Di Pantai

Max berdiri didepan pintu apartemen Jane. Dia menekan bel dua kali dan pintu terbuka, namun tidak ada seorang pun yang muncul hingga Max mendorong pintu itu sendiri. Dia melihat Jane, wanita yang berpakaian rapi dengan atasan kotak-kotak dan rok pendek selutut. Dia tampak imut dengan rambut yang di kepang dua. Dan Max hanya terdiam tak berkata-kata.

“Hemm. Apa aku terlihat aneh?” tanya Jane tidak nyaman dengan pandangan Max.

“Tidak. Kau terlihat manis,” Max tersenyum dan meraih tangan wanita itu. Menariknya dan berada di dekatnya. Aroma parfum yang berbau permen karet, Max menyukainya. Terasa menyejukkan begitu masuk ke hidungnya.

Mereka menuruni tangga darurat bersama-sama. Sepertinya lift itu masih tidak akan bekerja hingga beberapa hari ke depan. Tak ada tampak satu orang pun yang datang untuk memperbaiki padahal sudah lebih dari seminggu berlalu.

Max melirik ke arah Jane, sesekali matanya menangkap Jane yang mengeluarkan lidahnya membasahi bibirnya. Ingin sekali dia mendorong tubuh wanita itu ke dinding dan ******* habis bibir menggoda itu dalam mulutnya. Lagi. Tapi dia akan bertahan, dia akan menahannya hingga keadaan wanita itu membaik.

Sepuluh menit berlalu, Jane dan Max sudah berada di dalam mobil yang sedang melewati pepohonan rindang yang ada di sepanjang jalan lurus dari apartemen Jane sebelum berbelok.

“Kita mau kemana?” tanya Jane.

“Suatu tempat yang pasti kau sukai.” Lesung pipi itu kembali menghipnotis dirinya. Seakan membungkam mulutnya untuk tidak bertanya lagi.

Hampir satu jam perjalanan itu mereka lewati, dan tentu saja Jane akan tertidur selama itu. Bau pewangi dalam mobil itu dan parfum yang dia pakai cukup cocok untuk aroma tidur yang tenang. Sama ampuhnya dengan obat tidur yang dia minum. Atau mungkin dia perlu membeli pewangi itu untuk kamarnya agar dia tak perlu lagi obat tidur.

“Apa kau putri tidur,” Max melirik ke arah Jane begitu mobilnya berhenti di tepi jalan yang berseberangan dengan pantai. Langsung berhadapan dengan pemandangan pantai yang membentang luas di depannya. Dia mengernyit saat melihat bekas luka di telapak tangan Jane, dia mengambil plester di dalam laci mobil, meraih tangan Jane dan memakaikannya. "Aku tidak akan membiarkan kau terluka lagi."

Max membuka sabuk pengamannya, mendekatkan wajahnya ke wajah Jane yang tertidur lelap. Satu kecupan singkat mendarat di bibir wanita itu, tapi dia tidak merespon apapun. Senyum nakal terpapar di wajah Max, dia menggigit bibir Jane dan langsung menciumnya dalam setelah itu. Sontak mata Jane langsung terbuka lebar.

“Kau akhirnya bangun,” Max tersenyum puas.

“Apa yang kau lakukan.” Jane mengusap bibirnya, dan menutup nya dengan punggung tangannya. Sedikit perih namun tidak sakit.

“Sampai kapan kau akan tidur?” Max mengedipkan matanya sambil mencolek lembut hidung mancung Jane.

“Aa-aku hanya tertidur.”

Max tertawa kecil mendengar jawaban wanita itu. Dia geleng-geleng kepala sebelum keluar dari mobil, sementara Jane tampak takjub melihat pemandangan indah yang di lihatnya di balik kaca mobil.

Pemandangan pantai di sore hari memang mengagumkan, ditambah dengan matahari yang sudah hampir tenggelam. Sunset itu membuat semuanya berwarna kemerahan, dan gelombang air laut yang naik turun berirama.

“Wah, sangat indah,” ucap Jane begitu keluar dari mobil dan menghampiri Max yang duduk bersandar di depan mobilnya.

“Apa kau menyukainya?” Max mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang ada di hadapannya. Dia menatap Jane yang berdiri di sampingnya.

“Tentu saja, siapa yang tidak akan suka pemandangan se—menakjubkan ini.” Jane melirik ke arah Max, dan ternyata dia sadar jika pria itu sedang menatapnya. Jane memutar badannya menghadap pada Max, dia tersenyum dan mereka bertatapan lama.

Wajah wanita itu seakan menariknya, Max mendekatkan wajahnya pada Jane. Tapi tiba-tiba dia menghilang dari hadapannya dan dalam hitungan detik wanita itu sudah berada di tepi pantai dengan kaki telanjang. Max dapat melihat jelas ada dua sandal yang hampir tertutup oleh pasir. Dia hanya bisa menyunggingkan senyumannya melihat tingkah Jane.

Dia lega, dia senang jika wanita itu sudah membaik. Melihat senyum yang ada di wajah Jane saja sudah membuatnya bahagia, lebih dari apapun itu. Apa dia sungguh jatuh cinta padanya. Jane melambaikan tangan pada Max, memanggilnya untuk ikut berjalan dengannya melintasi pasang surut air laut. Berdua.

Malam datang, sunset itu menghilang. Langit kemerahan juga menghilang, berganti dengan warna biru gelap luas membentang. Dan Jane sudah puas, dia sudah cukup menikmati waktu senjanya bermain dengan Max. Bergelut dengan Max di tepi pantai dengan perang percikan air dan berlarian kesana kemari.

Keduanya duduk di atas pasir, Jane bersandar di bahu Max. Mereka menatap rembulan dan bintang-bintang yang menghiasi langit malam.

“Apa kau membenciku?” tanya Max tiba-tiba.

“Tidak. Kenapa aku membencimu?” Jane melirik tipis ke arah Max, dia melihat mata pria itu.

“Entahlah. Aku hanya asal bertanya.”

“Hemm.”

“Ayo kembali, pakaian mu basah. Kau bisa masuk angin,”

“Sebentar lagi,” Jane mengangkat kepalanya, menatap Max yang sedang melihat ke arahnya. Pria itu hanya terdiam tak menjawab, dia menatap mata Jane sebelum berdiri. Dan dalam hitungan detik Jane sudah berapa dalam dekapan Max. Dia menggendongnya.

“Kita bisa kembali besok, yang jelas sekarang kau harus ganti bajumu.”

“Hei. Ayolah, turunkan aku. 5 menit.”

Max hanya menggeleng tak setuju. Sementara Jane masih ingin tawar menawar dengannya. Dari lima menit berkurang teratur hingga tawaran terakhir satu menit. Max hanya tertawa kecil melihatnya.

Mobil Max masih terparkir di tepi jalan, lampu tiang yang ada di sana tiba-tiba menyala begitu dia dan Jane ingin masuk ke dalam mobil. Jane tampak cemberut duduk di depan, disamping Max.

“Apa kau anak kecil, berhentilah bertingkah seperti itu. Aku tidak tahu akan berbuat apa jika kau terus ingin berada di sana,” ucap Max saat dia menjalankan mobilnya.

Jane langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada setelah mendengar ucapan dari pria itu, baju yang dia pakai menjadi transparan karena basah. Yang menampakkan jelas bra berwarna merah dihiasi renda bunga yang dia pakai, ditambah dengan rambutnya yang tak terkepang lagi, sudah terurai bebas karena basah.

Mobil Bugatti yang dikendarai Max melintasi jalanan malam yang masih memaparkan pemandangan pantai yang di lihatnya tadi, sekitar lima menit berlalu. Dan mobil itu berhenti di sebuah rumah bertingkat. Seperti sebuah Villa.

Jane tampak memandangi halaman rumah itu yang penuh dengan bunga, cahaya lampu di teras membuat bunga-bunga itu tampak mekar dengan gradien warna. Sementara Max sudah berada di luar mobil, dia membuka pintu penumpang, mengambil sebuah jas hitam di sana sebelum beralih pada Jane yang tiba-tiba keluar begitu dia menutup pintu itu.

“Hei, jangan asal berkeliaran seperti itu.” Max langsung menggantungkan jas itu menutup tubuh Jane.

“Terimakasih,” Jane tersenyum senang. Max memperhatikannya. Begitu memastikan jasnya terpasang dengan baik, Max meraih tangan Jane dan menariknya untuk mengikuti langkahnya. Namun langkah Max langsung terhenti di pintu masuk saat melihat pintu itu tidak tertutup sepenuhnya dan cahaya lampu di dalam menerobos keluar dari celah itu.

Siapa yang datang... batin Max.

...----------------...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!