas kemudian.
Seketika air mata Nizma jatuh meluruh dari netranya. Hingga tak sengaja menetes mengenai tangan Bagas. Bagas yang menyadari langsung membalik tubuh Nizma.
"Kenapa menangis?" Bagas berubah serius.
"itu artinya abang nggak pernah mau terima aku. Abang nggak akan cinta aku. Dan.. Dan abang nggak bahagia." Nizma semakin terisak. Entah kenapa dia jadi semakin sensitif begini.
"Sudah ku bilang aku bukannya tak bahagia aku hanya butuh waktu Nizma. Tapi bukan berarti perasaan itu tidak akan ada." Bagas terdiam sejenak.
"Kalau kamu memang ingin aku seperti itu, maka ajari aku mengenal apa itu cinta. Ajari aku cara mencintai. Dan apa kamu mau bersabar untuk itu?" Kini Bagas menatap Nizma dengan lekat. Sorot mata yang berbeda daei biasanya.
"Abang yakin?" kini Nizma ingin memastikan.
"yakin. Sejujurnya dengan segala sikap dan perhatianmu kepadaku selama ini sudah membuat banyak perubahan besar untukku Nizma. Dan sepertinya perasaan itu tidak lama akan segera muncul." Bagas mengusap air mata di wajah Nizma.
Hanya dengan menatap Bagas seperti ini saja hati Nizma sudah terasa sejuk. Bagas adalah pria pertama yang berhasil memikat hatinya. Bahkan Nizma rela menolak banyak pria hanya untuk menunggu Bagas yang sebenarnya sangat mustahil saat itu untuk bersamanya.
"Abang, boleh aku mengatakan sesuatu?" Nizma menatap netra Hitam milik Bagas.
Bagas mengangguk. "Iya, katalan."
"Aku cinta Abang." Nizma yang tak sanggup lagi ditatap oleh Bagas kini langsung menunduk.
Ada rasa lega bagi Nizma akhirnya bisa mengutarakan perasaan yang sudah terpendam selama lima tahun ini. Cinta diam-diam yang selalu dia bawa didalam hatinya.
Tanpa diduga Bagas justru membalas Nizma dengan sebuah pelukan hangat.
"Terimakasih Nizma, terimakasih sudah mau mencintaiku." ada rasa aneh didalam hatinya. Bagas belum tau pasti apa itu namun dengan ucapan Nizma tadi Bagas merasa bahwa Nizma adalah sosok yang patut untuk dia perjuangkan.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Nur Lizza
ternyata nizma suka Bagas jg slm 5thn
2023-10-11
4
Istrinya Minyoongi 💜
achh dede nizma semangat buat luluhin babang bagas 💪💪 dan buat author semangat juga buat ceritanya
2023-10-05
0
Muztafa Aly
lanjut kk seru nih...
mudah2an bagas bisa nerima nizma..
2023-09-16
1