Café kecil diujung jalan yang tak jauh dari sebuah hotel di dekat pantai, Costa Nera. Belum dua puluh empat jam berlalu setelah Max meninggalkan Ethalos dan sekarang dia sudah berada di Santa Guilia, Prancis. Pantai berpasir yang terletak di utara Prancis, Page De Santa-Guilia Folacca Beach dekat Sotta.
Satu kedipan maut dari mata indahnya ampuh untuk meluluhkan pelayan yang membuatkan segelas minuman dingin spesial untuknya dengan cepat, ditambah secarik pita yang melingkar di sedotannya. Sementara Dye hanya bisa mengangguk paham dengan itu, karena dia sudah biasa melihatnya.
“Jadi kau membuatku melewatkan malam indahku hanya untuk melihatmu menggoda seorang pelayan? Jangan bilang kau kesini untuk melanjutkan pencarianmu semalam.”
“Ya, mungkin kalimat terakhirmu benar. Tidak ada yang mengenalku disini, jadi aku bisa mendapatkan seseorang yang tidak akan tertarik dengan uangku.”
Max menyedot setengah air yang ada didalam gelas dalam satu isapan. Matanya melirik ke semua orang yang ada di dalam Café itu, bahkan sesekali dia memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di jalanan. Entah itu mencari mangsa atau hanya sekedar mengamati.
“Whoa, seorang tuan muda ini ingin berkencan tanpa uangnya? Apa aku tidak salah mengartikan?” Dye menaikkan alisnya tak percaya dengan apa yang dia pikirkan, tak yakin dengan apa yang dia utarakan barusan. Rasa asam yang menyentuh lidahnya sebelum minuman itu masuk ke kerongkongan membuatnya mendesis nikmat, “Ashh, aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan. Wanita mana yang akan tertarik tanpa uangmu.”
“Kau terlalu sering bermain dengan para wanita bar itu, berhentilah menghambur-hamburkan uangmu untuk mereka. Percayalah kau tidak akan tahu jika tidak mencoba sesuatu yang baru. Mungkin saja kau akan menemukan seseorang disini.” Max kembali mengisap minumannya sedikit demi sedikit hingga habis.
“Apa ini Max yang kukenal? Aku seperti sedang berbicara dengan seorang pendeta sekarang, dimana kau belajar jadi sok bijak begitu. Bikin takut saja, lalu apa kau akan memilih acak wanita yang kau temui disini?”
“Aku tidak se-putus asa itu. Lihat saja nanti.” Max bangkit dari kursinya. Dia berjalan ke meja kasir dan berbincang dengan pelayan yang beberapa saat lalu membuatkan minuman untuknya dan sedotan berpita. Mereka tampak mencurigakan, tak lama keduanya keluar dari Café itu melalui pintu samping, Dye yang sudah menebak apa yang akan terjadi hanya bisa tercengang dan geleng-geleng kepala. “Aku menilai mu terlalu tinggi, Max. Jiwa playboy mu itu memang sudah mendarah daging.”
Mungkin sudah puluhan wanita yang merasakan bibir tipis menggoda pria itu. Wajah tampan dan uangnya sudah cukup untuk membuat wanita tak berkutik dihadapannya. Menjadi seorang playboy sejak sekolah membuat sebutan itu melekat seperti lem yang tak bisa dilepas begitu saja. Dua puluh delapan tahun dia hidup, namun hanya satu wanita yang berhasil membuatnya bisa merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Satu-satunya wanita yang mampu meluluhkan hatinya.
Tapi begitu hubungan cinta yang singkat itu berakhir, membuatnya lebih brutal dari sebelumnya. Dia bisa saja mencium wanita manapun yang datang padanya. Dia tidak akan menolak kehadiran wanita jika itu bisa memuaskan hasrat seksualnya. Bisa membuatnya merasakan sensasi nikmat meskipun hanya sesaat. Dan meskipun tidak sampai pada tahap dunia milik berdua di atas ranjang. Dia hanya akan tidur dengan wanita tertentu yang menurut hati kecil nya akan memberikannya malam yang indah, naluri playboy—nya.
“Baiklah, mari kita lihat wanita mana yang akan tidur di ranjangmu malam ini.”
**
“Sifat pemilih mu itu sangat menyebalkan, ya.” ucap Dye sembari memberikan segelas minuman dengan potongan lemon di atasnya pada Max yang sedang berjemur di bawah matahari pagi.
“Kau pikir juniorku akan puas dengan sembarang wanita?” Max menerima minuman itu dengan tubuhnya yang masih terbaring dengan begitu santai. Dengan kacamata gelap bertengger di hidung mancungnya dan kemeja pantai yang tipis dan di lengkapi ****** ***** yang ketat. “Tapi sepertinya aku sudah menemukannya. Begitu—Aaahh.”
Dye melirik wajah Max yang sedang fokus memandang sesuatu. Dia mengikuti arah tatapan itu dan terhenti pada wanita berkulit putih mulus dengan bikini merah muda dan ****** ***** berpita yang juga berwarna merah muda. Seorang wanita yang sedang berpose untuk difoto. “Kau yakin? Sepertinya dia bukan wanita biasa. Apa kau yakin dia tidak akan mengenalimu?”
“Untuk berjaga-jaga.” Max melepas kacamata hitam yang dipakainya sedari tadi untuk melindungi mata nya dari pemandangan pantai yang menyilaukan, dia menunjukkan matanya pada Dye sebelum memakai kacamata itu kembali.
“Kau memakai softlens? Sepertinya kau sudah bersiap ya. Tapi aku saja masih bisa mengenalimu dari jauh, apa dengan softlens itu akan berhasil?”
“Aku tidak peduli lagi jika itu dia. Dia mengenaliku atau tidak yang pasti dia akan tidur denganku malam ini. Berapa pun harganya.”
Max dan Dye masih setengah berbaring menjemur diri mereka di tepi pantai. Keduanya masih mengamati wanita tinggi, langsing dan hampir telanjang itu sedari tadi. Serentak keduanya mendesis nikmat saat pose menungging yang dilakukan wanita itu dengan begitu menggoda. Begitu membangkitkan gairah. Max menelan liurnya dalam dan meneguk habis minuman yang ada di tangannya dalam satu tegukan. “Dia milikku.”
Jane memperbaiki letak jubah tipis yang menggantung di bahunya. Dia duduk manis di kursi yang tidak terkena pancaran cahaya matahari langsung karena payung yang menaungi dirinya, dia membalas ucapan orang yang pamit pergi dari sana satu persatu dengan senyum yang begitu hangat. Senyum yang cukup menguras tenaganya.
Pemotretannya sudah selesai, dia menjadi model di salah satu majalah iklan yang mempromosikan suasana pantai dan set pakaian pantai. Berpose setengah telanjang dengan hanya memakai bra dan ****** ***** sudah biasa baginya, selama itu masih pada batas wajarnya.
Namun kali ini dia merasa tidak nyaman karena hampir semua mata pria hidung belang di sekitar tempat dia duduk tertuju pada dirinya. Menatap dirinya dari balik jubah tipis transparan yang dia kenakan. Dia hanya ingin menikmati angin pantai dan pemandangan yang memanjakan mata itu dengan tenang sejenak sembari menunggu managernya datang. Namun perasaan nya menjadi tidak enak saat seorang lelaki berjalan ke arahnya. Dia hendak pergi dari sana, namun sudah terlambat. Pria itu sudah berdiri di depannya.
U know I know..--
Ponsel Jane berbunyi, tepat saat pria itu ingin mengucapkan sesuatu. Dan ternyata diluar dugaan, pria asing itu tidak meneruskan niatnya tapi malah menyuruh Jane untuk menjawab telponnya. Sepertinya Tuhan menolongnya dari pria berkacamata yang tampak—mencurigakan. Dia berdiri dan menjawab panggilan telpon yang masuk, menjaga jarak pria itu.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
YouTube: hofi_03
bintang di langit 🤣🤣🤣
2023-09-22
2
zenn
kalimat apa sih kak yg di sensor itu?
2023-09-17
2