Bagas kini sedang berada di taman samping rumah kediaman Ustad Yusuf. Bagas sengaja ingin bicara berdua dengan Nizma.
Kehidupan Bagas di masa lalu yang kelam membuatnya tak gampang percaya dengan ucapan seseorang.
"Maksud lo apa? Setuju nikah sama gue?" Bagas menatap Nizma dengan tatapan tajamnya.
"Ini permintaan Abah, saya nggak mungkin menolak." ucap Nizma sambil menundukkan kepala.
"Kenapa nggak bisa nolak? Lo nggak takut nikah sama gue? Gue bukan orang baik." ujar Bagas.
"Ini keputusan abah. Seumur hidupku Abah selalu mengambil keputusan yang baik. Terlepas dari anda orang baik atau tidak jika kita memang berjodoh berarti itu sudah takdir dari Allah." ucap Nizma dengan lembut.
Mendengar alasan Nizma membuat Bagas tertawa. "Hei gadis cantik. Sebenarnya apa sih yang lo sembunyikan dengan keluarga lo? Apa mungkin dugaan gue benar. Lo habis kena skandal dan lo nyari suami buat nutupin aib lo? Lo hamil?" pertanyaan sarkas Bagas tentu saja langsung membulatkan kedua netra Nizma. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Bagas.
"Astaghfirulloh, saya tidak pernah terlibat skandal apapun apalagi hamil. Dekat dengan pria saja tidak pernah." ucap Nizma dengan tegas.
"Terus apa? Lo punya penyakit menular dan mau mati sampe gak ada pria yang mau nikahin lo?" Bagas kembali menuduh Nizma.
"Insyaallah saya sehat wal afiat. Jika perlu pembuktian saya bisa cek kesehatan sekarang." Nizma kembali menjawab pertanyaan Bagas.
Bagas pun mengusap wajahnya dengan kasar. Menikah rasanya bukanlah tujuan Bagas dalam hidupnya. Bahkan cinta saja seolah dia hapus dari daftar kehidupannya.
"Saya juga tidak tahu kenapa Abah bersikeras ingin menikahkan saya dengan Abang. Abah tidak memberikan alasan secara pasti. Tapi selama hidup saya tidak pernah meragukan Abah sama sekali. Dan tentang rencana pernikahan ini saya pun sudah menerima dengan ikhlas." ucap Nizma dengan penuh kemantapan.
Bagas yang semula sibuk dengan pikirannya sendiri kini menatap Nizma dengan lekat. Kedua netra Nizma memang menunjukkan sebuah ketegasan tanpa keraguan.
"Terlepas dari permintaan Pak Ustad, apa lo yakin mau menikahi gue? Gue cuma ingin jawaban murni dari dalam hati lo. Karena ini kita yang jalani bukan abah lo "
"Insyaallah, abang. Nizma siap." mendengar kembali jawaban Nizma membuat Bagas mulai pasrah. Dia menjadi semakin penasaran dengan sosok gadis cantik di depannya ini. Bagaimana bisa dia rela menikah dengan brandal seperti dirinya.
"Baik, gue akan setuju nikah sama lo. Tapi setelah menikah lo jangan nyesel kalau gue gak seperti yang lo harapkan." ujar Bagas kemudian.
Disaat mereka sibuk berdiskusi tampak Arya yang tak sengaja lewat depan kediaman ustad Yusuf. Kedua netranya menangkap sosok Nizma dan Bagas yang sedang berdua.
Arya yang sejatinya memiliki perasaan cinta kepada Nizma pun menjadi semakin penasaran. Dia hendak menghampiri mereka namun tiba-tiba ustad Yusuf datang menghampiri Nizma dan Bagas.
"Sebenarnya siapa pria itu? Apa tujuannya menemui Pak Ustad dan Nizma?" batin Arya.
Sementara itu Bagas dan Nizma kembali masuk ke dalam rumah. Ustad Yusuf tampak menunggu jawaban dari Bagas.
"Pak Ustad. Saya menerima pernikahan saya dengan Nizma." ucap Bagas.
"Alhamdulillah, Abah senang dengarnya. Bagaimana Nizma. Kalian sudah sama-sama yakin dengan pernikahan ini kan?" tanya Ustad Yusuf sekali lagi.
Keduanya sama-sama mengangguk. Tak ada ekspresi berlebih sebab keduanya memang sedang menyelami pikiran masing-masing.
"Kalau begitu Abah akan segera mempersiapkan pernikahan kalian. Insyaallah dua minggu lagi." ujar Ustad Yusuf yang membuat semua orang tersentak.
"Abah, apa harus secepat itu?" protes ustadzah Mia.
Ustad Yusuf hanya tersenyum kemudian memegang lembut tangan Ustadzah Mia. Tentu saja hal itu langsung membuat Ustadzah Mia luluh.
"Kalian tak keberatan kan?" tanya Ustad Yusuf kepada Bagas dan Nizma.
"Sama sekali tidak Pak Ustad." jawab Bagas dengan senyum lebarnya. Sementara Nizma hanya mengangguk pasrah.
Bagas seolah menerima pernikahan ini dengan senang hati. Padahal di dalam pikirannya jelas sangat penasaran dengan rencana Ustad Yusuf. Namun dia tak ingin membuat semua orang curiga jadi dia ikuti saja permainannya.
Setelah selesai dengan pembicaraannya Bagas pun kembali pulang. Dia menyusuri setiap bangunan pondok pesantren. Tampak beberapa santri sedang sibuk dengan berbagai macam kegiatan.
Hal itu membuat Bagas seperti mengingat masa-masa dulu. Masa sebelum kehidupan kelam mengelabuinya.
Cepat-cepat Bagas melangkahkan kakinya. Dia tak ingin masa-masa itu kembali mengusik pikirannya. Tak ada masa lalu di kamus hidupnya. Semua yang terjadi hanya akan terus berkaitan dengan masa depannya saja.
Baru saja Bagas hendak menyalakan mesin motornya tiba-tiba seorang pria berjalan mendekatinya.
"Tunggu." pria itu sudah berdiri di depan Bagas. Pria itu adalah Arya.
"Ada apa?" tanya Bagas dengan malasnya.
"Kau Bagas Abimana kan? Mau apa kau kesini. Dan kenapa kau bisa mengenal Ustad Yusuf dan juga Nizma?" ucap Arya.
"Itu urusanku bukan urusanmu." jawab Bagas ketus. Dia paling tidak suka orang lain kepo tentang urusannya.
"Tolong jangan dekati Nizma. Dia gadis yang baik dan aku rasa pria sepertimu tidak cocok di dekat Nizma. Kalau kau sampai macam-macam maka urusannya denganku." Arya dengan berani mencoba untuk memperingati Bagas.
Bagas hanya menyeringai. Baginya pria seperti Arya ini bukan tandingannya. Namun membuat keributan di tempat seperti ini tak mungkin Bagas lakukan.
"Terserah apa maumu. Yang penting gue gak punya urusan apapun sama lo." dengan cueknya Bagas menyalakan mesin motor besarnya kemudian tancap gas meninggalkan Arya.
"Awas saja. Aku tidak akan membiarkan Nizma didekati pria manapun." batin Arya.
...****************...
Ustadzah Mia sedang duduk termenung di dalam kamar. Memandang nanar ke arah jendela yang memperlihatkan langit senja berwarna jingga.
Dia benar-benar tak menyangka jika pernikahan Nizma dan Bagas akan dilaksanakan secepat itu. Baru kali ini dia merasa ragu akan keputusan suaminya.
Segala pikiran berkecamuk terus membuatnya merasa sesak sendiri. Mampukah dirinya melepaskan sang putri kesayangan untuk seorang pria yang 'mungkin' tidak baik untuknya.
"Umi kok melamun?" suara bariton itu seketika membuyarkan lamunan Ustadzah Mia.
"Assalamualaikum." ucap Ustad Yusuf.
"Waalaikumsallam Abah." Ustadzah Mia langsung mencium tangan suaminya.
"Abah sudah pulang dari tadi?"
"Iya, sekitar tiga puluh menit." Jawab Ustadz Yusuf.
"Astaghfirulloh. Maaf abah, umi nggak tau." Ustadzah Mia tampak kelimpungan sendiri.
"Bagaimana bisa tau kalau Umi sibuk melamun. Dari tadi panggilan dari abah aja nggak didengar." Ustad Yusuf mengambil tempat duduk di sebelah istrinya.
"Maaf Abah.." jawab Ustadzah Mia sendu.
"Ada Apa Umi, apa Umi masih memikirkan tentang pernikahan Nizma dan Bagas?" Ustadzah Mia langsung mengangguk. Tampak kedua netranya sudah berembun.
"Abah yakin memilih Bagas sebagai pendamping hidup Nizma? Bagaimana kalau dia bukan pria yang baik untuk putri kita? Beri Umi alasan agar bisa ikhlas melepas Nizma Abah."
Ustad Yusuf tahu apa yang dirasakan istrinya. Kemudian dia meraih kedua tangan istrinya dan menciumnya.
"Maaf kalau abah mengambil keputusan ini. Terimakasih juga umi sudah melahirkan dan membesarkan putri kita hingga menjadi gadis sholeha. Sebenarnya abah memiliki alasan khusus kenapa memilih Bagas sebagai pendamping hidup Nizma. Tapi umi harus janji dulu sama Abah. Tolong jangan beritahu siapapun termasuk Bagas dan Nizma sendiri sampai Bagas benar-benar berubah." Ustad Yusuf memandang wajah Ustadzah Mia sambil mengusap pipinya lembut. Tatapan yang selalu meneduhkan hatinya.
"iya Abah, umi janji..."
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Ai Siti Rahmayati
Ternyata ceritanya bagus Thor
2024-01-15
0
Ksatria_90
mampir Thor, kenapa aku baru nemu sih ,bagus bgt 👍👍👍
2023-12-24
0
Nur Lizza
kayak da rahasia tentng bagas yg di simpan sm ustat
2023-10-06
3