Nizma terus meronta dan memukul bahu Bagas saat dia mulai kehabisan nafas. Bahkan air matanya mengalir semakin deras.
Baginya tak lucu jika harus mati konyol akibat kehabisan udara saat ciuman malam pertama.
Bagas yang mulai menyadari Hal itu pun akhirnya menghentikan ciumannya. Dia menatap sekilas wajah istrinya yang sudah berantakan dengan derai air mata di sisi kanan dan kiri netranya.
Bagas terkejut saat melihat bibir Nizma yang tampak bengkak dan sedikit mengeluarkan darah di ujungnya. Bagas tanpa sadar jika sudah menyakiti Nizma.
"Maaf, aku terlalu kasar ya?" Bagas mengusap lembut sisa air mata di wajah Nizma kemudian dia kembali mengecup lembut bibir Nizma.
Ciuman itu benar-benar sangat berbeda dengan ciuman yang sebelumnya. Hingga tanpa sadar Nizma mulai terbuai dengan ciuman itu.
Namun lagi-lagi Bagas langsung melepas ciumannya begitu saja. Dia beranjak bangun dari tempat tidur.
"Istirahatlah, kamu pasti lelah. Aku mau mandi dulu."
Nizma terdiam. Dia hanya bisa merelakan ciuman itu yang terasa begitu baru untuknya. Ya, itulah ciuman pertama Nizma.
Sejenak Bagas menjadi sosok menyeramkan, tapi tiba-tiba berubah menjadi sangat lembut. Entahlah Nizma masih perlu mengenal Bagas lebih dalam. Yang dia harapkan hanyalah pernikahan ini akan bertahan selamanya.
Sementara Bagas di kamar mandi langsung mengguyur tubuhnya dibawah shower. Dia berharap dengan air dingin yang menyentuh kulitnya mampu menetralkan perasaan memanas di dalam dirinya.
Bagaimanapun Bagas adalah pria normal. Dihadapkan dengan gadis secantik Nizma jelas jiwa laki-lakinya meronta.
Hampir saja dia kelepasan dan terbuai dengan wanita itu. Cepat-cepat Bagas harus sadar dan tak boleh lengah. Dia masih berpikir bahwa Nizma hanyalah umpan yang digunakan oleh ustad Yusuf untuk menaklukkan dirinya.
Setelah hampir tiga puluh menit di dalam kamar mandi kini Bagas baru keluar. Dia mendapati Nizma yang tengah tertidur pulas meski belum berganti pakaian dan menghapus make up.
Bagas mendekati Nizma dan menatap wajah cantik itu yang begitu anggun meski sedang tertidur.
"Dasar kebo, belum ganti baju sudah ketiduran." gumam Bagas sebelum keluar meninggalkan kamar mereka.
Setelah beberapa saat Nizma barulah tersadar bahwa dia ketiduran. Perlahan dia mengerjapkan matanya dan melihat keadaan sekitar.
"Astaghfirulloh, aku ketiduran. Belum bersih-bersih lagi." Nizma segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi Nizma tetap melihat kamarnya yang kosong. Entah kemana Bagas sejak tadi tak ada.
Nizma kembali memakai hijabnya dan berjalan keluar untuk mencari keberadaan Bagas. Dia menatap jam dinding audah menunjukkan pukul satu dini hari.
Keadaan rumah cukup sepi karena memang semua orang sudah tertidur. Nizma terus berjalan mencari keberadaan Bagas namun tak menemukannya.
Hingga akhirnya dia melihat kepulan asap yang berasal dari teras samping rumah. Dia yakin itu adalah Bagas.
Dan benar saja Bagas tampak duduk di sofa teras samping sambil menyedot rokoknya.
"Abang nggak tidur?" suara Nizma membuat Bagas langsung menoleh.
"Nggak, nggak biasa tidur malam." jawab Bagas sambil tetap menikmati rokoknya.
"Tapi dari pagi abang belum istirahat. Memangnya Abang nggak capek?" tanya Nizma lagi.
Bagas tak menjawab dan terus fokus dengan rokoknya.
"Abang.. Masuk yuk. Udara malam nggak baik buat abang."
"Gue udah biasa kali. Malahan yang gak biasa tidur si dalam kamar malam-malam." tolak Bagas.
Namun Nizma tak menyerah. Dia justru duduk di samping Bagas. Tak peduli dengan udara malam yang semakin dingin.
"Ngapain malah duduk disini?" Bagas menatap Nizma heran.
"Nemenin Abang." jawab Nizma singkat.
Bagas berdecak ketika melihat Nizma mulai kedinginan dengan melipat kedua lengannya di dada.
Akhirnya mau tak mau Bagas harus bangkit dan mengajak Nizma masuk ke dalam kamar.
"Ya udah ayok. Bandel banget suruh masuk duluan juga." Tak peduli dengan gerutuan Bagas kini Nizma tampak senang akhirnya suaminya itu mau masuk ke dalam rumah.
Sampai di dalam kamar Bagas tampak kikuk melihat adanya ranjang tanpa sofa di ruangan itu. Dia masih sangat canggung jika harus satu ranjang dengan Nizma. Karena ini pertama kalinya Bagas tidur bersama wanita.
"Gue tidur di bawah aja lo tidur di atas." Bagas mengambil bantal dan hendak meletakkannya di lantai. Namun Nizma langsung menghentikannya.
"Jangan tidur di bawah Abang, dingin. Tidur di kasur aja masih muat kok." Meski malu namun Nizma mencoba untuk memberanikan diri berbicara pada Bagas.
Lagi-lagi Bagas menuruti ucapan Nizma. Dia naik ke atas ranjang kemudian mulai merebahkan tubuhnya.
Sementara Nizma yang begitu canggung pun tampak salah tingkah sendiri. Akhirnya dia mengambil guling dan meletakkannya di tengah sebagai pembatas mereka.
Nizma tidur meringkuk membelakangi Bagas. Sementara pria itu masih setia memandangi punggung Nizma.
"Dasar aneh, tidur pakai jilbab apa nggak ribet?" batin Bagas.
Hingga satu jam berlalu Bagas masih belum bisa memejamkan matanya. Kebiasaannya begadang setiap malam membuatnya sulit tidur.
Namun suara dengkuran halus yang dia dengar dari Nizma membuatnya tertegun. Apalagi saat ini Nizma sudah merubah posisi menghadap Bagas.
Semakin leluasa Bagas memandangi wajah cantik Nizma. Gadis itu nampak mempesona meski sedang tidur dan tanpa riasan.
Lama memperhatikan Nizma tiba-tiba tangan gadis itu berpindah ke dada Bagas. Pria itu sempat terkejut namun karena tak ingin membangunkan Nizma akhirnya di membiarkannya.
Hangat kulit Nizma perlahan terasa di dada Bagas. Sentuhan itu entah kenapa membuat Bagas merasa nyaman hingga akhirnya perlahan dia mulai mengantuk.
...****************...
" Abang... Abang bangun yuk.. Sholat subuh dulu." suara lembut itu terus terdengar di telinga Bagas.
Dia merasa ada seorang bidadari tengah memanggilnya. Wajahnya begitu cantik dan bersinar. Wajah yang sangat familiar untuknya namun tetap saja dia merasa begitu terpesona.
Gadis itu tampak tersenyum kepadanya. Membuat Bagas yakin bahwa itu adalah Bidadari yang turun dari langit.
"apa aku sudah mati?" pertanyaan itu langsung muncul di banak Bagas.
Pasalnya dia pernah mendengar jika seorang mati maka ada bidadari yang menghampirinya. Bagas jadi merinding sendiri. Namun panggilan itu terus saja mengusik telinga ya.
"Abang.. Abang..."
"Hhaahh... Gue belum mati kan?" Bagas tampak berjingkat dari tidurnya.
"Abang.. Ini Nizma. Abang masih hidup kok. Dari tadi Nizma panggil nggak bangun-bangun." Nizma duduk di samping Bagas.
"Ngagetin aja sih. Ini masih pagi banget tau. Gue ngantuk." gerutu Bagas.
"Abang Sholat dulu yuk. Ini udah masuk subuh." ujar Nizma.
"Apaan sih, ogah. Ngantuk." Bagas hendak merebahkan dirinya kembali namun cepat-cepat Nizma menarik tangan Bagas.
"Bentar aja abang. Kita sholat habis itu abang tidur lagi nggak apa." ujar Nizma.
Bagas rampak tak bergeming. Dia masih berusaha untuk kembali tidur.
"Abang, sholat itu kewajiban untuk umat Islam loh." Nizma tak bosan mengingatkan.
"Bodo.. Lo aja sholat gue nitip." gerutu Bagas.
"Yaudah kalau nggak mau sholat. Emang abang maunya disholatin." Nizma pun tampak kesal sendiri hingga menyeletuk begitu.
Tiba-tiba Bagas langsung bangkit dari tidurnya.
"Yaudah gue mau sholat." Bagas bergegas menuju kamar mandi.
Sementara Nizma merasa senang akhirnya berhasil membujuk suaminya agar mau sholat.
Sampai Akhirnya Bagas selesai Wudhu kini mereka bersiap untuk Sholat.
Bagas berdiri didepan Nizma sebagai imam. Namun dalam hati Nizma sempat ragu apakah Bagas bisa menjalani sholat ini dengan benar.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Baihaqi Sabani
waw bagas tdk sedingin yg q kira......
2023-12-05
4
DA
So sweet nya
2023-11-28
1
Mommy QieS
Bismillah, baru mampir kak.
2023-11-24
2