Nizma tengah menatap cermin yang memperlihatkan dirinya. Penampilannya tampak begitu cantik meski dengan riasan natural. Serta gaun putih indah yang diberikan oleh Bagas beberapa hari yang lalu tampak begitu pas di tubuhnya.
"MasyaAllah.. Anak Umi cantik sekali." Ustadzah Mia menghampiri Nizma.
"Iya, Nizma cantik banget kamu pasti abang Bagas langsung kesengsem deh lihat kamu." timpal Aisyah yang ikut menghampiri Nizma.
"Makasih ya, tapi aku deg-deg an banget ini." Nizma memegang tangan Aisyah dan juga ustadzah Mia.
"Bismillah Nizma. InsyaAllah semua berjalan dengan lancar. Kamu berdoa ya." ujar Ustadzah Mia.
"Iya Umi, apa akadnya sudah berlangsung Umi?" tanya Nizma lagi.
"Bagas baru saja datang dengan rombongannya. Sebentar lagi akad akan dimulai di masjid." ucap Ustadzah Mia.
" Aduh makin deg-deg an jadinya." gumam Nizma gelisah.
"Yang ngomong kan Abang Bagas kenapa kamu yang deg-deg an? Kan tinggal terima beres aja." celetuk Aisyah.
"ya tapi tetep aja deg-deg an. Kamu nggak pernah ngerasain sih." protes Nizma.
"Sudah-sudah ayo sekarang bersiap. Sebentar lagi kita ke masjid." Ustadzah Mia akhirnya menuntun Nizma dan ditemani Aisyah. Mereka berjalan menuju masjid.
Sementara di dalam masjid sudah berkumpul beberapa tamu penting. Tampak Bagas sudah mengenakan setelan jas putih serta peci senada. Rambut panjangnya tampak rapi setelah diikat dan penampilannya ini tampak begitu berbeda dari biasanya.
Di atas meja tempat mereka melakukan akad terdapat sebuah koper berisikan uang sebanyak satu milyar serta emas batangan seberat satu kilogram sebagai mahar. Agak berlebihan memang tapi hal itu sengaja Bagas lakukan untuk memancing keluarga Ustad Yusuf.
Ustad Yusuf memimpin langsung akad pernikahan mereka.
"Saya terima nikahnya Nizma Aida Mahfud binti Yusuf Mahfud dengan mas kawin tersebut, tunai." Bagas mengucapkan kalimat tersebut dalam sekali tarikan nafas.
"SAH..." Suara bariton serempak mengalun di dalam masjid itu.
Pembawaan Bagas memang begitu tenang. Bahkan beberapa orang sempat tertegun. Padahal di dalam hati Bagas tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Baginya pernikahan ini seperti halnya sebuah permainan belaka.
Setelah selesai mengucapkan akad kini Nizma dibawa menuju masjid dan bersanding dengan Bagas. Bagas langsung Terpukau melihat kecantikan Nizma. Begitu pula dengan para tamu undangan yang ada.
Bahkan diantara mereka masih saja tak terima jika gadis secantik Nizma harus menikah dengan Bagas yang seperti berandal.
Nizma duduk di samping Bagas kemudian tangannya menjulur kepada Bagas. Bagas tampak bingung dengan sikap Nizma. Lalu tanpa menunggu Bagas dia langsung meraih tangan itu dan menciumnya.
Bagas tersentak dengan tindakan Nizma. Tapi memang begitulah mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Akhirnya Setelah menyematkan cincin di jari manis Nizma Bagas pun langsung mencium kening Nizma. physical touch pertama mereka.
Di tempat yang sama tampak Arya sedang menahan air matanya. Gadis pujaan hatinya yang telah lama dia idamkan kini harus ia relakan untuk menikah dengan orang lain.
Setelah acara akad selesai langsung dilanjutkan dengan resepsi. Para tamu pun tampak menikmati acara tersebut. Namun di beberapa sisi ada saja yang membicarakan tentang Nizma dan keluarganya.
"Pantesan Nizma mau menerima Bagas sebagai suaminya. Orang maharnya nggak tanggung-tanggung. Nggak nyangka ya ternyata Ustad Yusuf matre juga." ujar salah seorang tamu.
"Iya, padahal keluarga mereka cukup terpandang dan punya pesantren. Tega banget jual anak kepada preman."
"Jangan-jangan maharnya berasal dari uang haram lagi."
Berbagai macam gunjingan terus Nizma dengar begitupun ustad Yusuf. Namun mereka tetap sabar dan melayani setiap tamu yang datang. Sementara Bagas diam-diam tersenyum puas telah berhasil mempermalukan keluarga Ustad Yusuf.
Ingin sekali Nizma menjelaskan kepada semua orang bahwa ini bukan keinginannya dan keluarganya. Bahkan semua persiapan dilakukan oleh pihak Bagas tanpa pembicaraan dengan dirinya terlebih dahulu.
Tapi begitulah manusia. Baik maupun buruk tetap saja ada yang mencela. Kini Nizma hanya bisa bersabar menahan segala cemoohan orang. Anggap saja ini adalah ujian di awal pernikahannya.
Banyak tamu dari Bagas memberikan ucapan selamat. Mulai dari rekan-rekannya yang memiliki penampilan hampir sama dengan Bagas maupun beberapa orang penting seperti pejabat serta pengusaha.
Entah apa pekerjaan Bagas hingga memiliki koneksi dengan orang-orang tersebut. Yang orang lain tahu Bagas hanyalah pria yang memiliki pekerjaan tak jelas karena selama ini dia hanya keluyuran saja.
Tapi melihat Seberapa besar Bagas menyiapkan semua ini membuat Nizma semakin penasaran.
Tak terasa waktu pun cepat berlalu. Malam beranjak para tamu sudah mulai berangsur pergi. Kini tinggal beberapa keluarga dan kerabat dekat saja yang masih berada di kediaman Nizma.
"Nak Bagas dan Nizma istirahat saja. Seharian pasti lelah kan?" Ustadzah Mia meminta Nizma dan Bagas untuk kembali ke kamar.
"Iya Umi, kami akan masuk dulu." tanpa Diduga Bagas merangkul pinggang Nizma hingga mereka saling menempel.
"Ayo sayang." Nizma hanya bisa membeku mendapat perlakuan seperti itu dari Bagas.
Ustadzah mia hanya bisa tersenyum melihat kelakuan pengantin baru tersebut.
Setelah sampai di dalam kamar Bagas langsung melepaskan diri dari Nizma. Pria itu kini menatap Nizma dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kaku banget kek belum pernah disentuh pria." ujar Bagas remeh.
"Memang aku nggak pernah disentuh pria selain abang." jawab Nizma mencoba untuk tenang.
Bagas tersenyum miring menatap wajah Nizma yang tampak ketakutan.
"Bagus, gue udah beli mahal-mahal makanya jangan kecewain gue."
"Beli? Maksud abang apa?"
"Udah gue kasih mas kawin mahal apa kalau bukan gue beli?" pernyataan sarkas Bagas membuat Nizma begitu kecewa.
"aku nggak pernah minta mas kawin sebesar itu. Bukannya abang sendiri yang memberikan? Bahkan abang tak pernah sama sekali berdiskusi sama aku." akhirnya Nizma mencoba untuk memberanikan diri berbicara dengan Bagas.
Tatapan Bagas begitu tajam seolah ingin menusuk Nizma. Tapi Nizma tak gentar. Dia harus terbiasa dengan suaminya yang seperti itu.
"Cih, jangan sok suci kamu. Aku pun tak percaya denganmu. Abahmu yang memaksaku menikahimu mana mungkin aku percaya begitu saja. Bisa saja dibalik topeng cantikmu itu tersimpan racun yang begitu mematikan." Bagas mencengkeram dagu Nizma hingga wajahnya mendongak ke atas.
"Siapapun aku sekarang adalah istri abang. Terserah mau abang percaya padaku atau tidak yang pasti aku akan selalu jadi istrimu. Aku yakin suatu saat nanti kita bisa membangun keluarga dengan penuh cinta." Nizma berusaha tersenyum meski merasakan sakit di dagunya.
Mendengar ucapan Nizma membuat Bagas semakin mencengkeram dagu Nizma dengan kuat kemudian menghempaskannya.
"Cinta? Jangan harap kau bisa membicarakan cinta di depanku Nizma. Bahkan aku tak percaya apa itu cinta. Itu hanya sebuah pembodohan semata." terlihat gurat kemarahan di wajah Bagas. Pria itu terlihat semakin mengerikan saja.
"Tapi aku akan buat Abang mengerti apa itu cinta." Nizma tak mau kalah. Dia terus berusaha meyakinkan Bagas.
Bagas yang masih meradang bertambah emosi mendengar Nizma. Dia menghampiri Nizma yang masih berdiri lalu menghempaskannya di atas ranjang.
"Kau ingin menunjukkan cinta? Ayo tunjukkan sayang. Layani aku sampai puas dan beri aku apa itu cinta." Bagas dengan seringainya menatap lapar Nizma.
Ditindihnya tubuh gadis itu lalu dia mendaratkan ciuman di bibir Nizma dengan begitu kasar. Nizma merasa kesakitan hingga ujung bibirnya terasa perih.
Hanya air mata yang terus meleleh menjadi saksi bisu betapa sakit hatinya mendapatkan perlakuan kasar di malam pertamanya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Shxxbi
Pinter bgt thorr milih visual nya, sesuai kriteria ku sebagai pembaca 😆😆
2024-02-28
2
Dia Amalia
walah koq kasar lh bg gondrong ne 😏😏😏
2023-11-17
2
Vera Anzani
wow kalau bang Bagas kayak gini mh siapa yg gak mau🤭
2023-10-25
2