Max menghidupkan kembali mobilnya dan pergi meninggalkan gedung apartemen. Dia pergi meninggalkan Jane yang sekarang yang mungkin sedang tertidur lelap di ranjangnya. Dia harus kembali ke pesta pertunangan sesegera mungkin, sudah ada hadiah yang dia siapkan sebagai ucapan selamat darinya.
“Kau darimana saja?” tanya Dye yang tampak gelisah saat melihat dirinya masuk ke ruang pesta. Dia sudah mencari Max hampir satu jam. Bahkan dia berencana ingin pergi ke apartemen pria itu karena mengira Max sudah pulang.
“Hanya mencari udara segar,” Max berjalan masuk melewati Dye.
“Bilang saja kau habis dengan wanita, kan? Jangan coba-coba membohongiku. Tapi ya sudah lah, karena kau disini. Apa kita mulai sekarang?”
Max melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah lewat tengah malam, sekarang sudah pukul dua belas lewat sepuluh menit. Dia terlambat. “Kenapa kau tidak memulainya dari tadi? Bukankah aku sudah mengatakan pukul dua belas.”
“Kau menyalahkan ku? Aku sudah mencari mu dari tadi, bagaimana mungkin aku memulai nya saat tidak ada orangnya. Aneh. Kalau begitu aku akan memulainya.” Dye mengambil ponsel di dalam saku nya, dia menghubungi seseorang. “Sekarang.”
Hanya berselang waktu satu menit, ruangan acara itu menjadi heboh dan para hadirin berjalan keluar ruangan sembari membawa segelas anggur di tangan mereka. Semua mata tertuju ke langit. Kerlap kerlip warna-warni di langit malam yang gelap dan di lanjutkan dengan tulisan ‘Congrats on your engagement.’ Diakhiri dengan bentuk love berwarna merah jambu. Semua orang berucap takjub melihat pemandangan yang baru saja dilihatnya. Sementara Max berjalan membelakangi pemandangan indah itu, dia menuju ke arah Devan dan tunangannya, Katty.
“Yo, sobat. Selamat atas pertunangan mu, aku pikir kamu akan membuat wanita cantik di sampingmu menunggu lama.” Max memeluk Devan dan sempatnya untuk mengedipkan mata pada Katty yang menatap dirinya. Max tersenyum sinis setelah wanita itu mengalihkan pandangan yang tersipu malu padanya. “Apa kau suka hadiahku?”
“Tentu saja. Kau selalu datang dengan kejutan. Terimakasih.” Devan merangkul Max sekali lagi, seolah belum puas dipeluk oleh pria itu. Pria yang tingginya sama dengannya. “Aku sungguh minta maaf karena tidak bisa hadir di pernikahan kakakmu.”
“Ya, tidak apa. Kau juga sudah memberikan hadiah pernikahan untuknya. Itu sudah cukup.”
“Apa kau sendirian? Tumben sekali kau tidak bersama dengan wanita. Jangan bilang kau sendirian.”
Devan melihat di sekeliling Max, tidak ada orang. Tidak ada orang di sampingnya atau di belakangnya. Dia menatap Max sekali lagi sembari mengangkat alisnya ingin tahu siapa pasangan pria itu malam ini.
“Aku pergi sendiri.”
“Sungguh, kau beneran sendirian? Tapi aku melihat Ziya tadi, kupikir kau pergi dengannya.”
“Hemm. Meskipun aku datang sendiri, aku tidak akan pulang sendiri. Benar?”
“Haha. Ini baru Max yang kukenal, aku sempat terheran-heran karena tidak mungkin seorang Max membiarkan lengan kanannya ini kosong.” Devan tertawa kecil dan Max tersenyum. Tapi senyum itu tampak hambar.
“Kita sudah lama tidak minum bersama, bagaimana jika duduk sebentar. Oh ya dimana Dye? Aku yakin melihatnya beberapa saat lalu.”
"Dia sibuk, biarkan saja dia."
Setelah mendengar jawaban Max, Devan berjalan dengan Max yang masih berada dalam rangkulannya. Dia menyempatkan untuk pamit pada Katty yang ada disampingnya. Mereka berjalan menaiki anak tangga melingkar yang menghubungkan lantai itu dengan lorong menuju balkon paling atas gedung. Tidak ada orang diatas saja, tampak sunyi dan sepi. Hanya mereka. Max dan Devan melewati pintu kaca yang membatasi balkon dan lorong.
Udara malam itu cukup dingin, tapi menyejukkan dari pada udara yang di hasilkan dari AC dalam ruangan. Devan melepaskan rangkulannya dan menghembuskan nafasnya yang berat ke udara. Dia menikmati hadiah yang sudah disiapkan untuknya di langit malam. Indah. Apalagi mereka bisa menikmati keindahan kota malam dari atas sana.
"Jadi bagaimana? Apa kau sudah bertemu dengannya?"
"Entahlah. Aku sedang tidak ingin membahasnya." Max tampak murung setelah menjawab pertanyaan dari Devan yang dia yakin jika pria itu menanyakan tunangannya, mantan--tunangannya.
“Sepertinya dia memang tidak kembali, ya. Max." Devan menatap wajah kusut Max dari samping. "Hei aku tidak bermaksud membahasnya. Tapi setidaknya aku lega kau bisa berpisah dengan wanita seperti itu.”
“Seperti itu? Jangan memancing kesabaran ku, Dev. Aku ingin mentolerir ucapanmu karena ini acaramu. Tapi sepertinya, karena kita disini. Hanya berdua. Tidak ada salahnya menambah satu hadiah lagi.”
Buk.
Satu pukulan mendarat di wajah Devan yang putih pucat dan Max mencengkram kerah baju pria itu setelahnya.
“Apa yang kau tau?” Max mencengkram kerah baju Devan dengan sangat kuat. “Kau tidak tahu apapun tentangnya. Kau tidak mengenalnya, Dev. Berhentilah memprovokasi ku, apa menurutmu akan ada wanita yang memperlakukanku seperti pria biasa selain dia? Wanita lain hanya merayu dan menggodaku dengan tubuh mereka untuk mendapatkan uangku, tidak ada yang setulus dia...”
Buk.
Devan langsung membalas dengan pukulan yang lebih keras dari yang diterimanya saat cengkraman Max melemah.
“Ternyata Dye benar, kau menjadi hilang akal karena wanita itu. Dia tulus? Mungkin, tapi itu jauh sebelum dia berselingkuh dan memohon padamu untuk membebaskan selingkuhannya. Apa kau lupa? Atau sengaja pura-pura tidak tahu. Berpikirlah, Max. Dia tak ada bedanya dengan wanita lain. Bukankah kau yang mengatakan nya sendiri jika ketulusan itu ada harganya. Dan kau harus bisa menerima saat ketulusan itu berakhir dengan harga yang kau berikan. Jadi tak bisakah kau melupakannya sekarang? Kau masih bersikap seolah-olah dia masih tunanganmu karena melingkarkan cincin di jarinya. Konyol. Kupikir karena mendengar mu datang ke Ethalos, kau sudah melupakannya. Ternyata tidak.”
Devan tertawa kecil. “Hah ya satu lagi, kau tahu aku menemukan cincin itu di lelang dua bulan setelah dia menghilang. Jika kau tidak percaya, aku bisa mengirimkannya padamu. Cincin berlian dengan ukiran RM. Itu cincinnya, bukan?”
“Dimana? Dia tidak mungkin menjual cincin itu. Tidak mungkin.” Max kembali mencengkram kerah baju Devan yang terlepas karena pukulan yang dia terima. Namun tidak sekuat sebelumnya. Devan dapat melepaskannya dengan mudah.
“Aku akan mengirimkannya besok padamu. Jadi berhentilah memikirkannya, oke? Dan anggap dia tidak pernah ada di hidupmu.”
Devan menepuk-nepuk pelan dada bidang Max yang tertutup kemeja dan berlapis jas biru menyala, dia melangkah menjauh dari pria itu dan berencana pergi meninggalkannya sembari mengelus pipi nya yang dipukul oleh Max.
“Apa dia tidak mengatakan sesuatu padamu?”
Langkah Devan terhenti setelah dia membuka pintu, dia terdiam sejenak sebelum menjawab. “Tidak ada.” Dan pergi berlalu.
“Ahh,” Max bersorak ke langit malam berharap bebannya bisa berkurang, meski sedikit.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments