Sebuah Foto

Jane sudah membuka matanya sejak beberapa saat yang lalu. Dia duduk di sofa empuk yang membelakangi cahaya matahari pagi yang masuk ke dalam ruangan. Tempat itu sudah seperti rumah sendiri dibuatnya. Duduk dengan santai tanpa beban apa pun. Ruangan yang nyaman dan harum pewangi ruangan yang menenangkan.

Dia terkejut. Tidak ada yang tidak terkejut jika bangun di tempat yang baru pertama kali dilihatnya, apalagi jika bangun di atas tempat tidur yang tidak tahu siapa pemiliknya. Begitu bangun, dia langsung terduduk dan matanya langsung melotot melihat sekelilingnya. Dia mulai menyusuri sudut demi sudut ruangan tempat dia berada sekarang.

Tempat yang tidak terlalu berbeda dengan apartemen nya namun tidak bisa dibilang sama, hanya saja barang-barang yang ada disana terlihat lebih mahal dan lebih elegan dari barang yang dia tempatkan di apartemen miliknya. Untuk sesaat dia bisa tenang karna tidak ada siapa pun, dan yang paling menenangkan adalah gaunnya yang masih terpasang dengan baik di tubuhnya.

Jane melihat beberapa foto yang terpajang di dinding dan di atas meja, dia merasa sedikit lega. Dia kenal dengan pria yang ada di dalam foto itu, hanya sebatas kenal. Itu Max, pria yang bersamanya di pesta dan mengantarkan nya pulang. Bukan, mengantarnya ke tempat itu. Dan yang membuatnya bisa menjadi lebih lega adalah foto Max dan Devan.

Jane bosan, dia tak tahu bagaimana menghubungi pria itu. Dan dia tidak bisa menghubungi Shara karena tidak tahu dimana ponselnya, entah bagaimana dia akan menghubungi Shara untuk menjemputnya, dan dia juga tidak tahu dimana sekarang berada. Hanya menunggu yang bisa dia lakukan sekarang. Dia bangkit dari sofa yang sudah didudukinya hampir satu jam, berjalan ke arah rak di dekat meja besar yang ada di sudut ruangan.

Jane melangkah perlahan melewati rak panjang sambil mengamati sederetan piala, bingkisan mewah, barang antik dan beberapa foto.

"Wah, ternyata dia seorang direktur perusahaan. AVC, hemm. Sepertinya aku sering melihat merek itu."

Dia tak ingin larut memikirkan dimana dia melihatnya, Jane terus melangkah hingga langkahnya terhenti pada suatu tempat dan matanya tertuju pada satu titik. Sebuah foto, Jane menatapnya lama. Secara tiba-tiba badannya gemetar dan tubuhnya melemah begitu saja, Jane mengambil foto itu dengan tangannya yang gemetaran. Saking gemetar nya, dia membuat foto itu terjatuh ke lantai, menciptakan genangan pecahan kaca yang terpental berjauhan. Dia melangkah mundur, terus mundur hingga punggungnya membentur tiang penyangga yang ada disana.

Deg. Deg. Deg. Deg.........

Sesak, dadanya serasa sangat sesak. Nafasnya keluar tak beraturan. Obat, dia butuh obatnya. Tidak bisa, dia tidak bisa berjalan dan mengambil obatnya di dalam tas. Tas? Dia bahkan tidak tahu dimana tas nya meskipun sudah menyusuri ruangan itu. Dia bahkan tidak bisa merasakan sakit kakinya yang terkena pecahan kaca, hanya sesak dan sakit kepala tak tertahankan.

Kepingan ingatan yang muncul di kepalanya membuat seisi kepalanya seakan ingin keluar, ingin meledak dengan serbuan deretan penglihatan masa lalu yang tiba-tiba muncul dengan cepat dan singkat. Ingatan yang bergantian begitu cepat hingga dia tidak tahu harus memikirkan apa.

Klek. Pintu terbuka.

“Aku—aku tidak salah. Aku tidak—tidak melakukannya... sungguh... aku— “

Jane tak sadarkan diri, dia tergeletak di lantai keramik mika yang berkilau.

Max masuk ke apartemen nya dengan jas berwarna biru di lengannya, kemudian membuang nya begitu saja ke sofa. Dia berjalan mendekat ke ranjang kesayangannya. Max menghempaskan tubuhnya. Dia mencium sesuatu, dia mencium aroma itu semalam saat mengangkat Jane dalam dekapannya. Sontak membuat dirinya langsung terperanjat bangun dan melihat sekitarnya tidak ada orang.

“Dimana dia. Apa dia sudah pergi?” Max mencari-cari wanita itu, dari kamar mandi, ruang ganti, di bawah meja kerjanya dan... kakinya terhentak melihat seorang wanita yang tergeletak di lantai.

“Hei, apa yang kau lakukan disana?” tak ada jawaban. “Jane.”

Max berjalan mendekat ke arah meja, dia kembali memanggil nama wanita itu dan tetap tak ada jawaban. Matanya menangkap pecahan kaca yang ada di bawah kaki Jane, dengan cepat membuat dirinya berjongkok dan membalikkan tubuh wanita itu menghadap ke arahnya.

“Apa yang terjadi, hei. Bangun.”

Max menggoyang-goyangkan tubuh Jane, berharap wanita itu bangun. Namun tidak ada respon apapun. Tanpa pikir panjang, Max langsung mengangkat wanita itu dan menggendongnya keluar dari apartemen. Dia melangkah dengan cepat dan tergesa-gesa menuju lift untuk turun dari lantai 5 ke lantai 1. Di dalam lift dia masih berusaha membangunkan Jane, tapi hasilnya sama. Wanita itu tidak juga bangun.

“Siapkan mobilku. Cepat.” Ucap Max setelah menekan tombol oranye yang ada di dalam lift.

Begitu melewati pintu keluar sekaligus pintu masuk apartemen, sebuah mobil Bugatti miliknya sudah terparkir di depannya. Seorang pria keluar dari mobil dan membukakan pintu depan mobil untuknya. Max langsung memasukkan Jane ke dalam mobil begitu pintu terbuka, wanita itu terduduk di kursi depan samping kemudi.

Begitu memastikan Jane sudah duduk dengan aman, Max bergegas masuk ke mobil, dia mengatur kursi mobil itu agar Jane bisa sedikit terbaring sekaligus memasangkan sabuk pengamannya dan berlalu pergi meninggalkan apartemennya. Max menekan tombol di layar kemudinya, sebuah navigasi.

“Rumah sakit terdekat,” ucap Max begitu mendengar nada bip. Dengan cepat Max mengikuti arah yang di tunjukkan sehingga dia bisa sampai di rumah sakit dengan cepat.

Max kembali menggendong Jane dalam dekapannya, membawanya masuk dan membaringkannya di ranjang pasien. Dokter yang datang langsung memeriksa nya dan perawat yang bersama dokter itu mendorong Max mundur untuk bisa menutup tirai.

Pria itu gelisah, dia bahkan belum menyentuh wanita itu. Di tambah lagi wanita itu tak sadarkan diri di apartemennya. Max mondar-mandir beberapa kali, hingga suara dering ponsel di sakunya menghentikan kegiatannya.

“Ya?”

“Kau dimana? Klien dari Chicago sudah datang. Jangan bilang kau terlambat, ya.” Dye menekankan ucapannya.

“Batalkan. Aku di rumah sakit sekarang,”

“Apa? Apa yang terjadi? Apa kau kecelakaan?” Dye terdengar antusias. Max yang mendengarnya hanya bisa menarik nafas dalam dan menghembuskannya cepat. Sepertinya pria itu berharap dia mengalami kecelakaan.

“Apa kau menyumpahi ku, ha?”

“Tidak, tidak. Lalu apa yang kau lakukan disana?”

“Batalkan. Dan cari informasi tentang wanita kemarin, Jane Morgan. Kau ingat wanita yang kita lihat di pantai kan? Secepatnya dapatkan nomor handphone managernya dan suruh ke rumah sakit. Aku tidak tahu ini rumah sakit apa, tapi dekat dengan apartemen ku. Hanya berjarak 5 menit.”

“Apa maksudmu? Bukankah semalam kau bersama Ziya, mengapa tiba-tiba kau dengan wanita itu? Dan di rumah sakit? Apa kau menunggunya?”

“Jangan banyak tanya, lakukan saja. Cepat.”

Max mencari tempat untuk dirinya bisa duduk. Dia mengelus wajahnya sepenuh telapak tangannya, jari kakinya yang ada di dalam sepatu tak bisa berhenti bergerak. Jujur saja, dibenci ada disana. Dia benci mencium bau rumah sakit dan melihat orang-orang yang keluar masuk tak sadarkan diri.

...----------------...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!